
Danita memekik kaget saat mendengar perkataan Dokter. Namun, lain halnya dengan Bu Salma dan Danisa. Kedua orang berbeda generasi itu hanya bisa menautkan kedua alisnya saat mendengar istilah yang asing di telinga mereka.
"Ta-tapi kenapa harus histerektomi, Dok?" tanya Danita, sambil berusaha untuk menormalkan kembali detak jantungnya.
Bu Salma langsung menoleh kepada Danita. "Apa kamu tahu apa artinya hal itu, Dek?"
"Iya, Bu," jawab Danita.
"Apa artinya, Kak?" tanya Danisa yang ikut penasaran.
"Itu sama artinya dengan pengangkatan rahim," jawab Danita.
"Pengangkatan rahim? Apa maksudnya ini, Dek?" tukas Bu Salma.
"Begini, Bu. Karena putri Ibu mengalami keguguran akibat pendarahan yang hebat, kami pun dengan terpaksa melakukan histerektomi. Ini satu-satunya cara terakhir kami untuk menyelamatkan nyawa pasien, "tutur Dokter Sulaiman.
"Ta-tapi apa itu pengangkatan rahim? Apa maksudnya ini? Bagaimana keadaan putri saya?" cecar Bu Salma yang memang tidak pernah mengerti apa pun tentang dunia kedokteran.
"Jadi histerektomi itu proses pengangkatan rahim akibat hal-hal yang bisa membahayakan pasien, Bu. Dan dalam kasus bu Niar, akibat pendarahan yang hebat, dan juga luka yang terdapat pada dinding rahim, kami pun terpaksa mengangkat rahim bu Niar. Takutnya, luka tersebut bisa menimbulkan radang dan infeksi. Juga pendarahan yang tidak bisa dihentikan, akan berakibat fatal pada kesehatan bu Niar ke depannya," jelas Dokter Indrawan, sebagai obgyn terbaik di rumah sakit.
"Apa itu artinya, putri saya tidak akan memiliki anak lagi?" tanya Bu Salma dengan bibir bergetar.
"Maaf, Bu. Konsekuensinya memang seperti itu. Wanita yang sudah melakukan operasi histerektomi, mereka tidak akan mungkin punya anak lagi dan juga akan mengalami menopause dini," imbuh Bidan Ayunda.
Tubuh Bu Salma kembali terasa lemas. Dia benar-benar shock mendengar keadaan Daniar ke depan, setelah melakukan operasi. Hatinya begitu sakit saat mendapati kenyataan jika putri sulungnya tidak akan pernah bisa memiliki momongan lagi. "Astaghfirullahaladzim ...."
"Baiklah, Bu. Kalau begitu, kami permisi dulu," pamit Dokter Indrawan selaku ketua tim.
Bu Salma, Danita dan Danisa hanya bisa menganggukkan kepala menanggapi pamit para tim medis.
.
.
Di sebuah kamar bernuansa pink yang dipenuhi pernak-pernik karakter kuda poni, seorang gadis kecil berusia 8 tahun tengah menelungkupkan badannya di atas kasur. Tangisnya memang tidak terdengar. Hanya kedua bahunya yang sedikit naik turun diselingi isakan yang terdengar lirih.
Bintang tak sanggup membendung air mata saat memorinya memutar kembali rekaman kejadian di rumah sang sepupu. Sungguh, Bintang tidak pernah menyangka jika niat mereka menghaturkan belasungkawa, justru membuat dirinya harus berbelasungkawa atas kepergian sang adik yang belum pernah terlahir.
Seorang adik yang dia dambakan sedari dulu. Sejak teman-teman sekelasnya bercerita tentang adik lucu, dengan penuh semangat Bintang pun ikut bercerita tentang calon adiknya. Namun, siapa sangka jika adiknya akan pergi sebelum dia berwujud. Cerita, hanya tinggal cerita, dan Bintang pun merutuki sikap neneknya yang sudah sangat keterlaluan.
__ADS_1
Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memaafkan sikap nenek, batin gadis kecil itu.
Tok-tok-tok!
Ketukan di pintu kamar Bintang terdengar nyaring. Tak lama berselang, terdengar suara Bik Yanti yang menyuruh Bintang keluar untuk makan.
"Bibin enggak lapar, Bik!" teriak Bintang dari dalam kamar.
"Jangan seperti itu, Neng Bintang. Itu adiknya, den Fayyadh sudah menunggu Neng di meja makan. Lagi pula, enin Neng bilang, Neng belum makan dari tadi siang. Ayo Neng, sebaiknya Neng Bintang makan dulu." Dari balik pintu, Bik Yanti masih setia membujuk Bintang.
"Nanti aja, Bi. Kalau Bibin lapar, Bibin nanti keluar," jawab Bintang.
