Setelah Hujan

Setelah Hujan
Mendapatkan Pekerjaan


__ADS_3

"Kang, Niar izin makan di kamar, boleh ya?" pinta Daniar kepada suaminya.


"Kamu kenapa, Yar?" tanya Yandri.


Daniar menghela napas. Tidak mungkin dia mengatakan jika dia merasa illfeel dengan sikap sang kakak ipar. Bagaimanapun, Habibah memiliki hubungan darah dengan suaminya. Ibarat pepatah, hubungan darah itu lebih kental. Meskipun dirinya mengeluh, tidak mungkin juga Yandri akan lebih membela dirinya ketimbang saudaranya. Karena itu Daniar lebih memilih diam dan tidak mau menyebutkan alasannya.


Melihat istrinya diam, Yandri sadar jika istrinya mungkin merasa tersinggung atas ucapan sang kakak. Yandri kembali menggenggam tangan sang istri.


"Maafkan sikap kak Bibah, Yar. Mungkin dia sedang banyak masalah, karena itu dia sedikit sensitif. Percaya sama Akang, sebenarnya hati kak Bibah itu sangat baik. Hanya saja, terkadang kak Bibah tidak bisa mengatur emosi saat sedang menghadapi masalah," tutur Yandri.


Daniar hanya bisa tersenyum kecut mendengar pembelaan suami atas sikap kakaknya. Dia kembali menghela napas. Tak ingin memperpanjang permasalahan lagi, akhirnya Daniar menyantap makanannya di dapur.


.


.


Malam hari yang sunyi. Daniar masih belum bisa memejamkan matanya meski malam semakin merangkak. Dengkuran halus sang suami sudah terdengar. Udara dingin pun semakin menyelimuti ruang kamarnya. Namun, entah kenapa rasa kantuk masih enggan menghampiri Daniar.


Wanita itu membalikkan badan, membelakangi suaminya. Dia masih merasa kesal dengan sikap suami yang masih terus-menerus mengabaikan cibiran sang kakak. Ish, kang. Entah terbuat dari apa hati kamu itu, batin Daniar.


Aku tidak bisa berdiam diri terus di rumah ini. Lama-lama, mereka akan semakin menginjak-injak harga diriku. Lebih baik aku mulai mencari pekerjaan. Besok, akan aku tanyakan langsung kepada bu Aisyah apakah di sekolah yang dipimpinnya masih membutuhkan tenaga guru lagi atau tidak. Kembali Daniar bermonolog dalam hatinya.


Setelah membuat keputusan bulat, Daniar pun mulai menutup matanya. Ya, sepertinya dia sudah memiliki solusi supaya tidak terlalu jenuh dalam melewati harinya di tempat tinggal sang suami.


.


.


Keesokan hari. Seperti biasa, Daniar menemani suaminya makan di dapur.


"Kang, apa Niar boleh ikut ke tempat kerja Akang?" tanya Daniar.


Yandri menghentikan kunyahannya, dia menatap heran ke arah istrinya. Mencoba mencari maksud dari pertanyaan sang istri

__ADS_1


"Kenapa menatap Niar seperti itu, Kang?" Mendapatkan tatapan heran dari suaminya, Daniar pun bertanya


"Enggak, Akang cuma heran saja. Kok tumben-tumbenan kamu mau ikut ke tempat kerja Akang. Sebenarnya, kamu kenapa?" tanya Yandri.


"Enggak, Niar enggak pa-pa, Kang. Niar cuma ngerasa bosan saja harus berdiam diri di rumah terus," jawab Daniar.


"Terus kamu mau apa ikut sama suamimu. Suami kamu itu pergi ke sekolah untuk bekerja, bukan untuk main-main. Jadi jangan mengganggunya. Biarkan dia bekerja dengan tenang," celetuk Bu Maryam.


"Niar tidak akan mengganggu Kang Yandri, Bu. Niar justru ingin menanyakan pekerjaan yang pernah dikatakan Kang Yandri dulu. Karena itu, Daniar ingin menemui bu Aisyah untuk menanyakan pekerjaan itu secara langsung," jawab Daniar.


Yandri menghela napasnya. "Ya sudah, cepat ganti pakaian!" perintah Yandri


Dengan tersenyum senang, Daniar berlari kecil ke kamarnya untuk berganti pakaian. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke dapur dengan mengenakan pakaian yang cukup rapi.


Yandri tersenyum melihat Daniar. Sejurus kemudian, dia pun melanjutkan sarapannya. Selesai sarapan, Yandri mengajak Daniar pergi ke sekolah.


