
"Jujur saja, Bunda enggak tega lihat kondisi kak Dijah, Yah. Kok bisa sih, dokternya salah memberikan obat seperti itu," ucap Daniar.
Yandri yang sedang mengendarai mobilnya, hanya bisa menghela napas. Dia sendiri merasa iba melihat kondisi sang kakak. Namun, Yandri pun tidak mampu berbuat apa-apa untuk kesembuhan kakaknya.
"Oh iya, Bun. Apa enggak sekalian saja kita cari tempat pengobatan yang dikatakan oleh pak Agus tempo hari?" tanya Yandri. "Mumpung masih di luar juga," lanjutnya.
Untuk sesaat, Daniar menoleh kursi belakang. Tampak Bintang sedang anteng memainkan ponsel miliknya.
"Bibin Sayang ... kamu capek enggak?" tanya Daniar.
Bintang mendongak. "Enggak, Bun. Memangnya kenapa?" tanya Bintang.
"Kalau kita cari alamat buat ngobatin wak Dijah, Bibin keberatan enggak?" Daniar kembali bertanya.
"Cari aja, Bun," sahut Bintang seraya kembali memainkan ponsel.
"Ya sudah, Yah. Kita cari alamat pengobatan alternatif dulu, deh," lanjut Daniar.
Yandri mulai menambah kecepatan laju kendaraannya.
.
.
Di lain tempat. Setelah mendapatkan saran dari Raihan, Bu Maryam kemudian mendatangi rumah Yoga. Dia hendak meminta Yoga untuk menelepon Yandri. Berniat untuk mengutarakan maksudnya supaya Yandri membantu memulihkan kesehatan Khodijah.
"Sudah Bu, tidak usah terlalu memaksakan diri. Toh, bang Yandri juga masih banyak kebutuhan," ujar Yoga, mencoba menolak halus maksud ibunya.
Sikap Yoga kepada Yandri memang sudah banyak berubah. Semenjak Yandri membantu pengobatan anaknya, Yoga pun menyadari jika Yandri memang selalu tulus dalam membantu kesulitan orang lain.
Kini, Yoga juga selalu mengingatkan ibunya agar tidak terlalu bergantung kepada Yandri. Dia sendiri merasa malu melihat kebaikan hati Daniar yang tidak pernah berkomentar apa pun tentang kejelekan yang pernah dia lakukan.
"Kamu kenapa sih, Yo? Kok sepertinya enggak suka sekali kalau Ibu mengubungi abang kamu," tukas Bu Maryam yang merasa kesal saat Yoga mengabaikan permintaannya.
"Bu, Yoga bukannya enggak suka jika Ibu menghubungi bang Yandri. Yoga hanya enggak suka saja jika Ibu menghubungi bang Yandri hanya untuk memberikan beban masalah lagi. Sekarang, Ibu berniat meminta dana buat kak Dijah berobat kepada bang Yandri. Apa Ibu lupa, saat bang Yandri kena musibah dulu? Apa dia pernah meminta untuk untuk berobat kepada kita?" tanya Yoga yang seketika membungkam mulut ibunya.
.
.
__ADS_1
Yandri mulai melahjukan mobilnya sesuai dengan petunjuk pada peta online. Hingga setelah melewati jalan berkelok-kelok, mobil yang dikendarai Yandri tiba di sebuah rumah sederhana bercat putih. Halaman depan rumah itu tampak asri dengan berbagai macam tanaman hias yang berwarna warni.
"Apa benar ini rumahnya, Yah?" tanya Daniar.
Yandri menatap ponsel yang dia letakan di holder dashboard. "Menurut peta sih, titik merahnya berhenti di sini, Bun."
Daniar mengamati rumah tersebut. Sepi, sama sekali tidak ada pasien yang berkunjung. Tidak ada papan identitas, dan juga tidak ada kegiatan lazimnya tempat pengobatan alternatif di rumah itu.
"Kok sepi, Yah. Seperti bukan tempat pengobatan alternatif saja," sahut Daniar.
"Hmm, biar enggak penasaran, sebaiknya kita turun saja, Bun. Kita kunjungi rumahnya," usul Yandri.
"Tunggu, Yah. Di sana ada warung. Biar Bunda tanyakan dulu." Daniar menunjuk sebuah warung yang berada tepat di depan rumah asri tersebut.
"Ya sudah, Bunda tanyakan gih! Biar Ayah cari tempat parkir dulu," jawab Yandri
Daniar mengangguk. Dia kemudian membuka pintu mobil dan keluar. Sedangkan Bintang, dia masih anteng memainkan ponsel hingga tak berniat untuk turun.
