Setelah Hujan

Setelah Hujan
Setelah Hujan


__ADS_3

Dengan susah payah, tangan Bu Maryam menekan dadanya yang terasa sakit. Ya, secara tidak langsung, dia memiliki andil yang sangat besar dalam perzinahan yang tersaji di depan matanya.


Astaghfirullahaladzim ... aku sudah sangat berdosa dengan memisahkan mereka. Aku ... aku tidak ingin mereka pun berbuat dosa karena aku. Ya Tuhan ... ibu macam apa aku, yang tega merenggut kebahagiaan anaknya. Maafkan ibu, Yan ... maafkan ibu, jerit Bu Maryam dalam hatinya.


Rasa sesak semakin menghimpit dadanya. Perasaan bersalah semakin membuat emosi Bu Maryam membuncah. Dadanya terlihat naik turun untuk mengatur napasnya. Namun, Bu Maryam tidak bisa. Dadanya semakin sesak. Napasnya semakin melemah. Hingga akhirnya, dia jatuh terkulai di atas kursi roda.


.


.


Sayup-sayup, Daniar mendengar kumandang azan awal dari masjid di belakang rumahnya. Perlahan, dia mengerjapkan kedua matanya. Daniar terkejut mendapati dirinya terlelap tanpa busana. Hanya kimono saja yang menjadi selimut di antara dirinya dan lelaki yang sedang memeluknya erat.


"Ya Tuhan ... a-apa yang telah kita lakukan, Ka-kang?" tanya lirih Daniar. Sedetik kemudian, Daniar mulai terisak ketika menyadari kebodohannya.


Mendengar isak tangis wanita yang dicintainya, sontak mata Yandri mengerjap. Dia melihat Daniar duduk seraya melipat kedua lututnya.


Yandri bangun. Dia mengenakan celana boxer-nya kembali. Sedetik kemudian, dia memakaikan kimono Daniar. Yandri mengangkat tubuh Daniar dan menggendongnya ke dalam kamar. Tak ada satu patah kata pun yang meluncur dari bibir mereka masing-masing. Mereka sadar, mereka telah khilaf hingga mendzolimi diri sendiri. Namun, tidak mereka pungkiri jika mereka masih menginginkan satu sama lain.


Yandri merebahkan tubuh Daniar di atas ranjang. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di dalam bathtub. Setelah bathub terisi penuh, Yandri kembali menghampiri Daniar yang sedang terpejam.


Yandri mengecup kening Daniar untuk membangunkannya.


"Mandilah, Ayah sudah siapkan air hangatnya," ucap Yandri menatap penuh cinta.


Tak ada penyesalan dalam tatapan mata berwarna coklat milik Yandri. Yang ada, hanya sinar kasih sayang dan perlindungan. Sama seperti saat dulu Yandri menatap Daniar untuk pertama kalinya. Tatapan penuh rasa cinta dan rasa ingin melindungi.


Daniar mengangguk. Dia beranjak dari atas ranjang. Rasa nyeri dan perih karena mahkotanya kembali terjamah, membuat wanita itu kesulitan untuk berjalan.


Hup!


Yandri mengangkat tubuh Daniar ala-ala bridal style. Dia kemudian membawa Daniar ke kamar mandi. Setelah memastikan Daniar berada di dalam bathtub dalam keadaan nyaman, Yandri pun keluar. Dia tidak ingin kembali melakukan kekhilafan yang sama.


.


.


Tok-tok-tok!


Daniar berulang kali mengetuk pintu kamar Bu Maryam. Namun, tak ada jawaban dari dalam kamar.


"Ibu, apa ibu sudah bangun? Apa Niar boleh masuk?" tanya Daniar seraya kembali mengetuk pintu kamar mantan mertuanya. Namun, masih tak ada sahutan dari dalam kamar itu.


"Kakang!" panggil Daniar tatkala melihat Yandri melintas di depannya.


"Ada apa, Bun?" tanya Yandri.


Kecanggungan mulai menyergap ketika mata mereka saling beradu pandang.


"Ini, Kang. Niar sudah berusaha membangunkan ibu. Tapi tidak terdengar jawaban dari dalam kamar," tutur Daniar.


Yandri mengernyit. Sesaat kemudian, dia mendekati kamar ibunya.

__ADS_1


Tok-tok-tok!


"Bu! Apa ibu denger Yandri?" tanya Yandri sambil mengetuk pintunya berulang kali.


"Dibuka saja, Kang. Niar khawatir, takut ibu jatuh di kamar mandi," ucap Daniar.


Yandri tak ingin menunggu lama. Dia kemudian menekan handle pintu dan membukanya lebar-lebar. Kedua mata Yandri dan Daniar terbelalak melihat Bu Maryam terkulai di atas kursi rodanya.


"Astaghfirullah Ibu!" pekik Daniar dan Yandri yang langsung berlari menghampiri Bu Maryam.


"Sepertinya ibu pingsan, Bun!" kata Yandri seraya menatap Daniar.


"Ya sudah, kita bawa ke rumah sakit, Kang," sahut Daniar.


Yandri mengangguk. Dia kemudian mengangkat tubuh kurus Bu Maryam dan segera berlari hendak membawanya ke rumah sakit.


Di depan pintu, mereka berpapasan dengan Bintang yang baru saja memasuki teras rumah diantar Adwira.


