
Bu Maryam hanya mampu bergeming mendengar ucapan Yandri yang penuh ketegasan. Harus dia akui, apa yang dikatakan Yandri benar adanya. Namun, Bu Maryam masih terlalu gengsi untuk mengakui hal tersebut secara terang-terangan.
"Lantas, apa yang harus kita lakukan, Nak?" tanya Bu Maryam.
"Apalagi, Bu? Tentunya kita akan menikahkan mereka," jawab Yandri.
Bu Maryam menarik napasnya dengan berat. Menikah? Apa Raihan harus menikah di usianya yang belum genap 17 tahun? Lalu, pernikahan seperti apa yang akan mereka jalani kelak? Keduanya sama-sama masih muda. Masih labil dan memiliki emosi yang naik turun. Lantas, akankah mereka bisa menjalani sebuah ikatan yang tidak main-main?
"Apa adik kamu bisa menjalani pernikahannya kelak, Nak?" tanya Bu Maryam seraya menatap Yandri penuh keraguan.
"Kita do'akan saja, Bu," jawab Yandri.
"Lantas, biayanya?" Kembali Bu Maryam bertanya.
Jika boleh jujur, bukan hanya usia yang menjadi alasan Bu Maryam merasa keberatan akan pernikahan anak bungsunya itu. Biaya pernikahan juga, menjadi kendala yang paling utama yang menjadi pikiran Bu Maryam. Masih mending jika calon menantunya tidak akan menuntut apa pun. Namun, bagaimana jika calon menantunya menuntut sebuah pernikahan yang mewah? Mengingat baik Raihan ataupun Mia, mereka sama-sama terlahir sebagai anak bungsu.
"Urusan biaya pernikahan, sebaiknya Ibu tanya dulu Raihan tentang sejauh mana persiapan yang dia lakukan untuk pernikahannya. Sisanya, Ibu bisa berunding kembali dengan anak-anak Ibu. Terutama, Ibu kabari kak Aminah terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, kak Aminah adalah anak tertua Ibu. Kita juga harus mendengarkan pendapat kak Aminah tentang apa yang menimpa Raihan," jawab Yandri.
"Baiklah, besok Ibu akan minta Bahar untuk mengantarkan ibu ke rumah Aminah," jawab Bu Maryam.
"Baiklah. Kalau begitu, Yandri pulang dulu, Bu. Kasihan Daniar di rumah sendirian, dia pasti kerepotan ngurusin Bintang dan pekerjaan rumah tangga sendirian," pungkas Yandri, meminta izin untuk pulang.
Bu Maryam hanya menanggapi izin Yandri dengan anggukan. Rasanya, dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menjawab.
.
.
Keesokan harinya, dengan diantarkan sang menantu, Bu Maryam pergi ke rumah Aminah yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Sama seperti yang lainnya, Aminah dan Rahmat pun sangat terkejut dengan berita yang dibawa ibunya.
"Benarkah? Tapi, bagaimana bisa, Bu?" tanya Aminah.
"Entahlah, Minah. Raihan bilang, dia khilaf," jawab Bu Maryam.
"Hmm, mana ada khilaf sampai hamil begitu, Bu. Itulah hasilnya jika kita terlalu memanjakan anak," sindir Rahmat yang memang tidak pernah menyukai pola asuh ibu mertuanya kepada Raihan.
Menurut Rahmat, Bu Maryam itu terlalu pilih kasih dalam memperlakukan anak-anaknya. Jelas terlihat jika dia begitu menyayangi Raihan sehingga apa pun yang Raihan minta, selalu diberikan oleh mertuanya itu.
Bu Maryam menghela napasnya begitu berat. Mungkin, apa yang dikatakan menantunya memang benar. Namun, sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang, Bu?" tanya Aminah.
"Apalagi Minah ... kita tidak mungkin meminta perempuan itu untuk menggugurkan kandungan. Dosa!" jawab Bu Maryam.
"Jadi, kita akan menikahkan mereka?" tanya Aminah lagi.
Bu Maryam mengangguk.
