
Aji sudah berusaha membujuk Khodijah agar tetap tinggal. Namun, kerinduan Khodijah akan belaian sang ibu tatkala sakit, membuat dia terus merajuk meminta pulang.
Aji pun hanya bisa menghela napas. "Baiklah, besok Akang minta tolong Haidar untuk menyewa angkot, Dek," ucap Aji mengalah.
Khodijah tersenyum lebar setelah mengetahui keputusan suaminya. Setidaknya, saat dia berada di rumah sang ibu, Aji bisa tenang dalam bekerja dan mengurus kedua anaknya. Khodijah sendiri merasa kasihan saat waktu Aji terbagi untuk mengurus dirinya yang sedang sakit.
Maafkan aku, Kang. Aku hanya tidak ingin terus-terusan menjadi beban kamu. Karena itu aku meminta kamu untuk mengantarkan aku pulang, batin Khodijah, menatap Aji yang sedang membereskan pakaiannya ke dalam koper.
Entah untuk berapa lama Khodijah akan tinggal di rumah ibunya. Saat Aji bertanya, Khodijah tidak menjawab. Akhirnya Aji memutuskan untuk membawa pakaian Khodijah lebih banyak. Setelah itu, Aji menyimpan tas tersebut di sudut kamar.
"Akang temui Haidar dulu ya, Dek," pamit Aji sesaat setelah mengemasi pakaian Khodijah.
Khodijah mengangguk. Setelah mendapatkan izin dari istrinya, Aji keluar kamar dan meminta Hana untuk menemani Khodijah.
Jarak rumah Aji dengan rumah keponakannya cukup dekat. Hanya terhalang tiga buah rumah saja. Karena itu, hanya dalam waktu 10 menit Aji tiba di rumah Haidar.
"Assalamu'alaikum!" sapa Aji sambil mengetuk pintu rumah Haidar.
"Wa'alaikumsalam," jawab seseorang dari dalam rumah.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pintu terbuka lebar. Tampak Haidar berdiri di ambang pintu dengan hanya mengenakan singlet dan sarung saja.
"Om Aji? Ada apa Om Aji datang malam-malam begini?" tanya Haidar yang cukup terkejut saat mendapati Aji telah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Apa Om boleh masuk, Dar?" Bukannya menjawab, Aji malah meminta izin untuk masuk rumah.
"Oh iya, silakan Om!" sahut Haidar, mempersilakan Aji masuk.
Aji melangkahkan kaki melewati pintu. Sesaat kemudian, tanpa disuruh, dia duduk di sofa ruang tamu. Sebelum berbicara dengan keponakannya, Aji tampak menyandarkan tubuh. Wajahnya terlihat lelah.
Haidar mengikuti Aji, kemudian duduk di sampingnya. "Kenapa, Om?" tanya Haidar.
Aji menghela napas. "Bibi kamu memaksa terus untuk pulang. Om sudah tidak bisa membujuknya lagi," jawab Aji.
"Mungkin bibi rindu sama keluarganya, Om," timpal Haidar.
"Mungkin juga," sahut Aji.
"Ya sudah, Om. Izinkan saja ... siapa tahu hal itu bisa menjadi jalan kesembuhan bagi bi Dijah. Lagi pula, bibi ingin pulang ke rumah orang tuanya sendiri, bukan rumah orang lain," tukas Haidar.
"Iya, Dar. Karena itu Om mau minta tolong sama kamu buat carter angkot milik teman kamu itu," kata Aji.
__ADS_1
"Baik Om. Untuk hari apa?" tanya Haidar lagi.
"Kalau bisa sih, untuk besok. Soalnya bibi kamu sudah enggak sabar ingin segera pulang kampung," jawab Aji.
"Haidar tanyakan dulu ya, Om. Mudah-mudahan, besok angkotnya enggak dipakai," kata Haidar.
"Hmm, iya Dar. Bisa atau tidaknya, tolong kabari Om secepatnya," timpal Aji.
"Baik, Om," sahut Haidar.
"Ya sudah, Om pulang dulu. Terima kasih atas bantuannya," ucap Aji seraya beranjak dari atas sofa.
"Sama-sama, Om," balas Haidar ikut berdiri dan mengantarkan Aji ke depan pintu utama.
.
.
Keesokan harinya, Yandri kembali berobat jalan untuk mendapatkan kesembuhan yang paripurna. Setelah selesai dengan poli THT, dia kemudian memeriksakan diri ke poli mata. Pascaoperasi, jika dirinya kelelahan, pandangan mata Yandri selalu berbayang. Karena merasa khawatir indera penglihatan suaminya terganggu, Daniar lantas membawa Yandri untuk periksa mata.
"Hasil pemeriksaannya cukup baik, Bu. Sama sekali tidak ada masalah dengan indera penglihatan Bapak," kata Dokter Adrian, setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap organ penglihatan Yandri.
"Tapi kenapa suami saya sering mengeluh jika penglihatannya selalu berbayang saat merasa lelah, Dok?" tanya Daniar.
