Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kado


__ADS_3

"Alhamdulillah, selamat ulang tahun putri Ayah yang cantik," bisik Yandri di telinga mungil putrinya.


Dengan menahan sesak di dadanya, Yandri menciumi kedua pipi anaknya. Entah kenapa, hatinya begitu sakit melihat anaknya yang sedang tidur penuh kedamaian. Kedua mata Yandri mulai berembun, akibat genangan air mata.


"Maafin ayah, Nak. Karena belum bisa memberikan tempat yang layak untuk berteduh kepada kamu dan ibumu. Semoga segala urusan Ayah dipermudahkan, agar Ayah bisa menjadi Ayah yang baik untuk kamu, Nak," ucap serak Yandri.


Daniar yang tengah berdzikir setelah menunaikan salat subuh, merasa terenyuh mendengar do'a Yandri. Dalam hati, dia kemudian mengamini do'a suaminya itu. Semoga Engkau ijabah semua do'a yang terucap dari bibir suami hamba, Ya Rabb, batin Daniar.


Selesai berdzikir, Daniar melepas mukena dan merapikannya kembali. Dia menyimpan kembali ke dalam rak benda yang diberikan suaminya sebagai mahar pada saat menikah.


Daniar menghampiri sang suami. Perlahan,dia menyentuh bahu Yandri. "Salat subuh dulu, Yah," ucap Daniar.


Yandri mendongak. Sesaat dia kemudian mencium pipi istrinya.


"Jangan bangunkan Bintang, Bun. Sekarang hari Minggu, biarkan dia tidur sampai puas. Toh tidak akan ada anak-anak yang bersekolah ini," ucap Yandri saat melihat Daniar hendak memangku Bintang.


"Enggak Yah, Bunda hanya ingin membenarkan posisi tidurnya saja. Ya sudah, gih ...Ayah salat dulu sana. Setelah salat, Ayah bisa tidur lagi temenin Bintang. Bunda mau nyuci, mumpung Bintang masih tidur." Kembali Daniar memberikan perintah kepada suaminya.


Yandri mengangguk. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur untuk pergi berwudhu ke kamar mandi.


Sambil menunggu suaminya yang sedang bersuci, Daniar memasukkan pakaian kotor ke dalam ember. Hari ini hari ulang tahun Bintang yang bertepatan dengan hari Minggu. Karena itu, Daniar hendak membereskan pekerjaan rumahnya sepagi mungkin. Dia dan suaminya berencana untuk mengajak Bintang main ke wahana permainan yang berada di pusat kota.


Setelah Yandri menunaikan salat subuh, dia kembali merebahkan tubuhnya di samping sang putri. Sementara itu, Daniar sudah pergi ke kolam belakang sekolah untuk mencuci pakaian.


Yandri menatap wajah putrinya yang begitu meneduhkan. Telunjuknya mengelus pipi gembul milik Bintang sehingga membuat anak kecil itu bergerak. Bibir Yandri bergetar saat mengingat, setiap subuh dia harus membangunkan Bintang dan membawanya pergi ke kamar mandi masjid untuk dimandikan.


Ya, tinggal di fasilitas umum dengan kedua orang tua yang memiliki pekerjaan, memaksa Bintang harus terbiasa mandi subuh agar orang tuanya tidak kesiangan bekerja. Terkadang, jika dia sakit, dia masih terpaksa ikut ibunya bekerja karena tidak memungkinkan untuk ditinggalkan. Peraturan yang diterapkan bu Aisyah cukup ketat. Terlebih lagi, mereka tinggal di lingkungan sekolah, jadi sangat risih jika harus mengambil izin tidak masuk kerja.


Ya Tuhan ... izinkan hamba untuk membawa anak dan istri hamba ke tempat yang lebih layak untuk ditinggali, batin Yandri, masih setia mengelus pipi putrinya.


Menjelang pukul tujuh pagi, gadis kecil itu pun bangun. Beruntungnya, semua pekerjaan rumah sudah beres. Sadar karena tidak ada seorang pun yang bisa dimintai pertolongan untuk menjaga putrinya, akhirnya Daniar dan Yandri berbagi tugas. Daniar bertugas untuk mencuci pakaian dan memasak, sedangkan Yandri memiliki tugas untuk menanak nasi dan mencuci piring dan juga perabotan dapur yang kotor.


"Baiknya Bintang disuapi dulu Bun, sebelum dimandikan. Biar enggak masuk angin," saran Yandri kepada istrinya.

__ADS_1


"Iya, Yah. Tolong jaga dulu Bintang, Bunda mau ambil nasi sama sayurnya dulu. Ayah mau sekalian makan sekarang?" tawar Daniar kepada suaminya.


"Enggak usah, Bun. Ayah mau mandi dulu," jawab Yandri.


"Oh, ya sudah."


Daniar kemudian mengambil tempat makan khusus putrinya. Sesaat setelah itu, dia mulai menyendok nasi dan sayur bayam kesukaan Bintang. Setelah semuanya siap, Daniar kemudian mengambil Bintang dari pangkuan ayahnya. Dia mendudukkan Bintang pada baby walker yang dibelinya saat Yandri menerima tunjang fungsional beberapa bulan silam.


Usia Bintang memang sudah setahun, tapi Bintang masih belum bisa berjalan. Sambil berceloteh dan berlarian ke sana kemari menggunakan baby walker, Bintang pun melahap habis makanannya.


.


.


"Cepetan, Bun. Keburu mobilnya lewat," teriak Yandri yang sudah menggendong putrinya.


