Setelah Hujan

Setelah Hujan
Entah Siapa yang Salah


__ADS_3

"Loh, Ibu kok belum makan?" tanya Yandri begitu tiba di kamar.


"Ibu sengaja nungguin kamu sama Niar, Yan," jawab Bu Maryam.


"Emang Daniar-nya ke mana, Bu?" Yandri kembali bertanya.


"Dia sedang salat. Ini teh kamu, Nak" kata B Maryam seraya menyerahkan teh manis yang sudah diaduknya


"Eh, kok Ibu yang bikin, sih," tukas Yandri.


"Hmm, mungkin istri kamu lupa, Yan," jawab Bu Maryam.


"Masak, sih. Biasanya Daniar tidak pernah lupa sama kewajibannya," jawab Yandri.


"Ya, namanya juga manusia, Yan. Apalagi anak kamu tadi rewel. Sudah tidak usah dibahas lagi, buatan Ibu ataupun Daniar, toh sama saja, 'kan?" kata Bu Maryam.


"Ya tidak seperti itu juga, Bu. Yandri cuma heran saja, kok bisa, Daniar lupa sama tugasnya," timpal Yandri.


"Eh Yan, kamu punya kopi atau susu coklat enggak? Ibu pengen minum yang manis-manis. Ya kamu sendiri tahu, 'kan, kalau Ibu enggak bisa minum teh manis," ucap Bu Maryam.


"Memangnya Daniar enggak beliin Ibu susu coklat?" tanya Yandri seraya mengerutkan keningnya.


"Boro-boro beli, Nak. Nawarin juga enggak. Tapi ya wajar saja, Daniar mungkin tidak tahu kebiasaan Ibu kalau lagi buka puasa," jawab Bu Maryam.


"Ish, ya enggak gitu juga, Bu. Kalau emang enggak tahu, ya seharusnya dia bertanya sama Ibu. Biar dia tahu apa yang menjadi kebiasaan Ibu. Bukankah Ibu ini mertuanya?" balas Yandri.


"Hanya mertuanya, Yan. Mungkin bagi istri kamu, Ibu ini hanya sekadar mertua saja. Dan posisi mertua selalu beda dengan posisinya ibu di mata seorang menantu," jawab lirih Bu Maryam.


"Enggak gitu juga, Bu. Yandri selalu anggap mertua Yandri seperti ibu kandung sendiri," tukas Yandri.


"Itu, 'kan kamu, mungkin beda dengan pendapat istri kamu. Ya sudah, sebaiknya kamu susul Daniar ke mushola, kita makan bersama," pungkas Bu Maryam.


Daniar tertegun di depan pintu mendengar percakapan mereka.


Ya Tuhan ... apa-apaan ini? Kenapa perkataan ibu berbeda sekali dengan apa yang tadi beliau katakan padaku? Apa salahku sampai ibu tega membalikkan semua kebenaran yang ada? jerit Daniar dalam hatinya.

__ADS_1


Saat dia melihat handle pintu bergerak, Daniar segera menjauhi daun pintu. Sesaat kemudian pintu terbuka. Yandri dan Daniar saling beradu pandang. Dan entah kenapa, Daniar bisa merasakan tatapan yang begitu tajam dari suaminya.


"Kenapa salatnya lama sekali? Apa kamu tidak tahu kalau ibu sudah lama nungguin kamu untuk makan bareng," tegur Yandri, sedikit meninggikan nada suaranya.


Daniar tidak menjawab. Dia melangkahkan kakinya hendak masuk kamar.


"Tunggu sebentar Bun, Ayah mau bicara," kata Yandri yang langsung menghentikan langkah Daniar.


"Kenapa kamu tidak menawari Ibu minuman susu coklat?" tanya Yandri lagi.


"Tadi Daniar sudah tawari ibu, tapi ibu bilang tidak usah," jawb Daniar, mencoba membela dirinya sendiri.


"Ish Niar, harusnya kamu pergi ke warung tadi. Meskipun memang ibu menolaknya. Sebagai seorang anak, kamu tidak harus menunggu ibu meminta, 'kan?" timpal Yandri.


"Tapi, 'kan Niar sudah tawarin ibu kok. Bahkan Ni–"


Omongan Daniar terhenti saat dia melihat ibunya keluar seraya membawa tas.


"Loh, Ibu mau ke mana?" tanya Yandri.


"Aih Ibu, siapa juga yang sedang bertengkar? Yandri hanya sedang menegur Daniar saja," jawab Yandri.


"Menegur kok nadanya tinggi, Yan. Bicara sama istri itu harus lemah lembut, Nak. Ibu enggak pernah loh, ngajarin kamu berbicara tinggi sama perempuan," ucap Bu Maryam.


