Setelah Hujan

Setelah Hujan
Permintaan Bintang


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya.


"Enin, bukankah itu mobilnya ayah?" tanya Bintang saat becak yang mereka naiki tiba di depan pagar rumahnya.


Bu Salma yang sedang menghitung uang untuk ongkos becaknya, seketika mendongak. Memang benar, tampak sebuah mobil sedan berwarna maroon yang dulu selalu disimpan di rumahnya.


"Apa ayah sedang berkunjung kemari?" tanya Bu Salma.


Bintang hanya menggedikkan kedua bahunya.


"Stop, di sini saja Bang!" ujar Bu Salma menghentikan becak.


Si abang becak menurut. Dia pun menghentikan becaknya tepat di depan pagar rumah Bu Salma.


Setelah membayar ongkosnya, Bu Salma memapah Bintang untuk memasuki rumah.


Tiba di depan pintu, langkah mereka terhenti saat mendengar ucapan Bu Maryam yang sedang menawarkan sebuah kesepakatan.


Jantung Bu Salma berdegup kencang. Napasnya mulai memburu karena merasa marah saat seseorang merendahkan harga diri dan pekerjaan putrinya. Bu Salma sudah ingin melabrak ketiga perempuan itu. Namun, dia masih mencoba bersabar karena tidak ingin membuat keributan di rumahnya sendiri.


Seperti sang nenek, Bintang pun merasa marah ketika mengetahui dirinya seolah seperti mainan yang bisa diambil dan diperebutkan begitu saja.


Kepalanya semakin terasa berat ketika mendengar kalimat-kalimat keji yang diucapkan neneknya kepada orang yang telah melahirkannya. Bintang pun semakin membenci wanita tua itu.


Rasa hormat yang masih dia pertahankan demi ayahnya, sirna seketika. Terlebih lagi saat mengetahui ayahnya hendak menikah lagi, Bintang kecewa. Sangat kecewa.


Terdengar jika ibunya telah mengusir ketiga perempuan yang Bintang lihat dari balik kaca jendela. Namun, sepertinya ketiga wanita itu enggan menanggapi ucapan tegas ibunya. Tak ingin mendengar perkataan yang buruk terhadap ibunya lagi, Bintang segera memasuki ruang tamu.


"Apa kalian tuli? Apa kalian tidak dengar perintah bunda Bibin. Tolong pergi kalian dari sini. Bibin tidak butuh orang-orang munafik seperti kalian. Pergi! Pergi! Aaargh!"


Bintang berteriak seraya memegang kepalanya. Semua orang tampak menoleh ke arah gadis kecil yang sebentar lagi menginjak usia 12 tahun. Mereka sangat terkejut melihat Bintang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Bibin?" guman Daniar.


"Bintang cucuku!" seru Bu Maryam seraya melangkahkan kakinya untuk mendekati Bintang.


"Stop!" teriak Bintang sambil mengangkat tangannya. "Aku bukan cucumu, dan sebaiknya kamu pergi dari sini. Pergi!" usir Bintang kepada Bu Maryam.


"Ada apa ini, Bintang? Apa ini yang diajarkan ibu kamu untuk berbicara dengan orang tua? Suka tidak suka, dia adalah nenek kamu, ibu dari ayah kamu. Paham!" tegas Habibah.


"Bibin tidak pernah ingin memahami apa pun. Yang Bibii inginkan, kalian pergi dari rumah ini sekarang, pergilah!" Bintang kembali berteriak mengusir mereka.

__ADS_1


"Cukup, Nak. Cukup," kata Daniar seraya memeluk putrinya.


"Tolong usir merek, Bunda. Bibin tidak mau ikut mereka, Bibin tidak ingin tinggal bersama mereka. Usir dia, Bun," jawab Bintang mulai menangis.


"Tidak, Sayang. Tentu saja Bibin tidak akan tinggal bersama mereka. Ayo, kita pergi ke kamar. Bibin butuh istirahat," jawab Daniar seraya memapah putrinya masuk ke dalam.


Bu Salma mendekati mantan besannya. Dia kemudian berkata seraya tersenyum sinis.


"Tadinya aku pikir, apa yang terjadi pada anakku dan juga kesepian anakmu, bisa sedikit merubah keegoisan kamu. Tapi ternyata aku salah. Dengar Bu Maryam, jangan pernah berpikir jika aku tidak tahu perbuatan kamu terhadap Daniar. Dia sudah mengorbankan kehidupannya demi kamu. Jadi, biarkan dia hidup tenang bersama anaknya. Namun ...."


Bu Salma menjeda kalimatnya. Dia mencoba mengatur emosinya ketika mengingat kembali apa yang pernah terjadi pada kehidupan putri sulungnya. Dia yakin, sesuatu pasti terjadi sebelum Daniar mengalami keguguran. Namun, dia sendiri tidak pernah tahu kejadian seperti apa. Hanya saja, insting seorang ibu mengatakan jika kejadian itu pasti melibatkan Daniar dan keluarga Yandri. Karena itu, Daniar ngotot meminta berpisah.


