Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM126. Ruangan tindakan


__ADS_3

"Selain uang, tujuan utama Ai itu kau. Tinggal kau kawini aja, lepas fantasi kau sama dia." Kenandra terkekeh kecil dengan menepuk punggung Givan pelan.


"Najis!" Givan sampai bergidikan.


"Heh, jangan sombong-sombong kali lah." Kenandra tertawa lepas seolah memojokkan Givan.


"Aku doyan jajan juga, tak pernah ya aku tiduri LC, PSK, semacam ayam-ayaman warung pun tak pernah kulirik. Perempuan bekas pakai orang yang aku doyan, ya cuma Canda. Putri, itu pun kondisinya lepas operasi perawan karena dia mau nikah sama Lendra itu. Kan mereka udah tunangan tuh, Canda kan dibawa pulang ke rumah mamah sama Ghifar. Putri ya kek barang gress, pas aku cicipi itu. Bentukan luar, garis lurus. Bagian dalam juga, betul ada drama berdarah-darah dulu kek perawan. Apalagi kelas atas nih dia, kesehatan terjamin, bebas penyakit."


Kenandra tertarik dengan perbincangan itu. "Putri operasi hymenoplasty?" tanya Ken dengan memperhatikan Givan dari samping.


Givan mengangguk. "Iya, waktu tunangan sama Lendra tuh dia abis operasi itu. Lendra balik ke Canda tuh, ya Putri baru sembuh dari operasinya. Makanya pas kenal aku, aku bisa langsung dapat itu. Karena masa penyembuhannya, ya waktu dia sama Lendra itu," ungkap Givan yang baru diketahui Kenandra.


"Pantas ya kau mau udah lahirin anak juga?" Kenandra tersenyum samar.


"Canda udah lahirin anak orang dan mulutnya bekas diciumi Ardi aja aku mau, asal orangnya Canda." Seperti pengakuan cinta yang amat jelas dari mulut Givan.


"Udah habis-habisan kah Canda sama Ardi adiknya Zuhdi itu?"


Mereka bersantai sejenak dengan obrolan ngalor-ngidul.


"Belum, ya ciuman itu tiap harinya. Canda bodoh juga, dia tak bodoh-bodoh amat untuk mau ditiduri. Sama Lendra aja, udah ditelanjangi tapi tak sampai begituan sebelum sah tuh." Givan memperhatikan kesepian yang mengerumuni halaman rumahnya.


Terasa begitu sunyi dan menyeramkan, rumah yang biasanya ramai tiba-tiba sepi seperti ini.


"Lendra tuh berarti pacarnya Putri kah tepatnya? Nah, berarti Canda ini orang ketiga hubungan Putri sama Lendra kah?" Kenandra begitu penasaran dengan informasi ibu kandung yang anaknya tumbuh di lingkungan rumah Givan itu.


"Iya, putus nyambung gitu keknya deh. Yang aku tau ini, terakhir ini mereka tunangan. Itu posisi Lendra udah jadi suaminya Canda, makanya Canda pulang ke sini." Givan tidak tahu pasti cerita lengkapnya.

__ADS_1


"Ngeri ya?" Kenandra tidak bisa membayangkan bagaimana caranya merawat anak tanpa pernikahan di dalam lingkungan sosial.


"Ya begitulah." Givan mengedikan bahunya enteng.


"Kau betul-betul tertarik ke Putri, Bang?" Givan mengendus bahwa kakak angkatnya itu benar-benar menaruh hati pada mantan pacarnya.


"Ya belum sih, tapi tertarik sama gelar yang dia punya. Menurut aku, dua gelar itu cukup hebat. Ditambah lagi, sekarang dia bisa mengamalkan ilmunya." Kenandra menjawab apa adanya.


"Hmm, jangan dikira loh. Sekali memberontak, hidup kau amburadul dibuatnya." Givan tersenyum miris, ia teringat bagaimana ulah Putri yang membuat hilang nyawa dua pekerja tambangnya.


Kenandra terdiam, ia tidak sedang benar-benar memburu wanita. "Apa kata nanti aja, Van. Ayo berangkat." Kenandra langsung bangkit dari posisinya dan merapikan pakaiannya.


"Aku serius ke Ai dulu nih?" Givan beranjak dan akan masuk ke dalam rumah, untuk mengambil beberapa perlengkapannya.


"Iya, Van. Kita coba dulu cara baik-baik, kalau tak dapat ya kita paksa. Bawa mobil terpisah aja kali ya? Kau kan mau ke Pintu Rime Gayo?" Kenandra mendongak untuk melihat Givan yang berada di atas teras.


