
Berita tentang tragedi yang terjadi kepada Daniar, telah sampai ke telinga Bu Salma. Dengan perasaan cemas, Bu Salma kemudian menelepon putri keduanya.
Danita yang sedang rebahan di samping suaminya, begitu terkejut mendapati teleponnya berdering.
"Ibu," gumam Danita yang masih bisa didengar oleh Roni.
"Cepat diangkat, Sayang. Siapa tahu penting," perintah Roni.
"Iya, Mas," jawab Danita seraya menggeser tombol hijau.
"Halo, assalamu'alaikum Nita," sapa Bu Salma di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam, Bu," jawab Danita, "loh, kenapa suara Ibu terdengar bergetar?" tanya Danita yang merasa heran saat mendengar suara ibunya.
"Ibu mencemaskan keadaan kakak kamu, Nit. Jika ada waktu luang, besok kamu tolong jenguk kakak kamu di rumah," pinta Bu Salma.
"Memangnya, ada apa dengan Kak Niar, Bu?" tanya Danita seraya mengerutkan keningnya.
"Kakak kamu kena tendang si Ilham yang gila itu," jawab Bu Salma terdengar geram. Ya, ibu mana pun juga pasti akan merasa marah dan sakit hati saat mendengar kabar buruk tentang anaknya.
"Ish, kok bisa sih, Bu? Memangnya kapan kak Niar ketemu kak Ilham? Bukankah sudah bertahun-tahun kak Ilham tidak pernah keluar rumah?" tanya Danita yang ikut-ikutan mencemaskan keadaan kakaknya.
"Tadi sih, Hana bilang mereka hendak menginap di rumah wak Sumi. Entah setan sari mana hingga si Ilham memukuli kakak ipar kamu secara membabi buta," jawab Bu salma
"Ish, ada-ada saja. Ya sudah, Bu. Besok kalau Mas Roni pulang kantor, Nita minta temenin ke Tasik, deh," balas Danita.
"Bener ya, Dek. Ibu minta tolong banget sama kamu, tolong tengok kakak kamu. Ibu sangat khawatir dengan keadaan kakak kamu," lanjut Bu Salma.
"Iya, Bu ... iya. Ibu tidak usah cemas lagi, fokus saja sama kesehatan ayah di sana. Biar kak Niar, Nita yang rawat di sini," jawab Danita.
"Iya. Makasih ya, Dek. Kalau gitu, Ibu tutup teleponnya, assalamu'alaikum!" pamit Bu Salma
"Wa'alaikumsalam," jawab Danita seraya mengembalikan benda pipih itu ke atas nakas.
.
.
__ADS_1
"Gimana, Neng. Sudah enggak tegang lagi?" tanya Mak Niah, seorang dukun beranak yang tak lain adalah ibunya Bu Hana.
Daniar hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Mak Niah.
"Alhamdulillah, sepertinya dedek bayinya sudah tidak kaget lagi," lanjut Mak Niah.
"Apa bayi saya baik-baik saja, Mak?" tanya Daniar terlihat cemas.
"Kalau Mak pegang sih, bayinya tidak apa-apa, Neng. Tadi detak jantungnya tidak terasa mungkin hanya karena kaget saja. Namun, sebaiknya Neng di-USG saja untuk memastikan jika bayinya memang baik-baik saja," saran Mak Niah.
Daniar hanya bisa mengangguk pelan mendengar saran Mak Niah. Pergi USG? Uh, sungguh itu hal yang tidak terbayangkan dalam benak Daniar. Biaya USG, 'kan lumayan mahal juga. Daniar harus pintar-pintar nabung buat biaya persalinannya, kelak.
"Apa saya sudah boleh pulang, Mak?" tanya Daniar lagi.
"Memangnya Neng kuat buat jalan?" Mak Niah malah balik bertanya.
"Insya Allah kuat, Mak," jawab lirih Daniar.
"Baiklah, ayo Mak bantu," pungkas Mak Niah seraya membantu Daniar bangun dan berdiri.
"Maafin Niar, Kang. Seharusnya Niar enggak ngajak Akang nginep di rumah wak Sumi. Semuanya ini enggak akan terjadi kalau Niar nggak memenuhi permintaan uwak," ucap Daniar merasa bersalah kepada suaminya.
