Setelah Hujan

Setelah Hujan
Hamil


__ADS_3

"Yah," panggil Daniar seraya menyentuh pundak suaminya.


Yandri membuka mata. Dia kemudian memeluk Daniar dan menyusupkan kepalanya di pinggang Daniar. Bahunya sedikit berguncang karena menangis. Daniar hanya bisa mengusap-usap punggung sang suami.


"Sabar Yah," ucap Daniar, "sebaiknya Ayah makan sekarang. Sejak tadi sore, Ayah belum menyentuh makanan apa pun," lanjutnya.


"Ayah capek, Bun. Ayah mau istirahat saja," jawab Yandri, melepaskan pelukannya.


Sebenarnya, Daniar ingin memaksa suaminya untuk makan. Namun, melihat wajah sayu sang suami, Daniar pun mengurungkan niatnya. Yandri terlihat begitu lelah. Akhirnya, Daniar mengajak Yandri masuk kamar.


"Ya sudah, kita istirahat di kamar saja, Yah."


"Iya, Bun. Sebentar, Ayah kunci pintu dulu," izin Yandri seraya beranjak dari kursi.


Daniar mengangguk. Sesaat, dia menunggu suaminya yang sedang mengunci pintu. Setelah selesai, Daniar dan Yandri memasuki kamarnya.


Bugh!


Terdengar pukulan di dinding kamar Raihan. Namun, Yandri tidak menghiraukannya. Dia sudah cukup lelah. Bukan hanya fisiknya, tapi hatinya pun telah lelah karena melihat sikap Raihan.


"Apa yang harus ayah katakan pada ibu, Bun? Ayah merasa sudah gagal menjadi seorang kakak bagi Raihan," ucap Yandri, serak.


"Sudahlah, Yah. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Semua permasalahan, pasti akan ada jalan keluarnya. Bunda yakin, Tuhan tidak akan menguji umatNya di luar kemampuan mereka. Bersabarlah! Besok kita bicarakan masalah ini dengan Raihan. Tapi Bunda minta, Ayah jangan emosi seperti tadi, Yah. Bagaimanapun juga, usia Raihan tuh masih labil. Dia masih harus dibimbing agar tidak salah langkah," tutur Daniar.


Yandri hanya termenung. Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Mungkin, tadi dia terlalu kasar memperlakukan Raihan. Tapi kelakuan Raihan benar-benar membuat darah Yandri bergejolak karena amarah.


Huft!


Yandri membuang napas dengan kasar, membuat Daniar kembali mengelus punggung tangannya.


.


.


Keesokan harinya. Seperti biasa, Yandri bangun pagi sekali. Dia sadar jika istrinya tidak akan bisa memasak di sini, karena itu Yandri mengambil alih tugas Daniar.


"Loh, Ayah lagi ngapain?" tanya Daniar saat dia akan mengambil wudhu ke kamar mandi.


"Bikin nasi, Bun," jawab Yandri. "Oh iya Bun, mau masak apa?" tanya Yandri.


"Emh, kita beli saja yang sudah jadi, Yah. Bunda enggak bisa kalau harus masak pake tungku api," jawab Daniar.


"Bunda tinggal bilang aja mau masak apa, biar Ayah yang masak," jawab Yandri.


"Seriusan, Yah?" tanya Daniar terlihat senang.


"Memangnya, sejak kapan Ayah bohong sama Bunda?" tukas Yandri.

__ADS_1


Daniar hanya tersenyum seraya memeluk suaminya dari belakang. "Uuh, co cweet banget sih," ucap Daniar.


"Hmm, sudah enggak usah ngerayu. Cepat wudhu sana," perintah Yandri.


"Iya Yah, iya," jawab Daniar.


"Terus, mau masak apa, biar nanti Ayah suruh Raihan cari bahannya di warung," lanjut Yandri.


"Apa aja deh, terserah Ayah," jawab Daniar seraya berlalu pergi ke kamar mandi.


Setelah Daniar pergi, Yandri kembali ke ruang tengah. Dia mengetuk pintu kamar Raihan untuk membangunkan penghuninya.


"Rai, sudah subuh. Ayo bangun!" ucap Yandri.


Namun, tak ada sahutan dari dalam kamar. Hanya bunyi dengkuran Raihan yang terdengar dengan jelas. Kembali Yandri mengetuk pintu kamarnya.


"Raihan, ini sudah siang loh. Jangan sampai kamu kesiangan solat subuh," kata Yandri.


Entah sengaja atau tidak, tapi Raihan sama sekali tidak merespon Yandri. Di dalam kamarnya, Raihan malah menarik selimut dan menutupi wajahnya dengan selimut itu. Kedua telapak tangannya dia gunakan untuk menutupi telinga kiri dan kanan.


"Berisik sekali," dengus Raihan, pelan.


Ketukan pintu kamar yang berulang ternyata membuat Bintang terbangun. Gadis kecil itu mulai menangis mencari ibunya. Akhirnya, Yandri memasuki kamarnya untuk menenangkan Bintang.


Siang harinya, Raihan masih belum keluar kamar. Daniar merasa khawatir karena Raihan sama sekali belum menyentuh makanan. Sarapan yang Daniar taruh di meja kecil di depan pintu kamarnya, masih belum juga diambil oleh Raihan. Hingga akhirnya, Daniar memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Raihan.


"Dek, ini sudah hampir dzuhur, keluarlah dulu untuk makan. Jangan biarkan perut kamu kosong," seru Daniar.


Lagi-lagi Yandri harus melihat sikap kurang ajar Raihan kepada istrinya. Dia kembali mendengus kesal. Pada akhirnya, dia menegur sang istri.


