
Pukul 10 malam, Yandri mulai tersadar dari pengaruh obat biusnya. Sejenak, dia mengedarkan pandangan, sedikit mengernyit mendapati dinding ruangan yang serba putih dan juga tirai yang tertutup. Namun, rintihan seseorang di balik tirai sebelah, telah menyadarkan Yandri akan keberadaannya saat ini. Rekaman-rekaman kejadian buruk yang menimpanya dini hari tadi, mulai menghampiri Yandri bagaikan tayangan slide show yang selalu dia buat sebagai media pembelajaran di kelasnya.
Alhamdulillah ya Allah ... hamba masih diberikan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, batin Yandri.
Retina Yandri menangkap wajah sang istri yang sedang tidur bertumpu lengan di sampingnya. Yandri mengangkat tangan dan mengusap kepala Daniar.
"Terima kasih, Bun," gumam Yandri yang kini mulai berlinang air mata.
Daniar mengerjapkan mata saat merasakan sebuah sentuhan di kepala. Seketika, dia teringat akan Yandri yang tengah berbaring tak sadarkan diri pascaoperasi. Hmm, apa mungkin kang Yandri sudah sadar? batin Daniar.
Daniar menegakkan tubuh. Tampak pria itu sedang menatap dirinya penuh keharuan. Daniar hanya tersenyum. Sepersekian detik kemudian, dia memeluk Yandri untuk meluapkan emosi yang dia tahan beberapa jam yang lalu.
"Ssst, sudah Bun, jangan menangis. Malu didengar orang," ucap Yandri saat melihat istrinya mulai terisak dalam pelukan dia.
Daniar mencoba menghentikan tangisnya. Namun, dadanya malah terasa sesak. Pada akhirnya, dia menggigit bibir bawahnya agar tidak menimbulkan suara di antara isak tangisnya.
Yandri mengangkat tangan kanan dan memeluk istrinya dengan erat. Dia seolah ingin mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Puas menangis, Daniar melepaskan pelukannya. Dia menatap Yandri yang selalu tersenyum padanya. Setelah mengalami musibah tersebut, raut wajah Yandri sedikit pun tidak pernah terlihat mengeluh kesakitan. Hanya senyum yang dia perlihatkan terhadap dirinya. Masya Allah, Yah ... batin Daniar.
"Bun, Ayah lapar. Apa ada sesuatu yang bisa mengganjal perut Ayah?" tanya Yandri yang memang belum menyentuh makanan apa pun.
"Apa Ayah sudah buang angin?" Daniar malah balik bertanya.
Yandri mengernyit. Ish apa hubungannya rasa lapar aku dengan buang angin? batin Yandri.
"Memang harus buang angin dulu, Bun?" tanya Yandri, sedikit cemberut.
"Itu pesan dokter, yah," jawab Daniar
'Biar apa?" Yandri kembali bertanya.
"Mana Bunda tahu, Bunda, 'kan bukan ahli medis," tukas Daniar.
"Ih, harusnya Bunda nanya, dong!" balas Yandri.
"Boro-boro inget ke sana, Yah. Ngelihat Ayah terkapar tak berdaya aja, pikiran Bunda udah kacau," sahut Daniar.
"Maaf ya, Bun. Coba tanya mbah gugle deh," kata Yandri.
__ADS_1
"Aha, kenapa enggak kepikiran? Ya udah, Bunda cari tahu dulu," ucap Daniar.
Daniar kemudian berselancar di internet. Senyumnya mengembang saat mendapatkan alasan pentingnya buang angin pascaoperasi.
"Nih!" kata Daniar sambil memperlihatkan ponselnya.
Yandri membaca dengan seksama berita tersebut. Senyumnya langsung mengembang saat mendapatkan alasan di balik kentut setelah operasi.
"Hmm, jadi seperti itu ya, Bun? Ya sudah, kita tunggu aja bentar lagi," canda Yandri.
"Hehehe, tapi kalau Ayah lapar banget, Bunda bisa nanya kok, ke dokter jaga," tukas Daniar.
"Tidak usah, Bun," jawab Yandri.
Tak berapa lama kemudian.
"Bun, tolong lihat paha Ayah, kok kayak ada yang gigit gitu. Mungkin ada semut," ucap Yandri.
Daniar sedikit menyingkap selimut Yandri. Dia pun menyusupkan tangan di balik celana pendek suaminya. Namun, tiba-tiba ....
Duuuut....
"Ayah, ih!" tukas Daniar, segera menarik tangannya dari balik celana pendek Yandri. Wajah Daniar sontak berubah kecut.
"Hahaha, maaf Bun," jawab Yandri tergelak. Namun, tak lama kemudian, Yandri meringis.
"Kenapa, Yah?" tanya Daniar terlihat cemas.
"Dahi Ayah sakit, Bun," jawab Yandri.
"Mangkanya Ayah tuh abis operasi, enggak usah banyak becanda," ucap Daniar.
Ya, yandri memang orang yang sering mengalihkan perhatian dengan bercanda. Dia paling tidak suka suasana tegang ataupun sedih. Apalagi ini rumah sakit, tiap waktu selalu saja ada kejadian yang membuat jantung pasien ataupun penunggu pasien berdetak hebat.