"Bibin di mobil saja, Bun" ucap Bintang saat Daniar mengajaknya untuk pergi ke warung.
"Ya sudah, Bunda ke warung dulu, ya. Bibin mau nitip jajanan apa?" tanya Daniar.
Daniar hanya menghela napasnya. Anak itu jika sudah fokus ke HP, pasti susah untuk diganggu, batin Daniar.
Sesaat kemudian, Daniar melangkahkan kaki menuju warung tersebut.
"Permisi! Assalamu'alaikum!" sapa Daniar begitu tiba di warung.
"Wa'alaikumsalam. Silakan Mbak, mau beli apa?" sahut seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan.
"Oh iya, Bu. Saya mau beli dua botol air mineral dingin, dan ini!" jawab Daniar seraya menyerahkan dua batang coklat dan beberapa jenis makanan ringan.
"Oh iya, sebentar ya Mbak, saya ambilkan dulu air mineralnya," sahut si penjaga warung.
Sambil menunggu, Daniar terus menatap rumah yang masih kelihatan sepi. Sedangkan ujung matanya menangkap Yandri yang telah memarkirkan mobil di depan masjid.
"Ini Mbak, air mineral dinginnya," ucap wanita itu membuyarkan lamunan Daniar.
"Oh, iya Bu. Jadi berapa?" tanya Daniar.
__ADS_1
Wanita itu terlihat menghitung barang belanjaan Daniar seraya memasukkannya ke dalam kantong kresek warna hitam.
"Semuanya jadi 65 ribu, Mbak," lanjut si penjaga warung.
Daniar membuka resleting tas dan mengeluarkan dompetnya. Dia mengambil selembar uang berwarna merah dan menyerahkannya kepada pemilik warung.
"Oh iya, Bu. Apa saya boleh tanya sesuatu?" kata Daniar.
Si ibu warung yang sedang menghitung uang untuk kembalian, seketika mendongak dan menatap Daniar. Kedua sudut bibirnya tertarik hingga menampilkan lesung pipit yang menambah manis raut wajahnya
"Silakan saja, Mbak," sahut wanita penjaga warung.
"Itu, rumah yang di sana." Ibu jari Daniar menunjuk sebuah rumah bercat putih. "Apa benar itu rumah pengobatan alternatif untuk penyakit stroke? Kalau tidak salah, nama orang yang suka mengobatinya adalah pak Dana?" tanya Daniar.
"Oh iya, Benar Mbak," jawab si pemilik warung.
"Tapi kok sepi ya, Bu?" Daniar kembali bertanya.
"Hmm, kalau hari Selasa dan Sabtu memang sepi, Mbak. Kebetulan, hari Selasa itu, kami selalu nyekar ke makam almarhumah ibu. Sedangkan sekarang, hari Sabtu, itu adalah hari berkumpul bapak dengan anak cucunya," tutur si pemilik warung.
"Bapak?" ulang Daniar, mengernyitkan keningnya.
"Hehehehe, iya Mbak. Kebetulan pak Dana itu ayah saya," jawab si pemilik warung.
"Oalah ... maaf ya, Bu," ucap Daniar yang merasa malu karena sudah lancang bertanya.
"Tidak apa-apa, Mbak. Memangnya siapa yang mau berobat, Mbak?" tanya si pemilik warung.
"Kakak ipar saya, Bu. Sudah lama beliau terkena stroke. Awalnya stroke ringan dan sempat sembuh beberapa bulan. Namun, sekarang terkena lagi dan sepertinya parah. Diagnosis dokter sih, katanya salah mengkonsumsi obat," papar Daniar.
"Oh begitu ya, Mbak. Dicoba saja dulu ke bapak, Mbak. Siapa tahu jodoh. Maaf, bukannya hendak menyombongkan ayah sendiri. Namun, alhamdulillah ada banyak pasien yang berjodoh dengan pengobatan alternatif yang bapak lakukan," lanjut si pemilik warung.
"Jadwal praktiknya dari jam berapa sampai jam berapa ya, Bu?" tanya Daniar.
"Kalau Senin, Rabu, Kamis dan Minggu, jam praktiknya itu setiap jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Tapi kalau hari Jum'at, biasanya bapak buka praktik setelah salat Jum'at," jawab ibu pemilik warung.
"Oh, kalau begitu, besok hari Minggu saja saya bawa kakak ipar kemari, Bu. Terima kasih atas informasinya. Saya permisi dulu, assalamu'alaikum," ucap Daniar.
"Iya, sama-sama, Mbak. Wa'alaikumsalam."
__ADS_1