
Daniar cukup terkejut mendengar pernyataan ibunya. Ada sedikit rasa haru terselip di hati jika itu memang terjadi. Pasalnya, usia Bintang sudah 8 tahun. Butuh waktu empat tahun dari dia melepaskan IUD sehingga bisa mendapatkan titipan lagi. Namun, bagaimana jika bukan hamil.
Hmm, sebaiknya aku tidak usah senang dulu. Takut jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, batin Daniar.
"Kok diam sih, Ni?" lanjut Bu Salma.
"Eh, eng-enggak Bu. Niar cuma kaget saja. Emangnya beneran ya, Niar hamil?" tanya Daniar pada ibunya.
"Ish, lu gimana sih, Kak. Yang ngerasain, 'kan elu, masak iya nanya sama Ibu," tukas Danisa seraya menonyor pelan bahu Daniar.
"Hehehe ... iya-ya." Daniar terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu udah shalat subuh belum, Ni?" tanya Bu Salma lagi.
Daniar menggelengkan kepala.
"Ya sudah, shalat subuh dulu sana! Nanti siang, kita pergi ke bidan untuk memastikan," perintah Bu Salma.
"Iya, Bu," jawab Daniar.
.
.
Di rumah Bu Maryam.
Khodijah mengerjapkan mata saat udara dingin menusuk kulitnya. Tangan kiri Khodijah terus bergerak untuk menggapai selimut yang tersingkap entah karena apa. Namun, Khodijah merasa sangat kesulitan. Sekali lagi, Khodijah merutuki nasibnya yang harus hidup bergantung kepada orang lain.
Sedangkan, di samping Khodijah, tampak Bu Maryam tengah mendengkur halus. Mungkin, wanita tua itu merasa lelah setelah mengurus Khodijah seharian. Karena itu, pergerakan tangan Khodijah, sama sekali tidak mampu Bu Maryam rasakan. Dia masih pulas tidur dengan sesekali mengigau memanggil nama Nauval. Sepertinya, kerinduan wanita itu terhadap putra keempatnya sudah semakin memuncak.
Mendengar nama Nauval, seketika kedua bahu Khodijah sedikit berguncang. Entah sudah berapa tahun dia tidak bertemu dengan adiknya yang pergi merantau itu. Padahal, jika dilihat dari masa lalunya, Nauval bisa pergi merantau dan bekerja di kota, semua itu tidak lepas dari jasa suaminya. Dulu, selesai sekolah tingkat dasar, Nauval belajar menjahit kepada Aji hingga sampai mahir. Setelah bisa menguasai ilmu dan mampu mempraktikkannya, Nauval pun pergi mengadu nasib ke ibu kota hingga berhasil menjadi orang sukses dan kaya raya.
Awal Nauval merantau dan belum menikah. Orang yang pertama kali dia temui saat pulang kampung, adalah Aji. Bahkan tahun-tahun awal setelah menikah pun, mereka masih sering berkomunikasi. Hingga akhirnya, tanpa sebab Nauval memutuskan tali silaturahim kepada Aji dan Khodijah. Sampai detik ini, sudah hampir sepuluh tahun Khodijah tidak bertemu dengan Nauval. Rasa rindu pun mulai menggelitik di hati Khodijah.
Kamu di mana, Dek? Sungguh, Kakak rindu kamu. Kakak sangat ingin bertemu denganmu, batin Khodijah seraya meneteskan air mata.
.
.
Setelah jam kerja berakhir, Daniar pergi ke ruang kepala sekolah untuk meminta izin. Tiba di sana, Daniar mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.
Tok-tok-tok!
"Masuk!" perintah Ibu Kepala Sekolah dari dalam ruang kerjanya.
Tanpa menunggu waktu lagi, Daniar memasuki ruang kantor kepala sekolah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Daniar. "Apa boleh saya masuk?" imbuh Daniar.
"Ah Daniar ... masuklah, Nak!" Bu Indah mempersilakan Daniar memasuki ruangannya. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Indah.
"Maaf, Bu. Sebenarnya, emh ... saya mau minta izin pulang duluan," jawab Daniar.
Bu Indah menautkan kedua alisnya. "Apa kamu sakit?" tanya Bu Indah lagi.
"Eh, eng-enggak, Bu. Saya hanya ingin pergi ke bidan saja," jawab Daniar terbata.
"Kamu hamil, Niar?" tanya Bu Indah, terkejut.
"Emh, sebenarnya belum pasti Bu. Baru mau dicek. Soalnya, tadi pagi saya muntah-muntah," tutur Daniar.
"Hmm, ya sudah. Pergilah!" kata Bu indah.
"Terima kasih, Bu," jawab Daniar.
Bu indah hanya menganggukkan kepala menanggapi jawaban Daniar.
Setelah selesai dengan urusan izin dari kepala sekolah. Daniar kembali ke kelas. Dia membereskan meja kerjanya. Menata dengan rapi dan menyiapkan program pembelajaran untuk esok hari. Lepas itu, Daniar memesan ojek online untuk pergi ke bidan terdekat.
Setelah beberapa menit menunggu, ojek online yang dipesan Daniar sudah nangkring di depan gerbang sekolah. Daniar keluar kelas.
"Dengan Bu Daniar," kata si pengendara ojek begitu Daniar tiba di gerbang sekolah.
"Iya, benar Bu. Kita berangkat sekarang?" lanjut Pak Anwar si tukang ojek online.
"Sekarang saja, Pak. Mumpung masih siang," balas Daniar.
"Baik, Bu. Mau pakai helm atau tidak, nih?" tanya Pak Anwar.
