Setelah Hujan

Setelah Hujan
Rupa Daniar


__ADS_3

Cincin itu semakin meyakinkan Yandri jika wanita yang sedang menghidangkan pesanannya, adalah Daniar. Karena cincin itu dia pesan khusus sebagai hadiah pernikahannya dulu.


Yandri mendongak. Sungguh, dia sangat terkejut melihat paras cantik yang tidak pernah berubah seperti saat pertama kali bertemu di kampus.


"Bunda?!" gumam Yandri.


Mendengar suara itu, sontak Daniar menoleh. Daniar pun tak kalah terkejutnya melihat wajah tampan yang selalu ingin dia lupakan, tapi tak bisa.


"A-ayah." Lirih Daniar.


Yandri berdiri. Kerinduannya seakan telah melupakan tempat, waktu dan juga statusnya. Sedetik kemudian, Yandri memeluk Daniar untuk meluapkan segala kerinduannya. Tanpa sadar, dia pun menangis. Entah tangis sedih ataupun bahagia. Yandri tak mampu membedakannya. Satu yang dia rasakan, rindu.


Daniar bergeming di tempatnya. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Dia terlalu shock dengan pertemuan pertamanya setelah bertahun-tahun berpisah. Apalagi, Yandri yang berada di hadapannya, kini terlihat berbeda.


Dia mengingkari janjinya, Bun. Pria itu telah bertunangan dengan wanita pilihan si tua itu. Bintang membencinya. Bintang sangat membenci Yandri Gunawan!


Kalimat Bintang menggaung begitu jelas di telinga Daniar. Sontak Daniar mendorong tubuh Yandri hingga pria itu terjerembab di atas kursi.


"Ma-maaf," ucap lirih Daniar seraya membalikkan badannya.


"Tunggu, Bun!" Yandri mencekal pergelangan tangan Daniar, "tolong jangan menghindar lagi dari Ayah," pintanya.


"Ma-maaf, sa-saya sedang banyak pekerjaan," ucap Daniar terbata.


"Duduklah, Ayah bisa meminta waktu luang kepada atasanmu sejenak," jawab Yandri seraya hendak mengayunkan langkahnya.


"Tidak perlu, Kang!" lanjut Daniar mencegah kepergian Yandri. "Jika memang ada yang ingin disampaikan, bicaralah. Akang tidak perlu meminta izin untuk hal itu," jawab Daniar.


Yandri tersenyum. Sedetik kemudian, dia menarik kursi untuk Daniar duduki.


Saat mereka hendak memulai pembicaraan, tiba-tiba seseorang menghampiri Daniar dari arah depan.


"Eh, Ibu di sini toh. Gimana, Bu ... yang pesan cupcake nggak jadi ngambil ya? Ini udah jam 10 lewat, loh. Kalau enggak jadi, Ratih mau taruh cupcake-nya lagi di etalase. Soalnya banyak yang nanyain," cerocos perempuan itu.


"Mbak, yang kemarin, 'kan?" tanya Yandri yang sontak membuat Ratih menoleh kepadanya.


"Oalah, Pak ... Ratih pikir Bapak enggak jadi ngambil. Ya sudah, kalau begitu, Ratih ambil dulu cupcake-nya ya. Eh iya, Bu. Tadi ibu walikota telepon, katanya dia minta Ibu buatin cupcake viral itu. Emh, untuk acara ulang tahun anaknya minggu depan."


Lagi-lagi Ratih berbicara seperti sebuah kendaraan yang remnya blong. Nyerocos tanpa berhenti.


"Iya, jadwalkan saja Rat, nanti saya buatkan," jawab Daniar.


"Ah, terima kasih Ibu. Hmm ... Ibu emang owner yang the best lah, mau langsung terjun demi kepuasan pelanggan. Ratih salut sama Ibu. Ya sudah, Bu, Ratih mau ambil pesanan si Bapak ini dulu ya. Sebentar atuh ya Pak," pamit Ratih.

__ADS_1


"Eh, tidak usah dibawa kemari, Mbak. Biar nanti saya yang ambil ke sana," timpal Yandri.


"Oh, ya sudah atuh kalau begitu mah. Saya balik lagi ke kasir ya, Bu." Ratih kembali berpamitan kepada Daniar.


Daniar hanya mengangguk menanggapi pamit salah satu karyawannya.


"Jadi ... Ini toko kamu?" tanya Yandri.


"I-iya, Kang. Ma-maaf, Niar tidak bisa melanjutkan keinginan Akang untuk menjadi seorang guru," jawab Daniar merasa malu karena telah mengecewakan Yandri.


"Tidak apa-apa, Bun. Ayah yang bodoh karena tidak bisa menyadari dengan cepat. Seharusnya, nama toko ini, gambar-gambar anime ini, bisa membuat Ayah sadar jika ini adalah nama anak kita. Stars Bakery," lanjut Yandri sedikit menyesal.


Daniar hanya tersenyum tipis mendengar ucapan mantan suaminya.


"Awalnya, Bintang merasa keberatan dengan nama itu. Namun, setelah diberikan penjelasan, akhirnya dia mau juga," jawab Daniar.


Wanita itu tersenyum tipis ketika mengenang kembali perdebatan dia dan anaknya tentang nama toko.


"Bintang pasti sudah sangat besar ya, Bun?" kata Yandri.


"Iya, kang. Usianya sudah 16 tahun," jawab Daniar. "Oh iya, Siska pasti menunggu kuenya. Sebaiknya kamu pulang, mumpung kuenya masih hangat juga," lanjut Daniar.


"Siska? Kue?" ulang Yandri seraya menautkan kedua alisnya. "Maksud kamu?"


