Setelah Hujan

Setelah Hujan
Tawaran Kerja


__ADS_3

Tanpa terasa, bulan demi bulan telah Daniar lewati untuk menemani ibunya di rumah peninggalan almarhumah Hajjah Minah. Banyak komentar-komentar negatif dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan keberadaan mereka di sana. Namun, kata-kata dari anak-anak almarhumah yang tak lain sepupu Bu Salma yang membuat mereka menutup mata dan telinga akan nyinyiran tetangga yang usil.


Sore ini, Yandri pulang kerja dengan wajah yang terlihat bersedih. Bahkan, sepanjang sore dia hanya mengurung diri di kamar. Membuat dahi Bu Salma berkerut saat melihat tingkah menantunya yang tidak biasa.


"Suami kamu kenapa, Nak? Kok semenjak pulang dari sekolah, dia hanya ngurung diri di kamar. Ada masalah?" tanya Bu Salma.


Niar yang sedang membereskan meja makan untuk persiapan makan malam, hanya melirik pintu kamar yang tertutup. "Entahlah, Bu. Niar juga tidak tahu."


"Kamu enggak nanya sama Yandri, Kak?"


"Belum sempat, Bu."


"Ya sudah, mumpung belum magrib juga. Sebaiknya kamu temui dia dan bicara baik-baik. Takutnya memang suami kamu itu sedang memiliki masalah, Kak," lanjut Bu Salma.


Daniar mengangguk. "Kalau gitu, Niar ke kamar dulu. Titip Bintang sebentar, Bu. Dia lagi anteng nonton kartun kok."


"Ya sudah, sana pergi!" pungkas Bu Salma.


Daniar kembali mengangguk. Dia kemudian memasuki kamarnya untuk berbicara dengan sang suami. Tiba di kamar, Daniar melihat Yandri sedang tidur telentang berbantalkan kedua lengannya. Matanya menatap lurus langit-langit kamar. Namun, tatapan mata itu terlihat sangat kosong. Bahkan, pria itu pun tidak menyadari jika Daniar menghampiri dan duduk di sampingnya.


"Yah," panggil Daniar, tapi sepertinya Yandri tidak mendengar panggilan Daniar.


"Ayah!" Sekali lagi Daniar memanggil. Namun, sedikit pun Yandri tak menengok. Entah sedang berjalan-jalan ke mana pikiran pria itu.


Daniar menghela napasnya. Dia sadar jika pikiran suaminya sedang kosong saat ini. Perlahan, Daniar menunduk dan mendekatkan wajah. Dia kemudian menyentuh bibir suaminya dengan bibirnya.


Yandri tersentak kaget mendapatkan kecupan sekilas dari istrinya. Dia tersenyum tipis seraya menggoda sang istri. "Tanggung, Bun. Sebentar lagi magrib," katanya.


"Ish, dasar mesum," tukas Daniar. "Bunda cium Ayah tuh sengaja, biar Ayah sadar. Lagian Ayah lagi ngelamunin apa sih? Udah dua kali Bunda panggil, tapi enggak nyahut. Boro-boro nyahut, noleh juga enggak," lanjut Daniar.


"Benarkah?" tanya Yandri, kaget. Dia kemudian bangun dan duduk berhadapan dengan istrinya. "Bunda ada perlu apa manggil Ayah? Butuh bantuan Ayah?" tanyanya lagi.


"Enggak, Yah. Bunda cuma pengen ngobrol aja sama Ayah. Udah lama juga kita enggak ngobrol berdua," jawab Daniar.


"Hehehe, Bunda benar juga. Tapi ngomong-ngomong, Bintang ke mana? Tumben anak itu enggak ngekorin Bunda," ledek Yandri.

__ADS_1


"Hmm, Bintang lagi asyik nonton kartun kesukaannya, Yah. Iya juga, ya? Biasanya kalau Bunda enggak kelihatan, dia langsung nyari," timpal Daniar yang baru menyadari sikap putri tunggalnya.


"Hmm, mungkin karena bertambahnya usia, Bintang sudah mulai mengerti juga, Bun," jawab Yandri.


"Hmm, bisa jadi," sahut Daniar. "Ngomong-ngomong, Yah ... dari tadi Bunda perhatiin, kok Ayah murung terus semenjak pulang dari sekolah. Ada masalah?" tanya Daniar


Yandri menyandarkan punggung pada sandaran ranjang. Dia kembali menengadahkan wajah seraya menarik napas cukup panjang. Sesaat kemudian, dia mulai bercerita tentang apa yang sedang menjadi pikirannya saat ini.


"Sudah bertahun-tahun Ayah menjadi tenaga sukwan di sekolah, tapi belum ada peningkatan kesejahteraan, Bun. Bahkan setelah lulus sarjana pun, kesempatan sertifikasi belum ada. Kebijakan pemerintah selalu berubah-ubah, sedangkan kebutuhan kita semakin meningkat. Bintang pun sebentar lagi masuk SD. Ya meskipun biaya sekolah SD belum seberapa. Namun, terkadang ada banyak hal-hal tidak terduga dan kita sama sekali tidak memiliki tabungan untuk hal itu," ungkap Yandri.


"Apa hari ini ada kejadian di sekolah yang membuat Ayah berpikir sejauh itu?" terka Daniar.


