Setelah Hujan

Setelah Hujan
Janji Ayah Bunda


__ADS_3

Yandri terkejut mendengar penolakan yang diucapkan putrinya dengan lantang. Sementara Daniar, dia hanya mampu menundukkan wajah mendengar ucapan Bintang.


Ya, Daniar cukup memahami alasan dibalik sikap putrinya yang seolah menolak untuk diajak menginap di rumah neneknya. Berbeda dengan Yandri yang hanya bisa menarik napas panjang melihat sikap tegas Bintang yang sepertinya enggan menginjakkan kaki di rumah neneknya.


"Kok Bibin ngomong gitu?" tanya Yandri, lirih.


"Maaf Ayah, tapi Bibin enggak bisa tinggal di rumah nenek. Bibin enggak mau pindah sekolah."


Bintang yang menyadari keceplosan berbicara, akhirnya mencari jawaban yang sekiranya masuk akal. Dia merasa takut jika ayahnya tahu kalau dirinya tidak pernah ingin melihat lagi raut wajah bermuka dua neneknya.


"Ish, siapa juga yang mau pindahin sekolah kamu, Nak. Lagi pula, Ayah enggak bakalan ngajak kamu menginap di rumah nenek. Ayah mau ajak kamu nginep di rumah ayah. Kamu mau, 'kan?" tanya Yandri.


Bintang bengong. Beberapa detik kemudian, dia bertanya kepada ayahnya.


"Emang Ayah punya rumah?"


"Hmm ... Ayah punya Sayang. Nanti, setelah rumahnya selesai direnovasi, Bibin boleh tinggal di rumah Ayah kalau Ayah sedang cuti. Bibin mau, 'kan?" pinta Yandri lagi.


"Iya, Yah. Bibin mau," jawab Bintang, sumringah.


.


.


Senja mulai temaram. Matahari pun mulai kembali ke peraduannya. Namun, Bu Salma masih duduk termenung di gazebo belakang. Tak lama berselang, motor putri bungsunya memasuki gerbang belakang.


Danisa memarkirkan motornya. Ketika dia membuka helm, kening Danisa mengernyit melihat ibunya sedang melamun di gazebo.


Danisa menyimpan helm di atas jok motor. Dia mengayunkan langkahnya menghampiri Bu Salma.


"Ibu ngapain sore-sore ngelamun di sini? Enggak takut kesambet penghuni pohon rambutan apa?" seloroh Danisa sambil mendaratkan bokongnya di samping Bu Salma.


"Kamu itu ... enggak ada sopan santunnya sama ibu kamu sendiri," tukas Bu Salma, menonyor pelan bahu putrinya.


"Yeay, Ibu ... sensi amat," gurau Danisa.


"Lagian, kalau pulang tuh ucap salam dulu, kek. Cium tangan dulu, kek. Ini mah, ujug-ujug ngeledekin orang tua," ketus Bu Salma.


"Iya, maaf-maaf. Terus, Ibu ngapain duduk di sini sendirian? Ngelamun lagi. Ini sudah sore loh, Bu. Anginnya kenceng, enggak baik buat kesehatan ibu," tutur Danisa.


"Ibu hanya sedang nungguin kakak kamu pulang, Nak," jawab Bu Salma.


"Loh, kak Nisa sama Bintang belum pulang juga, Bu?" tanya Danisa, terkejut.


Bu Salma menggelengkan kepalanya.


"Apa dia pergi bareng bang Yandri?" Danisa kembali bertanya.


"Tadi sih, dia chat Ibu seperti itu," jawab Bu Salma.


"Ya sudah, Ibu enggak usah cemas. Entar juga balik. Masuk yuk, ah!" ajak Danisa seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu, Dek!" cegah Bu Salma.


Danisa kembali duduk di samping ibunya. "Ada apa lagi, Bu?" tanya Danisa.


"Menurut kamu, jika Ibu tetap meminta Yandri untuk tinggal di sini setelah bercerai, apa itu enggak keterlaluan? Kamar di rumah ini, 'kan banyak. Lagi pula, Ibu hanya khawatir dengan tumbuh kembang Bintang jika merasa jauh dengan ayahnya," kata Bu Salma.


