Setelah Hujan

Setelah Hujan
Jangan-jangan, Jodoh!


__ADS_3

Daniar menyusuri koridor kampus tanpa bergairah. Semangatnya seakan sirna. Entahlah, beban pikiran tentang pernikahan yang gagal, belum bisa hilang dari ingatannya. Sekarang, malah ditambah ungkapan perasaan cinta dari anak saudara ibunya. Uuh, rasanya otak Daniar seakan hendak meledak memikirkan semua ini. Dan hal itu tentu saja mempengaruhi semangat belajar Daniar.


"Sial!" Daniar mendengus kesal sambil menendang kaleng bekas minuman.


Pluk!


"Aww!"


Yandri menjerit pelan saat sebuah kaleng kosong bekas minuman soda, mendarat di jidatnya. Dia kemudian mendongak dan mendapati seorang gadis yang hanya terbengong beberapa meter di hadapannya.


"Apa kaleng bekas itu punya salah padamu?" teriak Yandri menegur Daniar.


Daniar gelagapan mendapati teguran laki-laki berperawakan tinggi itu. Apalagi dia menyadari jika laki-laki tersebut adalah orang yang sama yang selalu membuat dia merasa penasaran.


"Ish, gawat ini," gumam Daniar, gelisah.


Daniar membalikkan tubuh. Sepersekian detik kemudian, dia pun mengambil langkah seribu agar terhindar dari kemarahan pria itu.


"Hai, tunggu!" Yandri kembali berteriak. Namun, Daniar tak menghiraukannya. gadis berambut panjang itu masih terus mengayunkan langkahnya untuk menghindari Yandri.


Yandri mendengus kesal. Kembali tangannya mengelus jidat yang mulai terasa perih. "Ish, kenapa basah?" gumam Yandri.


Betapa terkejutnya Yandri saat mendapatkan noda merah di ujung telunjuknya. Buru-buru Yandri pergi ke toilet kampus untuk membersihkan luka di pelipisnya.


Setengah berlari, Daniar kembali menuju gerbang kampus.


Brugh!


Tanpa sengaja, dia menabrak seseorang hingga jatuh terjengkang.


"Ish!" Daniar meringis saat bokongnya mendarat mulus di lantai.


"Eh, maaf," ucap seorang mahasiswi berhijab yang tidak Daniar kenal.


"Tidak apa-apa, seharusnya aku yang minta maaf karena lari terburu-buru," tukas Daniar.


"Mari saya bantu," ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Daniar berdiri.


Daniar menyambut uluran tangan gadis itu. Sejurus kemudian, dia berdiri dan mulai menepuk-nepuk celananya yang kotor akibat debu di lantai.


"Kenalkan, nama saya Siska anak jurusan PGSD." Gadis itu kembali mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Oh, Saya Daniar, dari Tadris Bahasa Inggris," balas Daniar, menyambut kembali uluran Siska.

__ADS_1


"Senang berkenalan dengan kamu. Kalau begitu saya permisi dulu. Sampai jumpa di lain waktu," pamit Siska.


Daniar tersenyum dan mempersilakan teman barunya untuk pergi. Setelah Siska menghilang dari pandangannya, Daniar kembali melangkahkan kaki menuju koridor belakang. Karena takut bertemu orang yang tanpa sengaja tertimpuk kaleng minuman tadi, akhirnya Daniar memutuskan untuk memasuki kelasnya lewat jalan belakang.


"Ish, benar-benar hari yang sial," gerutu Daniar.


.


.


Sementara itu, selepas membersihkan lukanya, Yandri pergi ke ruang kesehatan untuk meminta plester.


"Ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang mahasiswi penjaga ruang kesehatan saat melihat Yandri memasuki ruang kesehatan.


"Maaf, Mbak. Saya mau minta plester untuk luka saya," jawab Yandri.


Wanita itu segera mengambil kotak P3K dan mengeluarkan selembar plester. Saat dia melihat luka di pelipis Yandri, dia kemudian menawarkan bantuannya.


"Biar saya bantu memasangnya, Mas?" tawarnya


"Tidak usah, Mbak. Saya bisa sendiri," jawab Yandri.


Namun, rupanya pesona Yandri telah membuat wanita itu tak mau melepasnya begitu saja. Dia malah mendekati Yandri.


"Maaf. Sebentar lagi kelas dimulai. Saya tidak bisa berlama-lama," jawab Yandri dingin.


Siska menyerah. Dia kemudian memberikan plester itu kepada Yandri.


