
Deni dan Nida memekik secara bersamaan. Mereka terlihat kebingungan melihat tingkah pria yang terkenal dingin di kampus. Terlebih lagi saat melihat Yandri tanpa permisi mencium pucuk kepala Daniar.
Fix! Pasti ada hubungan yang lebih di antara mereka, batin Nida.
"Eh, apa-apaan nih?" tanya Deni, membelalakkan kedua bola matanya saat melihat Yandri bersikap lancang kepada Daniar.
"Hmm, kenapa Den? Pengen, ya?" goda Yandri.
"Tunggu-tunggu ... apa ini artinya, kalian...??"
"Hahaha, sudahlah ... tidak usah terlalu dipikirkan juga. Entar lu susah tidur, loh!" tukas Daniar seraya beranjak dari tempat duduknya. "Aku masuk dulu ya, Yan?" pamit Daniar, "Yuk, Nid!" ajaknya kepada Nida.
Masih dalam mode tidak percaya, Nida mengangguk dan beranjak pula dari tempat duduk. Sedetik kemudian, dia mengekori Daniar memasuki kelas.
Deni bergeser, mendekati sahabatnya. Tangan kanannya merangkul pundak Yandri.
"Berikan jawaban yang cukup serius ke gue, apa lu sama Daniar punya hubungan khusus?" tanya Deni penuh selidik.
"Menurut kamu?" Yandri malah memberikan pertanyaan kepada sahabatnya.
"Ish, Yan. Lu cukup jawab ya atau tidak saja! Gua enggak punya waktu banyak buat main teka-teki," gerutu Deni dengan kesal.
Yandri malah tergelak melihat kekesalan di raut wajah Deni. Sejurus kemudian, dia menepuk pundak Deni seraya berkata, "Aku sudah menikahi sahabat kamu itu, Den."
Sesaat setelah memberi tahu Deni tentang kebenarannya, Yandri pun beranjak dan meninggalkan sahabatnya.
Deni begitu terkesiap mendengar jawaban sahabatnya. Setelah dia mampu mencerna semua perkataan Yandri, Deni pun tersenyum.
"Yandri gunawan ... memang selalu menjadi yang terdepan!" teriak Deni menirukan slogan sebuah produk kendaraan. Yandri hanya tersenyum lebar mendengar teriakan sahabatnya.
.
.
__ADS_1
Aldi berkunjung ke rumah Seno untuk memberikan undangan pernikahannya. Karena sudah lama tidak bertemu dengan keluarga Seno, Aldi sengaja mengantarkan sendiri undangan pernikahannya.
"Akhirnya, laku juga lu, Bang," seloroh Seno saat Aldi menyerahkan undangan kepada kedua orang tuanya Seno.
"Haish, sialan lu!" sahut Aldi, melempar bantal sofa ke arah Seno.
"Hahaha,..." Seno tergelak melihat raut wajah Aldi yang memerah. "abisnya lu salah mulu dikasih cewek. Gue kira, lu tuh penyuka sesama." Seno kembali menggoda kakak angkatnya.
"Enak aja! Gua masih normal, Bro. Sebenarnya bukan salah mulu. Hanya saja, gue masih nyari yang pas buat dampingin gue, Sen. Kalau salah pilih, 'kan berabe juga jadinya. Pernikahan itu bukan main-main, Sen. Gue mau, menikah tuh hanya sekali dalam seumur hidup gue. Karena itu, gue harus sangat hati-hati ketika memilih pasangan hidup," tutur Aldi.
Seno merasa tertampar mendengar penuturan Aldi. Ya, dia akui jika dia telah berniat buruk dalam menjalani pernikahan dengan Shakila. Mungkin, Tuhan sedang menghukumnya atas ke-sembronoan dia di masa lalu.
"Ya, lu bener, Bang. Dulu gua menyia-nyiakan cinta dan kesetiaan Daniar. Dan sekarang, gue malah terjebak di sebuah pernikahan yang sama sekali enggak gue harepin. Hmm, gue senang lu tidak gegabah dalam menentukan pasangan hidup. Jangan sampai menyesal seperti gue, Bang. Gue ucapin selamat, ya, buat pernikahan lu sama kakak ipar," ucap Seno.
