
Tak ingin terlalu larut dalam luka di hatinya, Daniar segera pergi ke kamar mandi. Sejenak, dia membasuh mukanya yang sudah memerah karena menahan tangis. Air mata yang tadi menggenang, kini mulai luruh. Namun, itu hanya untuk sesaat.
Tidak, aku tidak akan menjadi orang bodoh karena terus mendapatkan luka. Tangisan hanya akan membuat aku lemah. Sebaiknya aku mulai menata hati. Tidak selamanya bersikap egois itu buruk. Terkadang, kita pun harus bisa bersikap egois ketika menghadapi manusia yang egois pula, batin Daniar.
Rasa sakit yang bertubi-tubi membuat Daniar melupakan baktinya sebagai seorang istri. Buruk, memang. Namun, Daniar tidak memiliki pilihan lain. Biar suaminya pun bisa merasakan bagaimana perihnya tidak dihargai.
"Niar pergi dulu, Bu!" pamit Daniar begitu keluar dari kamar mandi.
"Loh, kamu mau ke mana, Kak?" tanya Bu Salma yang merasa heran dengan sikap Daniar.
Ya, tamunya saja belum pulang, tapi kok Daniar malah memilih pergi. Apa itu bukan enggak sopan namanya, pikir Bu Salma.
"Ni, kakak ipar kamu masih berada di sini, loh. Enggak baik kamu meninggalkan tamu begitu saja," tegur Bu Salma.
"Biarin aja, Bu. Toh ada kang Yandri ini. Lagi pula, mereka datang, 'kan buat jenguk kang Yandri. Sama sekali enggak punya urusan sama Niar," jawab Daniar.
"Terus, kamu mau ke mana?" tanya Bu Salma.
"Niar mau ke sekolah dulu, Bu. Mau ngelatih anak-anak pramuka," jawab Daniar.
"Ish, Ni ... kok pramuka terus yang diurusin," keluh Bu Salma.
"Sebentar lagi LT 2, Bu. Niar enggak mau mengecewakan sekolah," sahut Daniar. "Ya sudah, Bu. Niar pergi dulu," pamit Daniar.
Bu Salma hanya bisa menghela napas. Dia yakin jika hati Daniar saat ini sedang terluka. Karena sikap seperti itulah yang selalu ditunjukkan oleh putrinya saat sedang merasa kecewa. Namun, Bu Salma sendiri tidak tahu, entah hal apa yang telah membuat putrinya kecewa.
.
.
Di dalam kamar.
"Istri kamu ke mana, Yan?" tanya Aminah yang merasa heran melihat iparnya belum kembali ke kamar paviliun lagi.
"Mungkin sedang banyak kerjaan di dapur, Kak," jawab Yandri.
Sebenarnya, bukan hanya Aminah yang merasa heran saat tidak melihat Daniar ikut bergabung untuk mengobrol. Yandri pun merasakan keheranan yang sama. Akan tetapi, dia masih berbaik sangka kepada sang istri. Ya, mungkin ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan Daniar sehingga tidak bisa ikut bergabung bersama kedua tamunya.
"Ya sudah, kalau gitu sampaikan salam buat istri kamu, Yan. Kakak sama Kang Rahmat pulang dulu," lanjut Aminah.
__ADS_1
"Iya Kak, nanti Yandri sampaikan. Kakak sama Kang Rahmat, hati-hati di jalan, ya," balas Yandri.
Aminah dan Rahmat tersenyum. Tak lama berselang, Bu Salma memasuki kamar paviliun. Dahinya sedikit mengeryit tatkala melihat tamu menantunya beranjak dari kursi.
"Loh, mau pada ke mana?" tanya Bu Salma.
"Eh, Ibu. Kami mau pulang, Bu," jawab Rahmat.
"Kok pulang ... ini, 'kan masih siang," balas Bu Salma.
"Kebetulan masih ada pekerjaan yang harus kami selesaikan, Bu," timpal Aminah.
"Oh begitu, toh. Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut," pesan Bu Salma.
"Iya, terima kasih, Bu. Kalau begitu kami permisi, assalamu'alaikum!" pamit Rahmat dan Aminah.
"Wa'alaikumsalam," balas Yandri dan Bu Salma.
.
.
Merasa tidak dihiraukan, akhirnya Yandri mengikuti Daniar ke kamar.
"Kamu kenapa sih, Bun? Ayah panggil, kok malah ngeloyor gitu aja," tegur Yandri.
