
Yandri menyusuri pematang sawah yang dijadikan jalan pintas untuk pergi ke tepi jalan raya. Waktu sudah melewati pukul 5 sore. Itu artinya, saat ini Daniar pasti sedang berada di bus terakhir yang akan melewati kampungnya. Yandri mempercepat langkah saat matahari semakin condong ke arah barat.
Tiba di tepi jalan, dia melihat sebuah bus melintas dan berhenti tepat di pangkalan ojeg. Senyum Yandri mengembang saat dia melihat pujaan hatinya tengah menyeberang. Yandri menghentikan langkahnya dan menunggu sang istri mendekati.
"Bagaimana sidangnya?" tanya Yandri begitu Daniar tiba di hadapannya.
"Alhamdulillah lancar, Kang," jawab Daniar seraya mencium punggung tangan suaminya
"Alhamdulillah. Syukurlah kalau begitu. Tinggal menunggu waktu wisuda, dong," ucap Yandri.
"Iya, Kang. Tapi kayaknya Niar enggak mau ikutan wisuda, deh" jawab Daniar.
"Loh, kenapa?" Yandri bertanya seraya menautkan kedua alisnya.
Daniar hanya menggedikkan bahu menanggapi pertanyaan Yandri. Tidak mungkin dia mengatakan alasan yang sebenarnya. Biarlah ini akan menjadi urusannya saja. Hmm, semoga saja ada pada saat waktunya, batin Daniar.
"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Yandri segera merangkul pundak Daniar.
Sepanjang perjalanan, Yandri banyak bertanya tentang jalannya persidangan sang istri. Merasa diperhatikan, dengan lancar Daniar pun menjawab pertanyaan-pertanyaan suaminya. Hingga tanpa terasa, mereka sudah tiba di rumah orang tua Yandri.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri.
Namun, sepertinya orang-orang sedang tidak berada di rumah. Yandri kemudian mengitari rumahnya untuk masuk lewat pintu dapur. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Daniar pun masuk.
Yandri segera mengambil air dalam jerigen dan memindahkannya ke dalam tempayan yang berada di luar. Sedangkan Daniar pergi ke kamar untuk beristirahat sejenak.
Daniar merebahkan tubuhnya. Entah kenapa, perjalanan hari ini terasa sangat melelahkan. Bahkan tadi di bus, Daniar hampir saja memuntahkan isi perutnya. Kepalanya terasa berat, perutnya terasa mual. Uuh, mungkin gue masuk angin, pikir Daniar seraya memijat pelan kedua pelipisnya dengan telunjuk.
"Salat magrib dulu, Yar?" ucap Yandri menyembulkan kepalanya di ambang pintu kamar.
"Iya, Kang. Bentar lagi," jawab Daniar yang merasa malas menyentuh air.
"Jangan ditunda-tunda, Sayang. Waktu magrib enggak panjang loh," balas Yandri mencoba mengingatkan istrinya.
Dengan terpaksa Daniar segera beranjak dari tempat tidurnya. Dia kemudian keluar menuju halaman belakang untuk mengambil air wudhu. Sejak kejadian di tempat pemandian umum, Daniar merasa trauma. Karena itu dia meminta Yandri untuk membuatkan kamar mandi alakadarnya di belakang rumah sang mertua.
Brrrr!
__ADS_1
"Iih, kok dingin banget sih," gumam Daniar.
Seharusnya, Daniar sudah terbiasa dengan keadaan di tempat tinggal Yandri. Selama hampir empat bulan Daniar ikut suaminya. Dia pun mulai terbiasa dengan dinginnya air pegunungan di malam hari. Namun, entah kenapa malam ini air itu seakan menjadi musuhnya. Dingin menusuk kulit.
Sejenak, Daniar hanya terpaku melihat riak air di dalam tempayan. Hingga teguran suaminya, kembali menyadarkan Daniar dari lamunan.
"Kok malah bengong, ayo cepet wudhu. Keburu habis loh, waktu magribnya," tegur Yandri.
"Dingin banget, Kang," rengek Daniar.
Mendengar rengekan manja sang istri, Yandri kembali ke dalam untuk mengambil sesuatu. Tak berapa lama kemudian, dia membawa termos air panas dan menuangkan isinya ke dalam tempayan.
"Nah, sudah hangat, 'kan sekarang? Ayo buruan wudhunya. Abis salat kita makan bersama," perintah Yandri.
