
Danisa menautkan kedua alisnya ketika melihat sang ibu tengah melamun di ruang keluarga. Danisa kemudian melangkahkan kaki mendekati Bu Salma. Dia pun duduk di samping ibunya.
"Ada apa, Bu? Kok Nisa perhatiin, Ibu kek lagi kebingungan gitu," tanya Danisa.
Bu Salma tersenyum tipis. "Enggak, Dek. Enggak ada apa-apa," sahutnya.
Danisa menghela napas. "Jangan bohong, Bu. Tahu enggak, Ibu tuh bukan orang yang pinter nutupin keadaan," kata Danisa.
Bu Salma hanya bisa mengulum senyum saat mendengar ucapan anak bungsunya. Sejenak, dia menarik napas panjang sebelum akhirnya dia menceritakan sebab musabab kebingungannya.
"Ibu sadar kalau semua ini bakalan terjadi," kata Bu Salma, "tapi Ibu tidak menyangka akan secepat ini," lanjutnya.
"Jujur saja, Bu. Nisa sendiri bingung harus bilang apa. Seandainya kak Niar dan bang Yandri masih tinggal bersama, mungkin untuk sementara waktu, kita bisa numpang di rumah bang Yandri. Tapi sekarang ..." Danisa menjeda kalimatnya.
"Hmm, mau tidak mau, kita harus kembali ke rumah lama, Dek," timpal Bu Salma.
"Ish, Ibu. Rumah itu, 'kan sudah menjadi milik kak Nita. Enggak enak juga kita harus menumpang di sana. Lagi pula, Nisa dengar, rumah itu sudah dikontrakkan selama dua tahun ke depan," papar Danisa.
Kening Bu Salma mengernyit. "Kok dikontrakkan, Dek. Memangnya Nita mau tinggal di mana?"
"Kak Nita bilang, dia mau ikut bang Roni ke Ciamis. Memangnya kak Nita belum ngasih tahu Ibu?" tanya Danisa.
"Belum tuh. Ibu nggak tahu apa-apa tentang rencana kakak kamu," jawab Bu Salma.
"Mungkin kak Nita lupa, Bu. Soalnya, kata kak Nita, sayang kalau rumah yang di Ciamis enggak ditempati. Makanya kak Nita ikut pindah, toh di sini juga dia enggak kerja," lanjut Danisa.
"Apa masih bisa dibatalkan kontraknya, Dek?" tanya Bu Salma, mengira-ngira.
"Sepertinya enggak, Bu. Karena yang ngontrak, kan lembaga dan sudah ditandatangani juga," jawab Danisa.
"Hmm ya sudah, nanti kita pikirkan lagi solusinya. Sudah siang, sebentar lagi dzuhur. Ibu mau siap-siap untuk shalat dzuhur dulu," pungkas Bu Salma.
.
.
"Abis ini, kita mau ke mana lagi?" tanya Yandri kepada Bintang dan Daniar.
"Kita pulang saja ya, Nak. Sudah setengah hari kamu berjalan ke sana kemari. Kamu pasti lelah," bujuk Daniar kepada anaknya.
"Gimana kalau kita nonton di rumah Ayah?" usul Bintang.
"Wah, ide yang bagus tuh," timpal Yandri.
Daniar menghela napas. Dia tahu kalau ini hanya akal-akalan Bintang untuk mendekatkan kembali dirinya dengan mantan suaminya.
"Kalian berdua saja yang nonton, ya. Bunda masih banyak tugas. Besok, 'kan Bunda harus kerja, jadi Bunda butuh istirahat," kata Daniar.
"Ya sudah, Bunda enggak usah ikut nonton. Bunda tiduran aja di kamar Ayah. Gimana, boleh, 'kan Yah?" tanya Bintang melirik ayahnya.
"Hmm, tentu saja boleh, Sayang. Bukankah itu rumah kalian juga," sahut Yandri.
"Tuh, 'kan Bun ... Ayah saja sudah ngizinin. Kita nonton di rumah Ayah, yuk! Please ..." rengek Bintang.
Kembali Daniar menghela napasnya. Rengekan Bintang memang selalu meluluhkan hatinya. Akhirnya, Daniar pun mengikuti keinginan anak semata wayangnya.
.
.
