Setelah Hujan

Setelah Hujan
Bertahan, atau Melepaskan


__ADS_3

Daniar mengurut dada. Mencoba meredam rasa sesak yang semakin membuncah di dadanya. Hatinya benar-benar sakit karena terpaksa mendiamkan sang suami. Namun, Daniar tidak punya pilihan lain. Melihat Yandri di hadapannya, itu hanya akan membuat luka Daniar kembali menganga.


Ada banyak rasa kecewa yang dia pendam untuk suaminya. Bahkan saking banyaknya rasa kecewa itu, Daniar sendiri sudah tidak pernah ingin peduli lagi terhadap perasaannya sendiri. Dia selalu mencoba untuk mengerti dan memahami. Bertahan demi Yandri dan cintanya.


Namun, sikap ibunya Yandri yang telah mempermalukan dirinya di depan keluarga Aji, yang telah mendzolimi dirinya sehingga tidak memiliki harapan untuk memiliki anak lagi, semua itu telah melewati ambang batas kesabarannya.


Daniar sudah tidak bisa diam lagi dan menerima semuanya begitu saja. Semakin Bu Maryam mendzolimi dirinya, dia semakin sadar jika dia harus melepaskan Yandri. Untuk dirinya, untuk keselamatannya dan juga untuk masa depan anaknya.


Wanita itu sudah membuat aku kehilangan calon anakku. Tidak menutup kemungkinan jika dia juga mampu melenyapkan aku. Bunda tahu, ayah pasti akan hancur jika bunda pergi. Namun, bertahan pun tidak akan ada gunanya bagi bunda, batin Daniar.


Ketukan di pintu kamar, kembali terdengar. Daniar tersadar dari lamunannya. Namun, dia masih enggan untuk membuka pintu. Daniar pikir, orang yang sedang berdiri di balik daun pintu, pastilah suaminya. Yandri yang masih setia menunggu jawaban salam darinya.


"Niar, apa Ibu boleh masuk?" tanya Bu Salma.


Hmm ... rupanya orang yang mengetuk pintu di luar adalah ibunya sendiri. Daniar menarik napas lega. Sepertinya, Yandri memang sudah kembali berangkat untuk bekerja.


"Masuk saja, Bu. Pintunya tidak dikunci," jawab Daniar, masih anteng menatap hamparan rumput jepang berwarna hijau dari balik kaca jendela kamarnya.


Ceklek!


Bu Salma membuka pintu kamar. Tampak Daniar sedang berdiri di depan jendela kamarnya.


"Kok bangun sih, Ni? Seharusnya kamu tiduran saja. Tidak usah banyak bergerak," tegur Bu Salma.


Daniar menoleh. Dia tersenyum tipis saat Bu Salma mendekatinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu. Sekalian belajar berjalan juga. Kalau terus-terusan berbaring, darahnya bisa membeku. Otot-ototnya pun akan terasa kaku," papar Daniar.


Bu Salma ikut tersenyum. "Ya sudah, tapi jangan lama-lama berdiri di depan jendela, Nak," kata Bu Salma.


Daniar hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan ibunya.


"Oh iya, Kak. Tadi Yandri sudah kembali lagi ke Indramayu. Apa dia berpamitan terlebih dahulu sama kamu?" tanya Bu Salma.


Hening ....


Daniar sama sekali tidak menanggapi perkataan ibunya. Rupanya Daniar enggan membahas tentang diri suaminya. Hanya helaan napas yang begitu berat yang terdengar jelas.


Bu Salma sadar jika putrinya sudah tidak mau tahu apa pun tentang diri menantunya. Namun, sikap Daniar tentu saja salah di mata Bu Salma. Karena itu, Bu Salma selalu mencari kesempatan untuk membahas permasalahan yang mungkin saja sedang terjadi di antara Daniar dan Yandri. Dia tidak ingin rumah tangga anaknya dilanda ketidakharmonisan.


"Duduklah, Ni!" perintah Bu Salma begitu tiba di dekat ranjangnya.


Daniar menurut. Dia kemudian duduk di tepi ranjang. Begitu juga dengan Bu Salma yang ikut duduk di samping Daniar. Sepersekian detik kemudian, Bu Salma menatap Daniar begitu lekat.


