
Waktu menunjukkan pukul 09.20 saat Yandri tiba di kediaman ibunya. Setelah memarkirkan motornya, dia meraih tangan Daniar dan membawanya memasuki teras rumah.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri.
Namun, tak ada jawaban dari dalam rumah ibunya. Setelah beberapa kali mengucapkan salam, akhirnya pintu terbuka. Tampak Ali berdiri di hadapan mereka.
"Om Yandri?" ucap anak pertama habibah.
"Wah, Ali sudah besar sekarang, ya? Sudah kelas berapa?" tanya Yandri yang merasa pangling melihat keponakannya.
"Kelas 9, Om," jawab Ali. "Mari silakan masuk, Om," lanjut Ali mempersilakan Yandri dan keluarganya memasuki rumah.
Kediaman Bu Maryam terlihat sepi. Yandri mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok ibunya. Namun, bayangan ibunya sama sekali tidak terlihat.
"Nenek mana, Li?" tanya Yandri kepada keponakannya.
"Nenek di rumah kakek Ahmad, Om," jawab Ali.
Yandri mengerutkan keningnya. Kakek Ahmad? Siapa kakek Ahmad? batin Yandri.
"Kakek Ahmad siapa, Li?" Yandri kembali bertanya.
"Suaminya Nenek, Om," jawab Ali.
Deg!
Yandri sangat terkejut mendengar jawaban anak remaja itu. Apa maksudnya ini? Suami ibu? Apa ibu sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan dia?
Yandri kemudian menoleh kepada istrinya. Sorot mata Yandri seakan menyiratkan sebuah pertanyaan untuk sang istri. Siapa kakek Ahmad?
Daniar menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak tahu siapa itu kakek Ahmad. Karena semenjak kembali ke kampung halamannya, Daniar tidak pernah berkomunikasi lewat telepon dengan keluarga Yandri.
"Ibu kamu di mana, Li?" tanya Yandri lagi.
"Ibu sedang mengantarkan pakaian ke rumah langganannya, Om," sahut Ali. "Tunggu saja, Om. Perginya sudah lama, kok. Sebentar lagi Ibu pasti pulang," lanjut Ali.
"Baiklah, Om akan menunggu ibu kamu, Li," jawab Yandri.
"Ali ke belakang dulu ya, Om. Mau bikin minuman buat Om, Tante Niar sama Bintang juga," kata Ali.
Yandri hanya mengangguk menanggapi ucapan Ali. Dia sendiri sudah tidak bisa berkonsentrasi saat pertama kali Ali mengatakan ibunya telah bersuami lagi. Ya Tuhan, apa benar ibu menikah lagi? Jika memang benar, kenapa tidak ada yang menghubungi aku? batinnya.
Setengah jam menunggu, akhirnya Habibah datang. Yandri sedikit terkejut melihat Habibah yang tengah berbadan dua. Hmm, rasanya baru kemarin dia meninggalkan kampung halamannya. Namun, waktu begitu cepat berlalu, hingga tanpa sadar keadaannya telah berbeda.
"Eh, ada orang kota," tegur Habibah. "Hmm, ingat pulang juga kamu, Yan?" tanyanya ketus.
Yandri tersenyum tipis menanggapi omongan Habibah. "Maaf Kak, kerjaan Yandri banyak. Jadi Yandri baru sempat datang hari ini," ucapnya.
"Kalau kamu nyari ibu ke sini, kamu salah alamat, Dek," kata Habibah.
"Maksud Kakak?" tanya Yandri semakin heran.
__ADS_1
"Ibu tinggal di rumah suaminya," jawab Habibah.
Jadi benar ibu sudah menikah, batin Yandri.
Mendengar hal itu, entah kenapa tubuh Yandri terasa lemas. Kenapa tidak ada yang memberi tahu Yandri jika ibu hendak menikah lagi?" tanyanya kepada Habibah.
