Setelah Hujan

Setelah Hujan
Nasihat Pak Alam


__ADS_3

Malam ini, entah kenapa hati Tania begitu gelisah. Perasaannya sungguh sangat tidak nyaman. Tiba-tiba saja dia teringat Daniar dan Bintang. Seketika, Tania bangun dan turun dari ranjang. Dia mengambil ponselnya yang terletak di meja rias dan segera keluar kamar. Tania menuju halaman belakang untuk menelepon keponakannya itu.


Baru saja Tania hendak menyapa. Namun, suara Daniar sudah terdengar di ujung telepon. Suara yang terdengar bergetar, tapi terburu-buru.


"Assalamu'alaikum, Wak!" sapa keponakannya di ujung telepon.


"Wa'alaikumsalam, Ni," jawab Tania.


"Alhamdulillah ... syukurlah Uwak menelepon. Niar benar-benar bingung harus ngapain, Wak, balas Daniar.


Tania mengernyitkan keningnya. "Ada apa, Ni? Kenapa? Apa sesuatu terjadi sama ibu kamu?" tanya Tania.


"I-ini bukan tentang ibu, Wak. Alhamdulillah ibu baik-baik saja," jawab Daniar.


"Lalu?" Tania kembali bertanya.


"Ini tentang kang Yandri, Wak. Kakak ipar kang Yandri menelepon. Dia bilang jika kakaknya kang Yandri masuk penjara, dan dia meminta kang Yandri datang untuk membantunya. Karena itu kang Yandri memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Niar yakin, Wak. Ini pasti ujian buat kang Yandri. Niar ingat pesan almarhumah nenek yang mengatakan jika orang yang hendak masuk asrama di sana, itu pasti akan mengalami ujian batin. Tolong Niar, Wak. Tolong ingatkan kang Yandri jika ini hanya sekadar ujian saja," tutur Daniar dengan perasaan cemas.


"Uuh, pantas saja perasaan Uwak enggak nyaman. Kok rasanya Uwak ingat terus sama kamu dan si kecil Bibin. Rupanya ini tuh firasat. Ya sudah, Ni. Kalau begitu Uwak telepon wak Alam dulu. Uwak tutup teleponnya, ya. Assalamu'alaikum."


"Iya, Wak. Wa'alaikumsalam."


Setelah memutus sambungan teleponnya dengan Daniar, Tania kembali menekan keypad untuk menghubungi suaminya. Beberapa menit menunggu, akhirnya terdengar suara di ujung telepon.


"Assalamu'alaikum, Ma!" sapa Pak Alam.


"Wa'alaikumsalam. Apa Papa lagi sama Yandri sekarang?" tanya Tania.


"Enggak, Ma. Bus yang ditumpangi para guru sedang beristirahat dulu di rest area," jawab Pak Alam.


"Ish, kalau begitu segera Papa hubungi Yandri," perintah Tania.


"Tapi kenapa, Ma? Ada apa?" tanya Pak Alam terdengar heran.


"Barusan Mama nelepon Daniar. Dan Daniar bilang jika Yandri sedang mengalami masalah."


"Masalah apa, Ma?"

__ADS_1


"Katanya kakaknya Yandri ditangkap polisi. Yandri hendak kembali untuk membantu kesulitan kakaknya. Namun, Daniar yakin jika itu hanya sekadar gangguan dari keluarga Yandri saja, Pa. Lagi pula, Papa tahu, 'kan ujian masuk ke sana? Daniar juga yakin jika ini hanya sekadar ujian saja untuk memantapkan keyakinan Yandri memasuki asrama itu," tutur Tania panjang lebar.


"Ya sudah, nanti Papa telepon Yandri," janji Pak Alam.


"Iya, pa. Secepatnya ya, soalnya Mama takut Yandri keburu balik lagi," pesan Tania.


"Iya Ma, iya."


"Janji ya, Pa!" tekan Tania dalam nada bicaranya


"Iya, Sayang. Ya sudah, Papa tutup teleponnya, ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam!"


Dengan perasaan was-was, Tania pun menutup teleponnya.


.


.


Bagi Yandri, Nauval bukan hanya sekadar kakak saja. Namun, dia juga penyelamat pendidikannya. Ya, berkat biaya dari Nauval lah Yandri bisa menyelesaikan SMA-nya. Demi sekolah Yandri, Nauval sampai rela tidak menikah dulu untuk fokus membiayai adiknya itu. Mungkin, sekarang saatnya Yandri balas budi.


Yandri nekat dan mendekati meja pak Adit untuk meminta izin keluar dari rombongan. Namun, saat selangkah lagi dia sampai di meja itu, telepon Yandri berbunyi. Yandri kemudian mengurungkan niatnya dan kembali menjauhi meja pak Adit untuk menerima telepon dari istrinya.


"Assalamu'alaikum, Bun!" sapa Yandri


"Gimana, Yah? Apa ada kabar terbaru tentang kak Nauval?" tanya Daniar.


"Iya bun. Kak Laila menelepon, ternyata kak Nauval terlibat masalah dengan mantan anak buahnya. Mereka saling berebut pelanggan hingga kak Nauval merasa marah dan sempat mengancam orang itu. Karena tidak terima, akhirnya orang itu melaporkan kak Nauval ke polisi dengan tuduhan pengancaman," tutur Yandri.


