Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kecewa


__ADS_3

Siska tak mampu membendung air mata yang jatuh begitu saja. Dia terus berlari menuju toilet yang berada di dalam mall. Dadanya terasa sakit sekali. Bahkan jauh lebih sakit dibandingkan ketika Yandri memutuskan hubungannya dulu. Dia kecewa, sangat kecewa.


"Astaghfirullah ... seharusnya aku tidak mempercayai ucapan mereka begitu saja," guman Siska di sela-sela isak tangisnya.


Beruntung, tidak banyak pengunjung yang datang ke toilet. Siska pun bisa menumpahkan kesedihannya lebih leluasa.


.


.


"Alhamdulillah, kenyang," ucap Yandri setelah menghabiskan makanannya.


"Baksonya enak ya, Yah," kata Bintang.


"Hem-eh, Dek. Enak banget, nih," timpal Daniar.


Yandri tersenyum melihat perbincangan kedua bidadarinya. Seandainya bisa, rasanya Yandri ingin menghentikan waktu. Supaya bisa selalu menikmati kebersamaan seperti ini.


Selesai makan bakso. Mereka berbincang-bincang sejenak.


"Beneran nih, Bibin enggak mau meneruskan sekolah di tempat Ayah saja?" tanya Yandri.


Bintang menggelengkan kepalanya. "Maaf, Ayah. Tapi Bibin enggak mau meninggalkan Bunda," jawabnya.


Yandri tersenyum. "Ya sudah, Ayah enggak bakalan maksa. Mau di mana pun juga, yang penting Bibin tetap sekolah. Belajar yang rajin, supaya kelak cita-cita Bibin tercapai," kata Yandri.


"Aamiin."


"Eh, Bunda bilang ... Bibin senang menggambar anime, ya?" Yandri kembali bertanya.


"Hehehe, iya Yah," sahut Bintang.


"Memangnya, kalau sudah besar, cita-cita Bibin mau jadi apa?" Yandri terus bertanya. "Jadi polwan, mau?"


"Enggak, Yah."


"Loh, kenapa? Apa mau jadi dokter?" lanjut Yandri.


Bintang kembali menggelengkan kepalanya.


"Terus?" desak Yandri yang mulai penasaran.


"Bibin mau jadi komikus katanya yah. Kuliahnya juga pengen di Jepang," sahut Daniar, menimpali obrolan mereka.


Yandri cukup terperanjat mendengar jawaban istrinya tentang cita-cita sang buah hati. Sejenak dia menatap Bintang dan Daniar bergantian.

__ADS_1


"Kok lihatin Bibin seperti itu, Yah. Kenapa? Enggak boleh ya?" cicit Bintang.


"Boleh, Sayang. Apa pun cita-citanya, yang penting Bibin serius menjalaninya," tutur Yandri.


"Iya, Yah. Makasih," jawab Bintang.


.


.


Di kediaman Bu Salma.


"Iya, tidak apa-apa Rin. Toh semua ini milik kalian juga. Kalian berhak melakukan apa pun atas rumah ini," kata Bu Salma.


"Iya, Sal. Sebenarnya aku sama Tania tidak terlalu mempersoalkan rumah tersebut. Namun, sepertinya salah satu anak Tini sedang bermasalah. Karena itu, dia hendak pindah dan menempati rumah Ibu," sahut Rini di ujung telepon.


"Iya, Rin. Aku ngerti kok."


"Ya sudah, Sal. Aku tutup teleponnya ya. Nanti kalau ada apa-apa, aku kabari lagi," pungkas Rini, anak kedua almarhumah Hajjah Minah.


Setelah sambungan teleponnya terputus, Bu Salma menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan.


Akhirnya, waktu yang dikhawatirkan terjadi juga. Ya, cepat atau lambat, dia dan anak-anaknya memang harus pergi dari rumah yang hanya sekadar dititipkan ini.


.


.


Ponsel Siska bergetar. Untuk beberapa saat, Siska membiarkannya. Saat ini, dia belum siap menerima telepon dari siapa pun.


Namun, getarannya masih tidak berhenti juga. Akhirnya, Siska membasuh wajah dan mulai menarik napas panjang untuk menstabilkan suaranya.


Ketika Siska melihat layar ponsel, dadanya kembali bergemuruh. Emosinya kembali meluap sehingga dengan kasar dia mematikan ponselnya.


Siska melirik orang-orang yang mulai memasuki toilet. Tidak ingin menjadi pusat perhatian, dia pun segera keluar dari toilet.


Saat Siska keluar dari koridor, seseorang memanggilnya. Siska menoleh, kedua matanya membulat sempurna melihat Habibah dan Bu Maryam berjalan mendekatinya.


"Huh, kenapa kamu reject telepon dari aku, Sis?" tanya Habibah menggerutu kesal.


"Untuk apa lagi kamu telepon aku? Belum puaskah kamu mempermainkan perasaan aku, hah?" bentak Siska.


Bentakan Siska membuat kening Habibah dan Bu Maryam mengernyit.


"Eh, kamu kenapa Sis?" tanya Habibah.

