
Mia kembali meraih ponsel dan segera menekan nomor kekasihnya. Tak berapa lama, telepon pun tersambung.
"Halo, Sayang!" sapa Raihan di ujung telepon.
"Halo, Bang. Apa kita bisa ketemuan?" tanya Mia dengan suara yang dibuat serak.
"Mia, apa kamu baik-baik saja? Kamu enggak habis nangis, 'kan?"
Bukannya menjawab pertanyaan Mia, Raihan malah bertanya kepada gadis itu. Masalahnya, Raihan cukup terkejut saat mendengar suara Mia yang sepertinya sedang menangis.
"Bang, kita harus bicara. Ada hal penting yang harus Mia sampaikan sama Abang," kata Mia.
"Apa tidak bisa lewat telepon saja, Mi? Jujur saja, Abang tidak bisa ke mana-mana saat ini. Kak Bibah selalu mengawasi Abang. Dia cerewet sekali kalau Abang keluar rumah," balas Raihan di ujung telepon.
"Enggak bisa, Bang. Ini penting banget, dan kita harus ketemu untuk membahasnya," tukas Mia.
"Baiklah, Abang akan coba cari alasan untuk keluar rumah. Nanti Abang kabari lagi Mia," jawab Raihan yang tidak tega menolak permintaan kekasihnya.
"Iya, Bang. Segera ya, Bang. Mia enggak bisa nunggu lebih lama lagi," jawab Mia.
"Iya Sayang, akan Abang usahakan. Sekarang, kamu istirahatlah, Mia. Abang sayang sama Mia," pungkas Raihan.
Mia meletakkan kembali ponselnya saat sambungan telah terputus. Sejurus kemudian, dia merebahkan tubuhnya seraya memejamkan mata. Bayangan wajah tampan milik Raihan selalu menari-nari di pelupuk matanya.
"Kali ini, aku tidak akan pernah membiarkan pernikahanku gagal lagi. Apalagi bang Raihan cukup tampan. Ya, meskipun dia bukan dari kalangan orang berada, tapi setidaknya dia punya wajah yang bisa aku banggakan jika aku jalan sama bang Raihan," gumam Mia yang begitu tergila-gila kepada Raihan.
.
.
Sementara itu, di rumah Raihan.
"Raihan mohon, Kak. Izinkan Raihan keluar sebentar, ya? Please ...!" pinta Raihan seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Enggak, Rai! Kakak enggak mau mengambil risiko," jawab Habibah.
"Ish, Kak. Raihan janji, Raihan cuma sebentar perginya. Nanti, Raihan bawain martabak kacang kesukaan Kakak, tapi izinin Raihan keluar ya, Kak. Rai mohon ...."
"Enggak,Rai! Kakak enggak berani izinin kamu, nanti Yandri bisa marah besar. Kamu sendiri tahu, 'kan, gimana Abang kamu kalau sudah marah," tukas Habibah.
__ADS_1
"Tapi Raihan tidak akan menemui Mia, Kak. Raihan cuma ingin menanyakan pekerjaan sama temen Rai saja," balas Raihan.
"Udah deh, Rai ... enggak usah modus-modus lagi. Sejak kejadian kemarin, Kakak udah enggak percaya lagi sama kamu. Bilangnya mau ke rumah Darma. Nyatanya, kamu malah nyuruh si Darma buat nyusulin Mia. Untung aja Kakak berpapasan sama si Darma itu. Kalau enggak, Kakak bisa kena omel Yandri karena enggak becus ngawasin kamu," tutur Habibah yang masih merasa kesal dengan kebohongan Raihan dua hari yang lalu.
"Uh, memangnya Kakak enggak pernah jatuh cinta, apa? Kakak sendiri tahu, 'kan, apa pun akan kita lakukan demi memperjuangkan cinta," dengus Raihan terlihat kesal.
"Iya, tapi enggak gila seperti kalian. Sudah sana, Kakak mau jahit baju langganan Kakak dulu," usir Habibah seraya mendorong tubuh adiknya dari kamar tempat dia bekerja menjahit pakaian.
Raihan kembali mendengus kesal. Hari ini, dia tidak berhasil membujuk kakak perempuannya. Entah apa yang Yandri janjikan pada kakak perempuan yang mata duitan itu. Biasanya, dibujuk pakai makanan pun, hati Habibah sudah luluh. Tapi sekarang ... sulit sekali untuk bernegosiasi dengannya.
.
.
Setelah merayu Habibah selama dua hari, akhirnya Raihan berhasil juga keluar rumah. Hari ini, dia janji bertemu dengan kekasihnya di rumah pasangan muda Sani dan Gandhi. Tepat pukul 9 pagi, Raihan pun tiba di rumah kontrakan Gandhi.
