
Yandri bergumam pelan seraya menatap Khodijah yang sedang terbaring tak berdaya. Sejenak, dia mematung. Tak ada lagi postur tubuh berisi milik kakaknya dulu. Tubuh Khodijah terlihat kurus dari terakhir Yandri bertemu dengannya setahun yang lalu.
"Yan!"
Panggilan lirih Khodijah seketika menyadarkan Yandri dari keterpakuannya. Dia kemudian berjalan menghampiri ranjang sang kakak. Meski bau pesing tercium sangat menyengat. Namun, Yandri tidak menghiraukannya.
"Apa kabar, Kak?" sapa Yandri mencium punggung tangan kakaknya yang kaku.
"Ba-ik," jawab Khodijah terbata. Tak terasa, kedua sudut matanya telah berair karena merasa terharu dengan kedatangan Yandri.
Daniar ikut mendekat. Perutnya mulai bergejolak saat mencium aroma di kamar kakak iparnya. Namun, dia mencoba menahannya. Beruntung, setelah bersalaman dengan Khodijah, ponsel Daniar berdering. Akhirnya dia memiliki alasan untuk segera keluar dari kamar yang beraroma tak karuan.
"Sebenarnya Kak Dijah itu terkena penyakit apa Kang? Kok bisa sampai seperti ini. Setahu Yandri, Kak Dijah tidak punya riwayat darah tinggi, kan?" tanya Yandri, memulai perbincangan.
"Sebulan setelah lebaran, kakak kamu pernah terkena stroke ringan, Yan. Akang pernah membawa kakak kamu ke puskesmas dibarengi sama alternatif juga. Alhamdulillah, sempat sembuh. Mulai bisa berjalan meskipun membutuhkan alat untuk berpegangan. Namun, sebulan setelah sembuh, tiba-tiba saja kaki kakak kamu terasa lemas, hingga akhirnya dia terjatuh. Saat Akang membawanya ke rumah sakit, dokter mendiagnosis bahwa kakak kamu telah salah mengkonsumsi obat, dan efek samping obat tersebut menyerang saraf kakinya," tutur Aji panjang lebar.
Yandri hanya bisa beristighfar dalam hati. Dia benar-benar tidak menyangka jika kakaknya akan mengalami kelumpuhan seperti ini.
"Lantas? Kang Aji sudah membawa Kak Dijah ke mana saja?" tanya Yandri.
"Akang hanya bisa membawa Khodijah ke tempat pengobatan alternatif saja. Terus terang, Akang memang tidak mampu membawa Khodijah ke rumah sakit. Meskipun biaya rumah sakit itu gratis, tapi, 'kan banyak prosedurnya. Dan semua itu membutuhkan uang. Lagi pula, jarak dari rumah ke rumah sakit umum sangat jauh, dan semuanya tidak terlepas dari biaya juga," papar Aji.
Yandri menghela napasnya. Apa yang dikatakan Aji memanglah benar. Yandri pun merasakan hal yang sama saat dulu dia dan istrinya harus bolak-balik rumah sakit pasca kecelakaan.
"Yandri paham maksud Akang. Yandri dan Daniar juga pernah berada di posisi Akang. Semuanya memang terasa sangat sulit. Namun, mengeluh pun tidak akan menyelesaikan ujian. Kuncinya, hanya ikhlas, sabar dan tawakal," timpal Yandri.
"Iya, kamu benar Yan. Makanya Akang sama sekali tidak pernah menceritakan keadaan Akang dan kakak kamu kepada siapa pun. Bagaimanapun pemikiran mereka tentang Akang, hmm Akang sudah tidak peduli. Karena hanya Akang dan kakak kamu yang lebih tahu tentang usaha Akang untuk menyembuhkan kakak kamu," lanjut Aji.
Daniar yang tanpa sengaja menguping pembicaraan mereka, seketika menautkan kedua alisnya. Dia heran kenapa kakak iparnya berpendapat seperti itu. Apa ada orang yang mempertanyakan usaha Kang Aji dalam penyembuhan Kak Dijah? batin Daniar.
Hmm, kalau pun ada, Daniar sendiri sudah bisa menebak siapa orang yang meragukan itu.
__ADS_1
"Kasihan juga kang Aji," gumam Daniar.
"Memangnya wak Aji kenapa, Bun?" celetuk Bintang yang sudah berdiri di samping Daniar.
Daniar melonjak kaget.
"Ish kamu, Dek ... ngagetin aja!" tukas Daniar yang langsung menepuk pelan bahu anaknya.
Selang beberapa jam, Yandri dan Daniar berpamitan untuk pulang. Kondisi Yandri yang belum pulih, memaksa Yandri untuk mengakhiri kunjungannya. Ditambah lagi, Daniar berbisik kepada Yandri jika perutnya terasa mual. Seolah hendak muntah saja.
