
Tubuh Daniar seakan tidak bertulang ketika melihat suaminya pergi begitu saja dari ruang mediasi. Mungkin, ini memang yang dia inginkan. Berpisah. Tapi entah kenapa rasanya begitu menyakitkan.
Kedua bahu Daniar sedikit berguncang. Dia sudah berusaha untuk tegar dan tidak menangis. Namun, naluri wanita yang selalu menumpahkan kesedihan lewat tangisan, tidak bisa dia hindari.
Pak Andri hanya bisa tertegun melihat kliennya. Tak ingin memberikan ketidaknyamanan terhadap Daniar, Pak Andri pun memutuskan untuk keluar dari ruang mediasi.
Sejenak, dia menepuk pelan pundak Daniar seraya berkata. "Bersabarlah, Bu!"
Setelah Pak Andri pergi, Daniar pun mulai sesenggukan untuk meluapkan kesedihannya. Dalam kurun waktu 24 jam ke depan, dia akan resmi menyandang status janda dari Yandri Gunawan.
Ya Allah ... kuatkan langkah hamba tanpa dirinya di samping hamba, batin Daniar.
.
.
Yandri sudah tidak peduli pada apa pun lagi. Dia bahkan tidak menunggu Daniar untuk pulang bersama. Setelah keluar dari halaman kantor pengadilan agama, Yandri pun melajukan kecepatan kendaraannya di atas rata-rata.
"Aaargh!" teriak Yandri seraya memukul kemudi mobil berulang kali. "Kenapa, Bun? Kenapa?" teriaknya mulai histeris.
Saat Yandri tengah meluapkan emosinya, tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam saku celana. Yandri merogoh saku celananya untuk mengeluarkan benda pintar itu. Sesaat, dia melihat nama si pemanggil yang tertera di layar ponsel.
"Kak Bibah?" gumam Yandri yang langsung menggeser tombol jawab.
"Halo! Assalamu'alaikum, Yan!" sapa Habibah di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam, Kak," jawab Yandri, mencoba mengatur suaranya agar Habibah tidak curiga jika dia sedang berada dalam mode emosi.
"Kamu masih di Indramayu, Yan?" tanya Habibah.
"Enggak, Kak. Kebetulan Yandri sedang berada di Tasik," jawab Yandri.
"Kalau begitu, apa kamu bisa jenguk ibu sebelum kembali ke Indramayu?" Habibah kembali bertanya.
"Memangnya ibu kenapa, Kak?" tanya Yandri, heran.
"Ibu sakit, Yan. Sudah beberapa hari ini dia nanyain kamu. Katanya, ibu rindu sama kamu. Tiba-tiba saja dia selalu kepikiran kamu hingga sakit, Dek," tutur Habibah.
Yandri diam. Mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin antara anak dan orang tua. Di saat aku sedang merasakan kesedihan yang mendalam, ibu bisa merasakannya, batin Yandri.
"Iya, Kak. Sekarang juga Yandri ke sana. Ibu ada di rumah kakek Ahmad, 'kan?" tanya Yandri.
"Iya, Dek. Ibu masih tinggal bersama kakek Ahmad," jawab Habibah.
"Ya sudah, Kak. Yandri tutup teleponnya, ya. Kebetulan Yandri lagi nyetir," pungkas Yandri.
.
.
Sementara itu di waktu yang sama, di kediaman Habibah.
__ADS_1
"Gimana, Bah? Apa Yandri mau datang?" tanya Bu Maryam, harap-harap cemas.
"Iya, Bu. Dia sedang dalam perjalanan ke sini. Sekarang, sebaiknya Ibu pulang gih, biar enggak ketahuan kalau Ibu cuma pura-pura sakit," ucap Habibah, menyuruh ibunya untuk pulang ke rumah kakek Ahmad.
"Ya sudah ... kalau begitu, Ibu pulang dulu ya, Bah," pamit Bu Maryam.