__ADS_1
"Tapi bagaimana bisa, Bu? Raihan itu belum cukup umur untuk menikah. Kita bisa terkena hukum jika memaksakan mereka untuk menikah?" ungkap Aminah
"Mungkin, untuk sementara waktu, mereka akan menikah siri dulu, Minah," jawab Bu Maryam.
'Enggak! Aku enggak mau menikah siri!" tegas suara perempuan yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
Aminah, Rahmat dan Bu Maryam seketika menoleh. Tampak Raihan sudah berdiri di ambang pintu bersama seorang perempuan berambut pendek. Wajah perempuan itu terlihat begitu kesal. Begitu juga dengan Raihan.
Raihan segera menghampiri ibu dan kakaknya yang tengah berembuk. "Ibu apa-apaan sih? Kenapa harus menikah siri?" tanya Raihan sedikit membentak ibunya.
"Raihan, jaga bicara kamu!" bentak Aminah.
"Tapi, Kak. Raihan dan Mia enggak mau nikah di bawah tangan," seru Raihan.
"Terus kamu maunya nikah seperti apa? Tercatat di KUA, gitu?" tukas Rahmat.
"Tentu saja, Kang. Siapa pun juga pasti menginginkan pernikahan yang sah baik secara agama dan negara," jawab Raihan sok bijak.
Rahmat hanya tersenyum kecut. "Kalau kamu ingin menikah sah secara hukum dan agama, tunggu dua tahun lagi Raihan. Mangkanya, punya ilmu itu diamalkan, bukan hanya disimpan di dalam otak saja. Akang heran sama kamu, Rai. Kamu anak kedua setelah Yandri yang mengenyam bangku SMP. Tapi kenapa kelakuan kamu seperti orang yang tidak pernah mengenal pendidikan saja," tutur Rahmat kesal.
"Cukup ya, Kang. Raihan datang ke sini bukan untuk mendengar ceramah Akang," tegas Raihan kepada kakak iparnya.
Merasa geram dengan tingkah ngelunjak anak kemarin sore. Akhirnya Rahmat beranjak.
"Akang pergi, Minah! Urus saja adikmu sendirian, kamu lihat sendiri bagaimana kelakuan dia terhadap orang yang lebih tua. Benar-benar tidak punya etika!" Rahmat benar-benar geram melihat kesombongan Raihan.
"Ya, Kak Minah bantu Raihan dong, Kakak, 'kan bisa mengubah akta kelahiran Raihan," jawab Raihan dengan entengnya.
"Astaghfirullah Raihan ... apa kamu pikir, mengubah akta kelahiran itu gampang, hah? Bukan hanya akta yang harus kamu rubah, tapi ijazah pun harus dirubah. Dan semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Belum lagi biaya pernikahan kalian. Sekarang Kakak tanya, kalian sudah punya uang berapa sampai menginginkan sebuah pernikahan yang tercatat di KUA, hah?" tanya Aminah.
Mendengar pertanyaan tentang biaya nikah, Raihan hanya bisa menundukkan kepalanya. Melihat hal itu, Aminah pun paham jika Raihan sama sekali tidak memiliki persiapan apa-apa untuk menikah.
"Berapa usia kandungan kamu?" Tiba-tiba, Aminah bertanya kepada Mia.
Tak siap mendapatkan pertanyaan seperti itu, Mia menjawab dengan gelagapan. "Mi-mia, belum ta-hu, Kak? Ha-hanya saja, Mi-mia belum mendapatkan haid di bulan ini."
Mia yang pada dasarnya masih polos, tidak bisa menghitung periode bagaimana proses kehamilan itu terjadi. Dan jawaban Mia, membuat Aminah sedikit curiga.
"Sejak kapan kamu mengenal pacar kamu, Rai?" tanya Aminah.
"Sudah hampir sebulan, Kak," jawab Raihan.
"Sejak kapan kalian melakukan hubungan intim?"
Aminah menanyakan hal yang menurut Raihan bersifat pribadi. Sontak Raihan merasa tersinggung dengan pertanyaan Aminah.
