
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kiri gadis itu.
"Bi-bin ... ma-maaf." Lirih Daniar saat menyadari kesalahannya.
Bintang tidak menjawab. Dia hanya menatap tajam ke arah Daniar. Kecewa? Tentu saja Bintang sangat kecewa. Hanya karena membela kedua orang yang dibencinya, ibunya tega menampar dirinya.
Amarah Bintang semakin meluap. Namun, dia tidak mampu meluapkannya kepada orang yang telah melahirkan dirinya. Tanpa berkata apa pun, Bintang segera pergi dari rumahnya.
"Bintang, tunggu Nak! Bintang jangan pergi! Maafkan Bunda, Nak. Maafkan Bun–"
"Bunda."
Panggilan Adwira yang tengah berdiri di ruang keluarga. sontak menghentikan langkah Daniar.
"Wira ... to-tolong Bunda. Tolong kejar Bintang, Nak," pinta Daniar.
"Iya, Bun. Sebaiknya Bunda tenangkan diri Bunda dulu. Tidak usah cemas, Wira pasti jagain Bintang," sahut Adwira yang sedetik kemudian keluar dari rumah Daniar untuk mengejar Bintang.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Niar. Ribuan kebenaran seperti apa yang kamu sembunyikan dariku? Apa kamu tahu, aku sudah seperti orang bodoh saja saat ini. Kebencian anakku sendiri? Ya Tuhan ... apa kau tidak tahu kalau itu benar-benar menyakitkan. Apa yang sebenarnya terjadi, Niar? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"
Yandri tak sanggup membendung semua rasa sakitnya. Melihat sorot mata Bintang yang penuh dengan kebencian, seakan membuat tulang belulang Yandri rontok seketika.
"Ma-maafkan Niar, Kang. Ni-niar sendiri tidak tahu ke-kenapa Bintang bereaksi seperti itu. Memang benar, Bintang sedikit mengetahui kebenaran tentang kita, tapi Niar tidak pernah dengan sengaja memberitahukannya. Di-dia menyaksikannya sendiri Kang ... dan Niar tidak berdaya. Saat itu, Niar tidak berdaya untuk menutupi semuanya. Niar sudah berusaha untuk membuat dia melupakan kejadian itu. Tapi trauma masa kecil, begitu sulit untuk dilupakan, dan itu terjadi pada anak kita, Kang. Niar tidak bisa menghapus trauma Bintang, tidak bisa ..." racau Daniar di sela-sela isak tangisnya.
Yandri merangkul Daniar yang duduk di hadapannya. Jika sampai wanita hebat ini menangis, artinya ada banyak beban yang sudah tidak mampu dia simpan lagi. Dan Yandri pun sangat ingin tahu sisa kebenaran yang masih tersimpan rapat dalam memori wanitanya.
"Tolong katakan semua kebenarannya, Niar. Aku mohon, jangan ada yang ditutupi lagi," pinta Yandri.
.
.
Mulut Yandri seakan terkunci rapat setelah mendengar semua kebenaran tentang perbuatan ibunya, Habibah dan juga Siska. Namun, Yandri tidak bisa menyalahkan sang ibu. Dalam hati, dia hanya bisa bertanya. Kenapa wanita yang telah melahirkannya itu, tega menghancurkan kehidupannya sendiri?
Merasa kepalanya semakin berat. Yandri pun pergi ke halaman belakang. Tiba di sana, dia membuka pakaian tidurnya. Hanya tinggal celana boxer yang tertinggal di tubuhnya.
Uuh, mungkin air dingin bisa menghilangkan penat di kepalaku, batin Yandri.
Byurr!
Yandri menjatuhkan diri ke kolam renang. Sedetik kemudian, dia pun mulai menikmati dinginnya air kolam di malam hari.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam kamarnya Daniar masih belum bisa memejamkan mata. Tamparan yang dia layangkan kepada anaknya, masih terekam jelas. Tersimpan rasa tidak nyaman di hati Daniar. Meskipun Adwira mengatakan jika Bintang baik-baik saja. Namun, rasa bersalah masih menggelayut. Daniar tidak tenang sebelum dia berbicara dengan anaknya.
"Ah, sepertinya aku butuh secangkir kopi untuk menyegarkan isi kepalaku," gumam Daniar.
Daniar meraih kimono satinnya. Dia kemudian pergi ke dapur untuk membuat kopi latte kesukaannya.
Byur!
Byur!
Berulang kali Daniar mendengar bunyi deburan air dari halaman belakang.
"Astaghfirullah, siapa kira-kira yang bermain air di jam segini. Enggak ada kerjaan saja," dengus Daniar terlihat kesal.
Daniar mengintip dari balik tirai jendela dapur. Tampak bayangan yang sedang naik turun di dalam kolam renang. Karena merasa penasaran, Daniar pun melangkahkan kaki menuju halaman belakang.
Kedua matanya membelalak. Mulutnya terbuka lebar ketika melihat Yandri muncul dari permukaan air kolam renang. Tubuhnya yang masih terlihat atletis, perlahan naik dan terlihat sempurna. Jantung Daniar berdegup kencang melihat pria berusia 43 tahun itu berdiri di tepi kolam.
Usianya memang sudah tidak muda lagi. Namun, pahatan demi pahatan di bagian perutnya, menandakan jika dia masih perkasa. Tiba-tiba saja, hawa panas mulai menjalari sekujur tubuh Daniar. Wanita itu merasa gerah di antara dinginnya udara malam.