"Insya Allah, nanti Yandri carikan alamatnya, Kang. Kalau sudah ketemu, Yandri jemput Kak Dijah ke sini," kata Yandri sebelum berpamitan pulang.
"Tidak usah dijemput, Yan. Akang takut merepotkan. Biar Akang saja yang ke sana. Lagi pula, kamu, 'kan habis menjalani operasi besar. Jangan terlalu kecapean juga. Takut nge-drop," timpal Aji.
"Enggak lah, Kang. Insya Allah, Yandri kuat. Mumpung Yandri masih cuti juga," sahut Yandri.
"Iya, terserah kamu saja, Yan. Terima kasih sebelumnya," lanjut Aji.
"Wa'alaikumsalam."
.
.
Di lain tempat.
Bu Maryam yang begitu mengkhawatirkan kondisi putrinya, menjadi serba salah. Sejujurnya, dia ingin membawa Khodijah keluar dari rumah suaminya. Namun, Bu Maryam pun tak tahu harus menempatkan Khodijah di mana.
Bersamanya?!
Jelas tidak mungkin, karena dia juga hidup menumpang di rumah suaminya. Namun, menempatkan Khodijah di rumahnya sendiri, itu pun bukan ide yang sangat bagus. Siapa yang akan merawat Khodijah nanti di sana. Sungguh sebuah dilema yang cukup berat.
__ADS_1
"Kak Dijah itu enggak bisa sembuh kalau enggak ditangani secara medis juga," pendapat Habibah saat Bu Maryam menceritakan kondisi putri keduanya.
"Iya, Ibu tahu itu. Ibu juga sudah bilang seperti itu sama suaminya. Tapi si Aji malah bilang jika dia tidak punya uang untuk membawa Khodijah berobat ke rumah sakit," jawab Bu Maryam.
"Ya, 'kan pengobatan penyakit seperti itu cukup memakan biaya juga, Bu. Bibah bisa ngerti omongan kang Aji. Kita, 'kan tahu apa pekerjaan kang Aji," balas Habibah.
"Kalau sadar penghasilannya tidak mencukupi, ya harusnya dia berusaha keras untuk mencari tambahan," tukas bu Maryam kesal.
"Huh, Ibu. Memang cari kerja lain itu mudah," sahut Bahar.
"Ya susah kalau enggak mau berusaha keras. Macam kamu yang enggak mau berusaha untuk merubah nasib," balas Bu Maryam ketus.
"Ya terus ... apa yang bisa ibu lakukan? Toh dengan menggerutu di sini pun, tidak akan membuat kak Dijah menjadi sembuh," balas Habibah yang merasa tak enak hati saat suaminya disindir ibunya.
"Nasib Ibu memang tidak pernah beruntung. Punya banyak anak, tapi di saat salah satunya terkena musibah, semuanya hanya bisa berpangku tangan. Percuma punya anak banyak tapi tidak bisa saling mengasihi. Hidup seorang-seorang, seolah tidak pernah memiliki saudara saja," keluh Bu Maryam.
Raihan yang mendengar keluhan ibunya, segera keluar dari kamar. Sambil berkacak pinggang, dia menghampiri kerumunan ibu dan anak yang tengah membicarakan kakak keduanya.
"Kenapa Ibu harus mengeluh kepada kami yang memang memiliki kehidupan pas-pasan. Harusnya, Ibu sampaikan keluhan Ibu itu kepada bang Nauval atau bang Yandri. Bukankah di antara semua anak-anak Ibu, hanya mereka yang garis nasibnya beruntung?" celetuk Raihan.
"Betul itu, Bu. Bahkan kang Rahmat bilang, Yandri sudah membeli mobil. Itu artinya, dia punya banyak duit, Bu. Kenapa Ibu enggak minta bantuan Yandri saja untuk membawa Dijah ke rumah sakit?" timpal Bahar, memprovokasi mertuanya.
Kegundahan di raut wajah bu Maryam seketika sirna mendengar pendapat anak dan menantunya. Ada benarnya juga ide mereka. Hmm, kenapa tidak pernah terpikirkan ke sana? batinnya.
"Ya sudah, nanti Ibu coba hubungi Yandri," pungkas Bu Maryam seraya beranjak dari bangku kecil yang sedari tadi diduduki.
Beberapa menit setelah Bu Maryam menghilang.
"Wah, ide kamu hebat, Dek! Jadinya kita enggak harus pusing-pusing lagi dengerin keluhan ibu, celetuk Habibah setelah ibunya pernah.
"Hmm, siapa dulu ... Raihan gitu loh!"
__ADS_1