"Itu privasi Rai, Kak! Kakak tidak berhak untuk mengetahuinya," jawab Raihan tegas.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu tidak perlu menikahi dia. Untuk apa menikahi perempuan itu? Untuk mempertanggungjawabkan anak yang bukan darah daging kamu?" pancing Aminah.
"Apa maksud Kakak? Mia bukan perempuan gampangan, Kak!" seru Mia tak terima ucapan calon kakak iparnya.
"Maka dari itu, jawab pertanyaan saya!" Aminah meninggikan suaranya.
"Raihan melakukan hubungan intim dengan Mia sekitar tiga minggu yang lalu, Kak. Seminggu berturut-turut. Dan beberapa kali di minggu kedua, sampai bang Yandri memergoki Raihan dan Mia di kamar. Setelah itu, Raihan enggak pernah ketemu Mia lagi. Terakhir ketemu dua hari yang lalu. Mia bilang dia hamil, dan Raihan pun ngelakuin itu lagi," tutur Raihan dengan polosnya.
Ya tuhan Rai ... kamu selugu ini, bagaimana mungkin sudah ingin menikah. Apa jadinya rumah tangga kamu kelak, Nak? jerit Bu Maryam dalam hatinya.
"Apa kamu berpura-pura hamil agar segera dinikahi Raihan, Mia?" tuduh Aminah menyeringai.
Ya, melihat periode perkenalan Raihan yang sesingkat itu, tidak mungkin jika perempuan ini sudah hamil. Setidaknya, butuh waktu sekitar satu bulan untuk mengetahui apakah dia hamil atau tidak.
"A-apa maksud Kakak?" tanya Mia dengan wajah memerah.
"Sudahlah Mia, Kakak ini sudah lama hidup berumah tangga. Kamu tidak akan bisa membohongi Kakak. Ini hanya akal-akalan kamu saja, 'kan, agar Raihan secepatnya menikahi kamu? Jika memang seperti itu, tunggulah sampai usia Raihan 19 tahun, agar kalian bisa menikah dan pernikahan kalian tercatat di KUA," tegas Aminah.
"Ta-tapi itu terlalu lama, Kak. Mia enggak sanggup nunggu Raihan selama itu," jawab Mia.
"Kalau begitu, cari saja laki-laki lain yang bisa secepatnya menikah denganmu," dengus Aminah semakin kesal.
"Kak Minah!" teriak Raihan.
Secepat kilat Raihan menyambar pergelangan tangan Mia. Dia kemudian berdiri seraya menunjuk wajah Aminah.
"Dengar ya, Kakak enggak berhak bicara seperti itu kepada Mia. Terlepas dia sedang hamil anak Raihan atau enggak, Raihan akan tetap menikahinya. Pokonya Raihan enggak mau tahu, Raihan harus cepat-cepat menikahi Mia. Titik!"
Setelah berbicara cukup tegas kepada kakaknya, Raihan pun membawa Mia pergi.
"Raihan, tunggu!" teriak Bu Maryam
Sejenak, Bu Maryam memejamkan mata. Kepalanya terasa berat. Saat dia membuka matanya kembali, tampak Raihan sudah keluar dari rumah Aminah. Bu Maryam berdiri untuk mengejar putra bungsunya.
"Raihan, tunggu Nak! Kita bicarakan baik-baik, jangan emosi seperti itu," kata Bu Maryam setengah berlari mengejar Raihan dan Mia yang sudah semakin menjauh.
"Raihan, dengarkan Ibu dulu, Nak. Ibu tidak bermak–"
"Aargh!"
Brugh!
Brak!
Kalimat Bu Maryam berubah menjadi sebuah teriakan saat dia tidak mampu menguasai rasa pusing di kepalanya. Tak ada satu pun benda yang mampu dia pegang. Akhirnya, Bu Maryam terjatuh ke dalam sebuah jurang yang berada di pinggir jembatan kecil yang jaraknya hanya beberapa meter dari depan rumah anaknya.
"Ibuuu!"
__ADS_1