"Sudah, Bun. Tidak usah terlalu dimanja. Biarkan saja, toh kalau dia lapar, dia pasti akan mencari makanan ke dapur. Tidak usah ditawar-tawari lagi. Dia sudah bukan anak kecil lagi," ucap Yandri kepada istrinya.


"Tapi, Yah."


"Sudah Bun, sebaiknya kamu bereskan barang-barang kita. Siang ini juga, kita pulang," kata Yandri.


"Lalu Raihan?" tanya Daniar.


"Ayah sudah minta kak Bibah untuk pulang. Sekalian ngurus rumah ibu, kak Bibah juga bisa mengawasi Raihan. Tadi pagi kak Bibah menelepon, dia ingin pulang dan melanjutkan usaha jahit di rumah," jawab Yandri


"Hmm, baguslah kalau begitu," balas Daniar.


"Ya sudah, cepat bereskan pakaian kita, biar Bintang Ayah yang urus," perintah Yandri.


Daniar pergi ke kamarnya, sedangkan Yandri kembali mengetuk pintu kamar Raihan.


"Dengar Raihan, kamu bukan anak kecil yang pantas merajuk lagi. Abang harap, kamu bisa memperbaiki sikap kamu. Jangan sampai kamu mencoreng nama baik keluarga lagi. Kalau sampai kamu kembali membawa perempuan itu menginap di sini, Abang tidak akan pernah membela kamu jika sampai warga memergoki dan mengarak kamu keliling kampung. Camkan itu!"

__ADS_1


Yandri melayangkan ancaman sebelum dia pergi ke kamar. Tiba di kamar, dia segera menurunkan anaknya dan membantu Daniar berkemas.


"Apa meninggalkan Raihan dalam keadaan seperti ini, adalah ide yang bagus?" tanya Daniar seraya memasukkan pakaian ke dalam tas.


"Sudahlah, Bun. Raihan bukan anak kecil lagi," ulang Yandri.


"Tapi, Yah. Usia Raihan belum genap 17 tahun. Entahlah, Bunda benar-benar khawatir dengannya."


"Dengar Sayang, siang ini juga kak Bibah akan datang. Jika ada apa-apa, dia pasti segera menghubungi kita. Sudahlah, tidak usah cemas. Usia Raihan memang belum genap 17 tahun, tapi dia sudah cukup besar untuk tidak merajuk," pungkas Yandri.


Daniar kehabisan kata-kata untuk menjawab perkataan Yandri. Dia hanya bisa diam, meskipun dalam hatinya, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Raihan.


.


.


Seminggu setelah diusir dari rumah sang kekasih, Mia hanya bisa terkurung di dalam kamarnya. Kakaknya benar-benar murka terhadap dirinya. Karena itu, Azril terus mengawasi gerak-gerik Mia.


Ya Tuhan, aku tidak bisa jauh-jauh dari Raihan, tapi aku tidak bisa bersamanya. Kak Azril terus saja mengawasi aku. Ish, apa yang harus aku lakukan? batin Mia seraya memejamkan matanya.


Drrt... Drrt...


Getaran ponsel memaksa Mia untuk membuka mata. Dia kemudian meraih benda tersebut dan segera menjawab telepon dari temannya.


"Ya, Sani ... ada apa kamu nelepon aku?" tanya Mia kepada sahabatnya.


"Hai Mia, apa kamu tidak ingin mengucapkan selamat padaku?" tanya perempuan yang bernama Sani di ujung telepon.


"Selamat?" ulang Mia, "selamat hntuk apa?" tanya Mia seraya mengerutkan kening.


"Kamu tahu, Mia ... sebentar lagi, aku akan menjadi seorang ibu?" seru Sani terdengar gembira.


"Benarkah? Kamu hamil? Tunggu-tunggu, bukankah kamu belum menikah?" tanya Mia semakin kebingungan.


"Hmm, setelah semua ini, tentu saja aku akan menikah, Mia. Kamu ini gimana sih?" jawab Sani.


"Ma-maksud aku, sekarang kamu dan Gandhi belum menikah, 'kan?"


"Ya, niat kami untuk menikah selalu ditentang orang tua aku. Kamu sendiri tahu, 'kan, bagaimana sikap idealis ibuku. Karena itu aku meminta Gandhi untuk menghamili aku. Dan sekarang ... akhirnya aku mengandung anak Gandhi. Dan ibuku, hmm mau tidak mau, dia harus menerima Gandhi sebagai menantunya. Kalau tidak, dia akan menanggung malu karena anaknya hamil di luar nikah. Ideku luar biasa, 'kan, Mi?" jawab Sani dengan bangganya.


"Ish, gila. Kamu bener-bener gila, San!" Mia mendengus kesal mendengar kelakuan sahabatnya.


"Hmm, tapi kegilaan aku setidaknya berhasil menyatukan cinta kami, Mi," tukas Sani.


"Tapi kamu masih muda, San. Emang kamu udah siap punya anak?" tanya Mia.


"Siap enggak siap sih, tapi bodo amat lah. Lagian bayiku enggak bakalan brojol hari ini juga, yang penting, minggu depan aku akan menikah dengan Gandhi. Kamu harus datang ya, Mi. Awas kalau sampe enggak datang. Ya udah ya, Mi. Aku mau siap-siap dulu, malam ini Gandhi mau ngelamar aku. Bye Mia," pungkas Sani seraya mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Merasa sambungan teleponnya telah terputus, Mia melemparkan benda pipih itu ke atas kasur. Sejurus kemudian, dia bergumam, "Dasar bocah sedeng!"


Namun, sepersekian detik kemudian, senyum tipis terukir dari bibir Mia. "Hmm, aku punya ide cemerlang," gumam Mia seraya menjentikkan jarinya.


__ADS_2