
Keesokan harinya, Yandri dan Daniar pergi ke rumah Bu Maryam. Tiba di sana, dia melihat Bu Maryam tengah duduk di ruang tamu seraya mengenakan pakaian yang cukup rapi. Yandri tersenyum saat melihat ibunya begitu gembira menyambut kehadirannya. Hmm, mungkin ini yang dinamakan kembali lagi seperti anak kecil. Ya, sikap ibunya terlihat seperti seorang anak berusia 6 tahun yang begitu bergembira saat hendak diajak belanja baju lebaran oleh kedua orang tuanya.
"Hmm, sepertinya ada yang sudah siap berburu baju lebaran, nih," goda yandri seraya duduk di samping ibunya.
Bu Maryam hanya tersenyum lebar menanggapi gurauan anaknya.
Daniar ikut duduk di samping kiri mertuanya. Dia kemudian berkata kepada ibu mertuanya. "Lain kali, kalau Ibu memang memiliki keinginan, Ibu tidak usah sungkan-sungkan untuk memberi tahu kami. Insya Allah, selama kami mampu, kami akan berusaha untuk memenuhi keinginan Ibu."
Bu Maryam hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Daniar.
"Apa yang dikatakan Daniar sangat benar, Bu. Jika Ibu memang menginginkan sesuatu, jangan dipendam di dalam hati," timpal Yandri.
"Iya-iya," jawab Bu Maryam, "lalu, kapan kita akan pergi ke pasar?" tanyanya.
Yandri tersenyum melihat Bu Maryam yang sepertinya sudah tidak sabar ingin membeli baju lebaran.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang," ajak Yandri.
Daniar kembali menggendong Bintang. Sedangkan Yandri, dia menggandeng ibunya keluar dari rumah.
.
.
Tiba di sebuah pusat perbelanjaan, Daniar mengajak ibu mertuanya memasuki sebuah toko pakaian langganan ibunya. Suasana toko sangatlah ramai oleh para pengunjung yang juga sedang berburu baju lebaran. Maklum, seminggu lagi bulan suci Ramadhan akan segera berakhir. Berganti dengan bulan Syawal, bulan yang penuh kemenangan.
"Silakan dilihat-lihat bajunya, Bu. Barangkali ada yang cocok," kata salah seorang pelayan yang menyambut kedatangan Daniar sekeluarga.
Daniar tersenyum. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih atas sambutan ramah yang telah diberikan oleh pelayan toko tersebut. Setelah itu, Daniar mengajak ibu mertuanya untuk memilih pakaian. Sambil menggendong Bintang, Yandri masih setia mengikuti ibu dan istrinya dari belakang.
"Ayo dipilih saja, Bu, baju seperti apa yang Ibu suka," ucap Daniar mempersilakan ibunya untuk memilih baju lebaran yang sesuai dengan seleranya.
Bukannya memilih model pakaian yang sesuai dengan usianya, Bu Maryam malah mengayunkan langkahnya menuju hunger yang memasang pakaian pria.
__ADS_1
Eh, mau ke mana Ibu? batin Daniar seraya mengikuti ibu mertuanya yang terus mendekati jejeran kaos pria yang tergantung rapi.
Bu Maryam mulai membolak-balikan kaos-kaos itu. Matanya menatap lekat pada sebuah kaos bermerk yang berwarna maroon.
"Ibu pilih baju ini saja, Niar," ucap Bu Maryam seraya memegang kaos tersebut.
Daniar mengernyit. Ada apa dengan ibu? Apa dia tidak salah memilih pakaian? Kembali Daniar bermonolog dalam hatinya.
"Boleh, 'kan, Niar?" tanya Bu Maryam.
Daniar terkejut mendengar pertanyaan ibu mertuanya. "Maaf, Bu. Ini pakaian untuk laki-laki. Bukankah Ibu ingin membeli pakaian baru? Pakaian gamis berada di sebelah sana, Bu!" Tunjuk Daniar pada hunger busana muslim yang berjejer rapi.
"Pakaian Ibu masih banyak, Niar. Masih layak pakai juga. Kasihan Raihan, dia sama sekali tidak punya baju baru buat lebaran," ucap Bu Maryam tanpa rasa malu meminta pakaian baru untuk anak bungsunya kepada sang mantu.
Daniar hanya melongo mendengar ucapan mertuanya. Kenapa jadi untuk Raihan? Apa sebenarnya maksud ibu mertuanya? Apa dia menginginkan baju baru untuk anak bungsunya?