"Iya, sabar Yah. "Kan harus kunci pintu dulu," tukas Daniar seraya menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Bunda kamu tuh, Dek. Selalu punya alasan buat ngeles," adu Yandri kepada putri kecilnya


Daniar tersenyum. "Uuh, anak Bunda yang sudah setahun. Mau pergi ke mana, sih? Kok udah cantik saja," ucap Daniar seraya mengambil alih Bintang dari pangkuan ayahnya.


Lagi-lagi gadis cilik itu berceloteh, hingga membuat Daniar merasa gemas. Sambil menggendongnya, Daniar terus menciumi pipi tembem milik Bintang. Membuat gadis cilik itu kembali tergelak dengan sikap Daniar.


Tak berapa lama kemudian, mobil yang akan menuju pusat kota Tasikmalaya pun lewat. Yandri segera menghentikan dan mengajak anak dan istrinya untuk menaiki mobil tersebut.


Setelah dua kali berganti mobil, Yandri dan keluarganya tiba juga di sebuah pusat perbelanjaan yang di dalamnya terdapat sebuah wahana permainan balita. Yandri dan Daniar mengajak putrinya pergi ke wahana tersebut.


Bintang terlihat senang melihat hamparan bola kecil berwarna-warni yang berada dalam wahana permainan itu. Dengan dituntun kedua orang tuanya, Bintang memasuki wahana mandi bola.


Semua jenis permainan, dia jajal di wahana itu. Bintang begitu antusias saat bermain mengelompokkan warna dan benda. Dia juga terlihat senang saat bermain pasir. Pengalaman pertama yang sepertinya sangat menyenangkan bagi gadis kecil itu, hingga Bintang sulit sekali untuk diajak keluar dari wahana permainan yang dia kunjungi.


"Sudah, Bun ... biarkan saja dia bermain dengan puas. Toh nanti kalau sudah capek, dia pasti berhenti sendiri," tegur Yandri saat melihat istrinya membujuk Bintang untuk pulang.

__ADS_1


"Tapi, Yah. Ini sudah terlalu siang. Kita, 'kan harus pergi ke rumah bik Mumun untuk mengambil snack," ucap Daniar.


"Ya daripada Bintang nangis, lebih baik kita tunggu sebentar lagi. Biar snack, nanti Ayah yang bawa," balas Yandri.


Akhirnya Daniar mengalah, dia kembali duduk dan membiarkan putri kecilnya merangkak ke sana kemari memainkan bola. Hingga setelah merasa kelah, Bintang pun mendekati Daniar. "Mimi, Nda mimi ..." rengeknya.


Daniar tersenyum, dia meraih gadis kecilnya. Sejurus kemudian, Daniar membawa bintang keluar dari wahana mandi bola. Sambil meminum susu botolnya, mata Bintang sudah terlihat sayu dan mengantuk. Hingga dalam perjalanan keluar dari pusat perbelanjaan, Bintang tertidur dalam pangkuan ibunya.


"Bun, apa kita mau beli baju ulang tahun untuk Bintang?" tawar Yandri saat melewati sebuah toko pakaian bayi dan anak.


"Enggak usah, Yah. Sayang, kepakenya cuma buat acara khusus saja. Sebaiknya kita beli baju kesehariannya saja," jawab Daniar.


Yandri mengangguk. Akhirnya dia mengajak istrinya masuk ke dalam toko tersebut dan membeli beberapa setel pakaian sehari-hari untuk Bintang. Puas bermain dan berbelanja, Daniar kemudian mengajak suaminya untuk pulang.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore saat mereka tiba di sekolah.


"Sini Bun, biar Ayah yang gendong Bintang," ucap Yandri begitu mereka turun dari mobil.


"Enggak pa-pa Yah, tanggung. Takut kebangun juga. Lebih baik Ayah buka pintu kamarnya saja," jawab Daniar.


"Kuncinya mana, Bun?" tanya Yandri.


"Di saku depan tas Bunda," jawab Daniar.


Yandri merogoh tas istrinya. Setelah menemukan kunci, Dia berlari untuk membuka pintu kamar. Sedangkan Daniar mengikuti dari belakang. Tangannya sudah terasa pegal karena menggendong Bintang yang tertidur sejak mula menaiki kendaraan.


Saat mereka membuka pintu kamarnya dan masuk, Daniar dan Yandri cukup terkejut dengan pemandangan di atas kasurnya. Begitu banyak sekali kado-kado kecil berserakan di atas kasur. Entah dari mana datangnya kado-kado itu, tapi menurut Yandri, kado-kado itu mungkin dilemparkan si pemiliknya melalui celah jendela kamar yang sedikit terbuka.


Tolong bereskan dulu kadonya,Yah. Bunda mau menidurkan Bintang. Tangan Bunda udah pegel banget," pinta Daniar kepada suaminya.


Yandri menurut, dia kemudian membereskan kado-kado tersebut dan menyimpannya di atas meja.


"Sudah, Bun," seru Yandri saat dia sudah membereskan ranjangnya.

__ADS_1


Daniar membaringkan putrinya di atas kasur. "Hmm, kita apakan kado-kado ini, Yah?" tanya Daniar.


"Biarkan saja dulu, Bun. Nanti kalau Bintang sudah bangun, kita buka bersama kado-kado itu," jawab Yandri. "Sekarang Ayah ke kamar mandi dulu ya, Bun. Abis itu Ayah mau pergi ke warung bik Mumun untuk mengambil snack-nya," pungkas Yandri yang dijawab oleh anggukan Daniar.


__ADS_2