Tiba di sekolah, Yandri mengajak Daniar untuk menemui atasannya. Tiba di ruang kepala sekolah, Yandri mengetuk pintu.


"Masuk!" perintah Bu Aisyah dari dalam ruangan.


"Ada apa Pak Yan?" tanya Bu Aisyah.


"Mohon maaf mengganggu waktunya, Bu. Saya datang kemari untuk mengantarkan istri saya menemui Ibu. Katanya, ada hal penting yang ingin dia tanyakan," jawab Yandri.


"Baiklah kalau begitu. Silakan duduk, Daniar!" Bu Aisyah mempersilakan tamunya untuk duduk.


Setelah Daniar duduk, Yandri kemudian berpamitan untuk kembali ke kelas. Dia tidak ingin terlalu banyak ikut campur dengan semua urusan sang istri .


"Ada perlu apa kamu ingin menemui saya?" tanya Bu Aisyah.


"Sa-saya hanya ingin menanyakan terkait pekerjaan yang dulu sempat ditawarkan, Bu. Apakah masih berlaku?" tanya Daniar.


"Pekerjaan yang mana, ya Niar?" Bu Aisyah malah balik bertanya kepada Daniar.

__ADS_1


"Itu Bu. Tentang pekerjaan untuk menjadi guru Bahasa Inggris. Apakah sudah terisi atau belum? Jika belum, saya berniat untuk mengajukan CV saya ke sekolah ini," jawab Daniar.


"Ah iya, saya ingat. Hmm, kebetulan kami memang sedang membutuhkan tenaga guru, Niar. Hanya saja, di sini gajinya sangat kecil, karena itu kami tidak berani mencari guru baru, terkecuali ...."


Bu Aisyah menjeda kalimatnya. Dia sendiri merasa ragu apakah hal ini pantas untuk disampaikan atau tidak.


"Terkecuali apa, bu?" desak Daniar semakin penasaran.


"Terkecuali kalau ada calon guru yang mau menerima gaji dengan ikhlas meskipun nominalnya kecil," lanjut Bu Aisyah.


"Tidak jadi masalah, Bu. Jika kesempatannya ada, saya mau melamar pekerjaan itu. Berapa pun gajinya, tidak jadi masalah, asalkan saya bisa terbebas dari rumah itu untuk beberapa jam," celetuk Daniar.


"Maksud kamu?" tanya Bu Aisyah, heran melihat reaksi Daniar


"Eh, eng-enggak, Bu. Sa-saya enggak kenapa-napa," jawab Daniar tergagap.


"Kamu yakin, kamu baik-baik saja tinggal di rumah keluarga suami kamu?" tanya Bu Aisyah semakin penasaran.


"Iya, Bu. Saya baik-baik saja. Sa-saya hanya merasa bosan harus menunggu kang Yandri pulang tanpa ada kegiatan apa pun di rumah. Jika saya bisa beraktivitas di luar, tentunya saya tidak akan merasa jenuh lagi, Bu," tutur Daniar.


Bu Aisyah tersenyum. "Tentu saja. Baiklah kalau begitu, nanti pada jam istirahat, kamu bisa berembuk dengan guru-guru yang lainnya untuk mengatur jadwal," ujar Bu Aisyah.


"Apa ini artinya, saya diterima bekerja di sini, Bu?" tanya Daniar, kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya.


"Ya, dan mulai besok kamu sudah bisa masuk kerja. Buatlah CV dan letakan di meja saya besok. Kemungkinan, besok saya tidak akan masuk karena harus menghadiri rapat," jawab Bu Aisyah.


"Baik, Bu," balas Daniar.


"Baiklah, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, silakan kamu tunggu jam istirahat di ruang guru. Setelah itu, kamu bisa mengatur jadwal bersama mereka," lanjut Bu Aisyah.


"Iya, Bu. Kalau begitu saya permisi," pamit Daniar.


"Silakan!"

__ADS_1


Daniar keluar dari ruang kepala sekolah. Senyumnya terukir jelas di wajah Daniar. Kini, dia tidak akan pernah merasakan kejenuhan tingkat dewa lagi karena sudah memiliki pekerjaan. Ya, pekerjaan Daniar akan menyelamatkan dia dari sindiran orang-orang rumah yang tidak pernah diketahui oleh yandri.


"Semangat, Niar," gumamnya seraya melayangkan tinju ke udara.


__ADS_2