Setelah Hujan

Setelah Hujan
Rencana Ulang Tahun


__ADS_3

Selesai kumandang azan, Yandri mengayunkan langkahnya menuju masjid. Diikuti oleh ketiga anak didiknya. Sedangkan Reska, dia menemani Daniar di kamar. Kedua wanita berbeda generasi itu, secara bergantian menunaikan salat magrib. Karena mereka harus menjaga Bintang yang mulai aktif merangkak.


Usia Bintang baru menginjak sepuluh bulan. Meskipun belum bisa berjalan. Namun, gadis cilik bermata coklat itu sangat aktif bergerak. Dia selalu merangkak keluar jika melihat pintu terbuka. Karena itu, Daniar dan Yandri selalu bergilir melakukan aktivitas, supaya Bintang tidak lepas dari pengawasan.


Selepas salat berjamaah, Yandri dan ketiga anak didiknya kembali ke sekolah. Tiba di kamar, Yandri segera menggeser sofa dan menggelar tikar. Dia kemudian memulai pengajiannya.


Bintang yang melihat banyak orang di kamarnya, terlihat begitu gembira. Dia berceloteh sambil merangkak mendekati ayahnya yang sedang mengajar ngaji. Daniar mencoba meraih Bintang dan membawanya ke tempat tidur. Namun, lagi-lagi Bintang merangkak menuju anak-anak yang sedang mengaji. Mungkin Bintang merasa senang melihat banyak orang di kamarnya.


.


.


Hari-hari terus berlalu. Semakin hari, pengajian yang diadakan Yandri di kamarnya semakin banyak yang mengikuti. Di awal yang hanya 4 orang anak saja, sekarang ruangan tersebut sudah tidak bisa menampung anak-anak yang hendak mengaji. Bahkan di malam ini pun, deretan anak yang hendak mengaji sudah sampai ke teras depan.


Kembali Yandri dan Daniar bahu membahu menuntun anak-anak melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hingga selesai mengaji, anak-anak pun mulai berpamitan pulang.


"Gimana ini, Kang? Anak-anak pengajian sudah semakin banyak. Kamar kita tidak cukup untuk menampungnya. Bunda sendiri capek harus bolak-balik membawa Bintang yang keluar terus. Ayah, 'kan tahu, gimana aktifnya Bintang jika melihat pintu terbuka," ucap Daniar yang merasa khawatir dengan membludaknya anak-anak yang ikut mengaji.


"Iya, Bunda benar. Besok Ayah minta izin pak Agus deh, untuk menggunakan kelasnya sebagai tempat mengaji," jawab Yandri.


"Tapi, apa pak Agus akan mengizinkan?" tanya Daniar.


"Insya Allah, Bun. Yang terpenting, kita harus membersihkan kembali kelasnya setelah acara pengajian selesai," jawab Yandri.


"Baiklah, jika sudah diizinkan, kita susun saja piket anak-anak pengajian untuk merapikan kembali kelas pak Agus," usul Daniar.


"Hmm, ide yang bagus tuh. Ya sudah, bobo yuk!" ajak Yandri seraya merebahkan tubuh istrinya.


"Eh, Ayah mau ngapain?" tanya Daniar yang terkejut melihat tangan Yandri sudah menempel di dadanya.


"Main, yuk!" bisik Yandri di telinga Daniar.


"Ish, Bintang baru saja tidur, Yah. Belum nyenyak bobonya, entar dia bangun lagi," tolak halus Daniar.


"Enggak bakalan, Bun. Sejak tadi dia merangkak ke sana kemari. Dia pasti sudah nyenyak karena kelelahan. Tuh dengar, tidurnya aja sampai mendengkur halus begitu," balas Yandri seraya tangannya terus bergerilya di sekitar bokong Daniar.


"Ish Ayah," Ringis Daniar saat mulai merasakan tangan nakal itu menyusup di balik pengamanannya.

__ADS_1


Yandri menyeringai, tanpa aba-aba, dia mulai melorotkan pengaman istrinya. Begitu juga dengan miliknya. Hingga benda pusaka milik Yandri mulai menyusup mencari sarangnya.


Jleb!


Daniar tersentak kaget saat Yandri menghentakkan benda pusaka tersebut tanpa aba-aba. Dia pun mulai meringis saat si pemilik benda mulai memainkannya secara maju mundur.


"Ish, Yah," rintih Daniar yang mulai merasakan nyeri karena hentakan dari belakang.


"Tahan ya, Sayang," bisik Yandri yang mempercepat ritme hentakannya.


"Ih, jangan cepet-cepet, Yah. Nanti kena si Adek," tukas Daniar yang merasakan tubuhnya sedikit berguncang karena perbuatan sang suami.


"Ya sudah, pindah tempat yuk, ke kursi," ajak Yandri seraya menarik benda pusakanya.


Daniar hanya bisa memutar kedua bola matanya mendengar ajakan Yandri. Uuh, dasar cowok. Di mana pun jadi asalkan hasratnya bisa tuntas tersalurkan, keluh Daniar dalam hati.


Karena sebuah kewajiban, mau tidak mau Daniar pun melayani kegilaan Yandri dalam memenuhi fantasi bercintanya.


