Setelah Hujan

Setelah Hujan
Mengambil Tindakan


__ADS_3

Danisa memekik cukup keras saat mendengar kondisi Daniar. Sedangkan Bintang, anak kecil itu hanya bisa bungkam. Terlihat kedua tangannya saja yang langsung mengepal karena merasa marah. Ya, Bintang sangat marah terhadap orang yang telah membuat ibunya menderita.


"Tolong segera kabari suaminya, Mas. Minta dia untuk segera datang. Karena ini menyangkut nyawa istrinya," ucap Suster Ana.


"A-apa? Nyawa? Separah itukah?" pekik Danisa sangat terkejut. Dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa saat ini.


Suster Ana hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Danisa.


"Ta-tapi suaminya tidak berada di sini, Sus. Dia bekerja di luar kota," jawab Danisa.


"Kalau begitu, tolong cepat hubungi dia dan katakan kondisi istrinya. Kami tidak bisa menunggu lama. Kakak Anda harus segera ditindak!" tegas suster Ana.


"Baik. Akan saya usahakan untuk segera menghubunginya," sahut Daniar.


"Baiklah. Ini surat persetujuannya. Tolong segera kabari kami jika sudah ada keputusan," lanjut Suster Ana seraya menyerahkan selembar formulir kepada Danisa.


"Baik, Sus. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Danisa.


Suster Ana mengangguk. Tangannya mengisyaratkan jika dia mengizinkan Danisa untuk meninggalkan ruangannya.


Begitu tiba di luar, Danisa semakin merasa kebingungan. Dia tidak tahu siapa yang harus dihubunginya terlebih dahulu untuk memberi tahu keadaan Daniar saat ini.


"Kalau gue hubungi ibu, gue takut tensinya naik. Astaghfirullah, apa yang harus gue lakukan?" ucap Danisa, gusar.


Saat Danisa sedang berada dalam node kebingungan, tiba-tiba terdengar dering telepon dari dalam tas selempang. Danisa menatap tas selempang yang sedang tersampir di bahu Bintang.


"Itu ponselnya bunda, Bin?" tanya Danisa.


Bintang mengangguk.


"Buka, Bin. Lihat siapa yang menelepon," perintah Danisa.


Bintang merogoh ponsel dari tas ibunya. Dia kemudian melihat nama yang sedang menghubungi nomor ibunya.


"Ayah, Ta!" ucap Bintang menunjukkan layar ponsel milik ibunya.


"Sini, Bin. Biar Tata yang angkat," pinta Danisa.


Bintang pun menyerahkan ponsel Daniar.


.


.

__ADS_1


Di asrama.


Kening Yandri mengernyit ketika teleponnya masih belum diangkat oleh sang istri. Hingga akhirnya ....


"Assalamu'alaikum, Bun!" sapa Yandri.


"Abang! Ah, syukurlah Abang telepon," jawab suara seseorang yang Yandri kenali sebagai adik iparnya. Namun, Yandri semakin menautkan kedua alisnya begitu mendengar suara Danisa yang panik.


"Eh, Dek. Kok telepon kak Niar ada sama kamu?" tanya Yandri.


"Kak Niar mengalami musibah, Bang. Dan sekarang dia berada di rumah sakit. Dokter meminta Nisa buat menghubungi Abang. Kak Niar harus mendapatkan tindakan yang cukup serius, karena itu pihak rumah sakit meminta persetujuan Abang. Mereka minta Abang untuk segera menandatangani surat persetujuan," papar Daniar di ujung telepon.


"Musibah apa, Dek? Dan tanda tangan ... ini maksudnya apa? Abang enggak paham" tukas Yandri. "Memangnya, apa yang terjadi sama kakak kamu?" lanjut Yandri.


Untuk sesaat, hanya helaan napas yang terdengar sangat berat dari seberang telepon.


"Nis?" panggil Yandri.


"I-itu, Bang. Kak Niar, emm ... kak Niar mengalami keguguran." ucap lirih Danisa.


"Astaghfirullahaladzim! Kok bisa?" pekik Yandri.


"Enggak tahu, Bang. Nisa sendiri enggak tahu itu gimana ceritanya. Terus gimana, Bang? Ini Nisa dikasih formulir pernyataan persetujuan tindakan dari pihak rumah sakit. Kata mereka, Abang harus segera menandatanganinya, karena kalau terlambat sedikit saja. Nyawa kak Niar yang jadi taruhannya," papar Danisa.


"Ya Tuhan! Separah itukah?" pekik Yandri.


