
"Lepaskan aku!" teriak Bintang.
"Tapi kenapa, Bin? Kenapa kamu terburu-buru seperti itu? Dan itu!" Tunjuk Adwira pada wajah bintang yang berubah, "kenapa wajahmu terlihat merah seperti itu? Seperti sedang dikuasai amarah saja," lanjut Adwira.
"Bukan urusan kamu! Lepas!" jerit Bintang seraya menghempaskan tangannya.
Dada Bintang semakin bergemuruh karena emosi yang memuncak. Dia tidak menyangka jika pertemuan dengan ayahnya, justru menorehkan luka yang teramat dalam di hatinya.
Bintang terus menarik tangannya. Namun, Adwira tidak melepaskannya sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Lepaskan aku, brengsekk!"
Bintang mulai jengah dengan kelakuan Adwira. Tanpa sadar, kata-kata kasar pun meluncur bebas dari bibirnya.
"Hei, Bintang Azura! Ada apa denganmu? Kenapa ka–"
"Bibin!"
Panggilan seseorang yang begitu menggema, segera memotong kalimat Adwira. Pemuda itu menoleh untuk melihat siapa yang telah memanggil temannya. Namun, Bintang menggunakan kelengahan Adwira untuk segera pergi dari tempat ini.
"Aww!"
Adwira berteriak keras ketika kakinya terasa sakit akibat diinjak oleh Bintang. Spontan dia pun melepaskan tangan Bintang begitu saja.
Merasa sudah tidak ada lagi orang yang menghalanginya, Bintang segera melarikan diri dari tempat itu.
"Bibin! Tunggu, Nak!"
Yandri terus berteriak seraya mempercepat langkahnya untuk menyusul Bintang. Yandri sendiri tidak mengerti kenapa Bintang malah berlari menjauh. Padahal Yandri yakin jika Bintang mendengar panggilannya.
"Berhenti Bintang Azura!" teriak Yandri.
__ADS_1
Akan tetapi, gadis tomboy itu tidak menggubris teriakan ayahnya. Senyum sang ayah, nenek dan juga wanita itu telah membuat Bintang merasa yakin jika ayahnya telah begitu berbahagia dengan pilihannya.
Aku harus segera pergi dari sini, batin Bintang mempercepat larinya.
Grep!
Yandri berhasil mencekal pergelangan tangan anaknya. Secepat kilat, dia menarik tangan Bintang hingga gadis itu terjerembab ke dalam pelukannya.
"Tunggu, Nak! Kenapa kamu menghindar dari Ayah. Apa kamu tidak pernah tahu kalau Ayah begitu merindukan kamu?" ucap Yandri mendekap erat putrinya.
"Lepaskan aku!"
Bintang berteriak seraya memberontak. Hatinya terasa sakit, tapi dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan ayahnya.
Tidak! Aku tidak boleh cengeng. Aku harus bisa membuktikan jika aku baik-baik saja tanpanya. Kembali Bintang bermonolog dalam hatinya.
"Cukup, Nak! Cukup! Ayah tahu selama ini Ayah salah karena sudah meninggalkan kamu, tapi Ayah sangat menyayangi kamu, Nak. Ay–"
"Sayang Anda bilang? Kasih sayang seperti apa yang Anda miliki sehingga Anda bisa melupakan janji Anda pada saya? Kasih sayang seperti apa yang Anda miliki sehingga Anda melupakan tanggung jawab Anda kepada saya? Jika Anda memang keberatan untuk menghidupi saya, kenapa Anda tidak katakan semua itu sendirian? Kenapa Anda malah mengirimkan utusan untuk menyampaikan keinginan Anda? Apa Anda takut berhadapan dengan saya ... dengan ibu saya? Cih, menjijikkan!" dengus Bintang, murka.
Mendengar kata sayang dari bibir seorang ayah yang tega melepaskan tanggung jawabnya, membuat Bintang semakin muak. Dia pun sudah tidak mampu menahan emosinya lagi.
Bu Maryam yang mengetahui arah pembicaraan Bintang, mulai menyelak.
"Cukup Bintang! Apa ini yang diajarkan ibu kamu selama ini, hah? Berbicara kasar kepada orang tua, apa kamu tidak sadar siapa yang sedang berdiri di hadapan kamu itu?" teriak Bu Maryam, geram.
"Huh, lihat saja Yandri. Setelah berpisah dari kamu, Daniar mendidik anak kamu dengan cara yang tidak lazim. Mana ada anak perempuan berpakaian seperti itu? Seperti anak laki-laki saja. Dan itu, tadi ... apa pantas seorang anak berbicara dengan nada tinggi kepada orang tuanya sendiri. Katanya Daniar seorang guru, tapi dia tidak bisa mengajari anaknya bersikap," ejek Habibah.
