
Daniar kembali membolak-balikkan buku catatan keuangannya. Dia mulai mencorat-coret buku tersebut untuk mengakumulasi biaya pembuatan snack basah pesanan wali kelasnya Bintang.
Untuk sejenak, Daniar menatap amplop yang dia cadangkan untuk study tour putrinya. Meskipun merasa bersalah, tapi apa yang dikatakan Bintang memang ada benarnya juga. Pesanan snack ini adalah peluang yang sangat bagus bagi Daniar untuk mengembangkan bisnis kuenya.
Daniar pun membuka amplop tersebut dan mengambil isinya. Sesaat kemudian, dia memasukkan lembaran uang ke dalam dompetnya. Rencananya, besok pagi dia akan membelanjakan uang itu untuk membeli bahan dasar membuat beberapa jenis kue basah pesanan Bu Megi.
Malam sudah semakin larut. Daniar memadamkan penerangan di kamar dan menggantinya dengan lampu yang lebih redup. Sedetik kemudian, Daniar membaringkan tubuhnya. Dia harus menjaga pola tidurnya supaya bisa menyeimbangkan aktivitas dan kesehatannya.
.
.
Kumandang azan subuh mulai terdengar. Daniar mengerjapkan mata. Sejurus kemudian, dia bangun seraya menggeliatkan tubuh untuk meregangkan otot-ototnya. Pagi ini, dia berencana pergi ke pasar untuk membeli bahan dasar membuat kue.
Memasuki dapur, Daniar berpapasan dengan anaknya yang baru keluar dari kamar mandi. Kening Daniar mengernyit. Dia merasa heran dengan sikap Bintang yang bangun se-subuh ini.
"Tumben kamu sudah bangun jam segini, Nak?" tanya Daniar.
Bintang tersenyum lebar. "Bibin sudah besar, Bun. Bibin malu kalau harus terus dibangunin shalat subuh sama, Bunda," jawab Bintang dengan kedua pipinya yang bersemu merah jambu karena merasa malu.
Daniar tersenyum bangga mendengar jawaban Bintang. Hmm, minggu depan usia Bintang memang memasuki umur 15 tahun.
"Ya sudah, tungguin Bunda sebentar, ya. Kita shalat subuh bareng," sahut Daniar.
Bintang mengangguk. Dia pergi ke ruang tengah untuk menggelar karpet dan sajadah. Sedangkan Daniar segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Selesai shalat subuh berjamaah, Daniar segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak ketinggalan Bintang pun membantu pekerjaan rumah sebelum dia pergi ke sekolah.
Saat sarapan, kening Bintang mengernyit ketika melihat ibunya belum mengenakan seragam.
"Bunda enggak ngajar?" tanya Bintang, heran.
Daniar tersenyum tipis. "Hari ini Bunda mau pergi ke pasar, Bin. Mau bikin snack pesanan wali kelas kamu," jawab Daniar.
"Aih, Bunda sampai bolos kerja?" Bintang kembali bertanya.
"Hmm, habisnya Bunda takut keteteran jika mulai bikin kue sepulang kerjan, Nak. Ini juga Bunda mau minta bantuan tetangga sebelah," lanjut Daniar.
"Hmm, iya juga ya, Bun. 750 box, 'kan jumlah yang sangat banyak," tukas Bintang.
__ADS_1
"Nah, mangkanya ... daripada mengecewakan pelanggan, lebih baik Bunda izin enggak kerja aja dulu. Lagian cuma sehari ini," timpal Daniar.
"Ya sudah, nanti Bintang izin enggak ikut ekskul Pramuka dulu deh, biar bisa bantuin Bunda juga," sahut Bintang.
Daniar tersenyum. "Iya, terserah kamu saja, Nak."
.
.
Sepulang sekolah, Bintang melihat ibunya masih asyik berkutat di dapur. Dia sedang membuat snack box untuk bekal perjalanan study tour sekolah Bintang nanti malam. Terlihat seorang wanita paruh baya yang ikut membantu memasukkan beberapa jenis kue basah ke dalam box snack.
"Ada yang bisa Bibin bantu, Bun?" tanya Bintang begitu tiba di dapur.
Daniar mendongak. Dia tersenyum tipis ketika melihat putrinya sudah berdiri di ambang pintu dapur.
"Sudah, ganti baju dulu, gih. Setelah itu, kamu boleh bantuin Bunda," perintah Daniar.
"Siap, Bos!" jawab Bintang.
Bintang segera mengayunkan langkah menuju kamar untuk berganti pakaian. Selang beberapa menit, dia kembali ke dapur dengan mengenakan pakaian santainya.
"Bibin bantu apa nih, Bun?" tanya Bintang sembari menatap box-box kosong yang masih belum terisi.