"Ah Bibin, syukurlah kamu pulang, Nak. Nanti kita bicara lagi ya, Sayang. Bunda sama Ayah mau membawa nenek kamu ke rumah sakit. Sepertinya nenek pingsan. Dah Sayang, tolong jaga rumah ya, Nak!" pinta Daniar berbicara tanpa jeda.


Bintang hanya melongo mendengar perkataan ibunya yang begitu panjang seperti lokomotif kereta api. Sesaat, dia melihat ayahnya yang sedang menggendong wanita tua yang terkulai tak berdaya. Wanita tua yang sangat dibencinya.


Sesaat setelah kedua orang tuanya menghilang dari pandangan, Bintang pun memasuki rumah.


.


.


Yandri mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia melirik ibunya yang sedang terlelap di pangkuan Daniar. Isak tangis mantan istrinya pun mulai terdengar lirih.


"Da-da-niar," gumam Bu Maryam, membuka matanya.


"Iya, Bu. Ini Daniar," jawab Daniar.


"Ma-maukah ka-mu me-menjaga Ya-yandri un-tuk i-ibu," lanjut Bu Maryam dengan napas tersengal.


"Sudah, Bu. Ibu tidak usah banyak bicara dulu. Niar yakin Ibu pasti akan sembuh," jawab Daniar berurai air mata.


"Ti-tidak, Ni-ar. Bi-biarkan i-ibu bi-cara. I-ibu su-dah ba-nyak sa-lah sama ka-kamu dan bi-bintang," ucap Bu Maryam. Napasnya semakin terputus-putus.


"Kang, cepatlah!"


Daniar tidak menghiraukan perkataan Bu Maryam. Dia malah meminta Yandri untuk mempercepat laju kendaraannya.


Tiba di rumah sakit. Yandri segera meminta brankar kepada perawat jaga. Tak lama berselang, Bu Maryam yang sudah dibaringkan di atas brankar, segera dibawa ke ruang pemeriksaan.


.


.


Prang!

__ADS_1


Sebuah pigura jatuh begitu saja, membuat Bintang dan Adwira terlonjak kaget.


"Enggak ada angin, 'kan, Bin?" tanya Adwira.


Bintang menggelengkan kepala. Sedetik kemudian, dia teringat wajah sayu Bu Maryam.


"Tolong antarkan aku ke rumah sakit," pinta Bintang kepada sahabatnya.


Meskipun tidak mengerti, tapi Adwira mengangguk sebagai tanda setuju. Beberapa menit kemudian, motor Adwira melesat keluar dari halaman rumah Bintang.


Di rumah sakit Soekardjo.


"Maaf, Pak, Bu. Pasien sudah sadar, tapi kondisinya cukup kritis. Dan saat ini, pasien memanggil-manggil nama Bintang. Mungkin dia ingin bertemu dengannya. Apa Bapak dan Ibu bisa memanggil Bintang untuk bertemu dengan pasien?" pinta perawat itu.


Yandri dan Daniar saling bertatapan. Entah, apa Bintang mau bertemu dengan neneknya. Melihat kejadian terakhir, ada banyak kebencian terlihat di mata Bintang untuk sang nenek.


"Saya di sini, Sus. Tolong antarkan saya menemuinya."


Tiba-tiba Bintang sudah berdiri di belakang kedua orang tuanya. Yandri dan Daniar menoleh. Mereka cukup terkejut sekaligus senang karena Bintang mau melihat neneknya.


Daniar mendekati putri semata wayangnya. Dia mengelus pipi Bintang sembari tersenyum tulus. "Terima kasih, Nak."


Diantarkan perawat tadi, Bintang masuk ke ruang ICU untuk menemui neneknya. Entah apa yang mereka bicarakan. Hingga setelah 45 menit berlalu, Bintang keluar dengan mata sembab.


Brugh!


Bintang terjatuh tepat di depan pintu ruang ICU.


"Neneeeek!" teriak Bintang keras. Sedetik kemudian, Bintang menangis tersedu-sedu.


Yandri dan Daniar sudah bisa menduga apa yang terjadi di dalam ruang ICU. Daniar segera menghambur memasuki ruang ICU. Sedangkan Yandri berlari memeluk erat putrinya. Dia menggendong putrinya dan mendudukkan Bintang di kursi tunggu.


"Tolong jaga Bintang sebentar, Nak," pinta Yandri kepada Adwira.


"Baik, Om."


Setelah mengecup kening putrinya, Yandri pun masuk ke ruang ICU.


.


.


Ini hari ketujuh setelah kepergian Bu Maryam. Hari ini juga adalah hari bersejarah bagi Yandri dan Daniar. Atas pesan Bu Maryam yang disampaikan kepada Bintang, Yandri dan Daniar memutuskan untuk menikah kembali.


Cinta mereka begitu kuat. Sehingga sehebat apa pun ujian cintanya, mereka lalui penuh dengan keikhlasan.


Memanglah pelangi tidak selalu ada setelah hujan. Namun, tanaman akan tumbuh subur setelah terguyur air hujan. Begitu juga cinta, yang akan semakin kuat setelah didera ujiannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Daniar Rahmawati binti Fandi Kurniawan dengan maskawin seperangkat alat salat beserta emas seberat 50 gram dibayar tunai!"


Bintang tersenyum melihat ijab qabul yang diucapkan dengan lantang oleh ayahnya, atas diri sang Bunda.

__ADS_1


"Bintang yakin, Bun. Setelah hari ini, selalu akan ada pelangi setelah hujan dalam kehidupan kita."


...TAMAT...


__ADS_2