Daniar mencari roti yang tadi siang sempat dia beli. Setelah itu, dengan telaten dia menyuapi suaminya.
"Yah, sebenarnya apa yang terjadi sama Ayah? Kok Ayah bisa sampai kecelakaan seperti ini? Ayah jatuh? Soalnya kalau nabrak, kata pak Ginanjar enggak ada kendaraan apa-apa lagi di sekitar Ayah," cecar Daniar yang masih penasaran dengan kejadian yang menimpa suaminya.
Sesaat Yandri berpikir, tapi dia sendiri kebingungan.
__ADS_1
"Entahlah, Bun. Yang Ayah ingat, saat itu Ayah menunduk untuk membenarkan tali ransel. Begitu Ayah mengangkat kepala, tiba-tiba Ayah menabrak sesuatu. Padahal waktu itu, Ayah enggak lihat kendaraan di depan Ayah, mangkanya Ayah berani nunduk buat benerin tali ransel," papar Yandri.
"Mobil apa sih, Yah? Kok dahi Ayah ampe robek gitu? Kena pecahan kaca helm kah?" Daniar kembali mencecar Yandri dengan pertanyaan seputar kecelakaan yang menimpa.
"Enggak tahu, Bun. Ayah langsung jatuh dan pingsan. Jadi Ayah sendiri enggak tahu mobil apa yang Ayah tabrak," jawab Yandri.
"Kalau Ayah nabrak mobil, kok mobilnya enggak berhenti sih buat nolong Ayah," ucap Daniar dengan nada kesal.
"Yeay, Bunda. Mana Ayah tahu," balas Yandri.
"Hmm, ya sudah. Yang penting Ayah selamat," lanjut Daniar.
"Oh iya, Bun. Apa Ibu sudah diberi tahu?" tanya Yandri.
"Jujur saja, Bunda enggak kasih tahu Ibu soal kecelakaan Ayah. Takut beliau shock juga. Bunda cuma kabari kang Rahmat dan saudara Ayah yang lainnya. Tapi tadi bik Mumun dan pak Agus sempat menelepon menanyakan kondisi Ayah, tutur Bunda.
"Bik Mumun tahu dari mana, Bun? Apa Bunda yang mengabarinya?" Kembali Yandri bertanya.
"Enggak, Bunda enggak ngabari bik Mumun dan pak Agus. Mereka tahu dari medsos. Kata bik Mumun, kecelakaan Ayah viral di grup kader desa. Masalahnya, menantu pak Ginanjar itu seorang bidan. Jadi, foto Ayah beserta identitasnya mereka sebar, supaya lebih mudah ditemukan keluarga," papar Daniar.
"Apa kang Rahmat atau yang lainnya akan kemari, Bun?" tanya Yandri penuh harap.
"Hmm, enggak mungkin juga, Yah. Berabe, Kadipaten, 'kan jauh," jawab Daniar.
"Bener juga," timpal Yandri. "Ngomong-ngomong, Bun. Apa asuransi yang kita miliki bisa diklaim untuk kecelakaan?" tanya Yandri yang tiba-tiba merasa khawatir dengan biaya rumah sakit.
Daniar terkejut mendengar pertanyaan Yandri. Dia sendiri tidak tahu pasti dengan status pasien suaminya. Apakah termasuk pasien umum, ataupun pasien yang menggunakan asuransi kesehatan. Namun, Daniar tidak ingin membebani pikiran Yandri dengan masalah biaya rumah sakit.
"Sudahlah Yah, fokus Ayah saat ini hanya satu, berjuang untuk sembuh. Untuk urusan biaya rumah sakit, biar itu menjadi pikiran Bunda yang sehat," tutur Daniar.
"Tapi, Bun. Dari mana Bunda mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit, jika asuransi kita tidak bisa dipakai?" tanya Yandri lagi.
"Dari Allah, Yah! Bukankah Ayah selalu berkata seperti itu sama Bunda jika sedang berada dalam kesulitan? Yang terpenting, kita ikhtiar dulu, Yah. Ketika ikhtiar sudah kita lakukan. Sisanya biar Tuhan yang menentukan," kata Daniar.
Yandri tersenyum mendengar perkataan istrinya. Sepertinya dia sudah semakin dewasa saja dalam menyikapi sebuah permasalahan. Hmm, tidak salah memang hamba memilih dia sebagai pendamping hidup hamba, batin Yandri.
"Ayah bangga memiliki Bunda. Ternyata, Bunda wanita yang sangat kuat. Ayah kagum sama Bunda," ungkap Yandri
"Bunda tidak sehebat itu, yah. Sebagai seorang perempuan, Bunda juga memiliki titik kelemahan. Namun, Bunda selalu belajar dari setiap pengalaman yang terjadi. Derita telah membuat Bunda lebih kuat. Air mata telah membuat Bunda lebih berani, dan ujian membuat Bunda lebih bijak dalam menjalani takdir hidup. Bunda yakin, setiap musibah selalu memiliki hikmah. Entah hikmah apa yang akan kita ambil dari ujian kita hari ini. Namun, apa pun itu ... semoga kita siap menghadapi kenyataannya. Sepahit apa pun!" tegas Daniar.
__ADS_1
Yandri kembali tersenyum. "Benar, Bun. kita harus siap," timpalnya.