"Oke Bun."
Bintang turut bergabung bersama Daniar dan Ibu Nia. Tiba-tiba saja, terbersit di benak Bintang untuk mempromosikan hasil karya sang bunda. Karena itu, diam-diam Bintang mengambil foto kue-kue basah yang sudah tertata rapi di dalam box.
Dengan cekatan, jari-jemari Bintang mengetikan sesuatu di atas layar ponselnya. Senyum Bintang terbit tatkala dia telah berhasil memposting foto hasil jepretannya di akun media sosial pribadinya.
.
.
Beberapa hari telah berlalu. Entah kenapa, tiba-tiba saja ponsel Daniar selalu dipenuhi pertanyaan tentang pemesanan snack box kue basah. Bahkan, ada beberapa orderan yang masuk di ponselnya. Sebenarnya, Daniar sendiri bingung. Namun, yang namanya rezeki tidak boleh ditolak. Pada akhirnya, dia mencoba menerima pesanan-pesanan yang memang masih bisa dia kerjakan di luar kewajibannya sebagai seorang guru.
"Bin, Bunda mau pergi ke toko kue dulu. kebetulan stok bahan kue sudah habis. Kamu jangan ke mana-mana, ya. nanti bakalan ada orang yang bernama Bu Rosa mau mengambil snack 75 box. Snack-nya sudah Bunda bungkus di atas meja makan," pesan Daniar kepada putrinya.
"Bu Rosa siapa, Bun? Temen Bunda?" tanya bintang.
__ADS_1
"Enggak tahu, Bunda juga enggak kenal. Cuma beberapa hari yang lalu dia chat Bunda dan pesan snack box sama Bunda. Aneh ya, Bin. Perasaan Bunda cuma bikin snack buat guru kamu aja, tapi kok tiba-tiba banyak yang order. Hmm, apa mungkin mereka tahu dari Bu Megi?" terka Daniar
Bintang hanya menggedikkan kedua bahunya menanggapi pertanyaan ibunya. Sesaat kemudian, Daniar pun pergi.
.
.
Seminggu telah berlalu. Tepat hari ini, Bintang berulang tahun yang ke-15. Diam-diam, Daniar membuat kejutan kecil untuk putri semata wayangnya.
Sejak sebelum subuh, Daniar membuat cupcake yang rencananya akan dibagikan ke teman-teman sekelas Bintang. Tentunya sebuah cupcake lucu dan unik dengan rasa spesial untuk anaknya. Tak lupa, Daniar juga membuat kue tart mini sebagai kejutan yang akan dia persiapkan jika putrinya bangun nanti.
Jam terus berputar. Azan subuh mulai berkumandang sesaat setelah Daniar selesai menghias kue tart dan juga cupcake. Daniar menyimpan kue tart tersebut di atas meja makan dan menutupinya dengan tudung saji. Sesaat kemudian, dia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
"Hoaaamm...!"
Di dalam kamar, Bintang bangun seraya menggeliatkan tubuhnya. Kedua bola matanya berbinar saat benda pintarnya memberitahukan dia tentang hari ulang tahunnya.
Bintang melompat dari tempat tidur. Sejenak, dia berdiri di depan cermin riasnya. Senyum lebar menghiasi wajah yang kini mulai terlihat tirus.
"Hai, Bintang Azura! Selamat 15 tahun!" ucapnya penuh semangat.
Setelah menyemangati diri sendiri, akhirnya Bintang keluar dari kamarnya.
Seperti biasa, di dapur dia melihat ibunya yang sedang asyik menyiapkan makanan. Senyum Bintang sudah mengembang. Dia yakin kalau ibunya tidak akan pernah melupakan tanggal kelahiran dirinya. Bintang pun segera memeluk Daniar dari belakang.
"Astaghfirullahaladzim!" pekik Daniar, terkejut.
Sontak Daniar menoleh. Tanpak bening binar kedua bola mata putrinya begitu indah. Rasanya, Daniar ingin segera mengucapkan selamat ulang tahun kepada anaknya. Namun, Daniar mencoba menahan diri.
Hmm, jika detik ini aku memberinya selamat, kejutannya pasti akan terasa basi, batin Daniar.
Wanita tinggi kurus itu mengusap lembut pipi anaknya. "Buruan wudhu, ah! Ngapain peluk-peluk Bunda," ketus Daniar.
Sontak Bintang terkejut. Dia pun menguraikan pelukannya seraya menautkan kedua alisnya.
Ish, apa Bunda melupakan ulang tahunku? tanya Bintang dalam hatinya.
Tak ingin terlalu kecewa, akhirnya Bintang pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
__ADS_1
Melihat raut kesal di wajah anaknya, Daniar hanya mengulum senyum.
"Maafkan Bunda, Dek."