
Yandri hanya mampu duduk sambil bersandar pada dashboard ranjang. Dia menengadahkan wajah seraya memejamkan kedua matanya. Dadanya seolah terimpit beban yang sangat berat, hingga dia merasa kesulitan untuk bernapas. Entah kenapa Tuhan mengujinya begitu berat seperti ini. Hingga Yandri merasa tidak akan sanggup memikul ujiannya.
Bulir air mata yang tadinya menggenang di kedua sudut mata, kini mulai turun perlahan. Yandri merasa lemah. Bagaikan sebuah kapal yang kehilangan nakhoda, Yandri merasa hidupnya tak memiliki arah dan tujuan. Keduanya telah hilang di saat kedua bidadarinya menghilang entah kemana.
"Bun ... jujur Ayah tidak sanggup melewati derita ini. Ayah tidak tahu hubungan apa yang akan Ayah jalin dengan perempuan itu. Ayah tidak mencintainya, Bun. Ayah tidak pernah mencintai wanita lain selain dirimu. Tolong bantu Ayah. Tolooong, Bun," gumam Yandri di sela-sela isak tangisnya.
Bilik yang menjadi pembatas kamar pun tidak mampu menyembunyikan kesedihan Yandri. Di balik dinding itu juga, Bu Maryam hanya berdiri mematung setelah mendengar isak tangis anaknya yang masih selalu merindukan mantan menantunya.
Ya Tuhan ... padahal perpisahan mereka sudah lama terjadi, tapi kenapa Yandri tidak pernah bisa melupakan wanita itu, batin Bu Maryam.
.
.
Di tempat lain. Seorang wanita tampak duduk termenung di sebuah bangku taman yang menghadap ke kolam renang sederhana. Tatapan matanya terlihat kosong. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Hanya saja, dadanya terlihat naik turun seolah sedang berusaha untuk mengatur napas.
Sesak! Mungkin, rasa itulah yang saat ini Daniar rasakan. Entah kenapa, semakin hari bayangan Yandri semakin tidak mampu ia lupakan. Untuk sejenak, Daniar menengadahkan wajahnya. Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang.
"Bu, aku mau sekalian order tart-nya, bisa?" tanya Bu Megi.
"Ah, ya. Bisa kok, Bu," jawab Daniar, "untuk hari Sabtu, 'kan?" tanyanya lagi.
"Iya, Bu. Awalnya keponakan saya sudah pesan di tempat lain, tapi di-cancel karena rasanya ada yang kurang. Ya sudah, saya sekalian pesankan di sini saja," lanjut Bu Megi.
Daniar hanya tersenyum mendengar curhatan pelanggannya. Sesaat kemudian, dia menyodorkan buku orderan kepada Bu Megi.
"Silakan ditulis catatannya di sini, Bu. Takut saya lupa," ucap Daniar.
"Baiklah," jawab Bu Megi.
Wanita itu mengambil buku panjang yang disodorkan Daniar. Sesaat kemudian, dia mulai menuliskan sesuatu di dalam buku tersebut. Hingga beberapa menit berlalu, dia pun menyerahkan kembali buku itu kepada Daniar.
"Ini, Bu. Tart coklat dengan hiasan jantung hati, ya!" pinta Bu Megi.
Daniar kembali tersenyum.
"Hmm, sepertinya Ibu sangat antusias sekali dengan pertunangan keponakan Ibu," kata Daniar.
__ADS_1
"Tentu saja, Bu Niar. Bagaimana saya tidak berantusias. Usia keponakan saya tuh hanya terpaut dua tahun lebih muda dari saya, tapi dia masih betah melajang hanya karena cintanya belum bersambut. Dan sekarang, pria yang dicintainya sudah kembali sendiri. Beruntungnya, garis jodoh mempertemukan mereka hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertunangan," tutur Bu Megi.
Daniar kembali tersenyum tipis. Ah, entah kenapa kisah yang diceritakan Bu Megi telah mengingatkan dia akan cerita seseorang. Namun, Daniar sendiri sudah lupa, siapa orang itu.
"Ya sudah, Bu Niar. Nanti tart-nya saya ambil sebelum hari H saja," pungkas Bu Megi.
Daniar hanya menganggukkan kepala. Setelah Bu Megi pergi, karena merasa penasaran, Daniar pun membuka catatan orderannya.
Happy engagement Siska & Yandri. Semoga lancar hingga pelaminan.
