
Kalimat Bintang terpotong ketika melihat ibunya jatuh.
"Bunda!" teriak Bintang, menghampiri ibunya yang tengkurap di atas tanah setelah jatuh dari teras berketinggian sekitar setengah meter.
"Astaghfirullah, Bibi!" Farhan ikut berteriak. "Nenek apa-apaan sih? Apa yang Nenek lakukan kepada Bibi?" dengusnya kesal. Sepersekian detik kemudian, Farhan melompat untuk membantu Daniar.
"Nenek hanya melakukan apa yang ingin Nenek lakukan. Usir perempuan itu dari sini! Nenek sudah tidak ingin melihat wajahnya lagi. Dasar perempuan pembawa sial!"
Bu Maryam kembali mengumpat Daniar di depan banyak orang. Kerabat dan tamu Aji terlihat masih shock akibat perlakukan Bu Maryam terhadap menantunya.
"Astaghfirullah, Ibu! Kenapa Ibu berbicara kasar kepada tamu Aji? Apa Ibu tidak sadar, Ibu sedang berada di rumah siapa? Ini rumah Aji, Bu. Dan Ibu tidak punya hak untuk mengusir tamu Aji!" tegas Aji yang langsung keluar kamar mandi saat mendengar keributan di luar.
"Halah ... dasar mantu-mantu tidak berguna!"
Bu Maryam mendengus kesal. Sejurus kemudian, Bu Maryam kembali ke kamar Hana. Dia merasa muak karena harus bertemu dengan menantu yang tidak disukainya itu.
"Ish!" Daniar meringis saat Bintang dan Farhan membantunya untuk berdiri.
Aji menghampiri Daniar. "Kamu tidak apa-apa, Dek?" tanyanya.
"Ti-tidak, Kang. Ni-niar tidak apa-apa," jawab Daniar.
Sejenak, Daniar menarik napas panjang. Merasakan sakit yang cukup hebat di sekitar perutnya.
"Ayo, Bi. Farhan bantu papah ke dalam," ucap Farhan, menawarkan bantuan untuk memapah Daniar memasuki rumah.
"Ti-tidak usah, Han. Bi-bi pulang sa-ja," jawab Daniar, terbata.
Rasa sakit di perut Daniar semakin mendera hebat. Daniar sendiri sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri. Karena itu, Daniar memutuskan untuk pulang.
"Kening Bibi berkeringat. Bibi pasti shock dengan sikap nenek tadi. Sebaiknya, Bibi masuk dan minum dulu untuk menenangkan diri, supaya kondisi Bibi bisa stabil lagi," tukas Farhan yang melihat Daniar mulai berkeringat.
"Ti-dak usah, Han. Terima kasih," jawab Daniar. Sejenak, Daniar menatap kakak iparnya seraya berkata, "Niar turut berdukacita, Kang. Ma-maafkan Niar karena baru bisa datang hari ini."
"Tidak apa-apa, Dek. Terima kasih karena sudah datang," jawab Aji. "Farhan benar, Dek. Emm ... sebaiknya kamu masuk. Tenangkan dirimu dulu sebelum pulang," lanjutnya.
Daniar tersenyum. "Tidak apa-apa, Kang. Daniar pamit pulang. Assalamu'alaikum!"
Baik Aji ataupun Farhan, mereka sama sekali tidak bisa mengubah pendirian Daniar. Pada akhirnya, mereka hanya bisa mengangguk untuk menanggapi pamit Daniar.
.
.
Tok-tok-tok!
Bintang mengetuk cepat kaca jendela mobil ayahnya. Perbuatan Bintang, sontak membuat Danisa bangun. Dia kemudian menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Loh, Kamu kenapa Bin?" tanya Danisa yang merasa heran melihat Bintang berurai air mata.
"Bu-bunda, Ta ... Bunda ber ... Bunda berdarah," jawab bintang terisak.
"Apa?! Di mana bunda kamu?" tanya Danisa terkejut.
__ADS_1
"Bu-bunda du-duk di warung itu!" Bintang menunjuk sebuah warung yang berseberangan dengan tempat parkir mobil.