Danisa menghela napas. "Jujur saja, Bu. Menurut Nisa, itu bukan keputusan yang bijak. Ibu boleh merasa khawatir dengan tumbuh kembang Bintang. Ibu juga boleh merasa iba kepada cucu Ibu, tapi apa Ibu tidak merasa iba dengan kak Niar? Jika sampai kak Niar masih tinggal satu atap sama bang Yandri, sama saja Ibu tengah menyiksa batin kak Niar. Saran Nisa, sih ... biarkan mereka mengurusi kehidupannya masing-masing. Toh mereka sudah dewasa, Bu," ungkap Danisa, mengutarakan pendapatnya.


Bu Salma menarik napasnya panjang. Mungkin apa yang dikatakan Danisa ada benarnya juga. Tidak selamanya orang tua harus ikut campur urusan anaknya.


"Ya sudah, masuk yuk!" pungkas Bu Salma.


.


.


Waktu terus berlalu. Yandri sudah kembali ke Indramayu untuk menjalankan rutinitas kerja. Begitu juga dengan Daniar. Selain sibuk dengan pekerjaannya sebagai tenaga honorer, Daniar juga menyempatkan untuk mengikuti kegiatan ibu-ibu PKK yang diselenggarakan di rumah Bu RW. Tujuan Daniar melakukan itu hanya satu, yaitu mencoba menyibukkan diri agar tidak selalu teringat akan Yandri.


Sore ini, selepas dia mengikuti pelatihan membuat kue tart di rumah Bu RW, Daniar melihat putrinya sedang duduk menopang dagu dengan kedua tangannya di gazebo belakang. melihat sikap aneh Bintang, Daniar pun menghampirinya.


"Assalamu'alaikum, Bibin!" sapa Daniar, melepaskan sepatunya dan naik. Sedetik kemudian, Daniar duduk di hadapan Bintang.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Bun," jawab Bintang tanpa semangat.


"Kok jawabnya lemes gitu, Bibin kenapa?" tanya Daniar, heran.


"Bunda, boleh Bibin tanya sesuatu?"


Daniar tersenyum. "Tentu saja boleh, Nak?"


"Apa bunda akan menikah lagi?"


Daniar terperanjat mendengar pertanyaan Bintang. Tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa Bintang bertanya seperti itu. Padahal, anak kecil itu mengetahui jika kedua orang tuanya baru saja berpisah.


"Kok Bibin nanyanya gitu?" tukas Daniar, sedikit tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan putrinya.


"Maaf, Bunda. Kalau Bunda enggak mau jawab, Bibin enggak pa-pa kok, Bun," kata Bintang.


Daniar menarik napas panjang. Sepersekian detik kemudian, dia mengembuskan napasnya secara perlahan.


"Jujur saja, Nak. Bunda selalu berharap jika Bunda hanya akan menikah sekali dalam seumur hidup Bunda. Namun, takdir berbicara lain. Bunda berpisah dengan ayah, tapi bukan berarti Bunda akan menikah lagi dengan orang lain. Bagi Bunda, ayah kamu itu cinta sejati Bunda. Laki-laki terakhir yang akan selalu menjadi bagian dari kehidupan Bunda. Sekalipun kami tidak bisa hidup bersama," papar Daniar.


"Jika Bunda sangat mencintai ayah, kenapa Bunda memilih berpisah dengan ayah?" tanya Bintang, heran.


"Hmm, kamu sendiri tahu jawabannya, 'kan, Nak?" ucap Daniar, tersenyum tipis.


"Bun ... emh ... jika nenek sudah meninggal, maukah Bunda menikah lagi dengan ayah?" tanya Bintang yang semakin membuat Daniar terkejut.


