
Tin-tin!
Bunyi klakson mobil begitu nyaring terdengar. Seorang pria paruh baya, berlari tergopoh-gopoh untuk membuka pintu gerbang.
"Huh, kenapa lama sekali?" Seno mendengus kesal sambil menyembulkan kepalanya lewat jendela mobil.
"Ma-maaf, Den. Tadi Mamang sedang berada di kebun belakang," jawab Mang Jenal yang tak lain tukang kebun di rumah orang tuanya Seno.
Setelah pintu gerbang terbuka, Seno kembali melajukan kendaraannya memasuki halaman rumah. Mobil terparkir di depan pintu utama. Seno keluar dari mobilnya dan berlari memasuki rumah kedua orang tuanya.
Di ruang tengah, Seno berpapasan dengan sang adik. Dahinya mengernyit saat dia melihat Farel berpakaian rapi.
"Mau ke mana kamu, Rel?" tanya Seno.
Farel yang sedang menggulungkan kemeja panjangnya, seketika mendongak mendengar pertanyaan Seno.
"Sudah pulang, Bang? Lo ke mana aja, sih? Apa lo nggak tahu kalau bini lo mewek terus nyariin elo? Ngilang ke mana lo, ampe sepuluh hari kagak ada kabar?"
Bukannya menjawab, Farel malah mencecar Seno dengan berbagai macam pertanyaan.
"Ditanya, malah balik nanya. Eit dah, dasar bocah!"
Seno mendengus kesal dengan sikap sang adik. Sejurus kemudian, dia menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Eh, ngapain lo ke kamar. Pulang ke rumah lo sono! Bini lo nungguin elu, Bang!" teriak Farel.
Seno hanya mengibaskan tangannya menanggapi teriakan Farel.
"Ish, Abang. Gua banyak nanya, 'kan buat kebaikan elu juga," keluh Farel, pelan.
Setelah sang kakak menghilang dari balik pintu kamarnya, Farel pun keluar rumah. Hari ini, dia berniat untuk menemui kakek neneknya karena mendapatkan panggilan urgent dari mereka.
Tiba di kamar, Seno menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Rasa lelah karena seharian berkendaraan, membuat bokong dan pinggang Seno terasa panas. Seno pun tidur telentang untuk merilekskan kembali otot-ototnya.
"Ah, benar-benar seminggu yang melelahkan. Mana gua dapat kejutan lagi, dari si Niar. Ish, kok bisa sih, tuh cewek lupain gua gitu aja?"
__ADS_1
Seno kembali mendengus kesal saat menyadari jika Daniar telah melupakannya begitu saja.
.
.
Sementara itu, di sebuah kamar yang bernuansa hijau. Lagi-lagi gadis itu menatap foto insan berbeda jenis kelamin yang sedang berpose dengan gaya absurd-nya. Pakaian putih abu yang melekat di tubuh mereka, menandakan jika mereka sedang menjalani fase yang akan selalu berkesan seumur hidup. Ya, masa SMA adalah masa yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah hidup seseorang. Pun dengan gadis berhijab itu.
Kedua sudut bibirnya terangkat saat dia melihat tawa lepas pada kedua model yang berada di foto itu. Namun, ukiran senyum itu sirna saat mengingat kembali obrolannya bersama sang sahabat.
"Syah, aku boleh tanya sesuatu, nggak?"
"Mo tanya apa, Sis?"
"Kira-kira, kamu tahu nggak, cewek yang dimaksud sama Yandri tadi?" tanya Siska kepada sahabatnya.
Aisyah menggelengkan kepala. "Memangnya kenapa, Sis?"
"Eng-enggak, aku ... a-aku cuma penasaran aja sama hi-hilal yang dia maksud," jawab Siska, terlihat gugup.
"Cieee ... yang cemburu," ledek Aisyah.
"Ya, 'kan mantan juga masih bisa CLBK, Sis," gurau Aisyah.
"Ish, ngaco ah!" tukas Siska yang wajahnya merah padam karena diledek terus oleh sahabatnya.
Aisyah menghentikan pekerjaannya. Dia kemudian menatap intens kepada Siska.
"Apa kamu masih mencintai dia?" tanya Aisyah.
Bukannya menjawab, Siska malah menundukkan kepala.
