Setelah Hujan

Setelah Hujan
Tekad Yandri


__ADS_3

Yandri mengulum senyum saat mendengar gerutuan Daniar. Ekspresi wajah Daniar yang sedang kesal, sungguh terlihat menggemaskan bagi Yandri. Dan, entah sejak kapan ekspresi itu selalu Yandri rindukan.


"Sudah, tidak usah dipikirkan Yar," tegur Yandri.


"Ish, bagaimana mungkin tidak dipikirin, Yan. Ayah sudah salah mengartikan kedatangan kamu tempo hari. Aku hanya tidak mau ayah dan ibu berharap pada hal yang tidak mungkin. Aku tidak ingin mereka kecewa lagi, Yan," tutur Daniar memberikan alasan.


"Hmm, sebenarnya ayah kamu tidak salah, Yar."


"Maksud kamu?"


"Aku memang sempat bilang kepada beliau, supaya beliau menjaga kamu sebelum aku mengambil alih tanggung jawab itu."


Daniar semakin mengernyitkan dahinya. Jujur saja, perkataan Yandri terkadang memang tidak mudah untuk dicerna begitu saja oleh Daniar.


"Kamu ngomong apa sih, Yan? Kok makin berbelit-belit gitu. Aku beneran nggak ngerti, nih. Bisa enggak, ngomongnya diperjelas lagi," keluh Daniar.


Yandri semakin melebarkan senyumnya. Dia kemudian menatap intens kepada Daniar.


"Sebenarnya, aku meminta kamu kepada ayahmu, Yar. Aku menitipkan kamu sebentar kepada ayahmu. Setelah semuanya sudah siap, aku akan menjadikan kamu sebagai nyonya Gunawan," ucap Yandri penuh ketegasan.


Daniar terhenyak. Dia tidak menyangka jika Yandri akan melakukan itu. Jadi, apa yang dia dengar dari orang tuanya, tidaklah salah.


"Ta-tapi kenapa, Yan?" tanya Daniar terbata.


"Apa maksudmu kenapa?" Kini Yandri yang dibuat kebingungan oleh pertanyaan Daniar.


"Kenapa kamu memilih aku? Bu-bukankah ka-mu juga tahu masa lalu aku seperti apa? A-aku tidak ingin kamu mengambil keputusan karena mengasihani aku, Yan. Aku tidak butuh belas kasihan dari siapa pun," tegas Daniar.


"Haish, jangan salah sangka dulu, Niar. Aku tidak mengasihani kamu. Aku ingin menikahimu, karena aku memang sangat yakin dengan keputusan aku." Yandri menjawab perkataan Daniar tak kalah tegasnya.


"Yakin? Ah, Yan ... bagaimana mungkin kamu bisa merasa yakin? Kita bahkan baru menjalani kebersamaan kita selama tiga minggu. Lalu, keyakinan seperti apa yang bisa kamu miliki dalam waktu sesingkat itu?" Daniar tak habis pikir dengan jawaban Yandri.


"Istikharah!" tegas Yandri.

__ADS_1


Daniar mengernyit. "Istikharah?" ulang Daniar.


"Ya, Niar. Saat aku merasa dekat dengan lawan jenis, aku selalu shalat istikharah. Saat aku ber-istikharah tentang kamu, tiba-tiba saja aku bermimpi menangkap merpati putih. Aku yakin jika itu adalah jawaban dari shalat istikharah aku."


"Ish, Yan. Bukannya aku tidak percaya dengan kekuatan shalat istikharah, tapi kamu juga tidak bisa mengabaikan masa laluku. Bukankah kamu tahu sekelam apa masa laluku? Aku tidak ingin kamu menyesal dan mengungkit semuanya di saat kita telah membina ikatan. Lagi pula, kamu bisa mendapatkan seorang gadis yang sempurna, Yan. Bukan gadis cacat seperti aku," ucap Daniar.


"Niar, dengar aku! Tekad aku menikahi kamu sudah bulat. Aku tidak akan mundur, apa pun yang terjadi. Aku tidak peduli tentang masa lalu kamu, Yar. Toh Setiap orang memiliki masa lalu. Satu-satunya yang aku pedulikan adalah masa depan, Yar. Masa depan aku dan kamu. Masa depan kita!" tegas Yandri.


"Ta-tapi, Yan ..." Daniar benar-benar kebingungan harus berkata apa lagi.


"Sudahlah Daniar, kita ikuti skenario Tuhan. Merasa yakin di saat umur pertemuan kita yang cukup singkat, mungkin saja itu artinya kita ditakdirkan untuk saling melengkapi. Mulai detik ini, kita akan bersama-sama berusaha untuk menghalalkan pertemuan kita. Apa kamu mengerti?"


Daniar menatap Yandri. Terlihat kesungguhan pada kedua bola matanya yang berwarna coklat. Perlahan, Daniar mengangguk pertanda menyetujui semua keputusan Yandri.