"Memangnya kenapa? Apa ibu harus meminta izin kamu dulu buat nikah lagi?" tanya Habibah, lagi-lagi dengan nada yang cukup ketus.
"Bukan begitu maksud Yandri, Kak. Yandri hanya ...."
Yandri menghentikan kalimatnya. Entahlah, dia sendiri merasa bingung harus menanggapi pernikahan ibunya seperti apa. Protes pun tidak ada gunanya. Toh semuanya telah terjadi.
"Ya sudah, sekarang kamu temui ibu gih, di rumah suaminya," perintah Habibah. "Sudah sejak lama ibu menanyakan kabar kamu," imbuhnya.
Yandri mengangguk. "Kalau boleh tahu, dengan siapa ibu menikah, Kak? Di mana Yandri harus menemui ibu?" tanya Yandri kepada kakaknya.
"Ibu menikah dengan kakek Ahmad. Sudah hampir sebulan ibu tinggal bersama kakek Ahmad. Rumahnya berada di kampung Jati," sahut Habibah. "Kamu tahu, 'kan, kakek Ahmad pemilik kebun duku yang berasal dari desa jati?" tanyanya kepada Yandri.
"Iya, Yandri tahu. Bukankah kampung itu tidak jauh dari sekolah tempat Yandri mengajar dulu," timpal Yandri.
"Nah, itu kamu tahu," sahut Habibah.
"Ya sudah, kalau begitu Yandri pergi dulu, Kak." Yandri kemudian berpamitan kepada Habibah.
Sejenak, Yandri menatap istrinya. Apa kita mau ke sana, Bun?" tanyanya.
"Niat kita datang kemari, 'kan untuk menemui ibu, Yah," jawab Daniar.
"Ish, jangan seperti itu, Yah. Kita kunjungi saja. Sekalian kita kenalan juga dengan suaminya ibu," saran Daniar.
"Ya sudah, terserah Bunda saja," sahut Yandri mengalah.
Yandri dan Daniar kembali menaiki motornya. Sejurus kemudian, Yandri melajukan kendaraan beroda dua itu menuju kampung tetangga.
.
.
Setelah melewati turunan yang begitu curam, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah panggung yang memiliki halaman belakang cukup luas dan asri. Yandri kembali memarkirkan motornya.
Di rumah. Kening Bu Maryam berkerut saat mendengar suara motor berhenti di halaman belakang rumahnya. Dia pun membuka tirai jendela kamar untuk mengintip siapa yang datang.
Senyum Bu Maryam mengembang saat dia mengetahui anaknya datang. Namun, senyum itu seketika sirna ketika melihat tak ada satu pun yang berubah dari diri putranya itu. Bu Maryam keluar kamar untuk menyambut kunjungan Yandri.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri dari balik pintu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Maryam seraya membuka pintu belakang rumahnya.
Yandri yang memang sudah sangat merindukan ibunya, segera menghambur untuk memeluk Bu Maryam. Air mata penuh haru menggenang di kedua sudut mata Yandri.
"Apa kabar, Bu?" Yandri menguraikan pelukannya dan menyapa sang ibunda.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kabar Ibu baik-baik saja, Nak. Kamu sendiri apa kabar? Sehat?" Bu Maryam balik bertanya.
"Alhamdulillah, Yandri sehat Bu," balas Yandri.
Daniar menghampiri Bu Maryam. Dia mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan ibu mertua. Sudah lama juga Daniar tidak bertemu dengan Bu Maryam. Daniar berharap, sikap ibunya akan sedikit melunak hari ini. Bukankah selalu ada rasa rindu di setiap jarak yang telah memisahkan?
Namun, harapan tinggal sebuah harapan. Wajah datar itu masih kentara begitu jelas di raut muka ibu mertuanya. Daniar pun hanya tersenyum tipis saat sang ibu mertua menepis pelan tangan Daniar.
"Ayo masuk, Yan." Bu Maryam mempersilakan putranya masuk.