"Hmm, sudah aku duga. Kamu pasti masih sangat mencintai pemuda sederhana itu. Sis, kamu single, dan Yandri baru saja ditinggalkan kekasihnya. Kalau boleh aku sarankan, kenapa kalian tidak mencoba untuk memulai kembali?"
Aisyah kembali menyarankan Siska untuk kembali menjalin hubungan dengan Yandri. Pikir Aisyah, jika di antara mereka pernah ada rasa, tentunya tidak akan terlalu sulit untuk kembali membina sebuah ikatan yang sempat terputus.
__ADS_1
Siska hanya tersenyum kecut menanggapi saran dari sahabatnya itu.
"Sudahlah, Syah. Mungkin kami tidak ditakdirkan untuk bersatu," jawab Siska.
Aisyah merangkul Sahabatnya. "Tenanglah, Sis. Kalau jodoh, tidak akan ke mana," timpal Aisyah.
Siska kembali tersenyum kecut saat mengenang obrolan beberapa hari yang lalu bersama Aisyah. Tangan Siska meraih pigura yang terpajang di meja belajarnya. Jari lentiknya menyusuri model laki-laki yang berada di dalam foto itu.
"Kamu benar, Syah. Jodoh memang tidak akan pernah lepas dari genggaman. Namun, aku tidak yakin dengan genggamanku yang begitu kendor. Sehingga sanggup melepaskan pemuda baik seperti Yandri. Kamu tidak pernah tahu kebodohanku di mada lalu, Syah. Kebodohan yang membuat aku kehilangan Yandri untuk selamanya," gumam Siska sambil memeluk pigura tersebut.
.
.
Sementara itu, di kediaman Pak Agam.
"Tidak, Ayah! Aku tidak setuju dengan ide gila Ayah ini!" ucap Bu Frida dengan nada yang cukup tinggi.
"Ish, aku sama sekali tidak meminta pendapat kamu, Frida!" jawab Pak Agam.
"Lalu, untuk apa Ayah memanggil kami kemari kalau bukan untuk berdiskusi." Bu Frida kembali berteriak kepada ayah mertuanya.
"Tenanglah dulu, Frida. Sebaiknya kita dengarkan dulu maksud dan tujuan Ayah mertuamu melakukan ini." Bu Patmi mencoba menenangkan menantunya.
" Tapi, Bu!" Protes Bu Frida. Dia kemudian menatap suaminya. "Pa, ngomong dong! Apa hal sepenting ini pun, kamu hanya akan diam saja? Ih, dasar suami nggak berguna!" keluh Bu Frida kepada suaminya.
Pak Gideon akhirnya buka suara.
"Cukup Frida! Semua itu adalah aset kekayaan Ayah. Apa pun yang ingin Ayah lakukan, itu tidak ada urusannya denganku. Termasuk keinginan Ayah untuk menghibahkan unit kontrakannya kepada Daniar. Itu juga bukan urusanku. Sekarang, ayo kita pulang!" ajak Pak Gideon seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi Pa, bagaimana dengan Seno dan Farel. Mama rasa, mereka pasti tidak akan setuju dengan rencana hibah ini. Lagi pula, mereka adalah ahli waris keluarga Alamsyah. Apa yang akan terjadi pada mereka kelak, Pa?" Bu Frida masih mencoba memprovokasi suaminya.
"Sudahlah, Ma. Aku masih punya puluhan aset yang bisa aku wariskan kepada mereka. Mama tidak usah khawatir, kita tidak harus mengemis kepada orang yang tidak pernah peduli kepada kita. Biarkan saja kedua putra kita tidak setuju. Toh itu tidak akan pernah mempengaruhi keputusan Ayah. Bukankah begitu Yah?" tanya Pak Gideon kepada ayahnya.
Pak Agam hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam.
__ADS_1
"Ayah mengerti kekecewaan kamu, Nak. Tapi, kamu juga harus mengerti jika Ayah melakukan semua ini hanya untuk menutupi harga diri kita. Urusan anak-anak setuju atau tidak, itu urusan nanti. Kita bisa bicarakan baik-baik kepada mereka. Lagi pula, hanya dua unit saja. Dan itu tidak akan mempengaruhi pendapatan kita," tutur Pak Agam.
"Siapa bilang kami tidak setuju?"