"Ada apa, Niar? Bahkan setelah Yandri kembali ke Indramayu pun, kamu masih mendiamkan dirinya. Memangnya, apa kesalahan Yandri terhadap kamu? Apa dia punya salah yang sangat fatal sehingga pantas kamu diamkan seperti itu?" Bu Salma mencecar Daniar dengan berbagai macam pertanyaan. Dia sedang mencoba mencari tahu alasan putrinya mendiamkan sang menantu kesayangan.


"Enggak, Bu ... enggak ada apa-apa. Kang Yandri enggak pernah punya salah sama Niar," tutur Daniar seraya menundukkan kepala.


"Jika memang dia tidak pernah berbuat salah kepada kamu, kenapa kamu tega mendiamkan Yandri seperti itu? Bahkan, dengan sengaja kamu sudah menolak dia. Tidak baik loh Ni, berlaku seperti itu kepada suami kamu. Imam kamu! Apa kamu tidak sadar jika sikap kamu itu nantinya akan membuat hubungan kamu dan Yandri menjadi renggang?" papar Bu Salma.


"Semakin renggang, justru akan semakin mudah untuk menerima," gumam Daniar, menatap kosong jendela kamar.

__ADS_1


Bu Salma yang masih mendengar gumaman putri sulungnya, seketika mengernyitkan kening.


Apa artinya semua ini? Apa makna dibalik kalimat yang aku dengar barusan? Apa maksud Daniar berbicara seperti itu? batin Bu Salma.


"Ish, hati-hati kalau berbicara, Niar. Jangan sampai suatu saat nanti, kamu menyesali ucapan kamu sendiri," nasihat Bu Salma.


Daniar kembali menatap ibunya. Melihat raut wajah kekhawatiran pada diri ibunya, seketika Daniar menggenggam kedua tangan sang ibu.


"Sudahlah, Bu. Tidak usah terlalu dipikirkan kata-kata Daniar barusan," ucap Daniar.


"Bagaimana mungkin tidak dipikirkan, Niar. Sejak musibah yang terjadi pada kamu, sikap kamu mulai berubah, Ni. Aneh, dan selalu bikin kita semua jadi bingung. Huh, pusing Ibu mikirin kelakuan kamu!" gerutu Bu Salma terlihat kesal.


Sesaat kemudian, Bu Salma beranjak dari atas kasur. Dia pun keluar dari kamar putrinya. Dan Daniar, wanita yang masih pucat pasi itu pun hanya bisa menatap nanar punggung sang ibu yang sudah menghilang di balik pintu.


Daniar bergerak. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Daniar mulai menengadahkan wajah seraya menutup kedua matanya.


Sepuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Yandri, bukanlah waktu yang singkat untuk melupakan setiap kenangan yang terjadi. Ada banyak suka dan duka dia lalui bersama.


Daniar memutar kembali rekaman demi rekaman kejadian yang pernah dia lalui bersama sang suami. Senyumnya mengembang ketika dia teringat akan pertemuan pertamanya dengan Yandri.


Ya Tuhan ... aku tidak pernah menyangka jika kisahnya akan berakhir seperti ini, batin Daniar.


Orang bilang, saat kita memutuskan untuk menikah, kita bukan hanya menikah dengan pasangan kita saja, tetapi juga dengan keluarganya. Namun, apa yang harus kita lakukan jika keluarga pasangan kita tidak pernah bisa menerima pernikahan ini? Pilihannya ada dua. Bertahan, atau melepaskan! Pikir Daniar.


Dan sepertinya, ibu kamu tidak akan puas sebelum kita berpisah, Kang. Bukannya aku tidak ingin bertahan. Namun, jika aku harus terus memaksakan diri untuk bertahan, suatu hari nanti aku pasti hancur, Kang. Dan mungkin, aku tidak akan pernah sanggup untuk bangkit. Sedangkan aku ... hhh ... aku masih memiliki Bintang yang begitu membutuhkan aku. Apa jadinya Bintang jika aku hancur, Kang? Aku tidak bisa mempertaruhkan masa depan Bintang. Karena itu, aku lebih memilih melepaskan kamu daripada mempertahankan kamu, kang. Kebahagiaan kamu lebih penting. Aku tidak mau melemparkan kamu pada posisi memilih antara istri dan ibu. Karena aku tahu, surga itu ada di telapak kaki ibu.

__ADS_1


__ADS_2