Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kekecewaan Dadan


__ADS_3

Dadan cukup terkejut mendengar perkataan Daniar. Sejenak dia terpaku untuk mencerna ucapan Daniar barusan. Apa maksudnya ini? batin Dadan.


"Niar, are you oke?" tanya Dadan yang pura-pura tak menghiraukan perkataan Daniar.


"A-aku ... aku ...."


Daniar kikuk, dia tampak kebingungan harus bersikap seperti apa.


Dadan mendekati Daniar, dia kemudian memapah Daniar untuk duduk di kursi yang telah disediakan. "Duduklah dulu, Niar," perintahnya lembut.


Daniar menurut. Dia kemudian menduduki kursi yang tadi ditarik oleh Dadan. Sejenak, tatapan matanya mengikuti pergerakan Dadan yang mulai duduk di kursi yang berada di hadapannya.


Jantung Daniar berdegup kencang saat mereka beradu pandang. Sepertinya, ada yang lain dari tatapan mata Dadan saat ini. Daniar pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Untuk sesaat, hanya kebisuan yang terjadi di antara mereka.


.


.


Di sebuah kamar yang hanya berukuran 2 x 2 meter itu, Yandri tampak tidur telentang dengan kedua tangan dia jadikan bantal. Matanya menatap langit-langit kamar yang sudah lapuk. Sejenak, kalimat Siska tadi sore mendengung jelas di telinganya.


"Maafkan aku, Yan. Namun, demi Tuhan aku tidak bisa mengikis perasaanku terhadap kamu. Semakin aku mencoba, semuanya semakin kacau balau. Sejak hubungan kita berakhir dua tahun lalu, hidupku tidak pernah baik-baik saja, Yan. Aku tersiksa oleh rasaku. Aku ingin mengulang kembali semua kenangan kita, Yan. Kebersamaan kita!" ucap Siska seraya berlutut di hadapan Yandri.


Pria berwajah dingin itu, semakin dingin juga bersikap. Sungguh, sampai detik ini, dia tidak bisa mentolerir kesalahan Siska. Yandri memang bukan seseorang yang mampu tersinggung ketika mendapatkan sebuah hinaan. Namun, dia akan marah ketika harga dirinya terluka. Dan gadis yang sedang berlutut di hadapannya saat ini, dia adalah gadis pertama yang mampu Yandri cintai dengan kesungguhan. Pun gadis pertama yang telah melukai harga dirinya.


"Pulanglah, aku masih banyak urusan," ucap dingin Yandri seraya beranjak dari tempat duduknya.


Secepat kilat Siska mencekal pergelangan tangan kanan Yandri. Masih dengan posisi berlutut, Siska kembali memohon kepada Yandri. Bahkan, kali ini diiringi oleh deraian air mata.


"Hiks ... a-aku sudah ti-dak sanggup la-lagi diperlakukan seperti ini, Yan. To-tolong jangan diamkan aku, hiks. A-aku tahu kamu kecewa, ta-tapi tolong jangan hukum aku dengan sikap dingin kamu. Hu...hu..." ucap Siska di sela-sela isak tangisnya yang mulai terdengar kencang.


Yandri memegang tangan Siska dan berusaha melepaskannya dari pergelangan tangan dia. "Jangan turunkan harga diri kamu hanya untuk memohon. Sungguh, itu tidak baik Sis. Seorang wanita bermartabat, tidak akan pernah mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang lain," ucap Yandri seraya melangkahkan kakinya memasuki rumah.


"Ish, apa sikapku tadi keterlaluan?" tanya Yandri pada dirinya sendiri.


Sungguh, Yandri tidak pernah ingin melukai perasaan seorang wanita. Tapi Siska? Entahlah, bahkan untuk mendengar namanya pun, Yandri enggan. Apakah kebencian dia terhadap wanita itu telah mengakar di hatinya?

__ADS_1


.


.


Sementara itu, di Salarea Restoran. Wajah Dadan berubah bak kepiting rebus saat mendengar jawaban Daniar. Tanpa sadar, dia menggenggam erat sendok dengan kuat, hingga benda itu sedikit melengkung.


"Apa kamu yakin dengan jawaban yang kamu berikan, Daniar?" tanya Dadan, dingin.


"I-iya, Kak. Da-daniar yakin sekali," jawab Daniar terbata.


Brakk!


Tak mampu membendung emosinya, dengan sekuat tenaga Dadan menggebrak meja yang diatasnya terdapat hidangan santap malam mereka yang sama sekali belum disentuh.


Daniar sangat terkejut. Dia tidak pernah menyangka jika Dadan akan bersikap kasar seperti itu.