"Astaghfirullah!" pekik Danisa. Sesaat kemudian, Danisa membuka pintu mobil dan segera berlari menghampiri Daniar. Dia menatap keponakannya seraya berkata, "Kamu tunggu di sini!"
"Dek, ru-mah sa-kit," ucap Daniar yang langsung terjatuh begitu Danisa tiba di hadapannya.
"Ya Tuhan, Kakak!"
Dengan sigap, Danisa menangkap tubuh Daniar supaya tidak sampai terjatuh ke tanah. Danisa sangat terkejut saat melihat noda darah di pakaian gamis putih yang dikenakan Daniar. Tak ayal lagi, Danisa menggendong Daniar dan membawanya menuju tempat di mana mobil terparkir.
"Buka pintu belakang, Bin!" perintah Danisa begitu tiba di tempat parkir.
Bintang membuka pintu mobil. Setelah itu, Danisa masuk dan membaringkan tubuh lemah Daniar di kursi belakang.
"Tata, Bibin duduk di sini saja. Bibin mau menemani Bunda," kata Bintang.
Danisa hanya menganggukkan kepalanya. Sedetik kemudian, Danisa membuka pintu kemudi dan masuk. Dia mulai menyalakan mesin mobil dan tancap gas. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada kakaknya.
Tangan kecil Bintang terus menyeka bulir keringat di kedua pelipis ibunya. Bintang kembali terisak ketik melihat noda darah semakin melebar. Dada Bintang rasanya sesak. Namun, sebagai anak sulung, dia harus kuat.
Masih teringat jelas amanat yang diucapkan ayahnya saat akan kembali bekerja.
"Sekarang Bibin sudah besar, sudah jadi kakak. Jadi Bibin harus bisa menjaga Bunda sama calon adik Bibin. Sebagai anak sulung, Bibin enggak boleh cengeng, harus kuat. Karena kelak, Bibin yang akan menggantikan tugas Ayah sama Bunda untuk menjaga adik-adik, Bibin."
"Oke, Ayah. Bibin janji, Bibin pasti jagain Bunda."
Bintang kembali menumpahkan air mata melihat ibunya yang terkulai tak berdaya.
Bintang menyeka kedua pipinya. "Aku harus kuat. Aku harus kuat!" gumamnya berulang kali.
Tiba di rumah sakit terdekat, Danisa menghentikan mobilnya di depan pintu masuk UGD. Pintu mobil terbuka, gadis tomboy itu segera berlari untuk mencari bantuan.
"Suster, tunggu!" teriak Danisa, menghentikan langkah seorang perawat yang hendak memasuki ruang UGD.
"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster Ana.
Mas?! Ish, lu pikir gue cowok apa?
Danisa mendengus kesal dalam hatinya. Awalnya, dia hendak protes dengan panggilan tersebut. Namun, tidak salah juga perawat itu memanggilnya Mas. Dengan pakaian dan gaya rambut menyerupai laki-laki, wajar jika orang-orang menganggap dirinya seorang laki-laki.
Masa bodoh lah dengan panggilan. Yang penting gue harus bisa selametin Kak Niar. Semoga saja, janin Kak Niar tidak kenapa-napa.
"Itu, Sus. Kakak saya pingsan, saya perlu brankar untuk membawanya ke ruang UGD," sahut Danisa.
"Baik. Sebentar Mas, saya bawakan brankar-nya dulu," jawab Suster Ana.
Tak lama kemudian, Suster Ana datang dengan mendorong brankar. Danisa membantu suster Ana agar segera sampai di mobilnya. Tiba di depan mobil, Danisa membuka pintu belakang mobil dan menggendong Daniar. Lepas itu, dia membaringkan Daniar di atas brankar.
"Ikhwan, tolong bantu!" teriak Suster Ana kepada perawat pria yang hendak memasuki ruang UGD.
"Baik, Sus," jawab perawat yang bernama Ikhwan itu.
"Baiklah, Mas. Saya akan membawa kakaknya ke ruang UGD. Sementara itu, Mas tolong segera urus pendaftarannya. Supaya pasien lekas ditangani," perintah Suster Ana.
__ADS_1
"Baik, Sus."
.
.