"Sudahlah, Sen. Tidak baik lu ungkit masa lalu. Lagian, menyesal pun sudah enggak ada gunanya lagi. Satu hal yang harus lu sadari. Lu sama Daniar itu tidak berjodoh. Inget, Sen ... Tuhan selalu lebih tahu apa yang terbaik bagi hidup kita. Saran gue, saat ini lu harus fokus sama bini dan calon anak yang ada dalam kandungannya Lu lupain Daniar. Karena pada kenyataannya, lu dan Daniar itu punya takdir dan jodoh masing-masing."
Sekali lagi, Aldi mencoba menasihati adik angkatnya. Tanpa mereka sadari, ada hati yang hancur saat mendengar percakapan mereka.
.
.
Hari demi hari terus berlalu. Kabar pernikahan Daniar dan Yandri mulai menjadi pembicaraan hangat di kalangan anak-anak kampus. Masalahnya, pasangan itu memiliki sifat yang jauh berbeda.
Sifat Daniar yang cerewet, supel dan pandai bergaul, berbanding terbalik dengan sifat Yandri yang dingin dan pendiam. Ditambah lagi, tak ada satu pun dari warga kampus yang mencium kedekatan mereka di awal sebelum mereka menikah. Motto Yandri yang menginginkan pacaran setelah menikah, akhirnya tercapai juga.
"Sis, apa kamu tahu kabar yang sedang viral di kampus kita?" tanya Aisyah.
"Yeay, Syah ... mana aku tahu. Semenjak tugas akhir selesai, aku, 'kan jarang ke kampus juga," jawab Siska.
"Hmm, bener juga sih. Ya, ngapain juga kita ke kampus kalau cuma nunggu kabar jadwal sidang saja," timpal Aisyah.
"Nah, itu kamu tahu. Hmm, memangnya ada kabar apaan di kampus, kok sampai viral segala? Heboh bener, ya?" tanya Siska
__ADS_1
"Heboh banget, Sis. Bahkan saking hebohnya, tuh berita menjadi trending topic di kampus kita," jawab Aisyah.
"Benarkah? Aish, bikin penasaran aja. Hmm, memangnya berita apaan, Syah?" Siska kembali bertanya seraya menyeruput susu coklatnya.
"Ini tentang cowok gebetan lu," tukas Aisyah.
"Uhuk-uhuk!" Sontak Siska terkejut dan tersedak susu coklat panas yang tengah diminumnya.
"Ish, pelan-pekan dong, Sis. Tersedak, 'kan, jadinya," ucap Aisyah seraya menepuk-nepuk punggung Siska.
Siska hanya tersenyum mesem mendengar ucapan sahabatnya. Namun, benarkah apa yang dibilang Aisyah. Berita ini ada sangkut pautnya dengan Yandri. Lantas, berita apa yang sedang mencuat tentangnya sehingga bisa menjadi topic utama di kampusn? batin Siska.
"Memangnya, ada berita apa, Syah?" Siska bertanya setelah rasa nyeri di tenggorokannya mulai sedikit reda.
"Emm, a-aku enggak yakin apa kamu mau mendengarnya atau enggak, Sis? Sudahlah, lebih baik kita lupakan saja. Lagi pula, itu cuma kabar burung. Yaaa, belum tentu benar juga, 'kan?" jawab Aisyah yang baru menyadari jika apa yang disampaikannya tadi, adalah sebuah kesalahan.
Ish dasar mulut ember, kok bisa-bisanya gue keceplosan kayak gini, batin Aisyah merutuki kebodohannya.
"Apa yang sudah diucapkan, tidak mungkin bisa ditarik kembali, Syah. Terlepas kabar itu benar ataupun hanya sekadar isu belaka, itu tidak jadi masalah bagiku. Katakan saja, sebenarnya ada berita apa tentang Yandri, hingga bisa menjadi viral di kampus? Bukankah Yandri itu bukan orang terkenal, ya? Pasti beritanya cukup heboh jika sampai viral begini," kata Siska.
"Tapi ... emm, gue enggak enak ngomongnya, Sis," jawab Aisyah.
"Katakan saja, Syah. Jangan buat aku semakin penasaran," tuntut Siska, meraih cangkir susu coklatnya lagi.
"Ka-kabarnya ... Yandri sudah menikah," cicit Aisyah.
Prang!
Merasa terkejut dengan kabar yang didengar, tanpa sengaja cangkir itu terlepas dari tangan Siska. Rasa panas akibat tumpahan susu coklat di sekitar paha Siska, sama sekali tidak mengganggu ua dari keterkejutannya. Sesaat, Siska seolah sedang berada di dunia yang gelap sekali.
"Sis, are you oke?"
Seno tergelal melihat sikap aldi yang salah ting
__ADS_1