"Dipakai saja, Pak. Buat keselamatan juga," jawab Daniar, tersenyum sambil mengambil helm yang diulurkan oleh Pak Anwar.
Setelah mengenakan helm, Daniar kemudian naik. Pak Anwar menyalakan mesin dan mulai melajukan kendaraannya menuju tempat praktik Bidan Yuni.
.
.
Di lain tempat.
Kakek Ahmad mulai merasa terganggu dengan sikap Bu Maryam yang terlalu sering pulang. Kakek Ahmad mengerti jika anak sambungnya membutuhkan Bu Maryam untuk mengurusi semua kebutuhannya. Namun, sebagai seorang suami, Kakek Ahmad juga sangat membutuhkan perhatian dan pelayanan dari istrinya. Percuma dia menikah jika dia harus melakukan semua pekerjaan rumah sendirian. Tak ada yang memasak, menyiapkan makanan, bahkan obat yang harus dia makan setiap malam pun, dia harus siapkan sendiri. Pada akhirnya, Kakek Ahmad mulai menggerutu kesal.
Dengan langkah gontai karena memang usianya sudah uzur, Kakek Ahmad berjalan menuju rumah menantunya.
"Ciiih... Cicih!" panggil Kakek Ahmad dari kejauhan.
__ADS_1
Bik Cicih menyembulkan kepala dari jendela dapur. Saat dia melihat mertuanya berjalan gontai menuju rumah, Bik Cicih pun segera keluar untuk menyambut sang mertua. Dia takut jika Kakek Ahmad tidak bisa menyeimbangkan langkahnya hingga terjatuh nantinya.
"Waduh, kalau Bapak sampai jatuh, bisa-bisa kang Ojak marah nih," gumam bik Cicih seraya membuka pintu dapur.
Teegopoh-gopoh, Bik Cicih berjalan menghampiri mertuanya.
"Bapak ngapain jalan ke sini?" tanya Bik Cicih. "Nanti kalau jatuh, gimana Pak? Cicih juga yang bakalan disalahin kang Ojak," lanjutnya.
"Hehehe, Maaf Cih," ucap Kakek Ahmad mengulurkan tangan untuk meminta bantuan menantunya.
Bik Cicih meraih tangan keriput kakek Ahmad dan menuntunnya menuju rumah. Tiba di sana, Bik Cicih membantu Kakek Ahmad untuk duduk di bangku teras belakang.
"Ada apa, Pak. Kok sampai datang ke rumah Cicih sendirian?" tanya Bik Cicih lagi.
"Bapak lapar, kamu punya makanan enggak?"
Bik Cicih mengernyitkan keningnya. Dia merasa heran karena sang mertua mencari dirinya di kala lapar. Mungkin sebelum menikah, Bik Cicih yang selalu menyiapkan makan untuk mertuanya itu. Namun, semenjak sang mertua menikah, semua tugasnya diambil alih oleh istri baru mertuanya.
"Memangnya ibu ke mana, Pak? Biasanya ibu, 'kan, yang suka nyiapin makanan untuk Bapak?" cerocos Bik Cicih.
"Ibu sudah beberapa hari enggak ada di rumah, Cih. Dia sedang ngurusin anaknya yang lagi sakit," tutur Kakek Ahmad.
Bik Cicih hanya melongo mendengar ucapan mertuanya.
.
.
Di tempat praktik Bidan Yuni.
"Alhamdulillah, Bu. Saat ini Ibu sedang mengandung. Hmm, sepertinya usia kandungan Ibu baru berjalan beberapa minggu. Mungkin sekitar 5 atau 6 minggu," tutur Bidan Yuni saat sedang meraba perut Daniar.
"Benarkah Ibu Bidan?" tanya Daniar seakan tidak percaya.
"Iya, Bu. Ini, saya bisa merasakan jika ada sesuatu di dalam rahim Ibu. Untuk lebih meyakinkannya lagi, Ibu bisa di-USG nanti," balas Bidan Yuni.
"Ah, tidak perlu Bu Bidan. Saya percaya dengan semua perkataan Ibu. Saya hanya merasa kaget saja, karena usia Bintang sudah cukup besar juga. Saya tidak menyangka jika saya diberikan kepercayaan lagi untuk bisa hamil kembali. Syukur alhamdulillah," balas Daniar penuh rasa takjub dan bersyukur.
"Seperti biasa, ingat ya ... Ibu harus pintar-pintar menjaga kandungan. Masalahnya, rahim Ibu tidak cukup kuat, jadi harus ekstra hati-hati. Jangan sampai jatuh ataupun melakukan pekerjaan yang berat-berat," nasihat Bidan Yuni.
"Iya, Bu Bidan. Saya akan selalu ingat nasihat Ibu Bidan," sahut Daniar.
"Ya sudah, kalau begitu saya akan beri Ibu vitamin dan juga beberapa butir obat untuk menguatkan kandungan Ibu. Jangan lupa diminum rutin selama satu minggu, ya," pungkas Bidan Yuni sambil membuat catatan resep yang harus ditebus Daniar di apotek.
Setelah pemeriksaan selesai, Daniar pergi ke bagian obat-obatan untuk menyerahkan resepnya. Sambil menunggu vitamin dan obatnya selesai diracik, Daniar mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dia hendak memberitahukan kabar gembira ini kepada sang suami. Sejenak, jari jemari Daniar menari lincah di atas keypad benda pipih itu.
Selamat menjadi ayah lagi. Tulis Daniar di layar ponselnya.
__ADS_1