Seketika, tubuh Daniar terasa lemas mengingat kembali kalimat yang tertulis di dalam catatan orderan.
Ya-yandri? Mungkinkah dia Yandri yang sama dengan Kang Yandri, batin Daniar seraya meremas dadanya yang semakin sesak.
.
.
Sabtu pagi. Daniar dan kedua karyawannya terlihat asyik menyusun kue-kue basah di dalam etalase. Sedangkan Bintang, gadis itu sedang asyik menyusun cupcake ke dalam box.
"Cupcake-nya diantar jam berapa, Bun?" tanya Bintang.
Aku tidak mau mengambil risiko. Bagaimana jika dia adalah Yandri yang sama dengan ayahnya Bintang. Jika itu benar, Bintang pasti akan sangat terluka melihat ayahnya. Tidak! Sebaiknya aku suruh Ratih saja yang mengantarkan cupcake itu, batin Daniar.
"Ish, Bunda! Kok malah ngelamun," rengut Bintang.
"Eh, iya Nak. Emh, acaranya sih jam 10, tapi cupcake-nya harus diantar sebelum jam itu. Oh iya, Bin. Nanti yang ngantar kue biar Kak Ratih. Bibin di sini saja bantuin Bunda. Biasanya, di weekend pengunjung suka membludak." Daniar mencari alasan untuk mencegah kepergian Bintang.
"Enggak pa-pa, Bun. Biar Bibin saja yang antarkan. Sekalian ke Gramed juga, ada yang harus Bibin beli untuk kerja kelompok besok," jawab Bintang.
"Tapi, Nak. Bunda bisa keteteran nanti," dalih Daniar.
"Ish, Bunda. Kan ada Kak Ratih sama kak Nia juga. Udah deh, urusan COD, biar Bibin aja yang handle. Lagian Bibin enggak sendiri kok," tukas Bintang.
"Iya, Bun. Nanti Bintang pergi sama saya, kok. Bunda tidak usah khawatir," timpal Adwira yang sudah berada di tengah-tengah mereka.
Daniar tidak bisa mencegah lagi. Semakin dia cegah, Bintang akan semakin curiga. Daniar hanya berdo'a semoga itu bukanlah Yandri yang sama.
__ADS_1
.
.
Di kedai bakso Setan.
Satu per satu, para tamu undangan telah datang. Siska memang seorang wanita karir yang memiliki kolega bisnis di mana-mana. Karena itulah, acara pertunangan yang digelar pun cukup mewah dan meriah.
"Selamat ya, Sis. Akhirnya cita-cita kamu tercapai juga," ucap Aisyah, sahabat karib Siska semenjak kuliah.
"Terima kasih, Syah. Akhirnya ... penantianku tidak sia-sia, Syah," jawab Siska, terlihat berkaca-kaca.
"Hmm, buah kesabaran memang selalu manis, Sis. Akhirnya, kamu bisa bersanding juga dengan Yandri," balas Aisyah.
Brakk!
Bintang yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan kedua wanita tersebut, menjatuhkan box cupcake yang dia susun.
"Hei, hati-hati dong!" seru Siska.
Bintang hanya menundukkan wajahnya. Sesaat setelah kedua wanita itu pergi, Bintang memberanikan diri untuk mengangkat wajah. Dia mencoba mengintip wanita yang tengah berbicara tadi.
Jantung Bintang berdetak kencang ketika menyadari jika dia adalah wanita yang sama yang dulu pernah datang ke rumah dan mengaku sebagai calon istri ayahnya.
Apa itu artinya, ini adalah pertunangan ayah? batin Bintang menduga-duga.
Dengan gemetar, Bintang mengayunkan langkah ke depan. Dia benar-benar penasaran dengan sosok laki-laki yang tengah berdiri di depan sembari berbincang-bincang dengan seseorang.
Deg-deg-deg!
Jantung Bintang semakin berdegup kencang ketika melihat neneknya duduk bersama perempuan itu. Tepat! Sudah bisa dipastikan jika ini adalah pertunangan ayahnya.
Bintang tak sanggup melihat semua kebenarannya. Secepat kilat, dia pun membalikkan badan untuk pergi dari tempat itu.
"Bintang, tunggu!"
Teriakan seseorang yang menyebutkan nama anaknya, sontak membuat Yandri menoleh. Pandangan Yandri terkunci pada seorang gadis tomboy yang sedang berusaha memberontak dari cengkeraman tangan seorang pemuda.
__ADS_1
"Bi-bibin!"