
Yandri benar-benar kebingungan dengan reaksi Daniar. Menerka-nerka, hanya membuat kepala Yandri bertambah pusing saja. Pada akhirnya, Yandri pasrah. Seperti apa kata ibu mertuanya, mungkin memang Daniar masih perlu waktu untuk bisa menerima semua takdirnya, pikir Yandri.
Sementara itu, di dalam kamar tamu. Daniar menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Dia membenamkan wajah di atas bantal dan mulai terisak. Hal itu sengaja dia lakukan agar orang rumah tidak mendengar isak tangisnya.
Lagi-lagi, dada Daniar terasa sesak. Terkenang kembali hinaan yang dilontarkan ibu mertuanya. Entah kenapa, salah ... salah ... dan hanya kesalahan yang wanita tua itu lihat dari dirinya. Sedikit pun, Bu Maryam lupa akan kebaikan yang Daniar lakukan untuk anak-anaknya.
Daniar harus merelakan uang peralatan bayi untuk membayar utang Raihan. Dia harus merelakan uang aqiqah untuk pernikahan Habibah. Dia harus membayar uang tabungan pengajian untuk mahar Raihan, dan dia harus merelakan uang tabungan Bintang untuk biaya pengobatan alternatif Khodijah. Namun, haruskah dia menghitung setiap kebaikannya?
Tidak! Daniar wanita yang berprinsip. Jangan pernah menghitung untung dan rugi dalam berbuat kebaikan, karena kebaikan bukanlah jual beli.
Namun, tatkala hatinya terluka atas sikap ibu mertua yang tak pernah menghargai dirinya. Prinsip itu pun seolah goyah. Dan kini, Daniar mulai tidak yakin jika dia mampu mempertahankan prinsipnya.
Aku manusia yang memiliki hati. Dan suatu saat, hati ini akan hancur jika terus dikikis oleh hinaan, batin Daniar, sesenggukan.
.
.
Tiga hari waktu relaksasi, Yandri lalui dalam kehampaan. Sepertinya, Daniar bersungguh-sungguh dengan permintaan yang terakhir kali dia lontarkan. Terbukti, jika selama Yandri berada di rumah, Daniar selalu menjaga jarak dengan dirinya. Hingga hari ini, rasa marah menguasai diri Yandri.
"Apa-apaan ini, Bunda?" tanya Yandri seraya memperlihatkan surat gugatan cerai yang dia temukan di atas nakas di kamarnya.
Daniar yang sedang menilai hasil ulangan peserta didiknya, langsung mendongak. Dia menatap selembar surat ber-cap pengadilan agama di tangan Yandri.
"Itu surat gugatan cerai, Kang," jawab Daniar, santai.
"Ayah tahu, tapi kenapa Bunda melayangkan surat gugatan cerai ini kepada Ayah? Memangnya, apa salah Ayah?" tanya Yandri, geram.
Daniar menghentikan pekerjaannya. Dia menatap Yandri penuh kelembutan. "Tolong jangan mempersulit keadaan, Kang," pintanya lirih.
"Astaghfirullahaladzim ... siapa yang mempersulit keadaan, Bun?" tukas Yandri, tak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran Daniar.
"Kamu sendiri yang sedang mempersulit keadaan. Ayah sudah bilang jika Ayah tidak ingin berpisah denganmu, tapi kenapa kamu masih saja mencobanya. Kamu malah menjadikan keturunan sebagai alasan. Sebenarnya mau kamu apa sih, Bun? Ayah sudah bilang jika Ayah bisa menerima keadaan kamu. Bahkan bila perlu, Ayah pun bisa melakukan vasektomi, biar adil!" tegas Yandri.
"Kamu bisa menerima aku, tapi tidak dengan ibumu!" teriak Daniar.
Daniar beranjak dari tempat tidur. Dia pun keluar sambil membanting pintu kamar. Membuat Yandri hanya mengelus dadanya dan beristighfar.
"Astaghfirullah ... kenapa harus bawa-bawa nama ibu, Bun?" gumam Yandri.
.
__ADS_1
.
"Kenapa Ayah harus pulang hari ini?" rengek Bintang yang melihat ayahnya tengah berkemas.
"Maafkan Ayah, Sayang. Ayah ada tugas mendadak dari bapak kepala sekolah," jawab Yandri, menahan sesak karena harus berbohong kepada putrinya.
"Kenapa bapak kepala sekolah harus memberikan Ayah tugas? Bukankah Ayah sedang liburan? Kenapa harus bekerja juga di waktu liburan?" cecar Bintang yang menilai alasan ayahnya tidak masuk akal.
Yandri sudah tidak mampu lagi menjawab pertanyaan anaknya yang selalu kritis. Jika boleh jujur, keberangkatan Yandri kembali ke Indramayu, itu memang karena sikap Daniar. Dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi permintaan Daniar yang menyuruhnya untuk menandatangani surat cerai. Daripada dia emosi dan kelepasan, akhirnya Yandri memutuskan untuk menjauhi Daniar dengan cara kembali bekerja.
"Sudahlah, Bin. Ayah kamu, 'kan bukan bos yang bisa liburan seenaknya. Lagi pula, Ayah kerja, 'kan buat memenuhi kebutuhan kamu juga, terutama pendidikan kamu. Bukankah Bintang pengen jadi astronot?" kata Bu Salma, mencoba membujuk cucunya.