Sementara itu di rumah Aji. keributan yang dibuat Bu Maryam, menimbulkan tanda tanya besar bagi keluarga Aji. mereka sangat penasaran atas perkataan Bu Maryam kepada menantunya. Lantas, apa hubungannya dengan kematian Khodijah?
"Aji, boleh Paman tanya sesuatu?"
"Tentu saja boleh, Paman. Memangnya, apa yang mau Paman tanyakan?"
"Kenapa ibu mertua kamu bisa semarah itu kepada menantunya? Dan kenapa dia juga bilang jika menantunya itu telah menjadi malaikat maut bagi istri kamu?Ada apa ini, Ji? Apa benar semua yang dikatakan mertua kamu itu? Ada hubungan apa antara kamu, adik iparmu dan juga istri kamu, Ji?" cecar Haji Koswara yang tak lain adalah pamannya Aji.
"Sebenarnya, ini hanya salah paham saja, Paman. Aji sendiri tidak tahu ada masalah apa antara ibu dan Daniar. Namun, dulu Khodijah sempat bilang jika ibunya itu tidak terlalu menyukai Daniar. Aji sendiri tidak tahu apa sebabnya," jawab Aji.
"Lantas, hubungannya dengan kematian Khodijah?"
"Itu tidak benar, Paman. Meninggalnya Khodijah itu sudah ketetapan dari yang Maha Kuasa. Ibu bersikap seperti itu, mungkin hanya untuk melampiaskan rasa kecewanya. Dulu, saat Khodijah sedang tetirah di rumah ibu, dia pernah meminta uang kepada Daniar sebesar 10 juta. Dan mereka menggunakan sakit Khodijah sebagai alasannya. Aji tidak mau sakitnya istri Aji dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Karena itu Aji membawa Khodijah pulang dari rumah ibu. Mungkin ibu kecewa karena tidak berhasil mendapatkan keinginannya. Dan kejadian tadi, hmm ... sepertinya hari ini ibu seolah mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan amarahnya," papar Aji.
"Oalah, Ji ... mertua kamu itu ya? Ish, ada-ada saja."
.
.
Setelah melakukan pendaftaran, Danisa pergi ke ruang UGD untuk melihat kondisi kakaknya. Namun, saat tiba di depan pintu ruang UGD, kening Danisa mengernyit tatkala brankar Daniar sedang didorong keluar ruangan.
"Permisi, Mas. Tolong Mas bisa ikut saya sebentar?" pinta Suster Ana kepada Danisa.
"Tapi ... kakak saya?" tukas Danisa, khawatir.
"Tidak usah khawatir, kakak Anda hendak dibawa ke ruang tindakan," jawab Suster Ana.
"Ruang tindakan? Tapi kenapa, Sus?" tanya Daniar. Kecemasan dan rasa heran pun menyelimuti pikirannya.
"Itulah yang ingin saya bicarakan dengan, Mas. Sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja," lanjut Suster Ana.
"Baik, Sus. Tapi apakah saya boleh membawa keponakan saya?" tanya Danisa, sedikit ragu.
Sejenak, Suster Ana menatap Bintang. Mungkin, dia sedang menimbang baik dan buruknya jika anak kecil ini berada di rumah sakit. Namun, saat dia menyadari tidak ada yang bisa menjaga anak kecil itu, akhirnya Suster Ana mengangguk dan mengizinkan Danisa untuk membawa Bintang ke ruangannya.
"Silakan duduk, Mas!" perintah Suster Ana.
Danisa menarik dua buah kursi yang berada di depan meja kerja Suster Ana. Satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk Bintang. Tak lama kemudian, Danisa dan Bintang menduduki kursinya masing-masing.
"Jadi begini, Mas. Kakak Anda telah kehilangan bayinya. Karena itu kami me–"
"Kehilangan bayinya? A-apa itu artinya ... kakak saya mengalami keguguran?" tanya Danisa memotong kalimat Suster Ana.
"Maafkan kami, Mas. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi pendarahannya cukup hebat, karena itu kakak Anda kehilangan janinnya. Dan saat ini, kami hendak melakukan tindakan operasi untuk membersihkan sisanya." lanjut Suster Ana.
"Astaghfirullah! Operasi?"
__ADS_1