
Rasa sakit Yandri sedikit terobati saat mendapatkan perhatian dari keluarga besar Tania. Hampir setiap hari, baik Tania ataupun pak Alam, selalu menanyakan kabar Yandri. Di tambah lagi, perhatian Bu Salma yang begitu berlebihan, membuat Yandri merasa bukan sebagai menantu di tengah-tengah keluarga besar sang istri. Bahkan, tak jarang dia melihat mertuanya berdebat dengan Daniar ketika Daniar terlalu sibuk dengan pekerjaan sekolah.
"Mbok ya kebutuhan suami kamu itu diperhatiin loh, Ni. Jangan cuma pramuka terus yang kamu urusin," tegur Bu Salma saat melihat anaknya sore hari baru pulang melatih pramuka.
"Ish, Ibu. Sudah pasti atuh, itu mah yang utama. Lagi pula, Niar ngelatih pramuka juga atas izin kang Yandri. Bener, 'kan Yah?" ucap Daniar meminta dukungan suaminya.
Yandri tersenyum mendengar ucapan Daniar. "Iya, Bu. Yandri sudah izinkan kok."
"Huh, bisa besar kepala tuh anak!" dengus Bu Salma.
"Ih, Ibu makan apa, sih? Perasaan ngegas mulu dari tadi," keluh Daniar.
Yandri hanya tersenyum tipis mendengar perdebatan ibu dan anak itu. Ya, perdebatan-perdebatan seperti inilah yang membuat keluarga Daniar semakin hangat.
.
.
Selepas salat isya, Daniar kehilangan suaminya. Entah menghilang ke mana pria jangkung itu. Padahal baru beberapa hari ini dia bisa kembali berjalan. Meskipun masih perlahan.
"Apa Ibu melihat kang Yandri?" tanya Daniar kepada ibunya.
Bu Salma yang sedang menonton TV, seketika menoleh. "Enggak tuh, Ni. Ibu enggak lihat suami kamu," katanya.
"Ih, ke mana perginya kang Yandri?" gerutu Daniar.
"Kenapa, Kak?" Tiba-tiba Danisa sudah berdiri di belakang Daniar.
"Ish, ngagetin aja kamu, Dek!" tukas Daniar seraya menepuk pelan bahu adiknya.
"Idih, siapa juga yang ngagetin Kakak," ucap Danisa. "Kakak tuh yang kebanyakan bingung, mangkanya ditegur gitu langsung kaget. Lebay!" lanjut Danisa.
"Apaan sih, Dek. Ini Kakak lagi bingung nyariin abang kamu. Heran deh, baru bisa jalan dikit aja, dah kelayapan. Huft!" Kembali Daniar menggerutu seraya membuang napasnya dengan kasar.
"Hadeuh, tibang bang Yandri ngilang doang. Huh, Nisa pikir ada apaan," tukas Danisa. "Noh, bang Yandri ada di kebun belakang. Katanya sih, lagi nyari pisang mateng. Abis dia ngerasa bosan tiduran di kamar terus," lapor Danisa.
"Astaghfirullah! Ngapain nyari pisang malam-malam begini? Bener-bener ya, punya laki atu enggak pernah bisa disayangi." Daniar kembali menggerutu seraya melangkahkan kaki menuju halaman belakang.
Di kebun belakang. Yandri menatap kosong pohon pisang yang berjajar rapi. Sepertinya, pikiran dia sedang kembali berkelana entah ke mana. Hingga dia sama sekali tidak mendengar panggilan Daniar.
__ADS_1
Sudah hampir hampir sepekan Yandri pulang dari rumah sakit. Namun, kakak tertuanya belum juga datang. Padahal, jarak antara rumah Aminah dengan rumah ibu mertuanya tidaklah jauh. Mungkin hanya sekitar seperempat jam saja.
Yandri sadar, mungkin kakaknya itu tengah sibuk mempersiapkan pernikahan anaknya. Tapi jika memang mereka memiliki niat menjenguknya, ya apa salahnya meluangkan waktu setengah jam saja untuk melihat keadaan dirinya. Meski Yandri kecewa, tapi dia masih berpikiran positif tentang Aminah.
"Sudahlah, mungkin mereka sedang sibuk juga," gumam Yandri.
"Siapa yang sibuk, Yah?"
.
.
Di rumah Aminah. Rahmat tampak berjalan ke sana kemari seraya memberikan pengarahan kepada orang yang sedang mendekorasi pelaminan. Sedangkan Aminah, dia juga begitu sibuk mengatur orang-orang yang sedang memasak makanan untuk para tamu undangan.
Ya, pernikahan Nisa hanya tinggal dua hari lagi. Karena itu mereka terlihat sibuk untuk mempersiapkan segalanya, sampai-sampai mereka lupa jika Yandri sudah pulang dari rumah sakit.
Hari ini, Bu Maryam datang ke rumah Aminah. Setelah cucu pertamanya menikah, kini giliran cucu keduanya yang akan naik ke pelaminan.