"Hus! Ngomong apa kamu itu, Nak? Jangan bilang seperti itu, enggak baik! Lagi pula, belum tentu ayah kamu masih sendiri, Nak. Kamu, 'kan tahu, di samping restu nenek kamu, Bunda juga memiliki alasan lain untuk berpisah. Yaitu ketidakmampuan Bunda memberikan anak lagi untuk ayah kamu. Ayah ingin punya anak laki-laki, dan kamu ingin punya adik, 'kan? Mungkin suatu hari nanti, ayah akan menikah lagi dan memberikan kamu adik," jawab Daniar.


Kedua mata Bintang berkaca-kaca. "Bintang enggak mau punya adik, Bun. Bintang enggak mau ayah menikah lagi," ucap lirih Bintang.


Daniar hanya mampu memeluk putri semata wayangnya. "Maafkan Bunda, Nak. Maafkan Bunda karena telah menempatkan kamu pada posisi seperti ini," bisik Daniar.


.


.


Tanpa terasa, sebulan telah berlalu. Yandri kembali mengambil cuti untuk menemui anak dan mantan istrinya. Yandri begitu merindukan kedua perempuan yang selalu memiliki tempat teristimewa di hatinya.


Meskipun Yandri sadar, jika kerinduan terhadap Daniar, tidak akan mungkin bisa dia salurkan lewat sentuhan. Namun, hanya melihat wajah teduhnya pun, kerinduan Yandri sudah cukup terobati.


"Kita pergi ke Cipanas saja, Yah. Sudah lama juga Bibin enggak berendam di air panas," jawab Bintang.


"Boleh," sahut Yandri. "Kamu ikut enggak, Bun?" tanya Yandri kepada mantan istrinya.


"Sepertinya Niar enggak bisa ikut, Kang. Hari ini Niar ada latihan bikin kue," jawab Daniar.


"Yah, enggak asik dong," timpal Yandri.


"Ya sudah, Yah. Besok aja pergi ke Cipanasnya," usul Bintang.


"Tapi, besok, 'kan hari Senin, Dek," tukas Yandri.


"Ya, 'kan tanggal merah juga, Yah. Jadi sekolah Bintang sama Bunda libur," jawab Bintang.


"Ah, bener kamu Nak. Kalau besok, Enin juga mau ikut. Karena besok Enin enggak ada pengajian, gimana? Boleh kan?" Tiba-tiba, Bu Salma ikut bergabung bersama cucu dan mantan menantunya.


"Hmm, rencana sempurna. Jadi besok kita bisa liburan keluarga, gimana Bun? Bisa, 'kan?" pinta Yandri.


Melihat kegembiraan di raut wajah ibu dan anaknya, akhirnya Daniar mengalah. Dia pun menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujui rencana yang telah dibuat anak dan mantan suaminya.


"Oh iya, Bin. Malam ini, Bibin mau, 'kan bobo di tempat Ayah. Sekalian kita bikin rencana buat dekorasi kamar kamu," ucap Yandri.


"Bibin kangen Ayah, Bibin mau saja bobo di tempat Ayah, tapi ..." Bintang menjeda kalimatnya.


"Tapi apa, Nak?" tanya Yandri.


"Tapi Bibin enggak mau tinggalin Bunda," jawab Bintang menundukkan kepalanya.


Mendengar perkataan anaknya, Daniar menghampiri mereka. Dia kemudian duduk di sebelah Bintang.


"Dengar Nak, Bunda selalu bilang sama Bibin. Lakukan apa pun yang Bibin suka selama masih berada dalam jalur kebenaran. Jika Bibin memang ingin menginap di rumah Ayah, menginaplah Nak! Tidak ada salahnya juga kamu menginap dan menghabiskan waktu sama Ayah. Jangan cemaskan Bunda. Di sini, ada Enin sama Tata yang akan menemani Bunda. Selama kurun waktu sebulan, 25 hari Bibin habiskan waktu bersama Bunda. Sedangkan Ayah, dia hanya punya waktu 5 hari bersama Bibin. Apa Bibin enggak kasihan sama Ayah yang ingin menghabiskan masa cutinya bersama Bibin?" papar Dania panjang lebar.


Bintang mengangguk. "Baik Ayah, Bibin mau beresin dulu baju-bajunya," pamit Bintang seraya beranjak dari kursi di ruang keluarga.