"Hai, Rai!" sapa Sani begitu dia membuka pintu dan mendapati kekasih sahabatnya telah berdiri di hadapannya.
"Hai, San," balas Raihan, "kamu apa kabar?" lanjutnya.
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri?" Sani balik bertanya.
"Lagian kamu enggak main cantik, sih. Ya ketauan deh,"ejek Sani.
"Udahlah, enggak usah bahas itu lagi. Ngomong-ngomong, apa Mia sudah datang?" tanya Raihan.
"Udah dari tadi kali, tuh ada di kamar!" Tunjuk Sani.
Raihan mengerutkan keningnya. "Di kamar kamu?" tanyanya.
"Hem-eh," jawab Sani seraya menganggukkan kepala.
"Ngapain?" Raihan balik bertanya.
"Abis mewek," jawab Sani, enteng.
Raihan semakin menautkan kedua alisnya. "Kenapa Mia nangis, San?" tanyanya lagi.
"Cewek kamu bunting, Rai. Dan kamu harus tanggung jawab!"
__ADS_1
Apa?!
Raihan memekik keras saat mendengar kekasihnya hamil. Tak ayal lagi, dia memasuki rumah kontrakan Sani meskipun belum dipersilakan masuk sama si empunya rumah.
Raihan membuka pintu kamar Sani tanpa permisi. Bola matanya membulat sempurna saat dia mendapati Mia yang sedang menundukkan kepala seraya memeluk kedua lututnya. Dengan langkah gemetar, Raihan mendekati Mia dan duduk di tepi ranjang.
"Sa-sayang," panggil lirih Raihan.
Mia mendongak. Tangisnya pecah begitu melihat wajah yang sangat dirindukannya. Sedetik kemudian, Mia memeluk Raihan begitu erat.
"Ka-kamu ke mana saja, Bang. A-apa ka-kamu tahu ka-lau Mi-mia sedang kebingungan saat ini? Huhuhu,..." ucap Mia di antara isak tangisnya.
"Maafkan Abang, Mi. Abang bukannya tidak memikirkan kamu, tapi kak Bibah selalu mengawasi Abang. Dia selalu memantau gerak-gerik Abang sehingga Abang susah sekali untuk keluar," jawab Raihan seraya mengusap-usap punggung kekasihnya.
Mia menguraikan pelukannya. Sejenak, dia menatap sendu ke arah kekasihnya. Kedua matanya terlihat bengkak akibat menangis.
"Bang ... a-ada yang ingin Mia sampaikan sama Abang. Ta-tapi Mi-mia ta-kut, Bang," kata Mia terbata-bata.
Jantung Raihan berdegup kencang mendengar perkataan Mia. Raihan sudah bisa menduga jika apa yang ingin disampaikan Mia, pasti tentang kehamilannya yang tadi dia dengar dari Sani. Namun, Raihan masih bersikap pura-pura tidak tahu
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Mi? Katakanlah ... Abang siap mendengarkan kamu," ucap Raihan.
Sejenak, Mia menengadahkan wajahnya seraya memejamkan mata. Dia mencoba menahan air mata yang selalu ingin tumpah.
"Sayang?" panggil Raihan seraya menyentuh bahu Mia.
Mia membuka matanya dan menatap lekat wajah Raihan. "A-aku ha-mil, Bang," jawab Mia terbata.
Meskipun Raihan telah mengetahuinya, tapi pengakuan Mia kembali membuat jantungnya berdetak tak karuan. Raihan bingung. Dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
Menikahi Mia? Raihan belum siap untuk itu. Namun, meminta Mia untuk menggugurkan kehamilannya? Raihan lebih tidak siap lagi. Bagaimanapun juga, hidup Raihan sejak kecil telah lekat dengan agama. Dia tahu betul jika perbuatannya itu dosa. Dan dia tidak akan membuat dosa lagi dengan meminta Mia menggugurkan kandungannya.
"Bang?" panggil Mia yang seketika membuyarkan lamunan Raihan.
"Tenanglah, Mia. Beri Abang waktu satu minggu untuk menyelesaikan permasalahan ini," ucap Raihan.
"Tapi, Abang mau nikahin Mia, 'kan? Abang mau bertanggung jawab?" tanya Mia khawatir.
Raihan memeluk Mia seraya berkata. "Tentu saja Abang akan bertanggung jawab, Mia. Abang pasti menikahi kamu. Tapi tolong beri Abang waktu satu minggu untuk membicarakan ini dengan keluarga Abang. Bisa, 'kan?" pinta Raihan.
__ADS_1
Mia mengangguk. Sedetik kemudian, dia menyambar bibir Raihan untuk mengungkapkan kerinduannya.