"Iya-iya, buruan gih!" balas Habibah, sembari tersenyum melihat tingkah ibunya yang sedang tergopoh-gopoh menuruni tangga depan rumah.
.
.
Di kediaman Bu Salma.
Dengan langkah gontai, Daniar memasuki rumahnya. Sapaan ibunya, sama sekali tidak dia hiraukan. Hati dan pikirannya sedang tidak fokus akibat mendengar jawaban Yandri.
Daniar kemudian memasuki kamarnya. Tiba di kamar, dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Daniar mulai menangis tersedu-sedu.
Di ruang keluarga, Bu Salma hanya bisa menghela napas tatkala melihat sikap Daniar. Dari sikapnya itu, sudah bisa dipastikan jika proses mediasi yang dijalankan putri dan menantunya hari ini, mungkin telah memberikan satu keputusan yang membuat putrinya bersedih.
Ya Tuhan ... semoga Engkau menyegerakan kebahagiaan anakku selepas menangis sekarang. Do'a Bu Salma dalam hatinya.
Bu Salma mengayunkan langkah menuju kamarnya. Kedua bola mata Bu Salma sudah berkaca-kaca. Ya, ibu mana yang tidak bersedih ketika melihat rumah tangga putrinya hancur berantakan. Terlebih lagi oleh orang ketiga yang tak lain pihak keluarga. Hanya saja, Bu Salma juga tidak bisa menyalahkan Yandri, apalagi menyalahkan besannya.
Sebagai seorang ibu, Bu Salma memahami posisi Bu Maryam yang mungkin ingin anaknya berbakti terlebih dahulu sebelum membagi perhatian dengan wanita lain. Dan untuk posisi Yandri ataupun Daniar, tidak ada yang salah dari sikap mereka. Takdir yang membawa mereka untuk hidup bersama, dan takdir juga yang menghendaki mereka berpisah.
Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Semoga setelah ini, Yandri maupun Daniar bisa menemukan kebahagiaan sejati mereka masing-masing.
.
.
Tok-tok-tok!
"Assalamu'alaikum!" Yandri mengucapkan salam sembari mengetuk pintu rumah kakek Ahmad.
"Wa'alaikumsalam!"
Di dalam rumah, seorang pria tua berjalan tergesa-gesa menuju pintu depan. Ketukan berirama cepat yang terdengar dari ruang tamu, menandakan jika yang datang sedang memiliki hajat penting.
"Ish, siapa kira-kira orang yang datang terburu-buru di jam siang begini," gerutu Kakek Ahmad yang merasa jam tidur siangnya terganggu.
Trek!
Kakek Ahmad membuka kunci pintu. Sedetik kemudian, dia menekan handle pintu dan membukanya.
"Nak Yandri?" ucap Kakek Ahmad, menautkan kedua alisnya.
"Assalamu'alaikum, Pak. Apa kabar?" Yandri kembali menyapa seraya meraih tangan Kakek Ahmad untuk menunjukkan rasa hormatnya.
"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah, Nak ... kabar Bapak baik. Kamu sendiri bagaimana, sehat?" Kakek Ahmad balik bertanya.
__ADS_1
"Sehat, Pak. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa dia sudah mau diajak ke dokter?" tanya Yandri.
"Dokter? Maksud Nak Yandri?" Karena merasa heran, Kakek Ahmad malah balik bertanya kepada anak sambungnya.
"Bukankah ibu sedang sakit, Pak?" jawab Yandri.
"Sakit?" ulang Kakek Ahmad. "Siapa yang bilang, Nak?" tanya Kakek Ahmad, heran.
"Loh, tadi kak Bibah menelepon. Katanya Ibu sedang sakit, karena itu Yandri datang kemari, Pak." Perjelas Yandri.
"Jadi, kamu harus menunggu ibu sakit dulu, baru mau datang menemui ibu. Begitu?" Tiba-tiba Bu Maryam masuk dari pintu dapur.
"I-ibu?" gumam Yandri.