"Ma-maafkan aku, Kak. Tapi aku benar-benar tidak bisa menerima perasaan Kakak," jawab Daniar masih terbata-bata.


"Kenapa, Niar? Apa kurangnya aku hingga kamu berani menolak? Aku berpendidikan tinggi. Wajahku juga sangat tampan. Aku sudah mapan, punya showroom dan beberapa unit rumah sebagai pasif income," ucap Dadan membusungkan dadanya. "Asal kamu tahu, Niar. Banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihku. Jika aku mau, aku bisa memilih salah satu di antara mereka. Tapi aku tidak melakukan semua itu karena aku yakin kamu bisa menerima perasaanku," lanjut Dadan.


"Ish, lihat saja Niar, kamu pasti akan menyesal karena sudah menolak aku!"


Dadan mendorong kursi yang didudukinya ke belakang. Sedetik kemudian, dia pun beranjak keluar dari private room tersebut. Meninggalkan Daniar yang mematung seorang diri.


Daniar terpaku. Untuk beberapa detik dia hanya bisa terdiam mencoba mencerna kejadian yang baru saja menimpanya. Dadan pergi tanpa mengajaknya, apa itu artinya laki-laki itu memang tak mengerti arti kata tanggung jawab.


"Hhh." Daniar menghela napas. Dia kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Seluruh tubuhnya terasa lemas saat menyadari kenyataan jika Dadan tidak se-dewasa yang dia kira. Usianya saja yang sudah matang. Namun, sikapnya saat mendapatkan sebuah kekecewaan, begitu kekanak-kanakan.


.


.


Beberapa hari berlalu. Bu Salma yang awalnya mendiamkan Daniar karena merasa kecewa atas jawaban Daniar terhadap cinta Dadan, akhirnya mulai kembali melunak atas nasihat suaminya.


"Sudah Bu, jangan terlalu dipaksakan. Mungkin memang Daniar belum siap untuk menjalin sebuah hubungan yang serius."

__ADS_1


Bu Salma hanya mampu menarik napas saat mengingat ucapan suaminya. Ya, kini Bu Salma menyadari, mungkin memang tidak ada garis jodoh di antara putrinya dan anak dari kerabat jauhnya itu.


"Niar ke kampus dulu, Bu," ucap Daniar seraya menyalami ibunya.


Bu Salma yang sedang melamun, sedikit terkejut mendengar ucapan Daniar. Dia kemudian berkata, "Eh, iya. Hati-hati di jalan, Niar,"


"Baik, Bu." jawab Daniar.


Setelah berjalan sejauh 200 meter, Daniar tiba di tepi jalan utama. Dia segera menghentikan sebuah angkot yang melintas di depannya. Beberapa menit setelah angkot itu kembali berjalan, tiba-tiba ponsel Daniar berbunyi.


Sebuah notifikasi whatsapp masuk di ponsel Daniar. Dia segera merogoh tas selempangnya untuk mengambil ponsel. "Hmm, Nida," gumam Daniar, "ada apa dia mengirimkan pesan?" lanjutnya.


Daniar mengusap layar ponsel dan membaca pesan dari teman satu kampus.


Niar, hari ini kuliah pindah ke kampus 2.


"Ish, kenapa mendadak sekali," gerutu Daniar merasa kesal. Biasanya jika hendak dialihkan, pihak kampus memberi tahu mahasiswa dari jauh-jauh hari. Tapi sekarang, peralihan dilakukan tanpa pemberitahuan. Untung saja Daniar belum menaiki angkot yang melewati kampusnya.


"Lewat terminal lama nggak, Bang?" tanya Daniar pada kondektur.


"Neng mau ke terminal lama?" Kondektur itu malah balik bertanya.


"Sebenarnya nggak, sih. Saya cuma mau turun di terminal Cilembang saja, soalnya saya harus pakai angkot yang lain," jawab Daniar.


"Memangnya mau pergi ke mana?" Kondektur itu masih bertanya.


"Kampus 2, Bang," jawab Daniar.


"Oh, nanti Neng turun saja di pasar. Setelah itu, Neng naik angkot 05 dari pasar. Angkot tersebut lewat, kok, ke kampus 2," tutur kondektur.


"Oh, ya sudah," pungkas Daniar. Dia kemudian kembali menyandarkan punggungnya.


Setengah jam berlalu. Angkot yang dinaiki Daniar berhenti di pasar. Daniar pun turun. Mengikuti arahan abang kondektur, Daniar segera menaiki angkot 05 yang akan melewati kampusnya.


Deg!

__ADS_1


__ADS_2