"Apa memang sudah terbukti hingga kak Nauval di penjara!


"Sebenarnya kak Nauval hanya diperiksa sebagai saksi saja, Bun. Belum ditetapkan sebagai tersangka."


"Kalau begitu, untuk apa Ayah pulang dan menemui mereka?"


"Ish, Bun kak Nauval itu orang yang sangat berjasa dalam hidup Ayah. Jadi Ayah harus membantu kak Nauval. Mungkin ini saatnya Ayah membalas budi kepada kak Nauval."

__ADS_1


"Memangnya apa yang bisa Ayah lakukan? Apa Ayah seorang pengacara yang bisa menangguhkan penahanan kak Nauval? Lagi pula, kak Nauval ditangkap itu hanya sebagai saksi, bukan tersangka. Belum ada bukti juga jika kak Nauval memang melayangkan ancaman. Udah deh Yah, Ayah itu bukan pakar hukum, jadi tidak harus melibatkan diri. Bukannya Bunda melarang Ayah untuk menolong kakak kandung Ayah, tapi Ayah juga harus ingat jika Ayah lebih memiliki tanggung jawab yang lain. Bunda mohon, jangan libatkan Ayah terlalu jauh dengan apa yang bukan menjadi urusan Ayah. Ingat Bintang, Yah. Bunda yakin ini hanya sekadar ujian untuk menguji tekad Ayah. Mengertilah," jawab Daniar mengungkapkan isi hatinya.


Yandri hanya diam mendengar penuturan panjang lebar dari istrinya. Mungkin apa yang dikatakan istrinya memang benar. Pulang pun tidak akan menyelesaikan masalah. Karena memang Yandri bukan seorang pengacara. Pada saat dia sedang melamun, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Sontak Yandri terkejut dan menoleh. Tampak pak Alam sedang berdiri di sampingnya seraya tersenyum.


"Bun, Ayah tutup teleponnya, ya." pinta Yandri tanpa menunggu jawaban istrinya.


Setelah menyimpan teleponnya di saku jaket, Yandri segera menyambut kedatangan Pak Alam.


"Alhamdulillah, ikut istirahat juga, Wak?" tanya Yandri seraya menjabat tangan Pak Alam.


"Iya, Yan. Ihsan bilang mesin mobilnya terlalu panas," jawab Pak Alam.


Yandri hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Eh, Yan. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Pak Alam


Yandri menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Pak Alam. Namun, dia tidak bisa menolaknya. "Iya Bisa, Wak," jawab Yandri.


"Kita bicara di sana saja, Yan. Tunjuk Pak Alam pada sebuah meja makan yang berada di pojok ruangan.


"Ayo duduk, Yan!" Lanjut Pak Alam begitu mereka tiba di meja yang dimaksud.


Yandri kembali mengangguk. Dia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Pak Alam.


Begini Yan ... tadi Uwak kamu bilang katanya kamu sedang bingung karena mendapatkan telepon dari ipar kamu. Benar begitu?" tanya Pak Alam memastikan.


Hmm, pasti Bunda yang lapor ini mah," batin Yandri.


"Benar atau tidak, Yan?" Sekali lagi Pak Alam bertanya. Dan pertanyaan Pak Alam membuyarkan lamun Yandri.


"Iya, Wak. Kakak saya sedang terkena musibah. Beliau ada salah paham dengan mantan karyawannya sehingga melibatkan polisi segala," jawab Yandri.


"Hmm, Yan. Mungkin kamu memang belum tahu tentang kejadian yang telah dialami oleh orang-orang yang hendak memasuki asrama itu. Sebenarnya, itu bukan hanya sekadar boarding school saja, tapi juga tempat untuk berjuang dalam menegakkan agama lewat jalur pendidikan. Tentunya, jika menyangkut urusan agama, akan ada banyak rintangan yang mendera kita. Mungkin kamu masih ingat kisah Ibrahim dan Ismail? Saat itu, demi mewujudkan keyakinannya, Ibrahim tidak pernah mendengar bisikan syaitan agar mengasihani Ismail yang hendak dia korbankan. Seperti itulah posisi kamu saat ini, Yan. Tekad kamu dalam menegakkan agama harus dibarengi keyakinan. Untuk itu, akan ada banyak cobaan yang menghalangi keyakinan kamu. Jadi, jangan biarkan mereka menang sehingga bisa mematahkan keyakinan kamu dalam syiar Islam. Ingat Yan, mendidik itu bagian dari ibadah. Bagian dari da'wah. Dan da'wah bagian dari syiar islam. Jadi kamu harus memiliki keyakinan yang kuat dan teguh pendirian dalam menjalankan syiar islam. Papar pak alam panjang lebar.


Yandri diam dan mencoba mencerna semua nasihat Pak Alam. Mungkin memang dia harus bisa mengesampingkan permasalahan keluarganya terlebih dahulu. Lagi pula, apa yang dikatakan Daniar benar. Dia bukan pengacara, dan percuma saja dia datang jika tidak mampu membantu apa pun.


Ya Tuhan ... semoga Engkau segera menyelesaikan permasalahan kakakku.

__ADS_1


__ADS_2