Daniar tersenyum, seraya mengucapkan terima kasih untuk suaminya. Hmm, Yandri memang seorang suami yang sangat penyabar.
Beberapa menit berlalu, Daniar pergi ke dapur untuk makan malam. Di sana, sudah duduk suami dan ibu mertuanya sedang menyiapkan makan malam.
"Kemari, Nak!" panggil Bu Maryam kepada sang menantu.
"Iya, Bu," jawab Daniar seraya mendekat dan duduk di samping suaminya.
*Bukan ujian Bu, tapi sidang," ujar Yandri meralat ucapan ibunya.
"Yaaa, pokoknya semacam itu lah ... hmm, Ibu, 'kan mana tahu tentang sidang atau apa lah namanya. Yang Ibu tahu, selesai ujian terus beres sekolahnya. Bener, 'kan, Niar?" tanya Bu Maryam lagi.
"Hehehe, iya Bu. Alhamdulillah, sidangnya sudah selesai. Tinggal menunggu kelulusan saja. Habis itu, wisuda," jawab Daniar.
"Wisuda itu seperti apa?" Bu Maryam kembali bertanya.
"Seperti perayaan saja, Bu. Simbol jika kita telah menyelesaikan pendidikan dan pantas menyandang gelar yang sesuai," terang Daniar.
"Ya kalau sekedar simbol saja mah, lebih baik engga usah ikut. Ngapain buang-buang uang. Kasihan suami kamu, sudah capek-capek kerja,tapi habis dalam sehari cuma buat perayaan wisuda saja," kata Bu Maryam.
"Iya, Bu. Niar paham."
Inilah yang Daniar maksud saat dia mengutarakan keinginan untuk tidak mengikuti wisuda. Yandri memang suami yang tidak pernah perhitungan. Namun, di sini Daniar tidak hanya sekedar tinggal bersama sang suami. Ada banyak pihak-pihak lain yang terkadang selalu ikut campur dalam rumah tangga yang dia jalani.
__ADS_1
"Sudahlah, rezeki, 'kan sudah ada yang mengatur. Semoga saja ada rezekinya buat wisuda kamu nanti. Sekarang ayo kita makan," pungkas Yandri.
.
.
Sore hari saat semua orang sedang menikmati waktu senja di teras rumah. Tiba-tiba Yandri datang dari kebun belakang seraya memegang buah nanas yang masih terlihat hijau.
"Ish, nanas mentah kok malah kamu petik, Yan," tegur Habibah.
"Disimpan saja dulu beberapa hari, Kak. Nanti juga matang. Daripada diambil hewan lain," jawab Yandri.
Entah kenapa, nanas muda itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Daniar. Matanya berbinar melihat buah favoritnya itu. Seketika air liurnya seakan menetes membayangkan segarnya buah tersebut.
*Dikupas saja, Kang," pinta Daniar.
"Ish, ini masih muda, Yar. Nggak bakalan enak," jawab Yandri.
"Engga, pasti enak. Ayo kupas aja," rengek Daniar.
"Sini, biar Ibu kupas."
Bu Maryam mengambil buah nanas itu dan segera membawanya ke dapur. Tak lama kemudian, dia kembali membawa potongan buah nanas dan meletakkannya di lantai.
Orang-orang yang tengah berkumpul menikmati senja, sontak mencicipi buah tersebut. Semuanya bergidik saat merasakan kecutnya buah nanas yang memang masih belum layak untuk dikonsumsi. Namun, berbeda dengan Daniar. Wanita itu terlihat menikmati potongan nanas satu per satu. Sedikitpun matanya tak berkedip meski buah itu terasa masam. Semua orang bergidik melihat tingkah Daniar.
Saat mereka sedang melongo menyaksikan keasyikan Daniar menikmati buah masam itu. Tiba-tiba tetangga mereka melewati rumahnya.
"Wah, seru banget nih kumpul-kumpul," ucap Bik Wanti.
"Iya nih, Wan. Mau ke mana?" tanya Habibah.
"Ke pasar induk. Kebetulan kebutuhan dapur sudah semakin menipis," jawab Bik Wanti.
"Lewat kios buah enggak, Bik?" Daniar ikut bertanya.
"Lewat Ni. Kebetulan Bibik mau beli paya juga. Kenapa?" Bik Wanti balik bertanya.
__ADS_1
"Titip mangga muda dong," balas Daniar.
Yandri hanya melongo mendengar titipan istrinya. Ih, sejak kapan Daniar senang buah yang masam-masam.