Daniar diam. Dia tidak berniat untuk menyahuti ucapan suaminya.
"Bun, Ayah nanya loh, kok dicuekin," lanjut Yandri.
"Hhh ... Bunda capek, Yah. Tolong jangan ganggu Bunda," pinta Daniar.
"Kok ganggu sih, Bun. Ayah, 'kan cuma manggil doang," timpal Yandri.
"Ya, terus mau ngapain Ayah manggil Bunda?" Kini Daniar yang bertanya pada suaminya.
Yandri mengeluarkan amplop yang tadi diberikan kakaknya. Sedetik kemudian, dia menyerahkan amplop tersebut kepada Daniar.
"Ini dari kak Aminah, Bun," ucap Yandri.
__ADS_1
"Ish, ngapain dikasih ke Bunda? Kasih ibu saja. Bukankah itu uang ibu?" balas Daniar
Yandri diam. Bukan tanpa alasan dia diam. Uang pengembalian Aminah kurang, dan Yandri tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada ibu mertua.
"Se-sebenarnya, uang pengembalian dari kak Aminah, kurang, Bun. Ayah enggak tahu harus bilang apa sama ibu," ucap Yandri.
"Lalu, apa maksudnya dikasih ke Bunda?" tanya Daniar menyelidik.
Yandri diam. Entahlah, dia sendiri bingung harus menjawab apa.
"Hhh, Yah ... Bunda, 'kan sudah bilang, jangan dikasih. Bukan sekali dua kali mereka mengabaikan utang. Kalau seandainya itu uang Ayah, meskipun kecewa, tapi Bunda enggak akan mengeluh. Sekarang ...? Apa yang akan kita katakan pada ibu? Beliau pasti akan sangat kecewa, Yah. Tidak menutup kemungkinan jika kepercayaan ibu kepada kita akan berkurang," tutur Daniar panjang lebar.
Yandri kembali diam. Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Yandri sendiri merasa segan memberikan amplop pengembalian Aminah. Dia takut mertuanya marah dan kecewa, karena bagi sang mertua, janji itu harus tepat.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Bun?" tanya Yandri.
Daniar hanya menggedikkan kedua bahunya. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menutupi kekurangan pembayaran dari Aminah.
"Apa Bunda masih pegang uang buat kontrol Ayah?" tanya Yandri tiba-tiba.
Daniar menautkan kedua alisnya. "Tunggu-tunggu ... jangan bilang kalau Ayah hendak menggunakan uang itu untuk menggalang kekurangan pembayaran kak Aminah?" terka Daniar.
"Maaf, Bun. Ayah tidak punya pilihan lain," jawab Yandri.
"See! Ayah lihat, 'kan?? Selalu kita yang mengalah ... selalu kita yang menjadi korban. Apa Ayah akan terus selamanya bersikap lemah seperti ini? Menolong orang yang sama sekali tidak pernah menolong kesulitan kita. Kenapa sih, mereka tidak pernah punya perasaan? Tidak pernah bisa menempatkan diri. Sudah tahu kita kena musibah, bukannya membantu meringankan kesusahan kita, tapi malah membebani kita. Apa seperti itu hakikatnya saudara, Yah?"
Akhirnya, emosi Daniar meluap juga. Terlebih lagi saat dia mengingat alasan dibalik kurangnya pembayaran utang Aminah. Pasangan itu lebih memilih membekali anaknya berbulan madu ketimbang membayar utang.
"Ish, benar-benar tidak tahu di untung," gerutu Daniar.
"Cukup, Bun! Mengumpat pun tidak akan menyelesaikan masalah," tegur Yandri.
"Kenapa? Ayah tidak terima Bunda mengeluhkan sikap saudara Ayah? Memang kenyataannya seperti itu, 'kan? Mereka itu memang pasangan yang tidak pernah tahu di untung. Bunda tahu, kak Aminah tidak bisa membayar semua utangnya karena Nisa yang sedang berbulan madu, 'kan? Huh, benar-benar tidak tahu malu. Bulan madu kok pake duit orang." Kembali Daniar mendengus kesal.
"Cukup, Bun! Ayah bilang cukup!" teriak Yandri yang sudah mulai emosi.
Kedua pasangan itu saling dikuasai emosi. Sehingga mereka pun saling meninggikan suaranya.
"Ada apa ini?"
__ADS_1