"Terima kasih. Permisi!" pamit Yandri setelah menerima plester-nya.


"Ish, Yan. Sampai kapan kamu akan bersikap dingin seperti itu kepadaku. Sudah dua tahun berlalu dari kejadian itu. Namun, sepertinya kamu masih belum bisa memaafkan aku," gumam Siska seraya menatap punggung Yandri yang semakin menjauh.


Siska kembali duduk menghadap meja kerjanya. Dia menyandarkan punggung seraya menengadahkan wajah. Pikirannya melayang pada masa-masa SMA dulu. Masa indah yang tidak mampu dia lupakan.


"Dengar, dia adalah Yandri. Anak IPS 2. Kalau sampai lo bisa jalan dan menjalin hubungan dengannya selama tiga bulan, scoopy gua bakalan jadi milik lo," ucap Tyas yang pernah menyatakan cinta kepada Yandri, tapi Yandri tak pernah menanggapinya.


Siska yang saat itu memang terobsesi untuk memiliki sebuah kendaraan, langsung menerima tawaran Tyas untuk mempermainkan pemuda yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Dia pun mulai menyusun rencana untuk menarik perhatian Yandri agar bisa berkenalan dan menjalin hubungan.


Singkat cerita, setelah melakukan beberapa trik yang cukup rapi. Siska dan Yandri mengikrarkan kisah cintanya. Namun, siapa sangka jika kisah cinta itu harus kandas dalam waktu satu bulan. Karena pada akhirnya, Yandri mengetahui jika dirinya dijadikan ajang taruhan oleh siswa tercantik di sekolahnya.


Entah perasaan menyesal atau bersalah. Namun, sampai detik ini pun Siska tak mampu melupakan sosok Yandri. Dia bahkan sangat berharap bisa mengecap kembali kebersamaan singkat dulu bersama pemuda itu. Ya, tidak bisa dipungkiri jika Yandri adalah seorang pria yang teguh pendirian, baik hati dan soleh.


"Ah, benar-benar bodoh kamu, Sis!" gumamnya pelan. Tanpa sadar, air mata mulai jatuh membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


.


.


Tiba di kelas, Yandri menyodorkan plester itu kepada sahabatnya.


"Tolong tempelkan ini pada lukaku," ucap Yandri.


Deni yang sedang membaca modul langsung mendongak mendengar perkataan Yandri. Keningnya berkerut saat melihat pelipis Yandri masih mengeluarkan darah segar.


"Lo kenapa, Yan?" tanya Deni, mengambil plester tersebut dari tangan Yandri.


"Tadi ada insiden kecil yang menimpaku, Den," jawab Yandri.


Deni merobek bungkus plester. Sejurus kemudian, dia menempelkan plester tersebut untuk menutupi luka Yandri agar tidak terkena debu


"Insiden apaan? Lo jatuh?" tanya beruntun Deni setelah selesai melakukan pertolongan kepada Yandri.


"Enggak," jawab singkat Yandri sambil duduk dan mulai membuka buku catatannya.


"Ish, enggak jatuh kok bisa sampai terluka begini? Emang lo abis ngapain ampe jidat lo bocok gitu," celoteh Deni.


"Seseorang menendang kaleng bekas minuman hingga jatuh mengenai pelipis aku," jawab Yandri.


"Hadeuh ... enggak ada kerjaan banget tuh orang," dengus Deni dengan kesalnya. "Emangnya lo kenal ma orangnya?" tanya Deni kembali.


Yandri hanya menggelengkan kepala.


"Udah lo kasih pelajaran?" tanya Deni lagi.


Kembali Yandri menggelengkan kepalanya.


"Ish, kenapa lo nggak kasih dia pelajaran? Setidaknya tegur-lah, biar dia nggak asal tendang lagi." Deni mendengus kesal.


"Dia cewek, Den. Dan kelihatannya sedang kesal. Mungkin itu juga yang menjadi alasan dia berbuat seperti itu," jawab Yandri.


"Wah, jangan-jangan itu jodoh elu," sahut Deni.


"Ngawur," balas Yandri.


"Yeaay, siapa tahu, 'kan Bro. Pepatah mengatakan, jodoh datang dengan tiba-tiba. Hehehe," gurau Deni seraya terkekeh.


"Heleh, makin gaje nih orang. Udah, baca lagi tuh modul. Jangan sampai waktu presentasi, lo nggak hafal semuanya, ya! Awas aja kalo itu terjadi," ancam Yandri sembari fokus membaca tulisannya lagi.

__ADS_1


"Iya-iya."


__ADS_2