"Apa itu bisa disembuhkan, Dok?" Daniar kembali bertanya.
"Hehehe, sebenarnya ini bukan penyakit, Bu," jawab Dokter Adrian. "Ini hanyalah efek dari posisi mata yang tidak simetris saja. Jika tidak ingin berbayang, Bapak bisa melakukan operasi pemasangan pen di bawah kerangka kelopak mata untuk mensejajarkan posisi mata Bapak," saran Dokter Adrian, dokter mata di RSUD setempat. "Namun, hasil akhirnya fifty-fifty. Penglihatan Bapak bisa tetap normal, atau masih terganggu jika terlalu lelah," imbuhnya.
Mendengar kata operasi, nyali Daniar menciut seketika. Tidak! Dia tidak akan siap untuk melihat tindakan operasi lagi terhadap suaminya. Terlebih lagi melibatkan organ vital yang termasuk panca indera. Terlebih lagi saat mendengar hasil akhirnya.
"Lantas, apa yang bisa saya lakukan untuk menghindari penglihatan ganda tersebut, Dok?" tanya Yandri.
"Batasi aktivitas Anda. Jika sudah merasa lelah, segeralah beristirahat," jawab Dokter Adrian.
"Baiklah, saya mengerti Dok. Terima kasih atas penjelasannya. Kalau begitu, kami permisi!" pamit Yandri.
Dokter muda itu menganggukkan kepalanya. sejurus kemudian, Yandri dan Daniar keluar dari ruang pemeriksaan.
Setelah cukup paham dengan kondisi fisiknya, Yandri pun mulai berinisiatif untuk membatasi aktivitas pekerjaannya.
Surat keterangan sehat dari poli THT dan poli mata sudah berada di tangan Yandri. Hanya tinggal menemui poli bedah saraf untuk memastikan kondisi kepalanya baik-baik saja, setelah mengalami tabrakan yang menyebabkan operasi tengkorak kepala bagian depan.
__ADS_1
"Kapan jadwal kontrol untuk bedah saraf, Bun?" tanya Yandri setelah keluar dari ruang poli mata.
"Minggu depan Yah. Tunggu Bunda gajian dulu," jawab Daniar.
Yandri hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban Daniar. Dia merangkul bahu Daniar dan sedikit menariknya.
"Terima kasih ya, Bun," bisik Yandri di telinga Daniar.
Daniar hanya tersenyum. Dia mengulurkan tangan untuk mengusap rahang tegas suaminya.
.
.
"Apa Ibu akan tinggal lama di rumah nenek?" tanya Hana.
Khodijah yang sudah duduk di bangku angkot, hanya bisa membelai lembut rambut putrinya. Rasanya, lidah Khodijah terlalu kelu untuk menjawab pertanyaan putrinya.
"Ibu. Apa Ibu sudah bosan tinggal bersama kami?" celetuk Haikal yang membuat hati Aji semakin teriris.
"Hei, apa yang kamu katakan, Dek? Bagaimana mungkin Ibu merasa bosan tinggal bersama kita. Dengar Nak, Ibu kamu itu hanya butuh suasana baru, supaya bisa lekas sembuh. Nanti setelah sembuh, Ibu pasti kembali ke rumah. Bukan begitu, Bu?" kata Aji mencoba menghibur kesedihan anak-anaknya.
Kembali Khodijah hanya bisa menganggukkan kepalan. Tangan kirinya memberikan isyarat agar kedua anaknya mendekat.
Hana dan Haikal menghambur memeluk ibunya dengan erat.
"Semoga lekas sembuh, Bu." Do'a Hana di telinga ibunya.
"Ibu tidak usah khawatir. Kami janji, kami akan menjadi anak yang baik dan tidak merepotkan Bapak lagi. Supaya Ibu bisa segera pulang," imbuh Haikal.
Kedua bahu Khodijah berguncang hebat saat mendengar perkataan kedua anaknya. Jauh di lubuk hatinya, Khodijah sendiri merasa berat harus terpisah jauh dari anak-anaknya. Namun, keluhan Aji yang tanpa sengaja dia dengar, membuat Khodijah memantapkan hatinya untuk pulang.
Tidak usah khawatir, Kang. Aku janji, aku tidak akan membebani kamu lagi, batin Khodijah seraya memeluk anaknya lebih erat lagi.
"Kita berangkat sekarang, Om. Keburu siang."
Ucapan Haidar sontak membuat khodijah menguraikan pelukannya. Begitu juga dengan Hana dan Haikal. Mereka turun dari angkot dan hanya bisa melambaikan tangannya ketika perlahan, kendaraan umum itu mulai melaju.
"Daah, Ibu! Cepat sembuh ya!" teriak Hana.
"Cepat pulang ya, Bu. Ikal sayang Ibu!" timpal si kecil Haikal.
__ADS_1
Air mata Khodijah mengalir deras mendengar teriakan putra putrinya.
Maafkan Ibu, Nak!