Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kembali Bekerja


__ADS_3

Satu setengah jam perjalanan, Aji lewati dengan penuh kehampaan. Ditinggal Khodijah meski hanya untuk beberapa waktu, membuat sebagian jiwa Aji menguap. Semangatnya goyah karena teringat harus melewati waktunya tanpa kehadiran sang istri. Namun, Aji tidak boleh putus asa. Masih ada kedua anaknya yang harus dia perjuangkan. Aji hanya bisa berharap, semoga ada hasil baik setelah istrinya tetirah di rumah ibu mertuanya.


Mobil berbelok dan berhenti di rumah Bu Maryam. Di bantu Haidar, Aji kemudian mengangkat tubuh sang istri. Pintu rumah sudah terbuka lebar. Bu Maryam dan Habibah sudah berdiri di ambang pintu untuk menyambut kedatangan Khodijah.


"Baringkan saja di kamar Ibu!" perintah Bu Maryam kepada menantunya.


Aji mengangguk. Dia memasuki kamar ibu mertuanya dan membaringkan Khodijah di atas ranjang.


"Kamu pasti lelah, Dek. Istirahatlah!" ucap Aji.


Khodijah mengangguk. Dia kemudian memejamkan matanya. Tubuhnya benar-benar terasa pegal. Namun, di bagian kaki, dia sama sekali tidak bisa merasakan apa pun.


Setelah membaringkan Khodijah di atas ranjang ibu mertuanya, Aji kembali ke luar untuk mengambil tas yang berisi pakaian istrinya.


"Apa ini disimpan di kamar Ibu juga?" tanya Aji kepada Bu Maryam.


"Hmm...."


Hanya dehaman yang keluar dari bibir ibu mertuanya. Aji menarik napas dalam-dalam. Dia tahu jika ibu mertuanya sedang mendiamkan dirinya. Mungkin, wanita tua itu masih merasa kesal atas usahanya menyembuhkan putrinya.


Aji menyimpan dua tas besar di sudut kamar ibu mertuanya. Sejenak, dia melirik Khodijah yang tengah mendengkur halus. Aji tersenyum tipis, rupanya perjalanan tadi telah membuat Khodijah kelelahan.


"Kang Aji, dipanggil ibu."


Bisikan Habibah membuat Aji terhenyak. Dia menoleh kepada adik iparnya. "Ada apa ibu memanggil Akang, Bah?" tanya Aji.


Habibah hanya menggedikkan kedua bahunya. Sesaat kemudian, dia keluar dari kamar ibunya.


Aji mendekati ranjang. Dia menyelimuti istrinya hingga ke bagian dada. Setelah itu, Aji keluar untuk menemui ibu mertuanya.


"Ibu memanggil Aji?" ucap Aji berbasa-basi.


Bu Maryam tidak menjawab. Namun, gerakan tangannya mengisyaratkan agar Aji duduk di hadapannya.


Aji patuh. Dia kemudian duduk berhadapan dengan ibu mertua yang sedang menatap tajam kepadanya.


"Bagaimana perkembangan Khodijah?" tanya Bu Maryam.


"Alhamdulillah, Bu. Khodijah sudah mulai bisa menggerakkan kakinya. Meski untuk berjalan, dia masih memerlukan bantuan orang lain. Sekarang, Khodijah sudah bisa duduk. Tangan kanannya sudah bisa bergerak sedikit demi sedikit. Kata pak Dana, asalkan Dijah rajin berlatih, dia pasti bisa sembuh," tutur Aji.


"Pak Dana?" ucap Bu Maryam seraya menautkan kedua alisnya.


"Iya, Bu. Pak Dana, orang yang mengobati Khodijah sekarang," kata Aji.

__ADS_1


"Jadi, kamu masih membawa Dijah berobat ke tempat seperti itu," kata Bu Maryam.


"Maaf, Bu. Aji tidak punya pilihan lain," jawab Aji sambil menundukkan kepala.


Bu Maryam mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa pada menantunya itu.


"Ya sudah, kamu boleh pulang!" ucap Bu Maryam seraya memalingkan wajah.


Aji cukup terkejut mendengar ucapan ibu mertuanya. Dia menatap tak percaya kepada wanita tua yang sedikit pun tidak menanggapi keberadaannya.


"Apa Ibu sedang mengusir Aji?" tanya Aji dengan bibir bergetar.


"Terserah anggapan kamu!" ucap Bu Maryam seraya beranjak dari kursi dan pergi ke kamar meninggalkan menantunya. Tiba di kamar, Bu Maryam segera mengunci pintu kamarnya.


Hati Aji remuk redam mendapatkan perlakuan seperti ini dari ibu mertuanya. Seolah apa yang sudah Aji lakukan untuk Khodijah, tidak pernah ada artinya di depan mata sang ibu mertua.


Meskipun sekujur tubuhnya terasa lemas. Namun, Aji tetap beranjak dari tempat duduk. Sejenak, dia menatap pintu kamar ibu mertuanya yang tertutup rapat. Aji paham, mungkin ibu mertuanya tidak mengizinkan dia untuk berpamitan kepada Khodijah yang tak lain adalah istrinya.


"Akang pulang, Dek. Maaf jika Akang tidak bisa menemui kamu dulu," gumam Aji sambil berlalu pergi meninggalkan rumah ibu mertuanya.