Bismillah, gumam Daniar dalam hati.


.


.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali ke rumah juga," ujar Shakila.


Seno tersenyum. Dia kemudian menyimpan obat dan vitamin Shakila di atas nakas. Sejurus kemudian, Seno menghampiri Shakila yang tengah duduk di tepi ranjang.


"Istirahatlah! Biar aku yang membuatkan makanan untuk kamu dan anak kita," kata Seno.


Shakila cukup terkejut mendengar perkataan Seno. Tidak biasanya Seno bersikap lembut seperti ini. Bahkan, dia menyebut anak kita untuk si jabang bayi yang sedang ada dalam kandungnya. Padahal, sebelumnya Seno begitu tidak peduli pada Shakila dan calon anak mereka.


Masih dalam mode terkejut, Shakila hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak berani bertanya kepada Seno atas semua perubahan sikapnya. Takut jika sang suami tersinggung.


"Ya sudah, tidurlah!" Lagi-lagi Seno memberikan perintah.


Shakila kembali mengangguk. Dia kemudian bergeser lebih ke tengah lagi dan merebahkan tubuhnya. Sedetik kemudian, Seno menyelimuti Shakila hingga ke dada.

__ADS_1


"Aku ke dapur dulu, ya," pamit Seno seraya mencium kening Shakila.


Kembali Shakila dibuat terkejut oleh sikap Seno yang penuh dengan kehangatan. Senyum Shakila mengembang saat Seno berbalik dan keluar dari kamarnya. Semoga saja, ini bukan hanya mimpi di siang hari, batin Shakila, menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu.


.


.


Tekad Yandri yang begitu kuat untuk menikahi Daniar, membuat Yandri berusaha keras mengumpulkan rupiah sebagai bekal. Dia menyadari jika keluarganya tidak sekaya dulu lagi. Mungkin memang dulu, kedua orang tuanya memiliki ladang dan sawah yang cukup luas. Namun, semenjak ayahnya meninggal, perlahan-lahan semua kekayaan itu dijual. Terlebih lagi, ada beberapa saudara Yandri yang sudah meminta haknya kepada sang ibu. Karena tak mau ambil pusing, ibu Yandri pun membagikan hak anak-anaknya meskipun dia masih hidup.


Sempat Yandri berpikir untuk meminta haknya kepada sang ibu. Sama seperti anak-anak yang lainnya, sebenarnya Yandri memiliki hak atas pembagian tanah peninggalan sang ayah. Namun, pikiran itu Yandri hempaskan jauh-jauh. Dia sadar, hukum waris berkata, selama masih ada ibu, dia tidak punya hak atas peninggalan ayahnya. Terkecuali ibunya memberikan tanah itu sebagai hibah saat ini.


Ah, sudahlah! Lebih baik aku gunakan kemampuanku untuk tambahan modal menikah nanti. Aku tidak mungkin meminta, terlebih lagi pada ibu yang sudah tak memiliki seseorang yang membantu keuangannya, pikir Yandri.


Dengan cekatan, Yandri mengetikan sesuatu di status media sosialnya.


Terima jasa pembuatan, Makalah, Skripsi, RPP dan Kurikulum. Yang berminat, bisa inbox. Harga, nego.


Yandri tersenyum tipis saat melihat icon jempol terus bertambah angkanya.


.


.


Sementara itu, terdengar bunyi pecahan benda berbahan tanah liat di kamar Daniar. Rupanya, gadis itu sedang membongkar celengannya. Daniar sadar betul jika dia telah begitu banyak mengecewakan kedua orang tuanya. Saat gagal menikah, orang tuanya harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar kerugian. Kali ini, Daniar berjanji akan berusaha sendiri untuk memenuhi biaya pernikahannya dengan Yandri.


Daniar menghitung lembar demi lembar uang ratusan ribu. Jumlahnya tidak banyak, memang. Tapi cukup untuk membantu Yandri membayar penghulu. Daniar dan Yandri sudah sepakat untuk membiayai sendiri pernikahannya. Mereka tidak ingin orang tuanya berutang ke sana kemari hanya untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya.


Asalkan sah di mata Tuhan, agama dan masyarakat saja, Yan. Aku enggak mau resepsi pernikahan yang mewah. Untuk apa mengadakan resepsi jika setelah menikah, kita harus membayar utang," ucap Daniar.


Yandri tersenyum. Terserah kamu saja, Yar."


Daniar tersenyum saat mengingat pembicaraan terakhir dengan calon suaminya.

__ADS_1


"Bismillah saja. Semoga dia menjadi imam yang tepat bagiku," gumam Daniar seraya memasukkan lembaran uang tersebut ke dalam amplop panjang berwarna putih.


Dana Menikah! Tulisnya di amplop tersebut.


__ADS_2