Setelah Hujan

Setelah Hujan
Laporan Pak Agus


__ADS_3

"Ya sudah, Yan. Kalau begitu, Bibik pamit dulu," kata Bik Wanti.


Daniar yang mendengar kata pamit keluar dari mulut Bik Wanti, seketika bergeming. Ish, apa bik Wanti sudah membicarakan semuanya dengan kang Yandri? Jika belum, lalu kenapa pembicaraan mereka lama sekali? Bahkan hampir selesai saat azan berkumandang," pikir Daniar semakin merasa heran.


"Iya, Bik. Terima kasih atas informasinya. Bibik hati-hati di jalan, ya," jawab Yandri membalas pamit bibiknya.


Daniar melirik ke arah suaminya. Tapi, kenapa kang Yandri terlihat biasa-biasa saja? Apa dia tahu tentang kelakuan adik bungsunya yang tadi dilaporkan bik Wanti? Ish, jika dia tahu, tidak mungkin wajahnya terlihat baik-bsik saja. Atau ... mungkin bik Wanti membicarakan perihal lain kepada kang Yandri. Hmm tapi apa, ya? Kembali batin Daniar bermonolog.


"Yuk, Ni! Bibik pulang dulu ya!" teriak Bik Wanti.


Teriakan Bik Wanti sontak membuat lamunan Daniar buyar seketika. "Eh, iya Bik," balas Daniar sambil melambaikan tangannya.


Sejurus kemudian, Bik Wanti menghilang dari pandangan Daniar. Begitu juga dengan Yandri yang pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


Daniar segera memasuki kamarnya. Dengan rasa penasaran yang melebihi tingkat dewa, dia pun membasuh kedua tangan dan kaki putrinya sebelum mengganti pakaian dan menaiki kasur.


Ih, apa yang sebenarnya mereka bicarakan tadi? Apa aku harus bertanya pada kang Yandri? Tapi bagaimana jika kang Yandri merasa, aku terlalu ikut campur dengan semua urusannya?


"Aargh! Aku bisa gila!" dengus Daniar semakin kesal.


.


.


Rasa penasaran Daniar semakin menggunung. Saat suaminya sedang makan malam dan Bintang sudah tertidur karena kelelahan, akhirnya Daniar memberanikan diri untuk bertanya.


"Bik Wanti ngapain mau ketemu Ayah?" tanya Daniar.


"Oh, dia cuma mau silaturahim saja. Kebetulan tadi dia lewat sekolah dan ingat Ayah, ya sudah bik Wanti mampir kemari," jawab Yandri.


"Cuma itu doang?" tanya Daniar.


"Iya." Yandri menjawab pasti


"Dia enggak ngomong apa-apa lagi, Yah?" Daniar kembali bertanya.


"Seingat Ayah sih, enggak. Memangnya, dia ngomong apa sama Bunda?" Yandri balik bertanya.


"Eh, eng-enggak ... bik Wanti enggak ada ngomong apa-apa kok, sama Bunda," jawab Daniar tergagap.

__ADS_1


Yandri tersenyum, "Bisa Ayah lanjutkan makannya lagi?"


"Te-tentu saja, Yah. Maaf, Yah," jawab Daniar penuh penyesalan, karena sudah mengganggu acara makan malam suaminya.


"Iya, tidak apa-apa," sahut Yandri sambil melanjutkan makannya.


Daniar kembali ke atas kasur dan melipat pakaian yang masih menumpuk hasil jemuran tadi siang. Di tengah-tengah pekerjaannya, tiba-tiba Yandri berseru kepada Daniar.


"Bun, kunci rumah ibu sudah enggak dipegang bik Wanti lagi. Katanya sekarang Raihan yang pegang. Soalnya Raihan sedang ada di rumah saat ini," ucap Yandri.


"Oh," jawab Daniar. Hmm, jadi bik Wanti datang hanya untuk mengatakan keberadaan kunci saat ini, batin Daniar.


.


.


Keesokan harinya, Daniar dan Yandri beraktivitas seperti biasanya. Meskipun dalam melakukan pekerjaannya, Daniar terlihat sering melamun. Entahlah, perkataan bik Wanti tentang kelakuan Raihan akhir-akhir ini, membuat Daniar tidak tenang.


Terkadang, Daniar ingin menyampaikan berita tersebut. Namun, jika dia bicara tanpa bukti, jatuhnya bisa jadi fitnah. Dan mungkin saja, Yandri tidak akan senang jika adik kesayangannya dijelek-jelekan seperti itu.


Hmm, sudahlah ... suatu saat, semuanya pasti akan terbongkar. Aku yakin, kebenaran akan muncul di waktu yang tepat, kata Daniar dalam hatinya.


"Tadi sih, sedang pergi ke mushola Pak," jawab Daniar.


"Oh, begitu ya," lanjut Pak Agus.


Sesaat kemudian, Pak Agus beranjak dari kursinya. Dia pun melangkahkan kakinya ke luar kantor. Hmm, entah dia akan pergi ke mana. Namun, pergerakan Pak Agus sempat membuat Daniar merasa bingung.


