
Danita kembali membolak-balikan badannya ke kiri dan ke kanan. Sejak pertemuannya dengan Roni tadi siang, Danita merasa resah. Bahkan, dia tidak fokus menjalani sisa pekerjaannya tadi sore di kantor. Sampai-sampai, atasan Danita menegurnya.
Ish, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menanyakan hal yang bersifat pribadi kepada kakak? Tapi bagaimana kalau kakak tidak mau cerita? Tidak mungkin aku memaksanya, 'kan? batin Danita.
Tapi, jika aku tidak bertanya, apa yang akan aku katakan pada mas Roni. Aku tidak mungkin berbohong padanya. Bukankah kami sudah berkomitmen jika akan membangun hubungan ini tanpa kebohongan?
Lagi-lagi Danita bermonolog dalam hatinya. Dia benar-benar bingung berada di dua pilihan yang sama-sama berat. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" gumam Danita.
"Melakukan apa, Dek?"
Danita terkejut saat mendengar suara kakaknya. Sontak dia membalikkan badan.
"Kakak? Ngapain kakak di kamar Nita?" tanya Danita.
"Maaf Kakak nyelonong masuk, abisnya Kakak ketok-ketok pintu, kamu nggak jawab-jawab," ucap Daniar.
"Maaf, Kak. Nita nggak denger," jawab Danita.
"Kakak pikir kamu ada di kamar mandi, makanya Kakak masuk. Eeeh, tahunya lagi rebahan. Pikiran kamu sedang berkelana ke mana sih, Dek? Sampai nggak denger panggilan Kakak," tukas Daniar.
Danita hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan kakaknya. Tidak mungkin juga kalau dia bilang sedang ngelamunin sang kakak. Uuh, bisa repot urusannya.
"Hadeuh ... malah ngelamun lagi. Buruan keluar, tuh ibu manggil kamu buat makan malam bareng. Yuk, ah!" ucap Daniar seraya mengulurkan tangannya untuk meraih tangan adiknya.
Danita berusaha tersenyum. Dia tidak mau kakaknya merasa curiga karena melihat keresahan di wajahnya.
"Yuk, Kak!"
Danita menyambut uluran tangan Daniar. Sejurus kemudian, kedua kakak beradik itu keluar dari kamar Danita. Mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga satu per satu.
.
.
Beberapa minggu berlalu. Entah kenapa, Daniar merasa sikap Yandri seperti seseorang yang tidak pernah saling mengenal. Tak ada tegur sapa saat mereka berpapasan di kampus. Bahkan, senyum Daniar pun tak pernah terbalas jika mereka bersua. Hingga pada akhirnya, Daniar merasa minder jika bertemu dengan Yandri.
Hmm, mungkin dia merasa malu berteman dengan wanita seperti aku, keluh Daniar dalam hatinya. Seharusnya, waktu itu aku tidak mengatakan masa laluku padanya. Ish, benar-benar wanita bodoh kamu, Niar! gerutu Daniar, masih di dalam hatinya.
Dengan langkah gontai, Daniar berjalan menyusuri trotoar. Beberapa mobil angkot yang lewat dan menawari dia naik, tidak dia gubris. Entahlah, hati dan pikiran Daniar saat ini sedang dalam mode kacau-balau.
__ADS_1
Daniar terus berjalan hingga dia tiba di depan sebuah mall. Untuk mengobati kekecewaan di hatinya, Daniar pun memasuki pusat perbelanjaan berlantai tiga tersebut. Hmm, mungkin dengan berjalan-jalan di mall, rasa suntuk dan kecewanya akan berangsur hilang, pikir Daniar.
Daniar menaiki eskalator menuju lantai tiga. Langkah kakinya menuntun Daniar untuk memasuki pusat permainan anak-anak. Tanpa sadar, Daniar memasuki Zona Play Kids dan mulai mengeluarkan uang seratus ribu untuk membeli koin permainan. Lepas itu, Daniar pun asyik mencoba berbagai macam permainan yang berada di Zona Play Kids tersebut.
Entah berapa jam Daniar bermain. Namun, keringat sudah bercucuran di pelipisnya. Rasa lelah benar-benar mendera Daniar hingga tenggorokannya terasa kering.
Kruuk... Kruuk...
Daniar meraba perutnya. Dia baru sadar jika dia telah melewatkan jam makan siang. Daniar melirik jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. "Hmm, pantas saja cacing di perutku mulai berteriak," gumam Daniar.
Setelah menukarkan tiket permainan, Daniar keluar dari tempat permainan tersebut. Dia kemudian melangkahkan kaki menuju food court yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat sebelumnya. Tiba di food court, Daniar mengedarkan pandangannya untuk mencari santapan yang bisa mengenyangkan perut.
Saat dia melihat kedai soto betawi, mata Daniar menangkap sosok adiknya yang sedang berbincang dengan seorang pria. "Hmm, itu pasti Roni," gumam Daniar.
