Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kedatangan Aminah dan Rahmat


__ADS_3

Daniar memekik pelan saat melihat mobil yang gambarnya pernah dikirimkan Yandri melalui pesan whatsapp.


"I-ini apa, Yah?" tanya Daniar, terbata.


"Alhamdulillah, ini hadiah buat kesabaran Bunda karena sudah menemani Ayah," jawab Yandri.


"Ish, Ayah. Enggak lucu, ah," tukas Daniar merengut.


Yandri tersenyum. Tanpa rasa malu, dia memeluk Daniar dari belakang. Dagunya menumpu di bahu istrinya. "Suka enggak?" tanyanya.


"Ih, Ayah belum jawab pertanyaan Bunda. Ini maksudnya apa?" Daniar kembali bertanya. Kali ini nada bicaranya sedikit naik.


"Ini mobil untuk kita menikmati liburan, Bun," jawab Yandri.


"Maksud Ayah, kita beli mobil?" tanya Daniar memastikan.


Yandri mengangguk


"Serius?" Daniar kembali bertanya.


"Iya, serius Bun, tapi maaf, ya ... uangnya hanya cukup buat beli mobil kecil dulu," timpal Yandri.


"Ish, Ayah. Segini juga sudah alhamdulillah," sahut Daniar, bersyukur.


Yandri tersenyum. Dia kemudian menghampiri pria tadi seraya berkata, "Sepertinya istri saya menyukai kendaraannya, Pak. Kalau begitu, saya ambil yang ini saja."


Pria bertubuh gempal itu pun tersenyum. "Mari ikut saya, Pak!"


Mereka lalu berjalan beriringan menuju kantor untuk transaksi jual beli.


"Bun, apa sekarang kita punya mobil?" tanya Bintang yang sedari tadi menyimak pembicaraan orang dewasa.


"Iya, Sayang," jawab Daniar.


"Yeaaaay! Bintang punya mobil!" teriak gadis kecil itu seraya berlari mengelilingi mobilnya.


.


.


Gimana, Minah? Apa sudah cukup?" tanya Rahmat saat melihat Aminah sedang menghitung uang yang diberikan calon menantunya.


"Sebenarnya ini sudah cukup, Kang. Hanya saja, Anisa minta hiburan untuk memeriahkan pernikahannya," jawab Aminah.


"Ish, kenapa kamu tidak beri pengertian kepada anak kamu, Minah? Kamu bilang jika dana kita tidak memadai untuk menyewa biduan," ujar Rahmat.


"Minah sudah coba bicara pada Nisa, Kang. Tapi anak itu tetap memintanya. Lagi pula, tidak ada salahnya kita mengikuti keinginan Nisa. Toh kita hanya memiliki satu anak saja. Kita bikin acara pernikahan Nisa semeriah mungkin, Kang. Supaya berkesan baginya. Kasihan Nisa, Kang," jawab Aminah.


Rahmat menghela napas. "Akang tahu, Minah. Kapan lagi di rumah ini ada pesta selain pesta pernikahan Anisa. Siapa yang enggak mau dengan pesta pernikahan yang meriah, Akang juga mau, Minah. Apalagi Anisa anak kita satu-satunya. Tapi biaya dari mana? Kamu sendiri tahu jika kita sudah pinjam ke sana kemari untuk menutupi kekurangan biaya pernikahan Anisa," tutur Rahmat panjang lebar.


"Kenapa kita tidak coba pinjam ke Yandri saja, Kang?" ucap Aminah seperti mendapatkan ide cemerlang.

__ADS_1


"Ish, Minah. Bukankah baru minggu kemarin kita melunasi hutan kita kepada yandri. Malu kalau harus dipinjam lagi," tukas Rahmat.


"Ih Akang, kenapa harus malu? Yandri itu adik Minah. Sudah sewajarnya jika dia membantu kakaknya," jawab Aminah.


"Iya, dia itu adik kamu. Tapi kamu juga harus ingat jika dia pun suami orang, Minah. Kita harus bisa menghargai kehadiran istrinya. Malu sama Daniar kalau harus pinjam uang lagi sama Yandri," ujar Rahmat, mengingatkan.


"Kita coba saja dulu, Kang. Lagi pula, Daniar itu orang yang sangat baik. Minah rasa, dia tidak akan keberatan kalau suaminya membantu kita." Aminah sepertinya ngeyel dengan keinginannya.


"Hhh, terserah kamu saja!" jawab Rahmat, menyerah.


.


.


Dua minggu telah berlalu. Yandri yang secara otodidak belajar menyetir, akhirnya mampu juga menguasai kendaraan beroda 4 tersebut. Bahkan, Daniar yang sedari awal selalu setia menemani suaminya test drive, kini mulai merasakan perubahan dari cara menyetir Yandri.


"Alhamdulillah, sepertinya Ayah sudah lihai bawa mobil, nih," goda Daniar saat mereka sedang berjalan-jalan keliling kota.


"Hmm, Bunda aja bisa Ayah taklukin, apalagi cuma benda mati," timpal Yandri balik menggoda istrinya.


"Haish, tega banget nyamain Bunda sama benda mati," gerutu Daniar seraya mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha,...." Yandri hanya tergelak mendengar gerutuan sang istri.


"Sudah sore Yah, pulang yuk!" ajak Daniar.


"Iya, ayo Bun! Kasihan juga Bintang, dia pasti nyariin kita," timpal Yandri.