"Sst, sudahlah Niar. Akang baik-baik saja. Justru Akang yang ngerasa bersalah sama kamu. Akang tidak bisa berbuat apa-apa saat kamu mendapatkan musibah itu. Bagaimana keadaan kamu? Pasti sakit, ya. Maafkan Akang, Yar," ungkap Yandri.
Daniar menggelengkan kepalanya. "Kata Mak Niah, dedek bayinya tidak apa-apa, Kang. Bukankah begitu, Mak?"tanya Daniar kepada Mak Niah.
"Iya, bayinya baik-baik saja," sahut Mak Niah.
"Tuh, Akang denger sendiri,'kan? Kita pulang, yuk!" ajak Daniar kepada suaminya.
"Baiklah, kita pulang sekarang. Biar Akang gendong kamu," tukas Yandri.
"Enggak usah, Kang. Niar masih bisa jalan, kok," tolak Daniar.
"Apa kamu yakin?" tanya Yandri lagi.
Daniar menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Yandri. Setelah berpamitan kepada tuan rumah, akhirnya Yandri membawa istrinya pulang. Sepanjang jalan, banyak para warga yang bertanya tentang kejadian yang menghebohkan tadi. Namun, baik Yandri ataupun Daniar, mereka enggan membahas apa pun lagi. Karena itu mereka hanya tersenyum menjawab pertanyaan warga.
__ADS_1
Tiba di rumah. Yandri segera membawa istrinya memasuki kamar. Dia membantu istrinya untuk berbaring di atas ranjang.
"Istirahatlah, Yar. Biar Akang buatkan susu hangat dulu," kata Yandri.
Daniar tidak menjawab, dia hanya memejamkan kedua matanya. Sesaat kemudian, Yandri pergi ke dapur untuk membuat segelas susu coklat.
Daniar masih asyik memejamkan mata seraya mengusap-usap perutnya. Dia mencoba untuk tetap tenang dan berpikiran positif saat tidak merasakan pergerakan dari bayinya. Biasanya, ketika Daniar mengusap perutnya, si bayi akan cepat merespon dengan melakukan gerakan-gerakan kecil. Tapi sekarang, entahlah ....
"Diminum dulu susunya, Yar. Mumpung masih hangat."
Tiba-tiba suara Yandri membuyarkan lamunan Daniar. Sontak Daniar membuka mata. Dia melihat suaminya tengah menyodorkan segelas susu coklat. Daniar kemudian bangun dan mengambil susu coklat tersebut dari tangan Yandri. Sedetik kemudian, dia mereguknya. Rasa hangat mulai menjalari kerongkongan dan perut Daniar.
"Semoga kamu sehat-sehat saja di dalam perut Bunda ya, Dek?" ucap Yandri seraya mencium perut istrinya.
"Kang," panggil Daniar, pelan.
Yandri mendongak. "Kenapa, Yar? Kamu butuh yang lainnya?" tanya Yandri.
Daniar menggelengkan kepala
"Lalu?"
"Mak Niah menyarankan, sebaiknya kita melakukan USG untuk memastikan keadaan dedek," sahut Daniar.
Deg!
Yandri cukup terkejut mendengar perkataan istrinya. USG? Bukannya Yandri tidak mau melakukan hal tersebut. Bahkan, dari usia kandungan Daniar menginjak lima bulan pun, Yandri ingin sekali membawa istrinya untuk USG. Yandri ingin tahu perkembangan buah hatinya. Hanya saja, sayangnya keadaan ekonomi Yandri sampai saat ini pun, tidak mendukung keinginannya. Dan sekarang ... Yandri benar-benar bingung harus berbuat apa.
"Tapi Niar rasa, dedek bayinya pasti kuat. Iya, 'kan, Kang? Hmm, ngapain juga di-USG, kita percayakan saja semuanya pada Allah," tukas Daniar tidak ingin membebani suaminya lagi.
Yandri meraih tangan Daniar dan mengecupnya. "Insya Allah, besok kita USG untuk memastikan keadaan bagi kita, Yar," ucap Yandri.
"Ta-tapi, biayanya?" tanya Daniar, ragu.
"Tidak usah cemaskan soal itu. Selama Akang masih mampu berikhtiar, Akang bakalan melakukan yang terbaik untuk kamu dan anak kita. Sekarang tidurlah. Tidak usah banyak pikiran lagi, kasihan bayi kita," perintah Yandri seraya mengambil gelas kosong dari tangan Daniar.
"Terima kasih, Kang."
__ADS_1