Seketika Daniar merasa ilang rasa kepada mertuanya. Dia sendiri langsung enggan untuk memenuhi keinginan orang tua. Mungkin, jika Raihan masih melajang, dengan senang hati Daniar pasti memenuhi keinginan mertuanya. Namun, bukankah saat ini Raihan sudah berkeluarga? Bagaimana mungkin dia bisa bertanggung jawab kepada istrinya, jika untuk dirinya sendiri dia masih mengandalkan orang lain, pikir Daniar.
"Bunda pusing, Yah. Sebaiknya Ayah saja yang pilih baju buat Ibu," ucap Daniar.
"Loh, tapi Ayah, 'kan tidak tahu model baju-baju perempuan, Bun," tukas Yandri.
"Bunda takut salah pilih, Yah. Sebaiknya Ayah saja yang menemani Ibu memilih pakaian. Biar Ibu enggak ngerasa canggung juga," balas Daniar.
"Terus, Bunda mau ke mana?" tanya Yandri yang melihat Daniar hendak pergi.
"Bunda mau pilih baju buat Bintang," jawab Daniar.
Yandri mengalah, dia kemudian pergi ke tempat ibunya. Sedangkan Daniar pergi ke toko pakaian bayi dan anak-anak.
Setengah jam berlalu. Setelah membayar pakaian Bintang ke kasir, Daniar pun keluar dari toko tersebut. Begitu juga dengan Yandri yang tengah memapah ibunya keluar dari toko busana muslim.
"Sudah selesai membeli bajunya, Sayang?" tanya Yandri begitu melihat Daniar menghampirinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sudah yah," jawab Daniar. "Gimana, Ibu sudah nemu baju yang pas?" tanya Daniar kepada mertuanya.
Bu Maryam hanya melengos begitu saja. Sepertinya, dia masih merasa kesal kepada menantunya itu.
"Ibu kenapa, Yah?" tanya Daniar.
"Hmm, tadi Ibu minta dibelikan baju kaos. Saat Ayah tanya untuk apa? Dia jawabnya butuh pakaian sehari-hari. Enggak masuk akal banget, 'kan? Ya sudah, Ayah pilihkan saja pakaian gamis untuk Ibu," jawab Yandri.
Daniar hanya tersenyum tipis mendengar jawaban suaminya.
"Ya sudah, yuk kita ikuti ibu. Katanya beliau pengen dibelikan sandal," lanjut Yandri.
Daniar mengangguk. Yandri mengambil Bintang dari pangkuan istrinya. Setelah itu, mereka mengikuti Bu Maryam yang sudah memasuki toko sandal dan sepatu.
"Ibu mau beli sandal model gimana?" tanya Daniar seraya memilih sandal model selop yang biasa digunakan ibu-ibu paruh baya.
Bukannya ikut memilih sandal yang berada di etalase khusus selop, Bu Maryam malah menatap jejeran sandal yang memiliki heels cukup tinggi. Bahkan matanya seolah tak berkedip melihat sandal yang memiliki warna blink tersebut.
Melihat gelagat aneh dari ibu mertuanya, Daniar pun sudah bisa menebak jika sang ibu mertua pasti menginginkan sandal itu untuk orang lain.
"Apa Ibu menginginkan sandal heels itu untuk Mia?" terka Daniar.
"Eh, eng-enggak, Ni-ar," jawab Bu Maryam gelagapan.
"Sayang, kok ngomongnya gitu," tukas Yandri.
"Ya enggak mungkin, 'kan Ibu menggunakan high heels setinggi itu," jawab Daniar.
"Hmm, bener juga. Ya sudah, Ibu pilih sandal yang di sebelah sana saja. Yuk!" Yandri mengajak ibunya ke etalase yang memajang sandal untuk orang tua.
Bu Maryam hanya bisa cemberut seraya mengikuti langkah anaknya. Sesekali, matanya mendelik ke arah Daniar. Sepertinya, dia merasa sangat kesal.
Daniar tersenyum tipis melihat ibu mertuanya cemberut saat memilih sandal. Tenang saja ibu, aku tidak akan menghambur-hamburkan uang suamiku hanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Enak saja mau minta baju dan sandal baru buat Raihan dan Mia, orang anaknya saja beli baju masih pakai uang Niar. Sebelum membelikan adik dan adik iparnya, kang Yandri lebih wajib memenuhi kebutuhan anaknya sendiri. Ish, dasar keluarga aneh.
__ADS_1