Setelah Hujan

Setelah Hujan
Lulus


__ADS_3

Tes akademik pun dimulai. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Untuk kelompok pertama, melakukan tes wawancara. Kelompok kedua mengerjakan tes akademik, dan kelompok ketiga melakukan tes tahfiz. Setelah selesai, setiap kelompok akan diputar sehingga masing-masing peserta mendapatkan giliran untuk mengerjakan semua tes.


Harus Yandri akui, pada saat dia melakukan tes akademik, pertanyaan-pertanyaan yang disuguhkan dalam beberapa lembar kertas tersebut, hampir mirip dengan apa yang telah dia lakukan sebagai tenaga pendidik. Karena itu, Yandri tidak begitu kesulitan dalam menjawab soal-soal tersebut.


Selesai mengerjakan tes akademik, Ihsan mengajak Yandri untuk pulang ke rumahnya. Malam ini, Yandri diminta untuk menginap di rumah Tania. Sambutan Tania begitu luar biasa. Dia sangat senang saat suami dari keponakan jauhnya itu berkunjung. Segala macam makanan dia suguhkan kepada Yandri.


"Gimana kabar mertua kamu, Yan?" tanya Tania setelah meminta Yandri duduk di ruang keluarga untuk berbincang-bincang.


"Sudah Ma, jangan diajak ngobrol Yandri nya. Kasihan, pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh. Terus, abis mikir juga buat jawab soal-soal tes," tegur Pak Alam yang baru keluar dari kamarnya.


"Ih Papa ... Mama, 'kan cuma nanya doang," tukas Tania.


"Iya Wak, tidak apa-apa, Yandri baik-baik saja kok," jawab Yandri.


"Tuh, Yandri aja enggak keberatan. Kok, malah Papa yang repot sih, huh enggak jelas banget." Tania terlihat merengut saat mendapatkan teguran dari suaminya.


Pak Alam tersenyum melihat raut wajah istrinya, "Ya sudah, terserah Mama saja deh. Tapi ngobrolnya jangan lama-lama, ya. Yandri harus istirahat karena besok dia akan pulang ke Tasik," pesan Pak Alam.


"Loh, kok buru-buru sih, Yan. Uwak pikir, kamu bakalan tinggal di sini sampai pembukaan hasil ujian," kata Tania.


"Yandri masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan di sekolah, Wak. Lagian, 'kan, belum tentu juga Yandri lulus. Saingannya berat semua, Wak. Para peserta ujian kemarin, semuanya lulusan universitas kota terkenal. Cuma Yandri seorang yang dari kampung," tutur Yandri, merendah.


"Ish, enggak boleh ngomong gitu, Yan. Optimis saja. Lagi pula, Uwak yakin kalau kamu itu memiliki kemampuan yang mumpuni di dunia pendidikan," kata Pak Alam, memberikan motivasi kepada Yandri.


"Bener apa yang dikatakan Uwak kamu, Yan. Kamu itu harus percaya diri. Sebagus apa pun universitasnya, tapi kalau dia tidak memiliki potensi, ya percuma saja Yan," timpal Tania.


Yandri tersenyum. Dia sangat bersyukur karena kerabat jauh istrinya ini tidak pernah menganggap dia rendah. Padahal dia bukan dari keluarga berada seperti mereka.


"Ya sudah, ini sudah malam. Istirahatlah, Yan. Kamu bisa tidur di kamar tamu," lanjut Pak Alam.


Yandri mengangguk. Setelah berpamitan, dia kemudian pergi ke kamar tamu untuk beristirahat. Namun, sebelum tidur, Yandri menghubungi Daniar terlebih dahulu untuk menceritakan pengalaman dia mengikuti tes akademik.


.


.


Seminggu telah berlalu. Seperti biasanya, Yandri kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Setiap pagi di berangkat kerja melewati rumah ibunya. Siang hari, selepas pulang sekolah pun dia mengambil jalan yang sama. Karena hanya itulah jalan terdekat menuju jalan utama.


Namun, sejak insiden penjualan sepetak lahan yang tak diketahuinya, dan juga sikap Raihan yang baru saja diketahuinya, membuat Yandri enggan untuk singgah. Yandri berpikir, mungkin keberadaannya memang sudah tidak diperlukan lagi. Jadi, untuk apa dia repot-repot mampir jika hanya untuk mendapati satu per satu kebenaran tentang keluarganya terungkap.

__ADS_1


"Abang tidak mampir, Bu?" tanya Raihan saat tanpa sengaja sudut matanya melihat Yandri melintas melewati rumah ibunya.


"Memangnya Abang kamu sudah pulang sekolah?" tanya Bu Maryam seraya melirik jam dinding


"Tadi Raihan lihat, Abang lewat depan rumah Bu," jawab Raihan.


"Masak sih, 'kan sekarang baru jam 11. Salah lihat mungkin," tukas Bu Maryam.


"Enggak Bu, Raihan enggak salah lihat. Bibah juga lihat kok, kalau Yandri cuma lewat gitu aja," timpal Habibah.


"Kenapa Yandri enggak mampir? Biasanya dia selalu mampir sebelum pulang ke rumah istrinya," tanya Bu Maryam, heran.


"Ya, mana Raihan tahu," jawab Raihan.


"Hmm, kamu enggak tahu apa pura-pura enggak tahu?" timpal Habibah.


"Maksud Kak Bibah?" tanya Raihan mengerutkan keningnya.