"Iya, Bu. Maafkan Yandri. Ya sudah, sekarang kita masuk yuk. Kita makan bersama," pungkas Yandri seraya memapah Bu Maryam untuk kembali masuk ke kamarnya.


Daniar tersenyum kecut. Drama apa lagi ini, Bu? batinnya.


Ah, entah siapa yang salah? Namun, Daniar merasa jika kedatangan ibunya mungkin hanya untuk membuat kisruh rumah tangganya saja.


Daniar memasuki kamar. Dia mendudukkan Bintang di atas karpet. Memberinya makanan agar anak itu diam dan tidak mengacak-acak makanan yang dihidangkan di meja. Tanpa banyak bicara, Daniar mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Setelah itu, dia serahkan piring tersebut kepada suaminya.


Daniar kembali melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak ingin bersuara. Bahkan untuk mempersilakan ibu mertuanya makan pun, dia enggan. Hatinya terasa panas, mendapatkan fitnah keji dari ibu mertuanya sendiri. Namun, Daniar hanya mampu diam.


"Kamu kenapa, Bun? Kok diam saja. Bukannya ajak Ibu ngobrol. Jarang-jarang loh, kita kedatangan Ibu," ucap Yandri yang sepertinya sudah melupakan kekesalannya kepada sang istri.

__ADS_1


Daniar masih diam. Dia sama sekali tidak ingin merespon ucapan suaminya. Tidak dia pungkiri, hatinya merasa muak melihat wajah tanpa dosa sang ibu mertua yang sudah membicarakan dirinya di belakang dia.


"Uumh ... hoeek-hoeekk!"


Tiba-tiba saja, Bu Maryam berlari keluar. Di luar, dia memuntahkan semua makanan yang tengah dikunyahnya tadi. Yandri yang melihat hal itu, segera mengambil air minum dan menyusul ibunya keluar. Sejurus kemudian, Yandri menyerahkan gelas tersebut agar ibunya segera minum.


Bu Maryam meraih gelas itu dan menenggak isinya. Dia kemudian menyeka mulutnya dan kembali menyerahkan gelas tersebut kepada sang anak.


"Ini yang masak siapa, Yan? Kok asin banget," keluh Bu Maryam setelah mencicipi masakan Daniar.


"Asin?" gumam Daniar yang tak sengaja mendengar keluhan ibunya.


Daniar kemudian mencicipi masakannya. Dahinya semakin mengernyit saat dia merasa masakannya aman-aman saja.


Ish, ini masakan gue yang terlampau enak, apa lidah ibu yang bermasalah, batin Daniar menyeringai.


"Semua masakan ini, Daniar yang masak, Bu," jawab Yandri.


"Istri kamu bisa masak enggak sih, Yan? Mie goreng yang kamu kirim tempo hari juga, rasanya aneh banget. Ya sudah, Ibu buang saja ke tempat sampah," dengus Bu Maryam, kesal.


"Kalau mie goreng, itu Yandri yang masak Bu. Maaf ya, kalau tidak sesuai dengan selera Ibu," ucap Yandri merasa bersalah.


"Eh, kamu yang masak toh. Maaf ya, Nak. Ibu tidak bermaksud menghina masakan kamu," ucap Bu Maryam, terlihat menyesal.


Di dalam kamar, Daniar tersenyum lebar mendengar percakapan ibu dan anak itu. Hmm, senjata makan tuan tuh. Rasain, batin Daniar.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa, Yandri emang enggak pandai masak seperti Daniar," jawab Yandri. "Tapi kok asin sih, memangnya Ibu tadi makan apa?" tanya Yandri.


"Itu loh, tumis kangkung," jawab Bu Maryam.


Mungkin bumbunya belum tercampur sempurna, Bu. Dan kebetulan Ibu mengambil bagian itu. Soalnya, tadi Yandri juga makan tumis kangkung, rasanya pas kok," tukas Yandri.


"Kamu bisa bilang gitu, karena kamu enggak mau bikin istri kamu kecewa. Iya, 'kan? Ya sudah, Ibu mau goreng telur saja. Tadi Ibu lihat di kotak makanan ada beberapa butur telur ayam," kata Bu Maryam.


"Ya sudah, biar Yandri bikinkan telur mata sapi kesukaan Ibu, ya. Sekarang, kita masuk lagi, yuk!" ajak Yandri memapah ibunya.

__ADS_1


Tiba di kamar, Bu Maryam melirik Daniar yang seolah-olah tidak mendengar percakapan mereka. Wajahnya kembali kecut saat melihat Daniar senyam-senyum sendiri. Ish, kenapa anak itu malah kelihatan senang banget, batin Bu Maryam.


__ADS_2