Tiba di ruang keluarga, mereka bertemu dengan pria tua yang begitu ramah menyambut mereka. Sepertinya, pria itu yang bernama kakek Ahmad, suami barunya Bu Maryam.
"Ada tamu toh. Siapa mereka, Yam?" tanya Kakek Ahmad.
"Ini putra saya, Yandri," jawab Bu Maryam.
"Perkenalkan, Pak. Saya Yandri, ini istri dan anak saya," imbuh Yandri seraya memperkenalkan Daniar dan Bintang.
"Oalah, Yandri yang bekerja di luar kota itu, toh. Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu juga, ya. Cuma sama kamu saja, Bapak belum ketemu. Terima kasih karena mau mengunjungi kami," ucap Kakek Ahmad.
"Iya Pak, sama-sama," balas Yandri. Hmm, sepertinya suami baru ibu orang baik, batin Yandri.
Saat mereka tengah berbincang-bincang. Tiba-tiba Bintang merengek meminta ke kamar mandi. Daniar pun meminta izin untuk membawa putrinya ke kamar mandi. Ketika dia tengah menunggui Bintang yang sedang pipis. Ibu mertuanya menghampiri Daniar.
"Hmm, Ibu pikir kalian sudah punya apa gitu, sehingga berani datang kemari. Nyatanya, kalian masih belum memiliki apa-apa. Huh, ceritanya kerja di luar kota, tapi tidak ada perubahan sama sekali!" Bu Maryam berkata sinis, seolah sedang mengejek keadaan Daniar yang memang tidak jauh berubah dari Daniar yang dulu.
Daniar hanya diam mendengar hinaan ibu mertuanya. Padahal, hatinya sudah merasa panas ingin menyahut. Namun, Daniar masih waras. Ini rumah orang, dan dia juga tidak ingin memancing keributan di rumah orang lain.
"Kenapa diam, Niar? Percuma berpendidikan tinggi dan memiliki titel, tapi tetap kere. Mangkanya, enggak usah sok ngebanggain pendidikan tinggi. Lah wong banyak sarjana yang pengangguran. Banyak juga orang-orang bergelar yang penghasilannya di bawah tukang kuli bangunan. Buktinya, suami kamu itu. Kamu paksa dia untuk kerja di luar kota, 'kan? Tapi mana hasilnya? Ibu pikir sudah punya mobil, nyatanya masih tetap pake motor butut seperti itu. Cih, memalukan!" dengus Bu Maryam terlihat kesal.
Sakit! Tentu saja hati Daniar sakit mendengar ibu mertuanya menghina suaminya. Ya, suaminya yang notabene anak kandungnya sendiri.
Ish, kenapa ada seorang ibu yang tega merendahkan pekerjaan anaknya sendiri? batin Daniar
"Ayah!" seru Bintang seraya berlari memeluk pinggang Yandri.
Daniar menoleh ke belakang. Tampak Yandri tersenyum di ambang pintu dapur. Entah sudah berapa lama Yandri berdiri. Namun, mata Daniar menangkap tetes air mata jatuh dari kedua pelupuk mata suaminya.
"Maaf, Bu. Yandri harus pulang dulu. Ada seseorang yang menunggu Yandri di rumah," ucap Yandri seraya menghampiri ibunya. Tangan kanan Yandri kembali terulur untuk menyalami ibunya.
"Maafkan Yandri karena belum bisa memenuhi keinginan ibu," imbuhnya seraya menyelipkan amplop putih di balik telapak tangan ibunya.
Bu Maryam bergeming.
"Ayo kita pulang, Bun!" ajak Yandri kepada istrinya.
"I-iya, Yah," jawab Daniar.
"Yandri pamit, Bu. Assalamu'alaikum!"
Sesak! Rasanya sesak sekali melihat kenyataan atas sikap ibunya. Namun, sekali lagi Yandri harus berusaha untuk bisa berdiri tegar.
__ADS_1