Mendengar cita-citanya disebutkan, akhirnya Bintang melepaskan pelukannya.
"Baiklah, tapi nanti tolong Ayah bilang sama bapak kepala sekolah, kata Bintang, kalau Ayah lagi liburan, tolong jangan diganggu. Sampaikan itu ya, Yah," ucap Bintang yang spontan membuat Yandri dan ibu mertuanya tersenyum.
"Iya, Sayang. Nanti Ayah sampaikan," jawab Yandri.
Setelah selesai berkemas, Yandri kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia hendak menelepon Daniar untuk memberitahukan keberangkatannya. Namun, wanita itu sama sekali tidak mengangkat teleponnya meskipun telah tersambung.
Astaghfirullah ... sekuat itukah keinginannya untuk berpisah denganku? Sampai-sampai dia tidak mau menerima panggilan aku, batin Yandri.
Merasa diacuhkan, akhirnya Yandri memutuskan untuk berpamitan kepada ibu mertuanya.
Yandri berharap akan bertemu Daniar di depan sekolah tempat istrinya bekerja. Meskipun tidak bertegur sapa, tapi melihat senyumnya dari kejauhan pun, sudah bisa mengobati kegundahan hati Yandri.
Namun, harapan hanya tinggal harapan. Karena perempuan itu, sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Setelah melewati sekolah Daniar, akhirnya Yandri menambah kecepatan laju mobilnya.
Sepanjang perjalanan, hati Yandri terasa kacau. Pikirannya tidak pernah tenang. Teringat akan surat gugatan cerai yang dia temukan siang kemarin.
Ada apa sebenarnya ini? Apa yang telah terjadi sampai Daniar memutuskan untuk menggugat cerai? Apa selama ini aku tidak pernah cukup setia untuknya? Astaghfirullah ... kenapa ujian ini begitu berat? batin Yandri.
Brak!
Karena terlalu banyak melamun, mobil Yandri menabrak sebuah angkot yang berhenti mendadak.
"Astaghfirullahaladzim!" pekik Yandri kaget.
Yandri segera menepikan mobilnya untuk berhenti. Begitu juga dengan sopir angkot yang baru saja dia tabrak mobilnya. Dengan wajah merah karena amarah, sopir angkot berkumis tipis itu pun keluar dan berjalan menuju mobil Yandri.
Tok-tok-tok!
__ADS_1
Sopir angkot mengetuk kaca jendela mobil Yandri. Dengan berlapang dada, Yandri membuka pintu mobil dan keluar. Dia sudah siap jika si sopir angkot akan memperkarakannya ke polisi.
Namun, saat si sopir angkot melihatnya, tiba-tiba sopir itu tersenyum lebar.
"Astaga ... Yandri!" pekik sopir angkot sembari merangkul tubuh Yandri.
Untuk sejenak, Yandri hanya melongo melihat tingkah si sopir. Saat sang sopir melepaskan pelukannya, Yandri mulai mengamati raut wajah abang sopir angkot.
"Jangan bilang kalau kamu enggak kenal aku," kata si sopir angkot.
"Maaf, Bang. Sepertinya raut wajah Abang memang tidak asing di mata Ana. Tapi jujur saja nih, Bang. Ana emang lupa lagi nama Abang," jawab Yandri.
"Aih, gila kamu, Yan. Masak teman satu kampung kamu enggak kenal," tukas si sopir angkot.
"Astaghfirullah, sumpah Bang. Ana lupa!" tegas Yandri.
"Gue Naman, teman sekampung kamu. Bahkan kita satu sekolahan saat di tingkat dasar dulu," lanjut orang yang bernama Naman.
"Tunggu-tunggu ... apakah ini Naman Rahadi, yang putranya Mak Ida?" tanya Yandri.
Naman mengangguk.
"Masya Allah, Ana enggak nyangka ya, kita ketemu di sini. Tapi kok, Antum bisa berada di kota ini? Gimana ceritanya? Bukankah terakhir kali Ana denger kabar, Antum nikah sama orang Bandung, ya?" tanya Yandri yang melihat teman masa kecilnya berada di Majalengka.
"Ceritanya panjang, Yan. Eh, bentar ya... aku mau pindahin penumpang dulu. Kebetulan ban mobilnya bocor," kata Naman.
"Ah ya, silakan!" balas Yandri.
Naman kemudian pergi untuk menghentikan angkot yang lewat. Setelah sedikit bernegosiasi, akhirnya para penumpang mau dipindahkan ke angkot lain. Tak lama kemudian, Naman kembali lagi menemui Yandri. Mereka berjalan beriringan menuju warung kopi terdekat.
"Aku bercerai dengan istriku yang di Bandung. Dua tahun kemudian, aku menikah lagi. Dan kebetulan, istri keduaku asli orang Majalengka," sahut Naman saat ditanya Yandri tentang keberadaannya di kota ini.
Kedua teman masa kecil itu berbincang saling bertukar cerita. Hingga akhirnya, Naman bertanya tentang insiden kecil yang mereka alami.
"Kamu lagi ngelamun, ya? Kok bisa nabrak gitu sih, untung aja enggak lagi jalan cepet," tegur Naman.
"Ana lagi bingung, Man," jawab Yandri.
"Bingung kenapa?" tanya Naman, menyimak dengan mode serius.
"Istri Ana menggugat cerai Ana," jawab Yandri.
__ADS_1
"Apa?!"