"Kau ingin berenang bersamaku?"
Pria itu menyentuh pipi Daniar dengan tangannya. Dinginnya sentuhan tangan Yandri, membuat tubuh Daniar bergetar hebat. Sudah sangat lama dia menginginkan sentuhan ini. Sentuhan penuh kelembutan yang membuat dirinya merasa berharga menjadi seorang wanita.
"Bagaimana? Bukankah kita belum terlalu tua untuk lomba berenang?" lanjut Yandri.
"Ni-niar ... Niar ... Ni-niar ti-tidak memakai pakaian re-nang, Kang," sahut Daniar, tergagap.
Yandri mengambil cangkir kopi yang dipegang Daniar dan menyimpannya di atas meja. Sedetik kemudian, dia melepaskan tali kimono Daniar. Kedua tangan Yandri menyibakkan kimono itu hingga luruh dan teronggok di bawah kaki Daniar. Tanpa permisi, Yandri mengecup kedua bahu mantan istrinya. Yandri berani melakukan itu, karena sinar mata Daniar, menyiratkan sesuatu yang lebih.
"Ish, Kang," rintih Daniar seraya memejamkan matanya.
Embusan napas Yandri telah membuat darahnya berdesir hebat. Tanpa sadar, sebuah lenguhan kecil lolos begitu saja saat Yandri memainkan indera perasanya di pundak Daniar.
Tidak sampai di sana. Permainan indera perasa Yandri mulai naik menyusuri jenjang leher Daniar. Dengan cekatan, tangan Yandri menyibakkan rambut panjang Daniar dan menahannya. Hingga sebuah isapan kecil di ceruk leher Daniar, kembali membuat wanita itu melenguh halus.
Tak ada kata yang mengiringi malam mereka. Hanya bahasa tubuh saja yang mengisyaratkan mereka saling mendamba satu sama lain.
Perlahan, kedua tangan Yandri menurunkan tali kecil yang tersampir di kedua bahu Daniar.
Pluk!
__ADS_1
Dan pakaian tipis yang melekat di tubuh Daniar pun, jatuh sempurna di bawah kakinya.
Mata Yandri menatap nanar dada putih bersih milik Daniar. Kabut gairah semakin menekan sesuatu di antara kedua pangkal pahanya hingga terasa sakit. Ciuman pembuka dia layangkan di bibir mungil milik Daniar. Ciuman yang selama bertahun-tahun hanya mampu dia impikan.
Sejenak Yandri menghentikan ciumannya. Dia membiarkan Daniar meraup oksigen lebih banyak lagi. Sembari menunggu, tangannya mulai bergerilya menjamah sesuatu yang membuat darahnya bergejolak.
Aku menginginkannya. Entah itu untuk hari yang telah berlalu, hari ini dan ribuan hari yang akan datang, batin Yandri terus mengeksplor wajah tirus sang mantan istri.
Langkah Yandri mulai membimbing kaki Daniar untuk menuju pool lounger chair. Dia kembali meraup penuh bibir mungil Daniar. Hingga mereka saling menautkan indera perasa masing-masing.
Yandri sedikit menekan ciumannya. Membuat tubuh mungil Daniar berbaring di atas pool lounger chair.
Yandri melepaskan ciumannya. Indera perasanya kembali mengekplor setiap inci raga wanita cantik itu. Yandri mengecup, memberikan isapan-isapan yang membuat raga itu menggelinjang. Hingga akhirnya, kecupan Yandri bermuara di atas segitiga berenda milik Daniar.
Yandri menatap penuh damba. Perlahan, jari kekarnya mulai meluruhkan segitiga berenda. Pandangan Yandri terasa segar menatap suguhan yang tersaji di hadapannya. Tak sanggup menahan hasrat, Yandri mulai mengecup suguhan itu. Menyusuri belahannya hingga menyentuh sesuatu yang membuat kedua tangan Daniar menjambak rambutnya.
"Ka-kang," bisik Daniar saat merasakan cairan hangat keluar di lembah miliknya.
Yandri begitu puas menikmati kehangatan yang diberikan Daniar. Mendengar napas yang semakin memburu dari kekasihnya, Yandri sadar jika Daniar mulai gelisah.
Tak ingin mengungkung wanita itu dalam sebuah kegelisahan yang menyakitkan, kedua kaki Yandri pun mulai membelah jenjang kaki Daniar.
Yandri tahu, ini pasti rasanya akan sakit sekali. Karena itu, perlahan dia kembali mencumbui wajah Daniar sebelum akhirnya dia melesatkan senjatanya dengan kuat.
"Aaargh!"
Jeritan tertahan sang kekasih hati, membuat bibir Yandri membungkam bibir Daniar. Secara naluriah, pasangan yang sudah berpisah belasan tahun itu saling memacu berirama untuk merengkuh kenikmatan dunia.
Hingga setelah beberapa kali melakukan pelepasan, erangan hebat lolos dari kedua bibirnya saat mereka bersama-sama meraih puncak kenikmatan.
"Aku mencintaimu, Bun."
Kalimat Yandri menutup epilog kerinduan yang telah mereka salurkan satu sama lain.
"Aku ju-ga mencintaimu, Ka-kang," sambut Daniar sembari memejamkan kedua matanya. Air mata pun mulai lolos di kedua pelupuk mata Daniar.
.
.
Lihatlah itu, Maryam! Karenamu mereka sampai menganiaya diri mereka sendiri. Apa kamu tega memisahkan dua orang yang saling mencintai?!
__ADS_1