Yandri tersenyum puas saat melihat istrinya memejamkan mata seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Terima kasih, Sayang," bisik Yandri sesaat setelah dia mengerahkan pasukannya.


.


.


"Iya, boleh. Alhamdulillah ... enggak terasa ya, Bun. Putri kecil kita sudah berusia setahun. Hmm, rasanya baru kemarin Ayah melihat dia tidur di inkubator," timpal Yandri.


"Iya, Ayah benar. Bunda juga sangat bersyukur, kehadiran Bintang ternyata lebih memperkuat hubungan kita. Setelah hampir satu tahun menunggu, akhirnya Tuhan menganugerahkan putri kecil yang sangat cerdas kepada kita. Apa Ayah tahu, tadi malam Bintang mulai bisa menyebutkan beberapa huruf hijaiyah. Bunda sendiri enggak ingat kapan Bunda ngajarin dia, tapi anak-anak bilang, Bintang cukup fasih menyebutkan lafal alif, ba, ta dan tsa," ucap Daniar.


"Alhamdulillah ... mungkin karena dia sering mendengar Bunda mengajarkan Iqra pada anak-anak. Ya ... di usia Bintang saat ini, 'kan, sedang aktif-aktifnya merekam apa yang dia dengar," balas Yandri.


"Hmm, bisa jadi Yah. Semoga Bintang tumbuh menjadi anak yang cerdas ya, Yah."


"Aamiin. Oh iya, Bun. Untuk tasyakuran Bintang nanti, kita ngasih apa ya, buat anak-anak?" tanya Yandri.


"Makanan ringan saja, Yah. Tidak usah banyak-banyak, sesuaikan saja dengan kondisi keuangan kita," jawab Daniar.

__ADS_1


"Ya sudah, besok kita ke warung bik Mumun buat pesan makanan ringannya," pungkaa Yandri. Sesaat kemudian, Yandri memadamkan lampu kamarnya sebagai pertanda agar istrinya segera tidur.


.


.


Keesokan harinya. Setelah kegiatan sekolah berakhir, seperti biasa Yandri membereskan kelas-kelas dan menguncinya. Lepas itu, secara bergantian dia dan istrinya melaksanakan salat dzuhur. Selesai salat, mereka kemudian pergi ke warung yang jaraknya cukup jauh. Bukan tanpa alasan mereka memilih warung tersebut. Selain isi warungnya cukup komplit, si pemilik warung pun sudah seperti kakak bagi Yandri dan Daniar.


Bik Mumun orang yang sangat baik dan begitu menghargai Yandri dan Daniar sebagai guru dari kedua putrinya. Saking baiknya, dia sendiri menganggap Bintang seperti anaknya. Setiap kali Yandri dan Daniar membeli keperluan dapur ke warungnya, bik Mumun selalu saja memberi beraneka jenis makanan untuk Bintang.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri dan Daniar bersamaan begitu mereka sampai di warung bik Mumun.


"Wa'alaikumsalam!" balas bik Mumun dari dalam rumah. "Eh, ada Bintang, ponakan Wawa yang paling cantik," kata Bik Mumun begitu dia keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Wawawa wa," celoteh Bintang seraya merentangkan kedua tangannya.


"Uduh-uduh, minta digendong sama Wawa, ya. Ayo sini, Wawa gendong," sambut Bik Mumun seraya meraih Bintang dari dalam gendongan Daniar. "Ayo, Bu Niar kalau mau belanja, ambil aja," perintah Bik Mumun.


"Iya, Bik. Ini Niar cuma mau beli makanan ringan saja. Ini listnya," ucap Daniar seraya menyerahkan daftar makanan yang hendak dia beli.


Bik Mumun menerima secarik kertas dari tangan Daniar. Dahinya sedikit berkerut saat dia membaca pesanan lima jenis makanan dalam jumlah yang cukup banyak.


"Bu Niar mau bikin kantin sekolah, ya? Kok belanjaannya banyak banget," tanya Bik Mumun.


Daniar hanya tersenyum menanggapi ucapan Bik Mumun.


"Bukan, Bik. Itu cuma untuk acara Bintang saja di pengajian besok malam." Akhirnya Yandri ikut bersuara.


"Tunggu-tunggu! Apa jangan-jangan, Bintang mau ulang tahun?" tebak Bik Mumun seraya menatap Bintang.


Daniar mengangguk. "Iya Bik. Besok usia Bintang genap setahun.


"Oalah, ponakan Wawa mau ulang tahun, toh. Ayo katakan, Bintang yang cantik ini mau hadiah apa dari Wawa? Sudah punya gaun ulang tahunnya belum, untuk besok?" tanya Bik Mumun seraya menciumi pipi gembul Bintang.


Gadis cilik itu hanya tergelak mendapatkan perlakuan dari Bik Mumun. Begitu juga Bik Mumun yang semakin gencar menciumi kedua pipinya karena merasa gemas.


"Ya sudah, nanti Bibik kumpulkan dulu pesanannya. Paling bisa dibawa besok, engga pa-pa, 'kan?" tanya Bik Mumun.

__ADS_1


"Iya, bik. Enggak pa-pa. Acaranya buat vesok malam ini," pungkas Daniar.


Setelah selesai memesan snak, Daniar dan Yandri pun berpamitan.


__ADS_2