"Enggak pa-pa, Bun. Jarang-jarang kita bisa jalan berdua," balas Yandri seraya mengelus pipi istrinya.


Daniar hanya tersenyum mendengarkan jawaban Yandri. Dalam perjalanan pulang, tak lupa Yandri singgah di kedai martabak untuk membeli martabak coklat kesukaan Bintang.


"Huh, nyogok nih ceritanya," ledek Daniar.


Yandri hanya tersenyum sambil membuka safety belt. Sedetik kemudian, dia turun dan segera memesan dua kotak martabak, oleh-oleh buat Bintang dan mertuanya.


.


.


Di hari Minggu yang cerah, Yandri mengajak anaknya untuk bermain air di halaman belakang.


"Ih Ayah, nyuci mobil enggak harus ngajak anaknya basah-basahan kali," ucap Daniar saat melihat Bintang basah kuyup karena membantu ayahnya mencuci mobil.


"Hehehe, enggak pa-pa Bun. Mengajarkan anak artinya membantu orang tua juga," sanggah Yandri


Daniar hanya memutar kedua bola matanya, jengah. Tiba-tiba, Bu Salma datang menghampiri mereka.


"Yan, ada tamu yang nyariin kamu, tuh," kata Bu Salma, menyampaikan berita kepada menantunya.


Yandri dan Daniar saling tatap.

__ADS_1


"Siapa Yah, pagi-pagi gini sudah ada yang nyariin Ayah?" tanya Daniar


Yandri hanya menggerakkan kedua bahunya menanggapi pertanyaan sang istri.


"Sudah sana, temui mereka dulu," perintah Bu Salma.


"Mereka?" celetuk Daniar, "berarti tamunya lebih dari satu dong, Bu," lanjutnya.


"Hem-eh. Kayaknya sepasang suami istri, Kak. Wajahnya sih, seperti enggak asing. Cuma Ibu lupa, pernah lihat di mana," jawab Bu Salma.


"Suami istri? Hmm, kira-kira siapa, ya, Bun?" Yandri kembali bertanya kepada istrinya.


"Ish Ayah, mana Bunda tahu. Ya udah, biar enggak penasaran juga, ayo cepat ... Ayah temui mereka" perintah Daniar kepada suaminya.


Yandri menyimpan peralatan mencuci mobilnya. Setelah itu, dia mengayunkan langkah memasuki rumah.


"Ibu beneran, enggak kenal sama tamunya kang Yandri?" tanya Daniar memastikan.


"Enggak tahu, Ni. Ibu sama sekali enggak ingat sama mereka. Tapi wajah cowoknya kayak Ibu kenal. Hanya saja, Ibu enggak ingat pernah ketemu dia di mana," jawab Bu Salma.


"Hmm, siapa ya?" gumam Daniar, penasaran.


"Sudah, Kak. Daripada kamu pusing mikirin tamunya suami kamu. Lebih baik kamu mandiin anak kamu. Kasihan, Bintang sudah kedinginan tuh!" Tunjuk Bu Salma kepada cucunya yang sudah menggigil karena bermain air.


"Eh, i-iya, Bu," jawab Daniar seraya menghampiri anaknya.


Dengan cekatan, Daniar membuka pakaian Bintang yang sudah basah. Sejurus kemudian, dia mulai memandikan anaknya. Setelah selesai, dia membawa Bintang ke kamar untuk berpakaian.


Sementara itu, di ruang tamu. Yandri sedikit tertegun saat melihat kakak dan kakak iparnya tengah duduk di kursi tamu.


"Kak Minah, Kang Rahmat!" sapa Yandri seraya menghampiri tamunya.


"Eh, Yan," sahut Aminah dan Rahmat berbarengan.


Yandri pun duduk di hadapan mereka. "Kok tumben, ke sini enggak bilang-bilang, Kak?" tanya Yandri yang memang tidak mendapatkan kabar jika kakaknya akan datang.


"Maaf, Yan. Kakak enggak punya pulsa,"dalih Aminah.


Yandri hanya tersenyum. "Enggak pa-pa Kak, Yandri cuma kaget aja. Biasanya Kakak suka memberi kabar terlebih dahulu kalau mau datang," jawabnya. "Ngomong-ngomong, Kakak dari mana? Apa sengaja datang kemari?" tanya Yandri


Untuk sejenak, Aminah dan Rahmat saling pandang. Namun, di detik berikutnya. Aminah pun angkat bicara.


"Sebenarnya kami sengaja datang untuk menemui kamu, Yan," kata Aminah.


Yandri mengernyit. Dia kemudian bertanya, "Ada apa, Kak?"


"Kakak ... emh, itu Yan, anu. Se-sebenarnya Kakak mau pinjam uang. Anisa hendak menikah, dan dia menginginkan hiburan dalam acara pernikahannya. Sedangkan uang yang diberikan oleh calon suaminya, itu hanya cukup untuk biaya dapur sama dekorasi rumah saja, Yan," tutur Aminah


Ya Tuhan ... pinjam uang lagi? batin Daniar yang tanpa sengaja menguping pembicaraan Yandri dan kedua tamunya.


Sejenak, Yandri diam. Rupanya kedatangan Aminah dan Rahmat hanya untuk meminjam uang. Yandri sendiri kebingungan harus menjawab apa. Jujur saja, dia sudah tidak memiliki tabungan lagi. Semua tabungannya terkuras habis karena dibelikan mobil dua minggu yang lalu.

__ADS_1


"Gimana Yan?"


__ADS_2