__ADS_1


"Kamu yang kenapa, Kak? Kenapa kamu berbohong tentang Yandri? Kakak bilang Yandri telah berpisah dengan Daniar. Iya, 'kan?" tanya Siska penuh penekanan.


"Ya, itu benar," jawab Habibah.


"Tidak benar!" pekik Siska mengepalkan kedua tangan. "Itu tidak benar, Kakak. Itu bohong! Kau berbohong padaku, Kakak. Kalian semua membohongi aku. Memangnya apa salahku pada kalian hingga kalian tega mempermainkan perasaanku!" teriak Siska tak mampu lagi membendung emosinya.


"Tunggu Siska! Ada apa denganmu? Kenapa kamu menuduh kami berbohong padamu. Memangnya, apa untungnya kami membohongi kamu? Yandri memang sudah berpisah dari istrinya. Dan itu kenyataannya!" tegas Bu Maryam.


"Lalu, apa itu Bu?" Tunjuk Siska pada meja di pojok kedai bakso miliknya.


Kini, giliran Bu Maryam dan Habibah yang terkejut ketika melihat Yandri dan Daniar tengah tertawa lepas di meja kedai bakso milik Siska, perempuan yang digadang-gadang akan menjadi jodohnya Yandri.


"Ish, apa-apaan ini?" gumam Bu Maryam, mengambil ancang-ancang untuk menghampiri Yandri dan keluarganya.


"Tunggu Ibu! Apa yang akan Ibu lakukan?" tanya Habibah mencegah langkah ibunya.


"Apa yang akan Ibu lakukan? Ish Bibah ... di saat genting seperti ini pun, kamu masih bertanya tentang apa yang akan aku lakukan pada mereka? Tentu saja aku akan mengusir perempuan itu!" tegas Bu Maryam terlihat marah.


"Tapi Ibu, ini tempat umum. Ibu tidak bisa membuat keributan di tempat umum," tukas Habibah.


"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Ibu bisa melakukan apa pun yang ingin Ibu lakukan. Mengerti kamu!" ucap Bu Maryam seraya menepiskan tangan anaknya.


Namun, baru saja Bu Maryam melangkahkan kakinya lagi, Siska mencekal pergelangan tangan Bu Maryam dan menariknya.


"Jadi Ibu ingin membuat keributan di kedai aku?" tanya Siska, dingin.


"Ibu tidak peduli! Akan Ibu usir perempuan itu dari sisi Yandri, sekalipun Ibu harus membuat keributan. Bukan hanya di kedai kamu, di mall atau di mana pun, Ibu tidak peduli!" Bu Maryam mulai meninggikan suaranya.


"Tidak Ibu! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan Ibu menghancurkan usahaku. Aku bisa bersabar tentang Yandri. Tapi tidak akan aku biarkan orang lain menghancurkan hasil keringatku sendiri!" tegas Siska.


"Apa yang dikatakan Siska benar, Bu. Mengalahlah untuk saat ini. Jangan sampai kemarahan Ibu merusak usaha Siska yang sudah susah payah dia bangun. Apa Ibu mau jika kedai Siska ditutup hanya karena keributan tentang rumah tangga? Malu, Bu. Apalagi sekarang zamannya internet bebas. Apa-apa bisa disebarluaskan dan menjadi viral. Memang Ibu mau, nanti ada orang yang merekam keributan yang Ibu lakukan dan diviralkan di media sosial? Ibu bisa kena pasal mengganggu ketertiban umum loh," ucap Habibah menakut-nakuti ibunya.


Bu Maryam menghempaskan tangannya seraya berkata, "Ya sudah, terserah kalian saja. Tapi ingat, setelah semua ini, Ibu tidak akan tinggal diam!"


Sepersekian detik kemudian, Bu Maryam menatap Siska.


"Dengar Nak Siska, Ibu tahu kamu pasti kecewa setelah melihat kebersamaan mereka. Tapi sekali lagi Ibu tegaskan sama kamu, Yandri itu duda! Dia sudah berpisah dari wanita itu. Kalaupun sekarang mereka duduk satu meja di sana, itu pasti hanya demi anaknya. Ibu pastikan, Yandri akan menjadi milikmu. Ingat itu!" tegas Bu Maryam.


"Yandri tidak akan menjadi milikku jika anaknya masih tinggal bersama Daniar, Bu," kata Siska lirih.


"Apa maksud kamu, Nak?" ucap Bu Maryam menautkan kedua alisnya.


"Sudahlah Ibu, tidak usah terlalu dipikirkan apa yang baru saja Siska katakan. Sebaiknya, kita cari tempat. Jangan sampai mereka melihat keberadaan kita di sini," lanjut Siska seraya melangkahkan kaki menuju eskalator.


Meskipun kebingungan, Habibah dan Bu Maryam pun mengikuti Siska dari belakang.

__ADS_1


Rasa kecewa yang bersemayam dalam hati Siska, telah membuat perempuan itu diam-diam menyusun sebuah rencana.


Kali ini, aku tidak akan melepaskan kamu lagi, Yan. Tidak akan!


__ADS_2