"Ya sudah, sebaiknya kamu masuk dulu, Nak. Tidak baik bicara di luar," timpal Kakek Ahmad.
Yandri memgangguk. Sedetik kemudian, dia melangkahkan kaki memasuki rumah ayah tirinya. Setelah mencium punggung tangan ibunya, Yandri pun duduk.
"Ibu kenapa harus berbohong kepada Yandri? Bukankah sedari kecil Ibu selalu mengajarkan Yandri untuk tidak berbohong?" tanya Yandri, berusaha meredam perasaan kesalnya.
"Kalau tidak dengan cara seperti ini, bagaimana mungkin kamu bisa datang kemari. Kamu itu terlalu sibuk ngurusin istri kamu. Sampai kakak kamu meninggal pun, kamu tidak datang," keluh Bu Maryam, ketus.
"Ish, bukan seperti itu, Bu. Yandri tidak datang karena seminggu sebelumnya Yandri baru saja cuti. Tidak mungkin kalau Yandri mengajukan cuti lagi. Tempat Yandri bekerja itu sangat mengutamakan kedisiplinan, Bu. Lagi pula, Yandri sudah bilang sama kang Aji kalau Yandri tidak bisa datang dan hanya diwakili oleh Daniar," papar Yandri.
"Lantas, kenapa bulan depannya kamu tidak ziarah ke makam Khodijah? Sibuk, manjain anak perempuan kamu, berlibur?" tanya Bu Maryam, ketus.
"Astaghfirullah, Bu ..." Yandri menghela napas sejenak. "Sebenarnya, pulang dari rumah kang Aji, Daniar terkena musibah. Dia jatuh dan keguguran hingga rahimnya harus diangkat. Karena itu Yandri tidak bisa berziarah ke makam almarhumah. Yandri juga tidak sempat mengunjungi Ibu karena Yandri harus mengurus Daniar, Bu. Dia begitu terpukul karena kehilangan calon bayi kami," tutur Yandri.
Mendengar penuturan anaknya, jantung Bu Maryam berdetak kencang. Seketika, dia teringat kembali akan kejadian di rumah Aji. Kejadian di mana dia mendorong tubuh Daniar hingga terjatuh dari teras rumah yang cukup tinggi.
Apa karena kejadian itu, Daniar keguguran? batin Bu Maryam.
"Lalu, ba-bagaimana keadaan istri kamu sekarang?" tanya Bu Maryam, terbata.
Yandri hanya bisa menundukkan wajah. Teringat kembali akan proses persidangan yang berujung perceraian esok hari.
"Ibu kamu baik-baik saja, Nak Yandri. Sebaiknya, kamu segera pulang. Kasihan istri kamu. Bapak pernah melihat bagaimana rapuhnya seorang wanita yang telah kehilangan rahim. Setegar apa pun dia, hatinya tetap rapuh, Nak. Selalu temani dia di masa-masa sulit seperti ini. Supaya dia tidak merasa diabaikan," nasihat Kakek Ahmad.
Yandri tersenyum kecut mendengar nasihat ayah sambungnya. Dadanya kembali terasa sesak. Rasanya, dia ingin menyimpan semua permasalahan ini sendirian. Namun, saat dia hancur. Begitu hancur ... dan dia membutuhkan seseorang yang bisa memahami semua kehancurannya.
"Bukannya Yandri tidak ingin menemani Daniar, Pak. Namun, Daniar sama sekali tidak ingin Yandri temani," sahut Yandri, lirih.
"Apa maksud kamu, Nak?" tanya Bu Salma.
"Yandri hancur, Bu ... hati Yandri sangat hancur," ucap Yandri seraya membaringkan kepalanya di atas pangkuan sang ibu. Perlahan, Yandri pun mulai terisak.
Bu Maryam dan Kakek Ahmad hanya bisa saling pandang, tanpa mampu memahami ucapan Yandri.
"Apa yang terjadi pada kalian, Nak?" tanya Kakek Ahmad.
"Ka-kami bercerai."
__ADS_1