Kembali Bu Salma menatap tajam ke arah Bu Maryam.


"Namun, jika sampai kamu mengusik anak dan cucuku, jangan salahkan aku jika Yandri tahu sabab musabab Daniar keguguran. Paham!"


Deg!


Bu Maryam terkejut mendengar ancaman Bu Salma. Kedua bola matanya membulat, mulutnya menganga lebar. Seketika, dia teringat kembali akan perbuatannya terhadap Daniar, dulu.


Bu Salma tidak ingin memperpanjang perdebatan lagi. Dia kembali menatap pintu yang masih terbuka sebagai isyarat agar tamunya segera pergi.


"Ayo kita pulang!"


.


.


"Ish, apa mungkin karena itu, Bintang membenciku?" gumam Bu Maryam.


Habibah yang mendengar gumaman ibunya, hanya bisa menoleh ke belakang. Melihat wajah ibunya yang pucat pasi, Habibah hanya bisa menarik napas panjang.


Hmm, ibu pasti merasa cemas jika suatu hari nanti, kejahatannya akan terbongkar, batin Habibah.


Sementara Siska, dia hanya menatap kebingungan melihat ekspresi wajah calon ibu mertuanya yang terlihat tegang. Entah kenapa Siska merasa, jika perpisahan Yandri dan Daniar tidak terlepas dari campur tangan calon ibu mertuanya.


.


.


"Bagaimana keadaan dia, Ni?" tanya Bu Salma ketika memasuki kamar cucunya.

__ADS_1


"Badannya panas, Bu," jawab Daniar, khawatir.


"Sebaiknya, kita bawa bintang ke dokter, Ni," saran Bu Salma.


"Niar juga berpikir seperti itu, Bu. Tapi Bintang enggak mau," sahut Daniar.


"Terus?"


"Untuk sementara, Niar sudah memberinya obat penurun panas, Bu. Jika panasnya tidak turun juga, besok pagi Niar bujuk Bintang untuk pergi ke dokter," jawab Daniar. "Oh iya, Bu. Apa mereka sudah pergi?" tanya Daniar.


"Sudah, Ni," jawab Bu Salma.


"Syukurlah, semoga saja mereka tidak kembali lagi," kata Daniar.


"Tidak akan, Ni. Ibu yakin Bu Maryam tidak akan pernah mengganggu kamu lagi," balas Bu Salma.


Daniar menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran kenapa ibunya bisa berbicara seyakin itu.


"Hmm, jangan terlalu yakin dulu, Bu. Ibunya Yandri itu bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dia sanggup melakukan apa pun untuk mencapai keinginannya," tutur Daniar.


"Sudahlah, lupakan saja Ni. Seorang ibu selalu tahu bagaimana cara membela anak-anaknya," pungkas Bu Salma.


.


.


Malam mulai menjelang. Karena merasa khawatir dengan kondisi Bintang, Daniar memutuskan untuk tidur di kamar putrinya.


"Bun, apa kita bisa pindah dari sini?" tanya Bintang, tiba-tiba.


Daniar terhenyak mendengar pertanyaan Bintang. Entah apa yang ada dalam pikiran Bintang saat ini. Namun, Daniar yakin jika kejadian tadi sangat berpengaruh kepada psikis anaknya.


"Sudah, Nak. Jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya, Bibin fokus untuk sembuh dulu. Setelah itu, baru kita bicarakan," jawab Daniar.


"Bibin takut, Bun. Bibin enggak mau berpisah sama Bunda," lanjut Bintang. Bibirnya terlihat bergetar karena menahan kesedihannya.


Daniar meraih Bintang ke dalam pelukannya. "Apa pun yang terjadi, Bunda tidak akan pernah membiarkan siapa pun memisahkan kita, Nak. Sekalipun itu ayahmu sendiri!" tegas Daniar.


"Bibin benci ayah, Bun. Ayah sudah berjanji tidak akan menikah dengan wanita lain, tapi kenapa ayah mengingkari janjinya? Bibin benci dia, Bun. Bibin tidak mau bertemu ayah lagi. Kita pindah saja dari sini, Bun. Please ...!" pinta Bintang di antara isak tangisnya.


Dada Daniar terasa sesak mendengar permintaan Bintang. Dia sendiri merasa heran kenapa Yandri bisa mengambil keputusan sepihak seperti ini. Sungguh, Daniar tidak akan menghalangi dia untuk menikahi wanita lain. Tapi untuk mengambil Bintang darinya? Daniar tidak akan bisa membiarkan Yandri bersikap egois seperti itu.

__ADS_1


Sementara itu, di balik pintu kamar Bintang, Bu Salma berdiri mematung. Dia mencoba mencerna perkataan yang baru saja dia dengar.


Hmm, mungkin ini waktu yang tepat untuk pindah dari sini.


__ADS_2