.


.


"Alhamdulillah, Bu. Kang Yandri sudah dinyatakan sehat," jawab Daniar.


"Syukurlah kalau begitu. Terus, apa kata dokter tentang cairan bening yang suka datang tiba-tiba, Nak?" tanya Bu Salma kepada menantunya.


"Kemungkinan, itu adalah cairan otak yang merembes ketika mendapatkan tekanan. Dulu, saat periksa ke THT, Yandri diberi obat tetes untuk mencairkan lendir yang menggumpal. Karena merasa tak nyaman, Yandri sering memaksa mengeluarkan gumpalan itu hingga keluar cairan bening. Yandri pikir, itu adalah ingus, nyatanya cairan otak," tutur Yandri.


"Astaghfirullah, Yan. Hati-hati dong ... tindakan apa pun, harus berkonsultasi dulu dengan dokter," tegur Bu Salma.


"Iya, Bu. Mulai sekarang, Yandri akan lebih berhati-hati lagi," jawab Yandri.


"Ya sudah, beristirahatlah. Kalian pasti capek," lanjut Bu Salma.


Yandri dan Daniar mengangguk. Mereka kemudian berpamitan untuk pergi ke kamar. Tiba di kamar, Daniar menyuruh suaminya untuk berbaring.


"Ayah enggak ngantuk, Bun," tolak Yandri.


"Tapi Ayah butuh istirahat. Kalaupun enggak ngantuk, seenggaknya Ayah rebahan saja. Yang penting istirahat," ucap Daniar.


"Bun," panggil Yandri.

__ADS_1


"Hmm," jawab Daniar.


"Ayah, 'kan sudah dinyatakan sembuh oleh Dokter Andre. Apa Ayah bisa kembali bekerja?" tanya Yandri.


Daniar yang sedang membersihkan wajahnya, seketika menoleh mendengar pertanyaan Yandri. "Apa Ayah yakin, Ayah sudah kuat untuk bekerja lagi?"


"Insya Allah, Bun. Sudah terlalu lama juga Ayah nganggur," jawab Yandri.


"Jika memang Ayah sudah mampu bekerja lagi, Bunda enggak mungkin ngelarang Ayah. Tidak bisa Bunda pungkiri, jika kita butuh uang untuk melangsungkan kehidupan kita. Tapi jika Ayah ingin berhenti bekerja dan memutuskan untuk mencari pekerjaan di sini, Bunda juga tidak akan menghalangi," tutur Daniar.


"Hhh ... mencari pekerjaan di zaman sekarang itu cukup sulit, Bun. Tidak apa-apa, Ayah bertahan di sana saja. Semoga Ayah diberikan kesehatan seperti sedia kala," jawab Yandri.


"Pilihan ada di tangan Ayah. Bunda cuma bisa mendo'akan yang terbaik untuk Ayah," lanjut Daniar.


"Iya, Bun. Makasih karena sudah mendukung keputusan Ayah. Terima kasih juga, karena Bunda selalu setia mendampingi Ayah meski dalam keadaan terpuruk," ucap Yandri, memeluk istrinya dari belakang.


"Sama-sama, Yah. Tidak perlu berterima kasih juga. Sudah tugas Bunda untuk terus berjalan di sisi Ayah," balas Daniar.


Yandri tersenyum. Dia kemudian mengecup pucuk kepala sang istri dengan penuh kasih.


.


.


Seminggu telah berlalu. Hari ini, Yandri memutuskan untuk kembali bekerja. Dengan menggunakan kendaraan beroda empat, dia pun berniat untuk kembali ke sekolah asrama.


Sebenarnya, baik Daniar ataupun Bu Salma, mereka merasa khawatir saat Yandri memutuskan pergi ke Indramayu membawa kendaraan sendiri. Namun, sifat Yandri yang keras kepala, hanya bisa membuat kedua wanita beda generasi itu menarik napas panjang.


"Cukup do'akan saja, Bun. Semoga Ayah selamat sampai tujuan," ucap Yandri.


Daniar tersenyum, "Iya, Yah. Do'a Bunda selalu menyertai Ayah."


Yandri beralih menatap ibu mertuanya. "Yandri pamit dulu, Bu. Titip Niar sama Bintang," ucapnya kepada ibu mertua.


Bu Salma mengangguk. "Pergilah. Tidak usah ngebut, Nak. Berhenti saja jika sudah merasa lelah. Biar lambat, asal selamat," nasihatnya.


"Baik, Bu," jawab Yandri. Setelah berpamitan kepada ibu mertuanya, Yandri kemudian menemui Bintang dan berkata, "Ayah kerja dulu ya, Nak. Belajar yang baik, supaya pintar. Jangan lupa, jagain Bunda, ya."


Bintang mengangguk. Gadis kecil yang sudah duduk di bangku kelas 2 itu pun memeluk ayahnya. "Hati-hati di jalan, Ayah," bisiknya di telinga Yandri.


Yandri tersenyum seraya membalas pelukan putrinya. "Sudah pasti, Nak," jawab Yandri.


Tak lama berselang, Yandri menaiki mobilnya dan mulai melajukan kendaraan itu, keluar dari halaman rumah ibu mertuanya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim ...."


__ADS_2