"Ibu sudah bilang sama kamu dulu, Yan. Biarkan Ibu mengambil hak asuh anak kamu, tapi kamu tidak memberikannya. Begini, 'kan jadinya? Kalau sudah seperti ini, akan susah bagi kita untuk mendidik anak itu. Huh, dasar perempuan tidak tahu diri. Itulah kenapa Ibu tidak pernah setuju kamu menikah dengannya," cecar Bu Maryam.
"Hei, cukup wanita tua! Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menghina ibuku walau seujung kuku sekalipun!" teriak Bintang.
__ADS_1
"Aku nenekmu, Bintang! Setidaknya, bersikaplah dengan benar sebagai seorang cucu!" teriak Bu Maryam.
"Kamu nenekku? Uuuh, sungguh manis sekali Nyonya. Kenapa kamu baru ingat jika kamu memiliki cucu seperti aku sekarang, hah? Tapi sayangnya, aku tidak pernah merasa memiliki nenek berhati busuk seperti kamu!" ucap Bintang dengan kasar.
"Bintang, jaga ucapan kamu!" bentak Yandri.
"Kenapa? Kenapa saya harus menjaga ucapan untuk orang-orang munafik seperti mereka? Asal Anda tahu, di hari dia!" Bintang menunjuk Bu Maryam, "mengambil hak ibuku untuk memanggil Anda sebagai suami, maka dia juga telah kehilangan hak untuk memanggilku cucu!" lanjut Bintang, dingin.
Ucapan Bintang yang seperti sebuah teka-teki, telah membuat kepala Yandri terasa berat. Dia pun mendekati anaknya.
"A-apa maksud kamu, Nak? A-ayah benar-benar tidak mengerti," kata Yandri seraya memegang pundak anaknya.
"Cukup, Bapak Yandri yang terhormat!" ucap Bintang seraya menghempaskan kedua tangan Yandri dari pundaknya.
"Kau ingin menikah dengan wanita pilihan ibumu, bukan? Silakan, lanjutkan saja! Kau telah kehilangan hakmu terhadap ibuku, dan sekarang kau telah kehilangan hakmu atas diriku juga. Jadi aku tidak pernah punya kewajiban untuk menjawab semua pertanyaan kamu. Aku benci padamu! Dan aku mengutuk pertemuan kita hari ini! Aku sangat membencimu Yandri Gunawan!"
Emosi yang sudah membuncah di hatinya, akhirnya dia luapkan juga. Sungguh, Bintang begitu marah ketika orang-orang mempertanyakan didikan sang ibu terhadap dirinya. Padahal jika boleh jujur, dia berubah karena terlalu banyak melihat ketidakadilan yang dilakukan keluarga ayahnya terhadap ibunda tercinta.
Bintang muak! Dia sudah sangat muak dengan asumsi-asumsi negatif yang telah diciptakan nenek dan uwaknya sendiri. Bintang muak dengan fitnah-fitnah kejam yang terlontar dari mulut wanita-wanita munafik itu. Dan bintang sangat muak, melihat ayahnya tidak mampu mengenali kemunafikan ibu dan kakaknya.
Mendengar kalimat kebencian dari putrinya, seketika membuat tubuh Yandri limbung. Tangannya mulai mencari pegangan agar dia tidak terjatuh. Sakit! Tentu saja hatinya begitu sakit.
"Ada apa ini? Kenapa Bintang begitu membenci ku? A-apa yang telah aku lakukan padanya?" gumam Yandri yang masih bisa didengar oleh ketiga wanita itu.
Bu Maryam, Habibah dan Siska hanya bisa saling pandang melihat Yandri. Tiba-tiba, Habibah mendekati adiknya.
"Sudahlah Yandri. Tidak usah terlalu dipikirkan, mungkin Bintang hanya terkejut saja melihat kamu bertunangan dengan Siska," tutur Habibah.
Yandri menoleh, untuk sejenak dia menatap intens kepada kakaknya. Sepertinya, Yandri mulai menangkap maksud ucapan kakaknya.
"Ah, iya ... Kakak benar. Mungkin dia marah dengan pertunangan ini. Yandri pernah berjanji untuk tidak menikah dengan wanita lain selain ibunya. Sekarang Yandri mengerti kenapa Bintang marah. Terima kasih Kak, kalau begitu Yandri susul Bintang dulu," pamit Yandri seraya beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Eh!"