Setelah Hujan

Setelah Hujan
Peluang Usaha


__ADS_3

Setibanya di rumah, Daniar segera menyiapkan bahan masakan. Beruntungnya, Bintang sedang mengikuti ekskul matematika. Karena itu, Daniar masih memiliki banyak waktu untuk memasak sebelum anaknya pulang.


Setelah satu jam berkutat di dapur, akhirnya pekerjaan Daniar selesai juga. Daniar segera menghidangkan hasil karyanya di atas meja makan. Tak lama berselang, terdengar suara salam seseorang dari luar rumah.


"Ya, sebentar!" sahut Daniar, berjalan cepat menuju pintu depan.


Daniar membuka kunci pintu rumahnya. Sedetik kemudian, dia mendorong daun pintu hingga terbuka lebar. Senyumnya mengembang ketika melihat anaknya sedang duduk sambil membuka sepatu.


"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya unfaedah, Daniar.


Bintang hanya menoleh seraya tersenyum kepada ibunya. Sejurus kemudian, dia beranjak dan mencium punggung tangan Daniar.


"Sudah, Bun," sahut Bintang.


"Sudah shalat dzuhur?" Daniar kembali bertanya.


"Sudah tadi di sekolah, Bun," jawab Bintang.


"Ya sudah, masuk yuk! Kamu pasti sudah lapar, 'kan?" lanjut Daniar.


"Iya nih, Bun. Lapar banget," balas Bintang sambil mengusap-usap perutnya.


"Ya udah, sini tasnya, biar Bunda simpan. Kamu langsung ke meja makan, gih. Bunda udah siapin makanan kesukaan kamu di atas meja," perintah Daniar.


Bintang memberikan ranselnya kepada Daniar. Setelah itu, dia pergi ke dapur untuk makan siang. Sedangkan Daniar, dia pergi ke kamar anaknya untuk menyimpan ransel.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Daniar kembali ke dapur untuk menemani anaknya makan siang. Namun, sebelumnya Daniar mengambil amplop berwarna coklat dari dalam tas sekolahnya.


"Yang banyak makannya, Dek. Biar kamu kuat," celetuk Daniar seraya menarik kursinya dan duduk di hadapan Bintang


"Kuat apanya ... hmm, yang ada makin lebar badan Bibin," sahut Bintang, memajukan bibir tipisnya beberapa senti.


Daniar hanya tersenyum menanggapi ucapan anaknya yang terkesan berlebihan. Tak lama berselang, Daniar memperlihatkan sebuah amplop yang sedari tadi berada dalam genggamannya.


"Oh iya, Bin. Besok tolong kamu serahkan ini sama wali kelas kamu, ya," pinta Daniar seraya menyodorkan amplop panjang yang sudah terlipat-lipat.


"Apa itu, Bun?" tanya Bintang, heran.


"Itu biaya untuk study tour kamu," jawab Daniar.


Deg!


"Bin, kok bengong?" tanya Daniar yang sontak membuat Bintang menyadari sikapnya.


"Eng-enggak, Bun. Bibin cuma kaget aja," sahut Bintang.


"Ya sudah, besok kamu serahkan itu ke Bu Megi, ya?" Daniar kembali meminta Bintang untuk menyerahkan amplop yang berisi biaya kegiatan sekolah anaknya.


"Bun, beneran kok, Bibin enggak apa-apa enggak ikut study tour juga. Bibin enggak mau ngerepotin Bunda," kata Bintang yang merasa tidak nyaman dengan pemberian ibunya.


"Enggak apa-apa, Nak. Kamu serahkan saja sama wali kelas kamu. Cuma itu loh, yang Bunda minta," sahut Daniar.

__ADS_1


"Enggak, Bun. Bibin enggak mau membebani pikiran Bunda lagi. Sumpah, Bun. Bibin enggak tertarik kok, untuk ikut study tour itu," tukas Bintang.


"Ih, kok enggak tertarik sih, Nak. Lagi pula, kegiatan sekolah ini, 'kan cuma sekali selama kamu bersekolah di sana. Masak kamu enggak mau ikut pergi bersukacita dengan teman-teman kamu, Nak," tukas Daniar.


"Enggak, Bun. Bibin mau di rumah saja!" jawab Bintang, keukeuh.


"Kok enggak mau sih, Nak?" tanya Daniar lagi.


"Bun, Bibin enggak mau membebani Bunda. Bibin tahu kalau ayah sudah tidak pernah memberikan lagi uang untuk biaya sekolah Bibin. Karena itu beberapa bulan terakhir ini, Bunda selalu kesulitan keuangan. Daripada uang ini dipakai Bibin study tour, mending dipake modal aja. Kata ibu kantin, risoles isi dan pastel buatan Bunda selalu habis sebelum jam istirahat. Karena itu, ibu kantin meminta Bibin untuk memperbanyak jumlahnya," tutur Bintang panjang lebar.


"Benarkah?" Daniar terlihat gembira mendengar kabar yang dibawa putrinya.


"Hem-eh," jawab Bintang. "Oh iya, Bun. Tadi Bu Megi juga bilang, dia mau pesan kue basah ke Bunda. Kalau enggak salah, sebanyak 750 box," lanjut Bintang.


"750 box?" pekik Daniar, "banyak banget, Bin!" imbuhnya.


"Iya, Bun. Katanya buat bekal anak-anak study tour, hari Sabtu nanti," balas Bintang.


"Subhanallah, jadi wali kelas kamu pesan snack buat anak-anak yang ikut study tour?" tanya Daniar, memastikan.


"Hem-eh. Sayang, 'kan Bun, kalau enggak diambil. Ini bisa jadi peluang usaha untuk kita. Daripada ikut study tour, mending Bintang bantuin Bunda bikin kue, sekalian belajar juga," lanjut Bintang.


"Tapi, Nak. Ini kan kesempatan kamu untuk mengetahui tempat peninggalan bersejarah, jalan-jalan ke Malioboro," tukas Daniar.


"Tidak apa-apa, Bun. Masih ada banyak kesempatan untuk berkunjung ke sana. Lagi pula, Bibin enggak begitu tertarik pergi ke Jogja. Kalau ke Jepang, hmm ... akan Bibin pikir-pikir. Hehehe, ..." seloroh Bintang seraya terkekeh.

__ADS_1


Daniar yang memang sudah mengetahui cita-cita Bintang, hanya bisa tersenyum mendengar gurauan putrinya.


"Insya Allah, Nak. Cita-cita kamu pasti akan tercapai."


__ADS_2