__ADS_1
Beberapa hari telah berlalu. Yandri telah kembali bekerja. Bintang pun sudah bersiap menimba ilmu di tingkat SMP. Sedangkan Daniar, dia semakin menyibukkan diri dengan usaha sampingannya, yaitu membuat kue kering.
Daniar mencoba mempraktikkan ilmu yang sudah dia dapatkan dari kelas ibu-ibu PKK. Hasilnya memang belum seberapa, karena Daniar belum berani membuka jasa membuat kue untuk umum. Terlebih lagi, Daniar sendiri masih fokus menjalani profesi utamanya sebagai guru honorer. Karena itu, Daniar hanya membuat kue-kue pesanan rekan kerjanya saja.
Di suatu senja. Daniar menghampiri Bu Salma yang sedang menyiram tanaman di kebun belakang.
"Bunganya indah ya, Bu," ucap Daniar yang membuat Bu Salma melonjak karena terkejut.
"Ish, Kakak ... ngagetin aja," sahut Bu Salma, merengut kesal.
"Hehehe,... maaf, Bu," jawab Daniar yang sudah berdiri di samping ibunya. "Ngomong-ngomong, apa sudah ada kabar terbaru dari wak Rini, Bu?" tanya Daniar.
Bu Salma menyimpan alat siramnya. Dia kemudian berjalan menuju gazebo. Daniar mengikuti Bu Salma dari belakang. Sesaat kemudian, mereka duduk berdampingan.
"Sampai saat ini, belum ada kabar apa pun, Kak. Tapi kita jangan keenakan juga. Takutnya nanti mereka mengabari kita secara mendadak," tutur Bu Salma.
"Ya, Ibu benar. Oh iya, Bu. Simpanlah ini," lanjut Daniar seraya menyerahkan sebuah amplop panjang berwarna coklat.
"Apa ini, Ni?" tanya Bu Salma, heran.
"Itu hasil penjualan kue kering pesanan rekan-rekan kerja Niar, Bu. Lumayan lah, buat tambah-tambah biaya kontrak rumah nanti," jawab Daniar.
"Tapi bukankah ini simpanan untuk kuliahnya Bintang, Kak?" tanya Bu Salma yang merasa tidak enak jika harus menggunakan uang cadangan untuk kuliah cucunya.
"Tidak apa-apa, Bu. Bintang masih punya ayahnya yang lebih wajib membiayai," kata Daniar.
"Tapi, Nak ..." Bu Salma masih merasa ragu.
"Simpan saja, Bu. Biar nanti kita tidak perlu terlalu pusing untuk pindahan," jawab Daniar.
"Baiklah, Nak. Semoga kita bisa secepatnya menemukan kontrakan yang cocok untuk kita," kata Bu Salma.
"Aamiin. Ya sudah, Bu. Niar masuk dulu. Mau menyiapkan perlengkapan MPLS Bintang besok hari," pungkas Daniar.
.
.
"Kapan aqiqah Dela dilaksanakan, Mi?" tanya Bu Maryam kepada menantu bungsunya.
"Mia enggak tahu, Bu. Bang Raihan sama sekali tidak pegang uang saat ini," jawab Mia.
"Hhh, anak itu ... bikin anak terus, tapi enggak punya usaha tetap," gerutu Bu Maryam.
"Ya mau gimana lagi, Bu. Kan bukan kemauan Mia juga, punya anak lagi," balas Mia.
"Ya setidaknya, pakai KB dong, Mi!" tukas Habibah.
"Mia udah coba, Kak. Tapi kata bidannya, Mia itu alergi alat kontrasepsi," sahut Mia, membela diri.
"Sudah-sudah! Kalian bikin Ibu tambah pusing saja." Lerai Bu Maryam. "Ya sudah, Mi. Biar biaya aqiqah, Ibu yang tanggung," lanjutnya.
Mia tersenyum gembira. "Terima kasih, Bu."
"Ya sudah, kalau begitu, Ibu pulang dulu," pamit Bu Maryam.
Dalam perjalanan pulang, Habibah bertanya perihal biaya aqiqah anak bungsunya Raihan. Namun, dengan entengnya Bu Maryam menjawab jika dia akan meminta bantuan saudara-saudaranya Raihan. Habibah pun langsung mengerucutkan bibirnya. "Huh, nyusahin saja!"
