Setelah Hujan

Setelah Hujan
Histeris


__ADS_3

"Ayo Sayang, pejamkan mata kamu," ucap lembut Danita saat melihat Bintang masih membuka kedua matanya.


"Bibin enggak bisa tidur, Bi," jawab Bintang, masih setia menatap kosong langit-langit kamarnya.


"Ini sudah terlalu malam, Sayang. Tidak baik bagi seorang anak untuk tidur larut malam. Lagi pula, besok kamu harus sekolah. Gimana kalau besok kamu malah mengantuk di sekolah. Bisa ditegur bu guru, tuh," kata Danita, tersenyum.


"Bibi, apa besok Bibin boleh izin untuk tidak masuk sekolah?" tanya Bintang, menatap Danita yang tertidur di sampingnya.


"Kenapa Bibin mau izin? Bibin enggak sakit, 'kan?" Danita balik bertanya.


Bintang menggelengkan kepalanya. "Bibin enggak sakit, tapi Bibin ingin pergi ke rumah sakit. Bibin mau jagain bunda," sahutnya.


Danita mengusap rambut keponakannya. Jujur saja, Danita merasa iba melihat perubahan sikap Bintang yang menjadi pendiam. Danita sadar, anak itu pasti sedang merasakan trauma yang cukup besar ketika harus menyaksikan kejadian yang menyebabkan ibunya masuk rumah sakit.


"Bin, boleh Bibi tanya sesuatu?" kata Danita.


Bintang menoleh, keningnya sedikit berkerut mendengar perkataan Danita.


"Tanya apa, Bi?" sahut Bintang.


"Sebenarnya, apa yang terjadi pada bunda, Nak? Kenapa Bunda bisa sampai kehilangan adik kamu?" tanya Danita selembut mungkin.


Jujur saja, Danita masih menyimpan rasa penasaran yang teramat sangat akan tragedi yang menimpa kakaknya. Dia berharap, Bintang bisa sedikit terbuka dan mau menceritakan kronologis yang dia lihat hingga ibunya bisa mengalami pendarahan hebat.


Bintang menatap lekat ke arah bibinya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian pasca ibunya didorong oleh sang nenek.


Ibu dan anak itu berjalan tergesa-gesa untuk bisa segera sampai di tempat parkir. Wajah Daniar sudah semakin pucat. Keringat pun bercucuran di sekitar kening dan kedua pelipisnya. Berulang kali Daniar membungkuk untuk menahan rasa nyeri yang semakin hebat.


Tiba-tiba, Daniar berjongkok saat merasakan sesuatu keluar dari liang faraz-nya.


Syerrr....


Darah segar mengalir melalui segitiga berenda hingga tembus mengenai gamis putihnya.


"Bun, Bunda berdarah," pekik tertahan Bintang yang begitu terkejut melihat noda darah di pakaian ibunya.


Sontak Daniar melirik bagian pakaian yang ditunjuk Bintang. Noda darah segar memang jelas terlihat di sana. Bahkan, semakin lama semakin terlihat basah.


"Uuh ...."

__ADS_1


Daniar melenguh, merasakan perutnya yang semakin melilit. Dia menatap Bintang dengan tatapan yang mulai berkunang-kunang. Dengan napas tersengal, Daniar berkata kepada putrinya.


"Berjanjilah pada Bunda, Nak. Kalau kamu tidak akan pernah menceritakan apa yang kamu lihat tadi di rumah wak Aji."


"Tapi, Bun..." tukas Bintang menggelengkan kepalanya.


"Bunda mohon," pinta Daniar, lirih.


"Enggak, Bun. Bibin harus bilang sama ayah kalau nenek mendorong Bunda sampai jatuh. Biar Ayah bisa nasihatin nenek," ucap Bintang mulai terisak, karena rekaman saat neneknya mendorong sang bunda, masih tampak jelas dalam ingatan Bintang.


"Jangan Sayang, Bunda mohon ... jangan adukan kejadian tadi kepada siapa pun. Apalagi sama ayah kamu. Bunda enggak mau ayah kamu menjadi anak durhaka. Bibin tahu, 'kan di mana tempat anak durhaka jika sudah meninggal?" sahut Daniar dengan napas terputus-putus.


Bintang menganggukkan kepalanya. "Neraka, Bun," jawab Bintang, lirih.


"Bibin mau, ayah menempatinya?" tanya Daniar lagi.


Secepat kilat, Bintang menggelengkan kepala.


"Bibin janji, Bibin enggak akan cerita kejadian tadi sama siapa pun, Bun," ucap Bintang.


"Anak pintar, se-sekarang ... to-long bantu Bunda berdiri," pinta Daniar.