"Hm, ternyata Ibu sudah sangat tua, ya Minah. Sudah dua cucu Ibu yang menikah. Bulan depan, entah anak siapa lagi yang akan naik pelaminan," ucap Bu Maryam.
"Hmm, Ibu bisa saja. Oh iya, Bu. Apa Ibu sudah menjenguk Yandri di rumahnya?" tanya Aminah.
"Kenapa, Bu?" Aminah kembali bertanya.
"Tidak ada orang yang mengantarkan Ibu," jawab Bu Maryam.
"Ish, masak sih. Terus si Bahar ke mana?" tanya Aminah.
"Dia sibuk ngojek, Nah." Kembali Bu Maryam menjawab seraya menggulung kudapan dengan daun pisang.
"Yoga? Apa Yoga juga tidak punya waktu buat mengantarkan Ibu?" timpal Rahmat.
"Yoga sibuk sama bisnis burungnya," sahut Bu Maryam.
"Astaga ... benar-benar enggak ada yang bisa diharapkan, tuh anak. Lalu Raihan sendiri? Ibu enggak minta Raihan buat nganterin?" tanya Aminah lagi.
"Huh, apalagi dia, Nah. Kamu sendiri tahu gimana kelakuan dia," tukas Bu Maryam.
Aminah hanya bisa menghela napasnya. Sebenarnya dia sendiri merasa bersalah karena belum mengunjungi sang adik. Namun, dia memiliki alasan tersendiri kenapa sampai detik ini belum menjenguk Yandri.
__ADS_1
"Sudahlah, Bu. Setelah acara pernikahan Anisa selesai, nanti kita jenguk Yandri bareng-bareng," pungkas Bu Maryam mencoba menghibur ibunya.
Dalam hati, Bu Maryam tersenyum kecut. Entahlah, meskipun dia merasa khawatir dengan kondisi putranya, tapi rasa khawatir itu sama besarnya dengan rasa kesal yang dimiliki Bu Maryam kepada Yandri yang lebih memilih Daniar dibandingkan dirinya.
.
.
Hari ini adalah hari bersejarah bagi keponakan Yandri yang begitu disayanginya. Yandri merasa bersalah karena tidak bisa menghadiri acara pernikahan Nisa. Dia sudah meminta Daniar untuk pergi dan mewakili dirinya. Namun, Daniar tidak mau.
Daniar merasa kecewa dengan sikap Aminah dan suaminya. Dia masih merasa kesal karena Rahmat dengan terang-terangan menyepelekan operasi yang dilakukan Yandri. Terlebih lagi sampai detik ini, kedua orang itu belum juga menjenguk suaminya. Padahal, suaminya sampai mengalami kecelakaan, itu karena membela kebutuhan mereka juga.
"Astaga, saudara seperti apa mereka? Di saat adiknya terkapar, tapi mereka masih bisa bersuka ria dengan pesta anaknya," keluh Daniar saat dia melihat foto-foto pernikahan Anisa yang dikirim melalui grup chat keluarga.
Karena merasa kesal, Daniar langsung keluar dari grup itu. "Huh, menyebalkan!" gerutu Daniar dengan sangat kesal.
"Kenapa keluar dari grup keluarga, Bun?" tanya Yandri saat melihat istrinya memasuki kamar.
"Enggak penting juga," jawab Daniar tersenyum kecut.
"Apa kamu sudah lihat foto-foto pernikahan Nisa? Cantik sekali, ya," kata Yandri.
"Hmm," jawab Daniar.
Yandri menghela napas. Dia tahu kalau istrinya sedang merasa kesal saat ini.
"Kemarilah, Bun!" perintah Yandri seraya merentangkan kedua tangannya.
Daniar menghambur ke dalam pelukan Yandri. Air mata yang tadi menggenang, tak sanggup dia bendung lagi. Rasa hangat mulai terasa di dada bidang Yandri.
"Kenapa, Bun? Katakan saja! Tidak baik memendam perasaan sendiri," ucap Yandri seraya mengusap punggung istrinya.
"Entahlah, Yah. Bunda rasanya belum ikhlas menerima perlakuan saudara Ayah. Mereka bisa bersenang-senang di atas semua penderitaan Ayah. Padahal, Ayah seperti ini karena bela-belain kebutuhan mereka. Tapi kenapa di saat Ayah terkena musibah, mereka tidak datang menjenguk Ayah. Tasik-Singaparna itu enggak jauh, hanya seperempat jam saja. Tapi kenapa kak Aminah sama kang Rahmat enggak bisa meluangkan waktu untuk melihat ayah? Padahal, Anisa bisa menikah juga itu tak lepas dari campur tangan Ayah," ungkap Daniar meluapkan keluhannya.
Yandri hanya tersenyum tipis mendengar keluh kesah Daniar.
"Sudahlah Bun, jangan terlalu dipikirkan. Mereka saja tidak pernah memikirkan kita. Lantas, kenapa kita harus memikirkan mereka?" balas Yandri.
Daniar hanya menghela napas saat sang suami menanggapi keluhan Daniar dengan santai.
__ADS_1
Ish, kang ... mulia sekali hati kamu.