.
__ADS_1
.
Yandri hanya bisa menarik napas panjang setelah mendengar pesan suara yang dikirimkan ibunya. Sedetik kemudian, Yandri menghubungi Bu Maryam.
"Assalamu'alaikum, Yan!" sapa Bu Maryam di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam, Bu. Apa maksud Ibu meminta Yandri untuk pulang minggu ini?" tanya Yandri.
"Raihan hendak mengadakan syukuran aqiqah anak keempatnya, Yan. Masak kamu enggak datang," jawab Bu Maryam memberikan alasan.
"Enggak bisa, Bu. Minggu sekarang tuh bukan jadwal relaksasinya Yandri," kata Yandri.
"Ish, Yan ... masak kamu enggak bisa cuti barang sehari atau dua hari saja," tukas Bu Maryam.
"Enggak bisa, Bu!" tegas Yandri.
"Ya sudah, kapan kamu bisa pulang?" tanya Bu Maryam. "Biar acara aqiqah anaknya Raihan diundur saja," lanjutnya.
"Ish, tidak harus diundur juga, Bu. Kalau mau syukuran, ya syukuran saja. Tidak harus menunggu Yandri pulang," balas Yandri.
"Tidak bisa begitu, Yan. Pokoknya, Ibu ingin semua anak-anak Ibu berkumpul di acara itu. Titik!" tegas Bu Maryam. "Jadi, kapan kamu bisa pulang?" tanyanya lagi.
"Huft!" Yandri kembali membuang napas, kasar. "Bulan depan, Bu. Minggu pertama," imbuhnya.
"Ya sudah, syukurannya kita adakan bulan depan saja. Tapi kamu harus pulang, ya. Dan jangan pulang ke rumah mantan istri kamu. Ingat itu!" tegas Bu Maryam.
"Enggak, Bu. Yandri pulang ke hotel!"
Tut!
Yandri mengakhiri pembicaraannya. "Huh, ada-ada saja."
.
.
Hari demi hari terus berlalu. Untuk memenuhi permintaan ibunya, Yandri pulang ke rumah Bu Maryam. Meskipun dalam hati, Yandri merasa bersalah karena tidak bisa menemui Bintang.
Ketika Yandri mencuri-curi waktu untuk menemui anaknya, Bintang ternyata sedang mengadakan kegiatan wisata religi selama lima hari. Alhasil, relaksasi kali ini, Yandri tidak bertemu dengan anaknya.
"Ayo Yan, kita ke rumah Mia. Sebentar lagi acara syukurannya dimulai," ajak Bu Maryam.
Yandri terpaksa keluar dari kamarnya. Entah kenapa, dia selalu tidak pernah bisa berkata tidak atas keinginan ibunya. Demi menyenangkan hati ibunya, Yandri rela melakukan apa pun.
Tiba di rumah Mia, para tamu undangan yang terdiri dari bapak-bapak, telah berkumpul di ruang tamu. Sesaat kemudian, seorang ustadz memimpin acara aqiqah putri bungsu Raihan.
Satu per satu, susunan acara dimulai dengan cukup khidmat. Hingga di acara terakhir, Yandri ke depan untuk memimpin do'a.
Diam-diam, Siska memperhatikan Yandri dari balik tirai yang menghalangi jamaah pria dan wanita. Ini adalah pertemuan pertama Siska dengan Yandri setelah sekian tahun. Siska tersenyum lebar melihat pria yang tidak pernah mampu dia lupakan sepanjang hidupnya.
Setelah acara selesai, para tamu undangan diminta untuk menikmati jamuan. Merasa haus, Yandri kemudian pergi menuju meja yang menyajikan aneka minuman dingin.
"Ayo buruan, ini kesempatan kamu," bisik Habibah di telinga sahabatnya.
"Tapi, Kak," jawab Siska, ragu.
"Udah, sana ah!"
Habibah mendorong pelan tubuh Siska hingga gadis itu tidak bisa menghindar lagi. Jantungnya berdetak kencang menyadari jika dia berada sangat dekat dengan pria pujaannya.
__ADS_1
Untuk menutupi kegugupannya, Siska meraih gelas dan menyodorkannya kepada Yandri.
"Minum, Yan!"