Syeeerrr...


Darah segar, keluar semakin banyak. Daniar tidak punya banyak waktu untuk berpikir dan menahan sakitnya. Tergesa-gesa, dia kembali melangkahkan kaki meskipun tubuhnya sudah semakin lemas.


Hingga tiba di sebuah warung, Daniar ambruk dan mencoba merangkak agar bisa duduk di bangku depan warung yang sedang tutup.


"To-long panggil Tata!"


"Bin!"


Panggilan Danita sontak membuyarkan lamunan Bintang tentang kejadian tadi pagi di rumah wak Aji.


"Kok ngelamun? Apa Bibin tahu tentang yang terjadi sama bunda?" Danita masih mengulang pertanyaan yang sama.


"Maaf, Bibi. Bibin ngantuk, Bibin mau tidur," ucap Bintang seraya membenarkan posisi tidurnya.


Danita hanya bisa menarik napas panjang ketika melihat sikap Bintang. Dia semakin yakin jika ada yang sedang ditutupi oleh keponakannya.

__ADS_1


.


.


Setelah bercakap-cakap sebentar dengan adik iparnya, akhirnya Yandri memasuki ruang ICU. Kebetulan, Daniar dirawat di bilik pertama, hingga begitu Yandri membuka pintu, dia melihat ibu mertuanya sedang mengusap-usap pucuk kepala istrinya.


"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Yandri begitu tiba di samping Bu Salma.


Bu Salma mendongak. Matanya kembali berkaca-kaca begitu melihat menantunya berdiri di samping. Dia kemudian beranjak dan segera memeluk Yandri.


"Da-niar, Yan ... Da-da-niar ... hiks ... hiks."


Bu Salma tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dadanya terasa sesak. Seolah terimpit bongkahan batu gunung yang sangat besar. Hanya nama putrinya yang mampu dia ucapkan dengan terbata di antara isak tangisnya.


"Iya, Bu. Yandri tahu ... bersabarlah," ucap Yandri.


"I-ibu tidak sanggup, Yan. Ni-niar be-gitu bahagia dengan kehamilannya. Su-sudah la-ma ... hiks ... di-dia menantikan ke-hadiran a-nak kedua ka-lian. Ta-tapi ... hu ... hu ... tapi rupanya, Tu-tuhan lebih sa-yang terhadap anak kalian ... se-sehingga, Tu-tuhan me-ngambilnya kembali, huhuhu. Kasihan Niar, Yan. Kasihan ...."


Bu Salma masih terus meracau di sela-sela tangisnya. Hatinya hancur melihat harapan Daniar yang pupus setelah kehilangan anaknya.


"A-apa yang ha-rus kita katakan pa-da Niar, Yan? Di-dia pasti akan sangat terpukul setelah me-ngetahui kalau dia su-dah keguguran," lanjut Bu Salma.


"Ssst, sudah Bu. Nanti kita pikirkan bagaimana caranya untuk mengatakan musibah ini kepada Niar. Semoga saja Daniar bisa ikhlas menerimanya. Lagi pula, keguguran bukan berarti Daniar tidak akan punya anak lagi. Insya Allah, Tuhan pasti akan segera mengganti apa yang telah hilang," jawab Yandri.


Isak tangis Bu Salma semakin menjadi mendengar jawaban Yandri. Hatinya seolah tersayat pisau bermata tajam. Perih! Rasanya perih sekali.


"Ta-tapi, dia ... huhuhu ... Da-da-niar tidak a-kan bisa punya anak lagi, Yan. Ra-rahimnya su-dah diangkat," jawab Bu Salma semakin pilu.


Deg!


Yandri begitu terkejut mendengar pernyataan Bu Salma. Dia tidak menyangka jika istrinya mengalami musibah seberat ini. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa sehebat ini ujian istrinya? pikir Yandri.


Kedua lutut Yandri bergetar hebat. Tubuhnya mulai limbung. Dengan sigap, dia memegang sandaran kursi di sampingnya. Tiba-tiba ....


"Tidak! Bohong! Semua itu bohong! Anakku baik-baik saja! Anakku sehat! Bohong! Semuanya bohong!"


Teriakan seorang wanita terdengar begitu nyaring di antara sepinya suasana malam di ruang ICU. Bu Salma dan Yandri sontak mengalihkan pandangan ke arah ranjang. Tampak Daniar yang tengah menjerit histeris saat menyadari dia kehilangan calon anaknya.


Tak mampu menerima kenyataan, akhirnya Daniar menumpahkan semua rasa sakitnya lewat teriakan.

__ADS_1


__ADS_2