Sudah lebih dari tujuh tahun Daniar hidup berumah tangga dengan Yandri. Karena itu, dia sudah mulai bisa memahami sikap Yandri.


"Kenapa Bunda bertanya seperti itu?" tanya Yandri, heran.


Daniar tersenyum, "kebersamaan kita bukan hanya kemarin sore, Yah. Karena itu Bunda tahu bagaimana karakter Ayah ketika mengalami kekecewaan di tempat kerja," sahut Daniar. "Memangnya, apa yang terjadi, Yah?" tanya Daniar lagi.


Yandri kembali menghela napasnya. "Hari ini pendaftaran sertifikasi sudah dimulai. Dan ternyata, list-nya kembali lagi menurut usia," jawab Yandri.


"Dan usia Ayah masih terlalu muda untuk bisa mengikuti pendaftaran itu?" tebak Daniar.


"Ayah tahu, kenapa Bunda masih bertahan hidup bersama Ayah?" tanya Daniar.


Yandri menatap intens istrinya untuk mencari jawaban. "Tentu saja karena Ayah tampan," ucapnya narsis.


"Idih ge-er," sahut Daniar,


"Lantas?" Yandri kembali bertanya.


"Hmm, itu karena Ayah laki-laki yang tidak mudah menyerah," jawab Daniar.


Yandri tersenyum tipis. "Ayah tidak menyerah, Bun. Hanya sedang berpikir saja, apa Ayah berhenti saja menjadi guru? Mungkin sebaiknya Ayah ganti profesi jadi petani, atau tukang ikan? Kalau dibandingkan, penghasilan mereka panen, jauh lebih banyak daripada penghasilan guru honorer yang paling tinggi, gajinya cuma 500 ribu," tutur Yandri.


Daniar tersenyum, "Tapi passion-nya beda, Yah. Coba aja Ayah rasakan. Ke mana pun Ayah pergi, orang-orang menyapa Ayah dengan rasa hormat. Terlebih lagi anak-anak yang mencium punggung tangan kita sebagai bentuk penghormatannya. Mereka menghormati kita karena profesi kita, Yah. Niar belum pernah lihat tuh, ada anak-anak mencium punggung tangan seorang petani atau tukang ikan, kecuali anaknya sendiri. Hehehehe,.... Sudahlah Yah, bukannya Niar membanding-bandingkan profesi seseorang. Apa pun pekerjaannya, asalkan halal, Bunda bisa terima. Namun, jika Ayah berhenti menjadi guru, ibu dan saudara ayah pasti akan menertawakan usaha ayah selama ini. Dan Niar yakin, kak Bibah dan Yoga, pasti akan gencar menyindir usaha Ayah yang sia-sia," papar Daniar.

__ADS_1


"Huss, Bun. Enggak usah su'udzon gitu ah, enggak baik!" kata Yandri mengingatkan.


"Bukan su'udzon Yah, tapi itu fakta yang akan ada jika Ayah memutuskan berhenti dari cita-cita Ayah. Jika ujung-ujungnya akan seperti mereka juga, lalu untuk apa Ayah kuliah? Itu yang pasti mereka pikirkan nanti, Yah," jawab Daniar memberikan alasan.


Yandri diam. Tidak bisa dipungkiri jika apa yang dikatakan istrinya itu benar. Orang-orang yang dulu sempat iri karena pendidikan yang dia tempuh, tentunya akan tertawa puas jika sampai dia berhenti dari pekerjaannya saat ini.


"Astaghfirullah!" gumam Yandri.


"Sudah Yah, jangan terlalu banyak pikiran. Sebentar lagi magrib, kita wudhu yuk!" ajak Daniar. "Kita salat berjamaah," pungkasnya.


.


.


Hari ini adalah hari kunjungan rutin yang dilakukan oleh salah seorang putri almarhumah. Kunjungan ini bertujuan untuk menyantuni para anak yatim dan dhuafa yang dilakukan setiap sebulan sekali.


Saat tengah berbincang santai di ruang keluarga, tiba-tiba Tania memanggil keponakannya


"Niar, kemarilah!" panggil Tania.


Daniar menghampiri Tania seraya berkata, "Uwak perlu sesuatu?"


"Engga, Uwak cuma mau ngobrol aja sama kamu, Ni," jawab Tania.


"Oh, baiklah," jawab Daniar seraya duduk di hadapan Tania.


"Begini Niar, Uwak mau nawarin Yandri kerja di Maz Islamic Boarding School, kira-kira dia mau enggak, ya?" tanya Tania.


Daniar cukup terhenyak mendengar tawaran kerja untuk suaminya. Semua orang juga tahu, tidak mudah untuk bisa bekerja di tempat itu. Sebuah sekolah asrama yang berbasis internasional. Bahkan para siswa siswinya terdapat dari beberapa negara tetangga.


Ya Tuhan ... mimpi apa kang Yandri semalam, sampai-sampai ditawari bekerja di tempat bonafide seperti itu? batin Daniar.


"Gimana, Ni?" Tania kembali bertanya.


Daniar terhenyak mendengar pertanyaan Tania. "Eh, nanti Niar coba tanyakan dulu sama kang Yandri, Wak," jawabnya.

__ADS_1


"Oh ya sudah, bicaralah sama Yandri. Uwak tunggu jawaban Yandri secepatnya ya, Ni."


"Baik, Wak!"


__ADS_2