Wanita bertubuh kurus tinggi semampai itu pun melangkahkan kakinya menuju kedai soto betawi. Namun, saat dia mendekati kursi adiknya, dia mendengar sesuatu yang membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Nit? Aku ingin segera menikahi kamu. Tapi kak Erin melarang aku jika harus melangkahi kakak kamu. Aku benar-benar bingung, Nit. Sangat bingung," tutur Roni.
"Apalagi aku, Mas. Lidahku terasa kelu saat harus bertanya tentang siapa pria yang sedang dekat dengan kakakku. Jangankan mendesak kak Niar untuk menikah, untuk bertanya apakah dia sudah punya pacar atau belum, aku tak sanggup melakukannya, Mas. Aku benar-benar tidak tega. Aku takut kak Niar tersinggung, Mas," jawab Danita.
Huft!
Roni hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Dia benar-benar bingung harus mengungkapkan keinginannya seperti apa. Di satu sisi, dia ingin segera menikahi tunangannya. Namun, di sisi lain, sang kakak melarang dia untuk melangkahi kakak tunangannya.
"Jangan Mas!" cegah Danita, "aku tidak mau kakak merasa bersalah. Aku juga takut kakak tersinggung. Biar nanti malam, Nita pikirkan caranya untuk bertanya kepada kakak. Nita mohon, beri Nita kesempatan sekali lagi Mas. Jika nanti malam Nita nggak sanggup, baru kita berdua menemui kak Niar," jelas Danita
"Baiklah kalau begitu," pungkas Roni mengakhiri pembicaraannya.
Tak lama berselang, Roni memanggil pelayan untuk membayar tagihan. Melihat calon adik iparnya menengok ke arahnya, Daniar buru-buru memalingkan wajah. Dia pun segera beranjak dari tempat itu untuk menghindari pertemuan dia dengan adik dan calon adik iparnya.
Hati yang mulai tenang, kini kembali gundah. Daniar segera keluar dari mall. Tiba di lobi mall, dia pun menaiki taksi yang tengah berhenti menunggu penumpang.
"Jalan, Pak!" perintah Daniar kepada sopir taksi tersebut.
Tak lama berselang, mobil pun melaju membelah jalanan kota. Sepanjang jalan, Daniar merasa bingung dan kembali kecewa. Dia bingung harus memberikan jawaban seperti apa jika adiknya mendesak Daniar untuk menikah. Dan dia juga merasa kecewa terhadap dirinya sendiri. Dia kecewa karena telah menjadi penghalang kebahagiaan sang adik.
"Maafkan Kakak, Dek?" gumam Daniar.
.
__ADS_1
.
Singgasana malam mulai melebarkan sayapnya. Dengan alasan tidak enak badan, Daniar melewatkan makan malamnya bersama keluarga.
Tok-tok-tok!
"Kak Niar, apa Nita boleh masuk?" pinta Danita dari depan pintu kamar Daniar.
"Hhh, akhirnya," gumam Daniar, menghela napasnya. "Masuk aja, Dek! Pintunya tidak dikunci."
Daun pintu itu terbuka lebar. Danita memasuki kamar Daniar dengan jantung yang berdebar hebat.
"Kakak, a-apa Ka-kak punya waktu u-untuk bicara?" tanya Danita gugup.
Daniar tahu apa yang sebenarnya ingin dikatakan sang adik. Namun, dia berpura-pura tidak tahu agar adiknya tidak merasa canggung.
"Bicara apa, Dek?" tanya Daniar.
"A-anu ... mm, i-itu Kak ... Ni, emh Nita ma-mau ta-nya sesuatu sa-sama kakak."
Danita semakin terbata. Rasanya, lidah Danita sulit bergerak. Namun, dia mencoba menguasai Kegugupannya saat bayangan calon suami melintas di benak Danita.
"Apa ini tentang pernikahan kamu?" tanya Daniar yang sudah sangat mengetahui arah pembicaraan adiknya.
Mata Danita seketika membulat sempurna saat mendapati pertanyaan Daniar.
"Dari mana Kakak tahu soal itu?" tanya Danita seraya duduk di samping Daniar.
"Sudahlah, Dek. Tidak penting dari mana Kakak tahu permasalahan kamu. Yang terpenting saat ini, satu hal yang harus kamu ketahui. Menikahlah tanpa harus memikirkan Kakak. Demi Tuhan, Dek. Kakak ikhlas jika kamu melangkahi Kakak," jawab Daniar, tulus.
"Ta-tapi masalahnya, kak Erin melarang mas Roni untuk melangkahi Kakak," jawab Danita.
Suasana hening untuk beberapa saat. Hingga akhirnya,
Brugh!
Danita menjatuhkan dirinya dan berlutut di hadapan Daniar.
"Nita mohon Kak, tolong segera cari seorang pendamping untuk Kakak. Supaya Nita lekas menikah," desak Danita
__ADS_1
Daniar hanya bisa melongo mendengar desakan Danita yang memintanya segera menikah.
Ya Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali.