Setelah Hujan

Setelah Hujan
Jujur


__ADS_3

Daniar masih memeluk erat sang suami. Rasanya, dia tidak akan pernah sanggup harus terpisah jauh dari suaminya itu. Maklum saja, pengantin baru memang hawanya ingin berduaan melulu.


"Ehm... ehm..." Dehaman Danisa membuat pasangan muda itu saling mengurai pelukannya.


"Eh, kamu Dek," ucap Daniar dengan wajah merona karena malu.


"Iya, Kak. Emangnya siapa lagi?" balas Danisa yang memang selalu ceplas-ceplos kalau bicara.


"Ya enggak, nggak ada siapa-siapa lagi," jawab Daniar, "Kakak sih cuma kaget aja. Ngapain kamu kemari? Pasti mau minta uang lagi, 'kan?" tuduh Daniar kepada adik bungsunya.


"Yeay, ge-er ... orang aku mau minta uangnya sama Bang Yandri, wew," kilah Danisa seraya menjulurkan lidahnya.


"Ish, sama aja kali, Dek ... Kakak juga duitnya, 'kan dari Kang Yandri. Kemaren kamu udah Kakak kasih, 'kan?" sanggah Daniar.


"Nggak pa-pa. 'Kan Bang Yandri belum ngasih ke gue," elak Danisa. "Sini bagi duit dong, Bang!" lanjutnya seraya menadahkan tangan di hadapan Yandri.


"Ish, Dek! Bang Yandri belum gajian. Udah sana ah!" tukas Daniar seraya mendorong pelan tubuh adiknya.


"Sudah-sudah, Niar. Nggak usah diperpanjang lagi," cegah Yandri mencoba menengahi perdebatan istri dan adik iparnya. Sesaat kemudian, yandri merogoh saku celana dan mengeluarkan selembar uang berwarna merah. "Ini Dek!" ujarnya sambil menyerahkan uang tersebut kepada Danisa.


Senyum langsung mengembang di kedua sudut bibir adik iparnya. "Makasih ya Abang ... emang the best-lah bang ipar ini," puji Danisa seraya menyambar uang tersebut.


Yandri hanya tersenyum tipis mendengar pujian adik iparnya. Setelah urusan dengan sang adik ipar selesai, Yandri mengajak Daniar memasuki kamar.


"Masuk yuk!"


Daniar mengangguk. Dia kemudian menutup pintu kamar dan mengikuti suaminya yang sudah duduk di tepi ranjang.


.


.


Di rumah keluarga Yandri. Bu Maryam tampak tertegun saat menyadari jika anaknya tidak ada di rumah.


"Astaghfirullah, Yan. Kenapa kamu tidak mau menuruti permintaan Ibu. Seandainya kamu tahu jika Ibu melakukan semua ini demi kebaikan kamu juga. Ibu tahu, Yan. Kamu itu belum siap untuk membina rumah tangga. Lagi pula, Ibu sangat berharap banyak sama kamu. Ibu ingin, setelah kamu lulus, kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan mengembalikan kejayaan keluarga kita. Tapi kamu ... ah Ibu tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, nak," keluh Bu Maryam seraya menatap foto anaknya yang terpajang di dinding kamar.


Berulang kali Bu Maryam menghela napas. Entahlah, seperti ada yang sedang mengganjal di hatinya saat mengetahui jika putra yang dibanggakannya, telah menikah. Rasanya, kini Bu Maryam seakan sedang bersaing dengan sang menantu untuk mendapatkan perhatian anaknya.

__ADS_1


"Ah, rupanya Ibu ada di sini. Bibah sudah mencari Ibu ke mana-mana. Memangnya, apa yang sedang Ibu lakukan di kamar Yandri?"


Tiba-tiba, kedatangan Habibah membuyarkan lamunan Bu Maryam. Sontak Bu Maryam berbalik dan tersenyum kepada putrinya.


Memangnya, ada apa kamu mencari ibu, Nak?" tanya Bu Maryam.


Habibah berjalan memasuki kamar Yandri dan duduk di tepi ranjang. Sejurus kemudian, tangannya melambai sebagai isyarat agar Bu Maryam juga ikut duduk.


"Kemarilah, Bu. Kita bicara dulu sebentar," ucap Habibah.


Bu Maryam menuruti perintah anaknya. Dia kemudian menghampiri Habibah dan ikut duduk di tepi ranjang.


"Ada apa, Nak?" tanya Bu Maryam penasaran.