Kok tumben-tumbenan Pak Agus menanyakan kang Yandri. Apa kang Yandri mengajukan pinjaman lagi? Ih, setelah sekian lama, masak sih dia mengingkari janjinya? Bukankah kang Yandri berjanji untuk tidak berutang lagi?


Daniar semakin larut dalam pikiran buruknya. Entah kenapa, hanya itu yang menggelayut dalam benaknya jika sudah bersangkutan dengan bendahara sekolah itu. Hm, mungkin karena jejak rekam Yandri tentang utang sebelum menikah, membuat Daniar menghakimi suaminya sendiri.


.


.


"Ah, akhirnya ketemu juga," seru Pak Agus begitu melihat Yandri duduk bersila di atas sajadah.


Yandri menoleh, "Eh, Pak Agus," ucapnya.

__ADS_1


Pak Agus membuka sepatu dan menghampiri Yandri. Sedetik kemudian, dia pun duduk di hadapan Yandri.


"Tadi saya sudah mencari Pak Yan di mesjid. Saya pikir, Pak Yan salat di masjid," tutur Pak Agus.


"Kebetulan, hari ini kepala saya agak sedikit pusing, Pak. Jadi saya putuskan untuk salat di sini saja," jawab Yandri.


"Di mana pun juga tetap sama, Pak. Yang penting, kita menunaikan kewajiban," sahut Pak Agus.


"Iya, Pak Yan benar," timpal Pak Agus.


"Oh iya, Pak. Ngomong-ngomong, ada perlu apa Bapak mencari saya?" tanya Yandri.


"Emmh ... begini, Pak. Emh, sebenarnya saya merasa sungkan untuk membicarakan hal ini. Tapi ..." Sejenak Pak Agus menghela napasnya. "Tapi saya merasa berkewajiban untuk menyampaikan permasalahan ini kepada Bapak," lanjut Pak Agus.


Yandri menautkan kedua alisnya. Dia merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan rekan kerjanya.


"Maaf Pak Agus, sebenarnya ini ada apa, ya? Jujur saja, saya tidak mengerti. Permasalahan apa yang terjadi hingga Pak Agus merasa tidak enak hati untuk menyampaikannya kepada saya?" tanya Yandri.


"Ini tentang Raihan, Pak," sahut Pak Agus.


Kening Yandri semakin berkerut mendengar nama adiknya disebutkan. "Memangnya, ada apa dengan Raihan? Apa yang terjadi dengan adik saya, Pak?" tanya Yandri.


Kembali Pak Agus menghela napasnya. Berat rasanya bagi dia untuk menyampaikan semua kebenaran yang dia lihat kepada sepupunya itu. Lidahnya seakan terkunci saat melihat wajah bening Yandri yang begitu meneduhkan. Hmm, siapa sangka jika wajah teduh itu berbanding terbalik dengan kelakuan adiknya.


"Pak?" tegur Yandri yang membuat bahu Pak Agus bergerak karena kaget.


"Be-begini, Pak Yan. Sebelumnya, saya minta maaf ... saya tidak bermaksud untuk ikut campur permasalahan keluarga Bapak. Namun, apa yang Raihan lakukan sudah benar-benar di luar batas. Tetangga sekitar pun sudah geram melihat tingkah laku dia. Ketua karang taruna sudah menegur ulah Raihan, tapi Raihan tidak mengindahkan teguran itu. Kami sempat sepakat untuk memergoki Raihan dan membawanya kepada ketua RT. Namun, kami masih menghargai Bapak sebagai orang yang sangat berjasa pada kehidupan warga di sini. Untuk itu, saya atas nama tetangga dan para pemuda sekitar, ingin meminta bantuan Bapak agar bisa menegur dan mengingatkan Raihan untuk tidak melakukan hal itu lagi," tutur Pak Agus panjang lebar.


"Me-melakukan apa, Pak? Sikap Raihan seperti apa yang tidak berkenan di hati para tetangga? Sebenarnya, apa yang telah dia lakukan? Apa dia sedang bermasalah dengan salah satu tetangga di sana?" Yandri mencecar Pak Agus dengan berbagai macam pertanyaan tentang adiknya.


"Sebenarnya Raihan tidak bermasalah dengan salah satu tetangga. Hanya saja, perbuatan dia beberapa dua minggu ke belakang ini, telah menjadi masalah bagi tetangga sekitar," jawab Pak Agus.


"Perbuatan apa, Pak? Tolong jangan berbelit-belit. Katakan saja yang sebenarnya, supaya saya bisa menindaklanjuti permasalahan yang melibatkan saudara saya," pinta Yandri.


"Sebenarnya ... sudah hampir dua minggu ini, Raihan sering membawa perempuan menginap di rumah. Bahkan, para pemuda sudah mengintai apa yang mereka lakukan. Dan ..." Pak Agus menjeda laporannya.


"Dan ...?" tanya Yandri.


"Dan mereka tengah melakukan hubungan badan."

__ADS_1


Deg!


__ADS_2