Bik Yanti menghela napas. Sepertinya, dia sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk gadis kecil yang sedang berduka itu. Hingga tepukan di bahunya, membuat Bik Yanti menoleh.
"Den Fayyadh," seru Bik Yanti.
Anak laki-laki yang usianya tidak jauh beda dengan Bintang, tersenyum penuh kharisma. Isyarat tangannya seolah meminta Bik Yanti bergeser dari tempat dia berdiri.
"Biar Fayyadh saja yang ngomong, Bik," kata anak laki-laki itu.
Bik Yanti mengangguk. Dia kemudian menggeser posisi dan membiarkan anak majikannya melakukan tugas.
"Kak Bibin ... temani Fay makan yuk! Fay laper nih," kata Fayyadh dengan suaranya yang manja.
"Kamu duluan aja, Dek. Kak Bibin enggak lapar," jawab Bintang.
"Tapi, 'kan enggak seru, Kak Bin," rengek Fayyadh, berpura-pura.
"Kamu minta temenin sama Bik Yanti saja, Dek. Kak Bibin enggak lapar." Sekali lagi Bintang menolak ajakan sepupunya.
"Ih, Bik Yanti, 'kan lagi puasa. Enggak enak juga kalau ditemenin Bik Yanti." Fayyadh terus merajuk.
Bintang menarik napas panjang. Sesaat kemudian, dia bangun dari tempat tidurnya. "Ish, bocah ini ya ... bener-bener enggak ngerti situasi," dengusnya, kesal.
.
.
Setelah Daniar dipindahkan ke ruang ICU, Danita memutuskan untuk pulang dan menjaga anak-anak di rumah Bu Salma. Malam ini, Bu Salma dan Danisa yang akan menginap di rumah sakit. Sebenarnya, Danita dan Danisa sudah mencegah Bu Salma untuk menginap. Namun, wanita paruh baya itu tetap teguh pada pendiriannya. Dan ketika beliau sudah memutuskan, maka tidak akan ada hal apa pun yang bisa menentang keputusannya.
__ADS_1
"Sebaiknya, kamu tunggu di luar saja, Dek. Biar Ibu yang menjaga kakak kamu di dalam kamar," ucap Bu Salma.
"Tapi apa itu bisa, Bu? Bukankah ruangan ICU itu harus steril?"tanya Danisa.
"Kalau malam bisa, Dek," tukas Bu Salma.
"Baiklah, terserah Ibu saja. Jika Ibu butuh sesuatu, Nisa ada di luar," ucap Danisa sebelum akhirnya dia keluar dari kamar ICU.
Bu Salma menatap sendu ke arah putri sulungnya yang masih berada di bawah pengaruh obat bius. Tangannya terulur dan mengusap-usap pucuk kepala Daniar. Rasa pilu kembali menghampiri. Rasanya, sakit sekali jika saat Daniar terbangun, dan mendapati kenyataan jika dia telah kehilangan anaknya.
Ya Allah, tolong berikan kekuatan kepada putri hamba. Tegarkanlah hatinya. Hamba tahu jika sudah sangat lama dia menantikan anak keduanya. Tolong limpahkanlah keikhlasan dan kesabaran tanpa batas pada hati putri hamba. Do'a Bu Salma dalam hatinya.
.
.
Kendaraan yang dinaiki Yandri dari daerah Indramayu menuju Tasikmalaya, melaju dengan sangat lambat. Belum lagi, sebagai penumpang yang memiliki daerah tujuan terakhir, Yandri harus rela kehilangan banyak waktu untuk mengikuti perjalanan travel yang harus mengantarkan penumpang lain ke tempat tujuannya.
"Bagaimana, Pak? Apa mau berhenti sesuai titik lokasi saja?" tanya sopir travel.
"Iya, Mas. Sesuai titik lokasi saja," sahut Yandri.
"Baiklah kalau begitu," balas sopir travel yang terus melajukan kendaraannya menuju pusat kota Tasikmalaya.
Setelah setengah jam mencari alamat melalui maps, akhirnya Yandri tiba di sebuah rumah sakit yang cukup sederhana, tapi juga merupakan salah satu rumah sakit yang memiliki peralatan medis lengkap.
Begitu keluar dari mobil travel. Yandri menghubungi adik iparnya.
"Abang sudah sampai, Dek. Sekarang, di mana kakak kamu dirawat?" tanya Yandri.
"Kak Niar masih dirawat di ICU, Bang. Katanya untuk masa observasi setelah dioperasi," sahut Danisa.
"Baiklah, lantai berapa Dek?" Yandri kembali bertanya.
"Lantai tiga, Bang."
"Ya sudah, sekarang juga Abang masuk," ucap Yandri.
"Loh, memangnya Abang di mana?" tanya Danisa, heran.
__ADS_1
"Ini. Abang lagi di lobi rumah sakit. Ya sudah ya, Dek. Abang tutup teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."