"Bibah ingin bicara tentang Yandri, Bu. Apa Ibu tidak merasa jika keputusan Yandri untuk menikah itu terlalu tergesa-gesa?" tanya Habibah.


"Maksud kamu?" Bu Maryam malah balik bertanya.


"Iya, Bu ... maksud Bibah, emh ... seperti ada yang disembunyikan dari pernikahan Yandri," lanjut Habibah.


"Aduh Nak, Ibu ini sudah tua. Tolong bicara langsung saja, tidak usah berbelit-belit seperti itu," pinta Bu Maryam, "sebenarnya ... apa maksud kamu berbicara seperti itu tentang adik kamu?" tanya Bu Maryam lagi.


"Astaghfirullahaladzim, Nak!"


.


.


Malam semakin larut. Dalam rangka menikmati aniversary yang ketiga bulan, Daniar dan Yandri menghabiskan waktu berdua di beranda kamarnya. Ditemani cahaya bulan yang remang-remang, sepasang insan itu saling bercengkerama untuk melepaskan kerinduan masing-masing.


"Apa kamu tahu, Sayang. Hatiku selalu merasa damai jika memelukmu seperti ini," ucap Yandri memulai pembicaraan.


"Hmm, gombal," cibir Daniar.


"Eh, kok gombal sih. Aku serius nih?" jelas Yandri merengut.


"Ish, sudah ah. Oh iya, Kang. Ngomong-ngomong, tadi siang kenapa ponselnya sulit dihubungi? Aku sudah coba puluhan kali menelepon Akang, tapi jawabannya tetap sama. Di luar jangkauan. Apa ponsel Akang kehabisan daya?" tanya Daniar yang tiba-tiba teringat akan kejadian tadi siang yang sulit sekali menghubungi suaminya.

__ADS_1


Deg!


Yandri cukup terkejut mendengar pertanyaan Daniar. Dia pikir, Daniar tidak akan membahas keterlambatan dia pulang.


"Enggak, Yar. Sebenarnya ... ponselnya sudah akang jual," jawab Yandri jujur.


Daniar terhenyak. "Tapi kenapa, Kang?"


Yandri kebingungan harus menjawab apa. Istrinya itu seorang perasa, jika Yandri jujur kalau dia menjual ponsel itu untuk ongkos pulang, pasti Daniar akan merasa bersalah.


"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi, yang penting sekarang aku sudah berada di sisi kamu," kata Yandri.


"Ish, tidak bisa seperti itu, Kang. Sebagai seorang istri, aku juga harus tahu tentang kesulitan suaminya. Sebenarnya, ada apa Kang? Apa sesuatu terjadi di rumah Akang? Apa Ibu baik-baik saja? Untuk apa Akang menjual ponsel? Apa ada sesuatu yang tidak Niar ketahui?" Daniar mencecar suaminya dengan berbagai macam pertanyaan.


Yandri menghela napas. Dia kemudian menatap Daniar.


"Jika aku menceritakannya, apa kamu bisa berjanji?" tanya Yandri.


Daniar menautkan kedua alisnya. "Berjanji untuk apa, Kang?" tanyanya heran.


"Berjanjilah kalau kamu tidak akan marah," jawab Yandri.


Daniar menganggukkan kepala seraya berkata, "Baiklah, Niar janji."


"Sebenarnya, ponsel itu Akang jual untuk menyambung hidup kita, Yar," jawab Yandri.


"Maksud Akang?"


Daniar terlihat makin tidak mengerti. Keningnya berkerut, mencoba mencerna perkataan sang suami.


"Tadinya, demi menghemat pengeluaran, Akang tidak akan pulang dulu minggu sekarang! Namun, saat Akang tahu jika hari ini hari yang sangat bersejarah bagi kita, Akang pun memaksakan diri untuk pulang. Akang eng–"


"Jadi, Akang menjual ponsel Akang untuk ongkos ke sini?" Daniar memotong pembicaraan Yandri.


Suaminya itu hanya menundukkan kepala mendengar ucapan Daniar.


"Ish Akang, kenapa Akang nggak berterus terang saja tadi siang. Kalau Akang nggak ada uang, Niar, 'kan nggak bakalan maksa Akang untuk datang ke sini." Lirih Daniar.

__ADS_1


"Sudahlah Yar. Itu, 'kan hanya sekadar benda. Suatu hari nanti, Akang bisa beli lagi. Tapi kebersamaan dengan istri sendiri? Tidak akan bisa kembali terulang lagi," pungkas Yandri.


Daniar hanya terdiam mendengar keputusan suaminya.


__ADS_2