"Ish, pura-pura bego lagi! Bisa jadi si Yandri tuh enggak mau mampir lagi karena kecewa sama kamu. Udah utang bekas lahiran anak kamu enggak dibayar, eh malah ditambahin sama bekas jualan pulsa bini kamu. Dia tuh marah karena kamu tuh bisanya cuma janji doang, tapi satu pun enggak ada yang ditepati. Giliran punya duit, malah beli motor. Ya Pasti kecewa lah, Yandri sama kamu," tutur Habibah panjang lebar.


"Ish, emangnya Kak Bibah juga enggak pernah ngobral janji sama bang Yandri? Pinjam uang, tapi bayarnya cuma setengah. Sama aja bohong," tukas Raihan.


Sontak Raihan dan Habibah menoleh. "Diam kamu!" sahut Habibah dan Raihan berbarengan.


"Emangnya kamu pikir, suami kamu juga enggak pernah ngerepotin Yandri?" lanjut Habibah dengan wajah merah karena menahan amarah.


"Tapi setidaknya bang Yoga enggak per–"


"Sudah-sudah!" Bu Maryam menengahi perdebatan kedua anak dan menantunya. "Kepala Ibu sakit mendengar ocehan kalian. Semua anak Ibu memang enggak pernah ada yang benar. Nyusahin saja!" dengus Bu Maryam seraya berlalu pergi ke kamarnya.


Memikirkan Yandri yang hanya melewati rumahnya tanpa singgah terlebih dahulu, membuat kepala Bu Maryam pusing tujuh keliling. Ditambah lagi berisiknya suara perdebatan Habibah, Raihan dan Puri, seolah membuat kepalanya hendak meledak saja. Karena itu Bu Maryam pergi meninggalkan mereka di dapur.


.


.


Deru kendaraan beroda dua milik Yandri berhenti di depan pintu garasi. Bintang yang sudah mengenali suara motor ayahnya, bergegas keluar untuk membuka pintu garasi


"Ayah ikuuut!" teriak Bintang saat pintu garasi terbuka dan yandri hendak menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


Melihat anaknya berlari menghampiri, Yandri segera mematikan mesin dan meraih Bintang untuk menaiki motornya. Tak lama kemudian, dia kembali menyalakan mesin motor dan melajukannya. Sejenak dia melajukan motornya mengelilingi halaman belakang yang cukup luas. Bintang pun terlihat senang.


Puas bermain-main sebentar, akhirnya Yandri berhenti. Dia menggendong Bintang dan membawanya masuk.


"Bunda mana, Dek? Kok tumben kamu yang buka pintu garasi buat Ayah," tanya Yandri kepada putrinya.


"Bunda ada di kamar, Yah, lagi beresin pakaian Ayah di koper," jawab Bintang.


Kening Yandri berkerut. Membereskan pakaianku ke dalam koper? Tapi kenapa? batin Yandri, heran.


"Assalamu'alaikum!"


Yandri mengucapkan salam seraya menurunkan Bintang. Namun, tak ada jawaban dari dalam rumah. Dia kemudian membuka sepatu dan menyimpannya di rak sepatu. Setelah mencuci kaki, Yandri memasuki kamar untuk menyimpan tas kerjanya. Sejenak, Yandri tertegun melihat Daniar yang sedang merapikan beberapa kemeja miliknya ke dalam sebuah koper.


"Sedang apa, Bun?" tanya Yandri.


Daniar terhenyak, "Ish kenapa Ayah enggak ketuk pintu dulu? Kaget, 'kan jadinya," tegur Daniar sambil memegang dadanya. Jantung Daniar seolah sedang berlari maraton karena terkejut.


"Maaf, Bun. Tadi Ayah lihat pintu kamarnya terbuka. Ya sudah, Ayah masuk saja," jawab Yandri. "Bunda lagi ngapain? Kok pakaian Ayah dimasukin ke dalam koper. Kenapa?" tanya Yandri yang tak bisa menyembunyikan lagi rasa penasarannya.


Daniar meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Dia kemudian menunjukkan sebuah surat dalam bentuk foto kepada Yandri.


"Apa ini, Bun?" tanya Yandri.


"Baca saja," perintah Daniar.


Yandri membaca kalimat demi kalimat yang terdapat dalam surat berbentuk foto itu. Kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat kata LULUS yang tertera di dalam surat itu.


"Apa ini hasil tes akademik dari sekolah asrama itu?" tanya Yandri.


Daniar mengangguk.


"Tapi kok, Ayah belum menerimanya, Bun?" Yandri kembali bertanya seraya mengerutkan keningnya.


"Karena pengumumannya juga besok, Yah. Bunda dapat foto ini dari wak Tania. Selamat ya, Yah ... Bunda bangga sama Ayah," ucap Daniar seraya berdiri untuk memeluk tubuh kekar suaminya sebagai bentuk ucapan selamat.


Yandri tersenyum, "Terima kasih, Bun. Tapi kok, Bunda mengemasi pakaian Ayah, sih. 'Kan pengumuman resminya belum keluar. Ish, kayak yang mau ngusir Ayah saja." Yandri protes seraya mengerucutkan bibirnya.


"Ih Ayah, jangan su'udzon dulu, ah! Bunda itu sedang memisahkan pakaian kemeja Ayah dengan seragam sekolah yang lainnya. Kabarnya, di sana tuh enggak pake pakaian seragam seperti ini. Tapi pakai kemeja dan jas. Jadi, Bunda lagi pilih baju kemeja buat Ayah bekerja di sana nanti. Sekalian juga, entar mau beli jas. Bukannya Ayah belum punya jas?" jawab Daniar panjang lebar.

__ADS_1


Yandri tersenyum. Untuk mengapresiasi kesigapan sang istri dalam melayani semua kebutuhannya, sontak Yandri memeluk Daniar. "Makasih ya, Sayang," ucapnya seraya mencium jenjang putih leher istrinya.


__ADS_2