Tiga anak tangga menuju teras itu, cukup tinggi dan lebar. Givan membuat undagan pada terasnya, karena fondasi rumahnya terlampau tinggi meski sudah diurug kembali.


Charger ponsel yang dapat digunakan di mobil pun, ia bawa karena melihat baterai ponselnya tinggal empat puluh persen. Ia lupa mencharger semalam, sedangkan ia paham ponsel akan habis baterai sendiri meski tidak digunakan.


Ia langsung mengatakan bahwa ia akan pergi pada ibu Muna, asisten rumah tangganya. Kemudian, ia kembali ke luar dari rumah.


Melihat Kenandra tidak ada di halaman rumahnya, ia berpikir bahwa Kenandra sudah menunggunya di depan rumah ibunya. Karena Kenandra selalu memarkirkan kendaraannya di sana, yang jelas memiliki lahan parkir yang cukup luas.


Benar tebakan Givan. Ia langsung bergerak mengikuti mobil Kenandra yang berwarna silver tersebut. Mereka menuju ke tempat Ai di rawat di rumah sakit terdekat, dengan berjalan beriringan.


Tibalah mereka, Givan melangkah berat untuk sampai di kamar tujuan. Selain memikirkan istrinya yang pencemburu dadakan itu, Givan benar-benar setengah hati untuk berkomunikasi dengan Ai. Ia sudah muak dengan perempuan itu. Puncak emosinya adalah, tidak memperdulikan keadaan perempuan tersebut sama sekali. Givan tidak suka diusik dalam ketenangannya, tapi ia sadar bahwa awalnya ia sendiri yang mengusik ketenangan dan ketentraman hidupnya.

__ADS_1


"Loh? Mana pasien di sini?"


Belum juga masuk ke dalam ruangan, Givan terlihat bingung dengan Kenandra yang kembali ke luar. Ia tidak bertanya pada Kenandra, ia langsung mengikuti langkah kaki kakak angkatnya yang menuju ke meja perawat yang tengah piket jaga sekarang.


"Tadi kejang, Pak. Jadi dipindahkan ke ruangan lain."


Kenandra langsung berjalan cepat, ia tahu di mana ruangan Ai berada. Givan sampai terseok-seok, mengikuti langkah Kenandra.


"Bang, kau aja yang urus ya?" ujar Givan di sela langkahnya.


"Kau harus ikut, Van. Keadaan dia tak main-main. Kau pun harus cari alamat rumah Ai, kau harus kabarin keluarga Ai. Kalau keluarganya tak tau-tau, kita bakal benar-benar direpotkan di sini. Kau harus cari informasi dari sekarang, Van." Kenandra berbicara dengan deru napas yang ngos-ngosan.


"Kau tunggu di sini, ini ruangan steril." Kenandra menahan dada Givan. Kemudian, ia maju bergegas untuk masuk ke dalam ruangan yang khusus petugas medis tersebut.


Givan memperhatikan ruangan sekitar, tidak ada nama keterangan ruangan ini. Namun, ada sebuah lampu yang menyala di atas pintu tersebut. Givan berkeliling, kemudian ia keluar dari salah satu pintu. Rupanya, ia masuk dari jalan pintas tadi. Karena pintu yang baru saja ia lewati, itulah adalah jalan yang dilalui lalu lalang.


Jejeran kursi, dengan beberapa pintu menjadi pandangannya sejauh mata memandang. Beberapa poster yang terpasang rapi dan tersusun berjarak, menjadi perhatiannya.


Hingga, ia menemukan sebuah plang bertuliskan 'Ruang Tindakan' di sudut pintu yang ia lalui tadi.


Jadi, Ai tengah diberi tindakan?


Jadi, Ai tengah dalam kondisi tidak menguntungkan?


Jadi, Ai dalam posisi terendahnya sekarang?


Givan bertanya-tanya dengan masih memperhatikan plang tersebut. Ia harus mencari informasi, terkait tentang keluarga Ai. Namun, kembali ia diingatkan dengan bayang-bayang tersungkur dan ditendang oleh kakak kandung Ai.

__ADS_1


Rasanya, ia ingin membiarkan Ai menderita seorang diri tanpa keluarganya. Tetapi, ia yakin bahwa dirinya akan direpotkan oleh keadaan Ai. Bukan karena ia tidak mau direpotkan sedemikian rupa, tapi kebencian, amarah dan menjaga perasaan istrinya akan menjadi taruhannya jika sampai ia mengasihi Ai.


...****************...


__ADS_2