"Ya sudah, Nis. Kamu tanda tangani saja. Tolong kamu minta izin untuk mengambil gambar kak Niar, lalu kirimkan ke Abang secepatnya. Abang mau mengajukan cuti ke majelis guru," perintah Yandri.


"Iya, Bang," sahut Danisa.


Yandri menutup teleponnya. Untuk sejenak, dia bersandar seraya menengadahkan wajah. Mungkin, inilah yang tadi menyebabkan hatinya gundah tanpa sebab. Setelah menata kekuatannya kembali, Yandri beranjak dari kursi dan mengayunkan langkah menuju ruang majelis guru untuk mengajukan cuti.


.


.


Tok-tok-tok!


"Masuk!" teriak Suster Ana dari dalam ruangan.


"Permisi, Sus. Saya kemari hanya untuk menyerahkan formulir ini," ucap Danisa, sesaat setelah masuk ruangan.


"Apa sudah ditandatangani?" tanya Suster Ana.

__ADS_1


"Sudah, Sus. Barusan kakak ipar saya menelepon dan memberikan saya kewenangan untuk menandatanganinya," jawab Danisa.


"Baiklah. Kalau begitu saya akan menyiapkan ruang operasi besar untuknya.


"Apa? Operasi besar? Tapi kenapa, Sus?" tanya Danisa.


"Maaf, Mas. Saya tidak punya wewenang untuk menyampaikan kondisi pasien. Takut salah memberikan penjelasan. Biar nanti, dokter saja yang akan menjelaskan kondisi kakak Anda," jawab Suster Ana.


"Baiklah, Sus. Tapi sebelum ditindak, apa saya boleh minta izin untuk mengambil gambar kak Niar?" pinta Danisa.


Suster Ana mengernyitkan kening.


"Tolong jangan paham dulu, Sus. Ini permintaan dari suaminya kak Niar, Bu. Beliau hendak mengajukan cuti supaya bisa menjenguk kak Niar. Namun, untuk itu diperlukan bukti fisik sebagai alasan dia mengajukan cuti," tutur Danisa.


"Sebenarnya, ini melanggar aturan di rumah sakit kami. Namun, karena ini untuk keperluan yang mendesak juga, baiklah ... biar saya yang ambilkan gambarnya," balas Suster Ana.


Danisa setuju. Dia kemudian menyerahkan ponselnya kepada Suster Ana untuk mengambil foto Daniar.


.


.


Di rumah. Bu Salma terlihat sangat cemas. Matahari sudah mulai berada di atas kepala. Namun, kedua anaknya belum juga pulang.


"Ish, kenapa sampai jam segini mereka belum pulang juga?" gumam Bu Salma.


Sudah berulang kali Bu Salma menghubungi ponsel Daniar dan Danisa bergantian. Namun, tak ada satu pun yang tersambung. Bu Salma semakin cemas. Terlebih lagi saat mengingat kondisi terakhir Daniar yang diwajibkan bedrest.


Tiba-tiba saja, hatinya semakin gelisah.


Sekali lagi, Bu Salma mencoba menghubungi Danisa. Namun, masih belum tersambung juga. Dengan perasaan kesal, Bu Salma menyimpan ponselnya secara kasar di atas meja makan.


Bunyi kumandang azan mulai terdengar dari masjid yang terletak di depan rumah. Bu Salma beranjak dari kursi, berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Berharap, shalat akan meredakan kegundahan di hatinya.


Selesai berwudhu, Bu Salma pergi ke kamar paviliun untuk menunaikan kewajibannya. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia ingin menjalankan shalat di kamar itu, bukan di kamarnya sendiri. Mungkin karena udara di kamar paviliun terasa sejuk, sehingga Bu Salma merasa jika dia akan lebih khusus mendirikan shalatnya di sana.


Di sujud terakhirnya, Bu Salma berdo'a untuk keselamatan dan kebahagiaan anak, menantu dan cucu-cucunya. Selesai mendirikan shalat, Bu Salma mulai berdzikir.


Tiba-tiba saja, Bu Salma menyegerakan dzikirnya tatkala mendengar bunyi bel pintu berulang-ulang.


Ah, itu pasti Daniar sama Danisa, batin Bu Salma, membuka dan melipat mukenanya.


Tak lama kemudian, Bu Salma keluar untuk membukakan pintu. "Iya, tunggu sebentar!" pinta Bu Salma sambil berteriak.

__ADS_1


Bu Salma membuka pintu rumah. Dia sangat terkejut mendapati cucunya sedang berdiri mematung di depan pintu.


"Astaghfirullah! Kamu kenapa?


__ADS_2