Yandri teringat akan pertemuannya dengan Bintang di acara pertunangan itu. Sekarang, dia mengerti kenapa Bintang bisa sampai ada di acara pertunangan dirinya dulu.


"Apa Bintang marah padaku?" tanya Yandri.


Daniar tersenyum. "Tidak, Kang. Bintang hanya butuh waktu saja. Niar yakin, seiring berjalannya waktu, dia pasti bisa menerima Siska sebagai ibu sambungnya."


"Tolong katakan pada putri kita, Bun. Tidak akan ada ibu sambung untuk dirinya," tutur Yandri.


"Maksud, Kang Yandri?" tanya Daniar, terkejut.


"Ayah tidak pernah bertunangan dengan perempuan itu, Bun," jawab Yandri.


"Hhh, sudahlah Kang. Tidak usah menutupi keadaan lagi. Mungkin Akang bisa mengelak, tapi asal Akang tahu, kue-kue yang dipesan Bu Megi, beserta tart yang khusus untuk acara Akang, semuanya itu Niar yang bikin. Heh lucu sekali, Niar membuatkan semua kuenya yang ternyata untuk mantan suami Niar sendiri," cibir Daniar terlihat kesal.


Yandri tersenyum. Melihat raut wajah mantan istrinya, dia sadar jika Daniar sedang menahan cemburu untuknya.


"Apa Bunda sedang cemburu saat ini?" goda Yandri.


"Huh, yang benar saja," cebik Daniar.

__ADS_1


Yandri segera meraih tangan Daniar dan menggenggamnya dengan erat.


"Tidak perlu cemburu, Bun. Karena hati Ayah telah terisi penuh oleh jutaan kenangan kita. Hanya ada satu nama di sini, Bun." Tunjuk Yandri pada dadanya, 'yaitu Daniar Rahmawati," lanjutnya.


Setelah belasan tahun, Daniar baru merasakan lagi gombalan Yandri. Sebuah gombalan yang mampu membuat hidungnya kembang kempis.


"Sudah Kang, jangan ingkari kenyataan jika saat ini, kamu bukan pria lajang lagi. Kasihan Siska," desak Daniar.


"Tapi pertunangan itu tidak pernah terjadi, Bun!" seru Yandri. "Pertunangan itu gagal, Ayah bersyukur karena Tuhan mengirimkan Bintang di waktu yang tepat. Meskipun Ayah tidak bisa mencegah kepergian Bintang saat itu, tapi Ayah bersyukur. Sikap Bintang dan stroke ibu akhirnya menggagalkan pertunangan konyol itu," tutur Yandri panjang lebar.


"Sss... stroke?!" seru Daniar heran. "Apa maksud Akang, ibu stroke?" imbuhnya.


"Iya, Bun. Dua tahun yang lalu, ibu terserang stroke," jawab Yandri, sendu.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un ... kok bisa, Kang?" tanya Daniar.


Yandri hanya menggedikkan kedua bahunya menanggapi pertanyaan Daniar.


"Dan sekarang ...? Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa beliau sudah sembuh?" cecar Daniar. Dia terlihat cemas mendengar mantan ibu mertuanya sakit.


"Alhamdulillah, Ibu sudah mendingan sekarang. Bahkan, beliau sudah bisa berbicara lancar. Hanya saja, karena usianya sudah semakin tua, ingatan beliau terkadang terganggu. Kamu tahu kue itu untuk siapa?" Yandri kembali bertanya.


Daniar menggelengkan kepalanya.


"Itu kue yang diinginkan ibu selama hampir tiga bulan terakhir. Salah seorang perawat di panti selalu memberikan ibu kue itu. Dan ketika perawat itu sedang cuti melahirkan. Seisi panti jompo dibuat kewalahan dengan rengekan ibu yang menginginkan kue tersebut," papar Yandri.


"Panti jompo?" Lagi-lagi Daniar memekik, kaget. "Apa maksud Akang panti jompo? Apa saat ini, ibu sedang berada di panti jompo?" tanya Daniar.


Yandri menundukkan kepalanya.


Daniar balik menggenggam tangan mantan suaminya.


"Jawab Niar, Kang? Apa yang terjadi pada ibu? Kenapa ibu bisa berada di panti jompo?" tanya Daniar.


Yandri tidak mampu menyembunyikan hal apa pun dari wanita berwajah teduh itu. Akhirnya, sedikit demi sedikit, Yandri menceritakan sabab musabab keberadaan sang ibu di tempat itu.


"Ayah ingin melawan keputusan itu, Bun. Namun, Ayah sendiri tidak berdaya. Ayah harus bekerja untuk memenuhi biaya pengobatan ibu. Tidak satu pun dari saudara-saudara Ayah yang mau membantu membiayai pengobatan ibu. Karena itu, jika Ayah tidak bekerja, ibu tidak akan mungkin mendapatkan pengobatan yang terbaik. Dan akhirnya, mau tidak mau Ayah pun mengikuti keputusan mereka," papar Yandri panjang lebar.


Daniar mencengkeram tangan Yandri dengan kuat. Dia merasa kesal dengan sikap mantan suaminya yang mengikuti keputusan konyol saudara-saudaranya.


"A-pa Ni-ar boleh jenguk i-bu?" pinta Daniar terbata.


Yandri tersenyum. "Tentu saja, Bun. Ibu pasti akan merasa senang melihat kamu," jawabnya.

__ADS_1


Ibu telah begitu banyak menyakitimu, Bun. Tapi kamu masih berbesar hati untuk menemuinya. Ah, entah kapan ibu menyadari ketulusan hati kamu, batin Yandri menatap takjub kepada rupa Daniar yang sebenarnya.


__ADS_2