__ADS_1


Setelah bintang pergi. Yandri menatap Daniar penuh kelembutan. Terima kasih, Bun?" ucapnya.


"Sama-sama, Kang."


.


.


Sementara itu, di tempat Habibah. Bu Maryam uring-uringan setelah mengetahui Yandri tidak pulang ke rumah Habibah.


"Ish, ke mana perginya anak itu? Yoga bilang, kemarin Yandri izin cuti, tapi kenapa tidak ada di rumah? Ke mana pulangnya anak itu? Apa dia kembali lagi pada Daniar?"gerutu Bu Maryam sambil berjalan mondar-mandir di ruang tamu.


"Tidak-tidak! Aku harus melakukan sesuatu. Aku akan meminta Habibah untuk menelepon anak itu. Pokoknya dia harus pulang ke rumah ini!" tegas bu Maryam.


Wanita renta itu pun lantas pergi ke belakang untuk menemui Habibah. Namun, saat tiba di dapur, Habibah sama sekali tak nampak di sana. Bu Maryam melihat tempat menaruh jerigen. Kosong.


Hmm mungkin dia sedang pergi ke Cunyusu, batin Bu Maryam.


Karena hari sudah sangat sore, dengan perasaan dongkol Bu Maryam kembali ke rumah suaminya.


.


.


Malam mulai merangkak. Bintang membawa selimutnya dan keluar kamar. Dia merasa aneh tidur sendirian di rumah sang ayah.


Tok-tok-tok!


Bintang mengetuk pintu kamar ayahnya dengan perlahan.


Yandri yang sedang asyik melihat terangnya bulan dari balik jendela kamar, segera menoleh. Dahinya mengernyit mendengar ketukan di pintu kamarnya.


"Ayah, Bibin enggak bisa bobo. Apa bibin boleh bobo sama Ayah?" pinta Bintang dari balik pintu.


Yandri tersenyum. "Masuk saja, Dek. Pintunya enggak Ayah kunci, kok," sahut Yandri.


Ceklek!


Pintu terbuka. Tampak gadis kecil itu berjalan berbalut selimut.


"Di sini dingin ya, Dek," kata Yandri.


Bintang mengangguk.


"Kamu tahu kenapa?" tanya Yandri lagi


Bintang menggelengkan kepalanya.


'Karena di sini tuh dekat dengan pegunungan," jawab Yandri. "Ayo kemarilah, kita tidur sekarang. Biar besok ada tenaga buat piknik," ajak Yandri.


Bintang menaiki ranjang ayahnya. Diikuti oleh Yandri yang sudah menutup tirai jendela dan bersiap-siap untuk merangkai mimpi tentang ratu hatinya.


Yandri memeluk tubuh mungil Bintang. Memberikan kehangatan agar anak itu merasa nyaman tidur di sampingnya.


"Ayah, boleh Bibin tanya sesuatu?" pinta Bintang, tiba-tiba.


"Tanyalah!" titah Yandri seolah menantang.


"Apa suatu hari nanti, Ayah akan menikah lagi dengan wanita lain?" tanya pelan Bintang.


Deg!


Sungguh, Yandri begitu terkejut mendengar pertanyaan putrinya.


"Kok Bibin nanyanya gitu, sih," tukas Yandri.


"Om Ikbal, om-nya Rara, dia menikah lagi setelah berpisah dari tantenya Rara. Kata Rara, orang yang sudah berpisah, mereka akan menikah lagi dengan laki-laki atau wanita yang lain. Apa ayah juga akan menikah lagi dengan wanita lain?" ulang Bintang.


"Hmm, Ayah bukan om Ikbal, Nak. Ayah tidak akan menikah lagi dengan wanita mana pun di dunia ini. Dan kalaupun Ayah ditakdirkan untuk menikah lagi, satu-satunya wanita yang akan ayah nikahi, pastilah Bunda kamu," papar Yandri.


"Ayah janji?" tanya Bintang, memastikan.


"Janji, Sayang!" jawab Yandri.

__ADS_1


Bintang tersenyum lebar mendengar jawaban ayahnya.


__ADS_2